Kamis, 30 Juni 2016

Menuju Pulang

Semenyenangkannya bepergian, paling menyenangkan adalah saat pulang...
Pulang. Pulang ke tempat yang disebut rumah.
Video: ON


Pergi. Pulang.
Lahir. Mati.

Ketidakpadanan kata yang selamanya tak pernah padu. Tapi mereka punya perantara yang menyatukan keduanya: Perjalanan dan Hidup.

Perjalanan ada di antara pergi dan pulang.
Hidup, ialah perantara lahir dan mati.

Adakah yang tak menanti pulang? Adakah yang tak merindukan rumah?

Mudik bahkan menjadi salah satu momen paling dinanti. Sebahagia-bahagianya kita berada di perantauan. Sejengah-jengahnya kita terhadap kampung halaman, momen itu sekonyong-konyong hadir. Momen merindukan rumah. Momen menginginkan pulang ke tempat yang pernah kau pijak dan kau curi oksigennya. Ke tempat yang pernah menyisakan kenangan. Kenangan bahagia, pun luka.

Jalaluddin Rumi menasbihkan luka sebagai jalan masuk cahaya. Hingga akhirnya, yang meninggalkan luka pun, suatu saat akan dirindukan, dipuji dengan ucapan terima kasih, karena telah menjadi pengantar pulang yang bijaksana.

Maka, saat momen itu terpantik, segalanya akan dilakukan. Kekuatan besar muncul, kelelahan pun dihadapi, asal bisa pulang. Asal bisa bertemu sapa dengan apapun yang pernah sengaja atau tidak sengaja ditinggalkan.

Pulang.

Akhirnya, aku, kamu, kita akan pulang.

Pulang. Mati.
Setelah cukup memperjalankan diri. Setelah cukup terhadap jamuan hidup.

Pulang. Mati.
Entah janji yang berbunyi inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil'alamin sudah ditunaikan atau belum. Pada saatnya pulang, kita akan pulang.

Untuk hidup, yang tak tahu kapan akan menjadi abadi. Untuk hidup, yang hanya sebuah permainan dan senda gurau. Senda guraunya terkadang menyayat hati. Bercandaannya kadang juga keterlaluan. Maka yang begitu, pada akhirnya akan mengucapkan selamat tinggal. Hidup akan mengucapkan selamat tinggal.

Untuk mati. Mati. Sebenar-benarnya keabadian. Padanya ada ucapan selamat datang. Yang kehidupannya bukanlah bahan bercandaan. Yang tak punya batas keabuan. Padanya hanya ada dua pilihan: neraka atau surga. Batas boolean yang menegaskan: yang benar adalah benar! yang salah adalah salah!

Untukmu. Semoga kematianmu adalah kematian yang baik. Kematian yang membahagiakanmu. Yang bahagianya tak bisa kau temui di dunia. Berbahagialah kau yang mati dalam kebahagiaan.

Untukmu, semoga Allah mengampunimu dan sudi kau dekati setelah semua pengkhianatanmu kepada-Nya.

Untuk-Mu. Izinkan kami mencintai-Mu, selalu.

Katakan pada para sahabatku,
waktu mereka lihat jenazahku
atau pada mereka yang sedang menangis atau sedih meratapi kepergianmu
Jangan kau kira bahwa jasad itu aku
Demi Allah, itu bukan aku, bukan aku
Aku adalah jiwa
Jasad itu hanyalah cangkangnya

Itu cuma rumahku, dan bajuku selama suatu waktu
Aku adalah permata, tersembunyi dalam sebuah kotak pusaka
yang terbuat dari debu dan tanah,
Diciptakan sebagai sebuah masjid bagiku

Aku mutiara yang meninggalkan kerangnya
Aku ini seekor burung,
dan jasad ini adalah sangkarnya
Rumah itu, tempatku menjejak sebelum terbang
Kini kutinggalkan, sebagai tanda syukurku kepada Tuhan
Dia yang olehNya aku kini dibebaskan

Sejak dulu telah Dia buatkan untukku
Sebuah tempat di langit tinggi
Sampai hari ini, kematianku
Namun, aku tetap hidup dan berjalan di antara kalian.
Aku kini dalam Al-Haqq,
Setelah bangkit dan pergi dari kuburnya, pakaiannya

