Sabtu, 11 Juni 2016

Rekam Jejak Tentang Hijrah yang Terjadi

Dia yang mendapatkan petunjuk yang benar dan mengikuti petunjuk itu adalah orang yang beruntung.

Dua puluh enam tahun. Seperempat abad lebih setahun. Itu bukan waktu yang singkat. Bukan pula waktu yang lama. Berbicara masalah waktu, itu memang relatif. Jika berbicara tentang mati, maka waktu seakan tak pernah berhenti, dia melaju cepat dan tiba-tiba terhenti. Artinya, kematian itu dekat. Jika berbicara tentang hidup, maka waktu adalah sesuatu yang berhenti di genggaman tanpa ingin melepaskannya. Artinya, kehidupan di dunia itu menggoda.

Selama kurun waktu tersebut, tentu banyak hal terjadi bergantian, datang dan pergi. Dalam kurun waktu selama itu, beberapa peristiwa hijrah telah terjadi. Hijrah. Pindah. Berubah. Ada beberapa kali perpindahan. Ada banyak hal berubah. Termasuk pada diri saya.

Salah satu fungsi blog ini bagi saya adalah sebagai media rekam jejak selama kehidupan saya di dunia. Entah ada orang lain yang membaca, entah tidak. Satu-satunya media sosial yang saya pertahankan sampai saat ini adalah blog ini. Di saat media sosial lain berganti-ganti, hilang lalu muncul yang baru, ngehits lalu pudar gemanya, ini adalah media sosial yang selama ini membersamai perubahan yang terjadi pada diri saya. Di saat saya memutuskan untuk menghapus semua media sosial pribadi saya, ini adalah satu-satunya media sosial yang saya pertahankan. Karena, bagi saya, blog ini adalah media sosial yang paling jujur untuk diri saya sendiri. Karena, saya tak perlu mengharapkan banyak like dan tak perlu tahu siapa yang melihat diri saya. Karena saya suka menuangkan banyak hal lewat tulisan. Karena saya hanya ingin memiliki rekam jejak selama hidup saya. Karena saya hanya sedang mengingatkan diri saya sendiri, lewat tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Tulisan yang membersamai perubahan yang terjadi pada diri saya.

Lalu rekam jejak yang ingin saya tulis, dimulai pada tahun 2006.

2006
Saya masih kelas 1 SMA ketika sebuah gempa bumi tak lebih dari 1 menit menghancurkan rumah yang saya tinggali dan hanya meninggalkan kamar mandi yang masih berdiri tegak. Selama beberapa minggu saya merasakan jadi pengungsi dan kehilangan rumah yang nyaman. Di saat yang sama saya dipertemukan dengan orang-orang yang peduli kepada sesama. Saya ingin seperti mereka.

Bencana yang menjadi pengingat kalau saya tak punya apa-apa kecuali diri saya. Diri saya pun bukan milik saya. Saya adalah milik Yang Maha Menciptakan.

Seusai bencana yang terjadi, bibit-bibit ketertarikan pada geografi mulai muncul, tapi hanya sedikit.

2008 - 2009
Saya lulus SMA. Di tahun ini Allah mengabulkan doa saya. Agar saya dapat tempat kuliah dengan teman-teman yang saling mendukung. Saya mendapatkannya di tempat saya kuliah. Kartografi dan Penginderaan Jauh UGM. Jurusan yang  saat itu adalah jurusan yang sangat asing dan sama sekali tidak populer. Tapi saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Teman-teman yang kelak sangat saya syukuri pernah saya temui. Teman-teman yang membersamai banyak perubahan sikap dan pemikiran dalam diri saya. Dan ternyata jurusan yang dianggap tidak populer, pada akhirnya saya jatuh cinta kepadanya. Pada akhirnya saya sangat amat bersyukur berada di tempat terpilih itu.

Di tahun ini, saya kehilangan nenek saya. Nenek yang membuat saya menyukai hewan. Kucing, anjing, dan lainnya. Nenek saya seorang penyayang binatang. Dan sejak kecil saya terbiasa hidup dengan adanya beberapa binatang peliharaan di sekitar saya. Bukan binatang peliharaan berjenis mahal, tapi binatang kampung yang kadang memang kampungan :p. Anjing kampung, kucing kampung, ayam kampung. Jadi jangan heran kalau saya sering bersikap kampungan kalau ketemu beberapa jenis binatang, terutama kucing (suka ngajak si kucing ngobrol atau sekedar say hello sama si kucing. :p)

Di tahun yang sama, saya melakukan kesalahan saya yang pertama. Yang nantinya akan saya ulangi beberapa tahun kemudian.

