Senin, 06 Juni 2016

Dari Perut Turun ke Nafsu

Belum lama saya tahu bahayanya tidak bisa menahan keinginan perut dari kebanyakan makan. Takut jadi gemuk? Ternyata bukan. Gemuk itu hanyalah efek samping dari kebanyakan makan. Ada hal lain yang musti diwaspadai dari keinginan perut yang tak pernah puas, dari perut yang tak pernah merasa kenyang. Kalau saya tidak membuktikan pada diri saya sendiri, saya mungkin hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Berhubung saya sudah membuktikan pada diri saya sendiri, saya jadi mudah memahami kemudian mempercayai kata-kata ini: ingin mengendalikan diri? Kendalikan perut.

Secara naluriah manusia menginginkan pemenuhan yang cepat, mudah dan dengan hasil yang maksimal. Keinginan ini apabila tidak dikendalikan biasanya akan melahirkan sikap tergesa-gesa, tidak peduli kepada sesama, dan menghalalkan segala cara. Itulah yang disebut dengan konsep hawwah yang berarti perut, sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Dengan kata lain, upaya mengendalikan perut, insyaa Allah adalah sekaligus upaya pengendalian nafsu. (dr Tauhiid Nur Azhar)

Saya pernah menjadi lumayan gemuk akibat kebanyakan makan enak dan makan banyak. Tidak semua orang menjadi gemuk akibat makan. Ada beberapa teman yang tidak bisa menjadi gemuk walaupun makannya super banyak. Di sini saya tidak menekankan pada kasus gemuk atau tidak gemuk. Tapi lebih kepada kebanyakan makan dan tidak kebanyakan makan.

Kembali kepada diri saya sendiri. Saya pernah menjadi cukup gemuk. Dan itu cukup menjadi salah satu bahan bercandaan teman-teman saya. Saya tidak ambil pusing soal itu sebenarnya. Saya termasuk orang yang cuek. Pun dengan penampilan. Masa bodo banget. Serah dah lu mau bilang apa yang penting gue nyaman kayak begini.

Kemudian pada suatu titik, saya merasa cukup lelah. Terutama saat sedang berada jauh dari rumah, saya banyak makan. Makanan yang saya makan enak-enak, tidak apa adanya dan adanya apa seperti di rumah. Di sini saya kehilangan pengendalian diri terhadap perut saya. Saya gampang sakit. Saya gampang mengeluh. Saya gampang frustasi. Waktu itu saya berpikir, saya stress makanya saya makan banyak. Ternyata bukan seperti itu. Pada akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa makan terlalu banyak dan terlalu kenyang ditambah cukup tekanan dapat memantik rasa frustasi, maka saya gampang stres. Kemudian stres itu saya obati dengan menghabiskan uang di bioskop setiap pekan dan kegiatan bersenang-senang lainnya yang biasa dilakukan di kota-kota besar. Saya jadi boros. Walaupun sebenarnya tidak seboros orang lain, tapi tetap saja saya merasa boros.

Dari situ saya memutuskan untuk diet. Diet mengurangi porsi makan. Ternyata, susah. Butuh waktu panjang dan kesabaran tersendiri untuk melakukannya. Dulu sekali saya pernah menganggap remeh orang-orang yang melakukan diet. Kurang kerjaan banget sih, begitu pikir saya. Daan, ternyata saya malah menjadi salah seorang yang dulu saya pikir sebagai orang kurang kerjaan itu. Betapa piciknya saya. Padahal saya tidak tahu alasan mereka diet untuk apa dan karena apa.

Saya sempat mencoba diet mayo dan beberapa diet lain yang saya lupa apa namanya. Tapi, dari beberapa diet itu, kunci utama terletak pada:

“Tidaklah sekali-kali manusia memenuhi sebuah wadah pun yang lebih berbahaya dari perutnya. Cukuplah bagi anak adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia harus mengisinya, maka 1/3 (bagian lambung) untuk makanan, 1/3 lagi untuk minuman, dan 1/3 lagi untuk udara (nafasnya)” (HR. Tirmidzi, shahih)

Makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.

Sudah, itu kuncinya. Bukan untuk tubuh yang langsing, tapi untuk tubuh yang seimbang. Mengendalikan nafsu yang meledak-ledak dan susah dikendalikan. Mengendalikan keinginan yang terlalu tinggi, terlalu tergesa-gesa, memaksakan keinginan pada orang lain, dan menjadikan pikiran menjadi lebih waras dan menjauhkan hati dari keinginan yang terlalu menggebu-gebu. Kunci dasarnya ada di perut.

Dari situ, saya baru mengerti makna Puasa. Mengapa orang yang sangat ingin menikah tapi belum dimampukan, diperintahkan untuk berpuasa? Puasa itu mengendalikan keinginan perut, dan pada akhirnya memang mampu mengendalikan nafsu. Dengan catatan, puasa itu dilakukan dengan sebaik-baik niat dan dilakukan dengan benar: makan secukupnya dan jangan berlebih-lebihan. Karena, akan percuma jika siangnya puasa tapi malamnya justru kalap memakan makanan enak dengan porsi banyak. Bukan seperti itu caranya. Sederhanakan makan, latihlah perut agar merasa cukup dengan porsi makan yang tidak terlalu berlebihan.

Saya sudah membuktikannya. Mengendalikan perut dapat mengendalikan segalanya dan mendatangkan kejernihan pikiran sekaligus menghadirkan ketenangan hati.

Selamat menjalankan ibadah puasa J

Kamar Inspirasi,
1 Ramadhan 1437 H

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.