Senin, 25 Juli 2016

Petuah Ibuk #1

Seorang sepupu dekat saat itu sedang galau dan bingung antara mau meneruskan pekerjaannya atau resign dan melanjutkan studi S1 nya. Setelah shalat istikharahnya dia belum juga mendapatkan petunjuk. Kemudian suatu hari dia menemui ibu saya dan meminta pertimbangan beliau.

“Budhe, saya kemarin sudah daftar kuliah lagi. Tapi saya sekarang galau...,” katanya. Lalu dia menjelaskan pertimbangan-pertimbangan yang ada di depannya.

Saya, waktu itu menebak, Ibuk sudah pasti mendukung sepupu saya itu untuk melanjutkan studinya. Seperti halnya waktu dulu, saat saya juga mengalami kebingungan yang sama. Walaupun, memang pada akhirnya segala keputusan diserahkan ke saya, saat saya memutuskan mau kuliah lagi dan kembali ke Jogja, ada pancar kelegaan dan ridha di wajah beliau.

Kembali kepada sepupu saya. Ibu saya menanyakan rencana-rencana masa depannya: kapan pengen nikah? Mau ngapain nanti ke depan? Dan sebagainya. Ibu saya kembali menyerahkan keputusan kepada dia dengan memaparkan beberapa pertimbangan, dan tentu saja pertimbangan itu lebih mengarah kepada jawaban: lanjut studi lagi ya, walaupun nggak sekarang, mungkin nanti.

Pada akhirnya sepupu saya memilih untuk tetap bekerja, walaupun dia sebenarnya punya keinginan untuk studi lagi. Tapi memang pertimbangan-pertimbangan menunjukkan bahwa sekarang dia sebaiknya bekerja saja. Dan saat itu petuah ibuk muncul. Tentang penghasilan.

“Kalau nanti bekerja dan punya uang sendiri, selalu ingat tentang 4 hal. Empat hal yang prioritasnya berbeda-beda...”

“Pertama. Ini prioritas paling pertama untuk apa hartamu itu digunakan, yaitu 2,5%. Selalu ingat 2,5%. Ambil hartamu, minimal 2,5%, sebagai kewajiban untuk Allah”

“Kedua. Setelah 2,5% disisihkan, prioritaskan untuk membayar hutang. Walaupun tidak ingin berhutang, dalam kehidupan kita, hutang sering tak bisa dihindarkan. Prioritaskan yang kedua untuk ini. Jangan sampai kita mati meninggalkan hutang...” (Saya lalu teringat tentang perkara hutang yang akan dituntut sampai hari kiamat dan bisa membuat ruh terkatung-katung karena masalah hutangnya. Dan hutang adalah  perkara pertama yang harus diselesaikan saat seseorang sudah mati dalam keadaan masih punya hutang)

“Ketiga. Gunakan untuk investasi. Investasi di sini bukan tentang investasi rumah, mobil, emas, saham, usaha, dan sebagainya. Iya, itu memang investasi. Investasi dunia yang bisa dibanggakan. Tapi investasi yang budhe maksud di sini adalah: gunakan uangmu untuk manusia lain yang membutuhkan. Untuk panti asuhan, untuk amal, untuk orang yang minta-minta, untuk mereka di sekelilingmu yang membutuhkan bantuan dari hartamu untuk hal-hal semacam itu. Itu sebenar-benar investasi.  Ini yang insyaa Allah juga akan membantu kita saat ada dalam kesempitan. Kita selalu akan dicukupkan jika kita membantu mencukupi kebutuhan orang lain.”

“Keempat, baru gunakan untuk dirimu sendiri. Jangan kebalik dengan yang tiga tadi. Dirimu sendiri adalah prioritas terakhir. Untuk makan-makanan enak, untuk liburan, untuk bersenang-senang, untuk beli baju, sepatu, tas, kendaraan dan sebagainya. Itu prioritas terakhir. Kalau bisa yang sederhana, pilih yang sederhana namun pantas untuk dirimu sendiri...”
***

Terkait poin kedua tentang hutang, ingatan saya lalu menerawang ke beberapa bulan sebelumnya. Saat itu saya survey lapangan sendirian di sekitaran kampus UGM sedari pagi-pagi. Saat jam sembilan tiba, saya merasa sangat kelelahan dan mengantuk, lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di masjid kampus yang adem.

Kebetulan – yang bukan kebetulan – di lantai bawah sedang ada kajian yang diisi oleh Pak Saptuari. Tentang kenikmatan hutang yang berujung riba dalam sebuah kartu kredit. Sebelumnya, saya sempat berpikir untuk memiliki kartu kredit.  Soalnya, rasa-rasanya sekarang ini banyak sekali tawaran diskon yang diberikan jika berbelanja menggunakan kartu kredit. Ada banyak kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh kata-kata bertuah: kredit. Dan setelah mendengarkan Pak Saptuari berbicara di lantai bawah maskam waktu itu, keinginan itu saya kubur dalam-dalam. Buang jauh-jauh keinginan untuk memiliki kartu kredit. Hindari apa saja ketidakbaikan yang bisa dihindari....

tentang kekurangbaikan kartu kredit ada di tulisannya Pak Saptuari:
http://ahmad.web.id/jebakan-maut-kartu-kredit/

Semoga bermanfaat! ^^

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.