2010
KKL II Wonosobo. Di kampus saya, di setiap akhir semester genap, selalu ada kegiatan kuliah kerja lapangan. Praktek kerja lapangan yang biasanya dilakukan di luar kota. Kali ini KKL dilaksanakan di Wonosobo. Kegiatan inilah, awal mula saya menyukai apa yang dinamakan "perjalanan". Pergi ke tempat baru dan mencoba mengenal tempat-tempat baru.

Di tahun ini, Gunungapi Merapi erupsi. Kegiatan kuliah terhenti. Hampir seluruh Jogja berubah menjadi abu-abu. Hujan abu vulkanik terjadi selama beberapa minggu. Ini kali pertama saya menemui bencana erupsi gunungapi sebesar itu. Banyak mahasiswa yang menjadi relawan di banyak pengungsian. Pengungsian yang awalnya tidak begitu jauh dari KRB II, turun lebih jauh dari KRB III. Lalu saat puncak erupsi terjadi, pengungsian berpindah ke daerah perbatasan Kabupaten Sleman dan Kota Jogja. Di sekitar Youth Center, atau Stadion Maguwoharjo. Banyak orang kehilangan rumah, ternak, dan tanah. Banyak yang akhirnya harus meninggalkan desanya, berpindah ke desa lain karena desanya sudah hilang tertimbun material erupsi. Kehilangan rumah dan tanah tumbuh selamanya, dan harus hijrah ke tempat baru tanpa persiapan. Relokasi.

2011
KKL III Banyuwangi. KKL selalu menjadi gong atas semua yang terjadi di kampus. Kali itu, satu gerbong kereta ekonomi Jogja-Banyuwangi penuh oleh kami, 49 mahasiswa.  Saya semakin dekat dengan teman-teman saya. Mengenal mereka lebih dekat, lebih jauh, dan lebih intens. Banyak yang saya pelajari dari sini. Tentang memasak, mulai berubah menjadi lebih "wanita", tentang persahabatan, tentang toleransi, tentang kerjasama, dan tentang menjalani dan menikmati sesuatu yang telah kita  terima.

2012
Ketika KKL adalah gong bagi kegiatan perkuliahan di fakultas saya, KKN atau Kuliah Kerja Nyata adalah gong kegiatan di universitas saya sebelum menyusun skripsi. Seorang sahabat SMA saya, Bedjo, menawari saya untuk KKN bersamanya. Walaupun pada akhirnya teman saya itu tidak jadi ke sana, saya tetap ke sana.

Ini kali pertama saya pergi dan tinggal selama beberapa lama di pulau kecil tanpa meninggalkan tempat tersebut. Tempat yang sama sekali berbeda dengan tempat kelahiran saya yang banyak sawah. Yang saya lihat di sana hanyalah laut, laut, dan laut. Tempat ini, membuat saya jatuh cinta dengan laut dan pesisir.

KKN mengajarkan banyak hal juga. Kerjasama, kekompakan, kepercayaan, kekeluargaan, toleransi, kerja keras, kesederhanaan, rasa syukur, dan tentang cara menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

2013
Tahun kerja keras penyelesaian skripsi. Akhirnya saya menyelesaikannya.

Di tahun yang sama, seusai wisuda. Saya bekerja pada sebuah proyek pengumpulan data fasilitas pendidikan dan kesehatan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Saya berpindah-pindah tempat tinggal seminggu sekali selama sekitar dua bulan lamanya. Merasakan tinggal bersama warga setempat. Mendengarkan kisah-kisah mereka. Bertemu dengan hal-hal yang sama sekali berbeda dengan hal-hal yang pernah saya temui sebelumnya. Berusaha melebur dengan masyarakat setempat dengan adat, kebiasaan, makanan, kepercayaan, dan agama yang hampir 90% berbeda, walaupun masih di negara yang sama. Saya menikmatinya. Lebih dari sekedar bekerja, pekerjaan saya saat itu sekaligus menjadi sebuah perjalanan hijrah bagi hati saya.

