Kamis, 30 Juni 2016

Menuju Pulang

Semenyenangkannya bepergian, paling menyenangkan adalah saat pulang...
Pulang. Pulang ke tempat yang disebut rumah.
Video: ON


Pergi. Pulang.
Lahir. Mati.

Ketidakpadanan kata yang selamanya tak pernah padu. Tapi mereka punya perantara yang menyatukan keduanya: Perjalanan dan Hidup.

Perjalanan ada di antara pergi dan pulang.
Hidup, ialah perantara lahir dan mati.

Adakah yang tak menanti pulang? Adakah yang tak merindukan rumah?

Mudik bahkan menjadi salah satu momen paling dinanti. Sebahagia-bahagianya kita berada di perantauan. Sejengah-jengahnya kita terhadap kampung halaman, momen itu sekonyong-konyong hadir. Momen merindukan rumah. Momen menginginkan pulang ke tempat yang pernah kau pijak dan kau curi oksigennya. Ke tempat yang pernah menyisakan kenangan. Kenangan bahagia, pun luka.

Jalaluddin Rumi menasbihkan luka sebagai jalan masuk cahaya. Hingga akhirnya, yang meninggalkan luka pun, suatu saat akan dirindukan, dipuji dengan ucapan terima kasih, karena telah menjadi pengantar pulang yang bijaksana.

Maka, saat momen itu terpantik, segalanya akan dilakukan. Kekuatan besar muncul, kelelahan pun dihadapi, asal bisa pulang. Asal bisa bertemu sapa dengan apapun yang pernah sengaja atau tidak sengaja ditinggalkan.

Pulang.

Akhirnya, aku, kamu, kita akan pulang.

Pulang. Mati.
Setelah cukup memperjalankan diri. Setelah cukup terhadap jamuan hidup.

Pulang. Mati.
Entah janji yang berbunyi inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil'alamin sudah ditunaikan atau belum. Pada saatnya pulang, kita akan pulang.

Untuk hidup, yang tak tahu kapan akan menjadi abadi. Untuk hidup, yang hanya sebuah permainan dan senda gurau. Senda guraunya terkadang menyayat hati. Bercandaannya kadang juga keterlaluan. Maka yang begitu, pada akhirnya akan mengucapkan selamat tinggal. Hidup akan mengucapkan selamat tinggal.

Untuk mati. Mati. Sebenar-benarnya keabadian. Padanya ada ucapan selamat datang. Yang kehidupannya bukanlah bahan bercandaan. Yang tak punya batas keabuan. Padanya hanya ada dua pilihan: neraka atau surga. Batas boolean yang menegaskan: yang benar adalah benar! yang salah adalah salah!

Untukmu. Semoga kematianmu adalah kematian yang baik. Kematian yang membahagiakanmu. Yang bahagianya tak bisa kau temui di dunia. Berbahagialah kau yang mati dalam kebahagiaan.

Untukmu, semoga Allah mengampunimu dan sudi kau dekati setelah semua pengkhianatanmu kepada-Nya.

Untuk-Mu. Izinkan kami mencintai-Mu, selalu.

Katakan pada para sahabatku,
waktu mereka lihat jenazahku
atau pada mereka yang sedang menangis atau sedih meratapi kepergianmu
Jangan kau kira bahwa jasad itu aku
Demi Allah, itu bukan aku, bukan aku
Aku adalah jiwa
Jasad itu hanyalah cangkangnya

Itu cuma rumahku, dan bajuku selama suatu waktu
Aku adalah permata, tersembunyi dalam sebuah kotak pusaka
yang terbuat dari debu dan tanah,
Diciptakan sebagai sebuah masjid bagiku

Aku mutiara yang meninggalkan kerangnya
Aku ini seekor burung,
dan jasad ini adalah sangkarnya
Rumah itu, tempatku menjejak sebelum terbang
Kini kutinggalkan, sebagai tanda syukurku kepada Tuhan
Dia yang olehNya aku kini dibebaskan

Sejak dulu telah Dia buatkan untukku
Sebuah tempat di langit tinggi
Sampai hari ini, kematianku
Namun, aku tetap hidup dan berjalan di antara kalian.
Aku kini dalam Al-Haqq,
Setelah bangkit dan pergi dari kuburnya, pakaiannya

Hari ini aku berbicara dengan para nabi dan wali
Tanpa hijab, tanpa penghalang
Aku menyaksikanNya
Kubaca Lauh Mahfudz,
Di sana kulihat semua yang telah tiada, yang ada, dan yang akan ada

Biarkan rumahku ini runtuh karena usang
Biarkan sangkarku tergeletak di tanah
Kuburkan semua, lupakan
Lemparkan kotak pusaka ke mana saja
Itu hanyalah sebuah tanda kenangan

Baringkan jubahku ke samping, menghadap kiblat
Ia hanya pakaian luarku
Taruh semua di dalam kuburan
Lupakan

Aku telah melangkah, meneruskan perjalanan
Meninggalkan kalian di belakang
Aku bukan penghuni tempat kalian tinggal

Sejak dulu,
Negeri kalian tak pernah bisa membuatku betah dan nyaman

Jangan mengira kematian adalah mati.
Tidak.
Mati adalah sesungguh-sungguhnya kehidupan; 
kehidupan yang melampaui apapun,
yang pernah kita impikan di dunia ini.
Dunia yang di dalamnya kita tertidur.

Kematian pun hanyalah tidur,
namun tidur dengan hidup yang panjang.
Jangan takut ketika maut datang menyingkap malam,
itu cuma saatnya berangkat dari rumah-rumah yang telah dirahmati

Inginkan hanya ampunan dan rahmat Rabb kalian!
Syukuri pemberian-Nya,
Lalu masukilah kematian dengan aman,
tanpa takut dan kekhawatiran.

Aku sekarang, adalah kalian kelak,
sebab aku dan kalian tidaklah berbeda,
jiwa-jiwa insan yang diutus dari Tuhan,
dengan jasad-jasad yang disusun sepadan
baik dan buruk
itulah kita, insan

Kutinggalkan pesan ini untuk kalian,
Aku bahagia.
Semoga rahmat dan berkah Allah selamanya tercurah pada kalian
((Sebuah Puisi Dari Al-Ghazali Tentang Mati))

Ramadhan hari ke-25
di salah satu sudut rumah,
usai ceramah tentang "pulang" kala tarawih di Maskam semalam
usai kabar suka di tengah malam, yang mengabarkan "pulangnya" seorang tetangga

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.