Akhir tahun 2013, saya memberanikan diri menggabungkan diri bersama komunitas ODOJ (One Day One Juz). Sempat ada ketakutan pada diri Ibu saya. Takutnya saya berubah menjadi "radikal". Saya ingin berubah, dan saya melakukannya pelan-pelan. Jika jalan menuju kebaikan itu mudah, jika berubah menjadi baik itu menyenangkan, tentu saja semua orang sudah menjadi baik, kan?

2014
Saya memutuskan hijrah ke Jakarta, mendapatkan pekerjaan yang terkadang membuat saya harus pergi ke tempat-tempat berpesisir di luar kota, atau di luar pulau. Dan di sana saya belajar mengatasi tekanan, walaupun pada akhirnya tidak bisa dibilang berhasil. Ada banyak hal juga yang saya pelajari di sini. Menjadi lebih tahu karakter orang-orang tertentu dan mencoba mengatasinya.

Saya dipertemukan dengan YISC Al-Azhar. Dengan sahabat-sahabat kelas Dhuha (de Human Hijrah for Allah) di angkatan Al-Hijrah. Belajar lagi membenarkan bacaan Al-Qur'an saya yang masih terlalu berantakan. Kelak, saat saya sudah meninggalkan Jakarta, walaupun tidak terlalu akrab, sahabat-sahabat kelas Dhuha saya lah yang menjadi salah satu teman yang bisa mengingatkan saya ketika hati saya sedang pergi menjauh dari peraduannya.

Pertengahan tahun 2014, saya sempat berusaha mendapatkan cita-cita yang pernah terucap saat saya masih kuliah. Saya pengen ikut program Indonesia Mengajar. Orang tua saya tidak memberikan restu pada saya. Tapi saya tetap nekat ikut seleksi. (Mungkin) Karena tidak ada restu dari orangtua juga, di tahap akhir seleksi, saya tidak lolos :)
Untuk mengobati kekecewaan saya, tanpa sepengetahuan orang tua saya (maafkan sayaa), saya pergi ke Malang untuk mengisi Kelas Inspirasi di sana. Kenapa di Malang? Padahal di Bekasi, Tangerang, bahkan Jakarta pun ada? Karena jadwal yang sesuai hanya ada di Malang.

2015
Saya resign dari kantor saya di Jakarta dengan keyakinan: Rejeki saya ada di tangan Gusti Allah. Apapun yang saya lakukan, rejeki saya sudah dijamin oleh-Nya.

Kemudian saya hijrah ke Kampung Inggris, Pare, Kediri selama tiga bulan. Menjadi anak asrama, menjadi tidak dikenal dan tidak ingin diketahui. Menghabiskan hari-hari seru di sana. Antri mandi sebelum subuh, menyederhanakan hidup dan kehidupan, menjadi anak gaul Pare.

Setelah itu saya pulang kembali ke Jogja, kuliah lagi. Jadi mahasiswa lagi di tempat yang sama, mengambil jurusan pengelolaan pesisir.

Dan di tahun ini pula, saya melakukan kesalahan yang sama. Hmm, tidak. Tidak sama. Kesalahan yang saya lakukan lebih salah dari kesalahan 2009 silam. Jika di tahun sebelumnya saya mencoba mendekat pada Dia yang memberi saya hidup dan kehidupan, tahun ini saya malah jauh sekali dari-Nya. Dan di titik ini, saya baru menyadari bahwa memaafkan kesalahan diri sendiri yang dilakukan pada diri sendiri, itu jauh lebih sulit daripada memaafkan kesalahan orang lain kepada kita.

2016
Di tahun ini saya menemukan salah satu titik balik.

Saya ditantang untuk menerapkan ilmu ikhlas. Ternyata sulit. Sampai sekarang pun saya masih belum berhasil 100%.

Di tahun ini, kakak perempuan saya menikah, dan itu semakin meyakinkan saya untuk tidak usah galau masalah jodoh. Yang saya lakukan sekarang adalah: mencoba mendekat lagi kepada-Nya setelah sebelumnya pergi jauh dari-Nya. Berusaha biar tidak kepeleset lagi dan lagi.

Semakin banyak tantangan di depan. Semakin banyak yang harus diselesaikan. Maka, semakin harus semangatlah saya. ^^

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.