Hari ini aku berbicara dengan para nabi dan wali
Tanpa hijab, tanpa penghalang
Aku menyaksikanNya
Kubaca Lauh Mahfudz,
Di sana kulihat semua yang telah tiada, yang ada, dan yang akan ada

Biarkan rumahku ini runtuh karena usang
Biarkan sangkarku tergeletak di tanah
Kuburkan semua, lupakan
Lemparkan kotak pusaka ke mana saja
Itu hanyalah sebuah tanda kenangan

Baringkan jubahku ke samping, menghadap kiblat
Ia hanya pakaian luarku
Taruh semua di dalam kuburan
Lupakan

Aku telah melangkah, meneruskan perjalanan
Meninggalkan kalian di belakang
Aku bukan penghuni tempat kalian tinggal

Sejak dulu,
Negeri kalian tak pernah bisa membuatku betah dan nyaman

Jangan mengira kematian adalah mati.
Tidak.
Mati adalah sesungguh-sungguhnya kehidupan; 
kehidupan yang melampaui apapun,
yang pernah kita impikan di dunia ini.
Dunia yang di dalamnya kita tertidur.

Kematian pun hanyalah tidur,
namun tidur dengan hidup yang panjang.
Jangan takut ketika maut datang menyingkap malam,
itu cuma saatnya berangkat dari rumah-rumah yang telah dirahmati

Inginkan hanya ampunan dan rahmat Rabb kalian!
Syukuri pemberian-Nya,
Lalu masukilah kematian dengan aman,
tanpa takut dan kekhawatiran.

Aku sekarang, adalah kalian kelak,
sebab aku dan kalian tidaklah berbeda,
jiwa-jiwa insan yang diutus dari Tuhan,
dengan jasad-jasad yang disusun sepadan
baik dan buruk
itulah kita, insan

Kutinggalkan pesan ini untuk kalian,
Aku bahagia.
Semoga rahmat dan berkah Allah selamanya tercurah pada kalian
((Sebuah Puisi Dari Al-Ghazali Tentang Mati))

Ramadhan hari ke-25
di salah satu sudut rumah,
usai ceramah tentang "pulang" kala tarawih di Maskam semalam
usai kabar suka di tengah malam, yang mengabarkan "pulangnya" seorang tetangga

Selasa, 28 Juni 2016

KE(TIDAK)KHAWATIRAN PADA GAMIS DAN HIJAB MASA KINI

Berawal dari kegiatan lungguh leyeh-leyeh sambil ngrasani awal tahun 2016 yang sudah berlalu dan kali ini tiba-tiba ingin saya singgung kembali. Apa yang kami --  saya dan dua teman kuliah saya -- rasani adalah aneka macam gamis yang bertebaran di muka 'internet' bumi. Merajai online shop yang tersebar di berbagai media sosial maupun platform jualan online lainnya.

Iseng-iseng pernah saya coba ketikkan di google analytic tools ketika mencari inspirasi jualan online. Di antaranya adalah kata-kata "gamis" dan "hijab". Luar biasa saudara-saudara! Di Indonesia kedua produk tersebut memegang rating tertinggi jika dibandingkan dengan produk lain seperti mukena, Al-Qur'an, rajutan, makanan, baju bayi, dan semacamnya. Itu artinya dunia fashion islami memang sangat berkembang di negeri ini. Berita bagus sebenarnya, ketika busana-busana muslimah yang bisa dibilang syar'i semakin membumi di negeri ini. Patut diapresiasi dan dipertahankan.

Namun dari situ, ketidakhawatiran berubah menjadi kekhawatiran. Sebuah apresiasi berubah menjadi sebuah sinisme. Apakah esensi gamis sebagai pakaian muslimah yang syar'i dan dulunya anti tabarruj, sekarang sudah berubah haluan? Apakah sekedar tren seperti apa yang saya khawatirkan pada tulisan saya sebelumnya di sini

Apa yang saya khawatirkan ini dirasakan juga oleh kedua teman saya. Kedua teman yang notabene menutup auratnya dengan baik, jauh lebih baik daripada saya yang masih ingah-ingih ini. Salah satu dari keduanya juga jualan gamis dan hijab. Suatu obrolan berbau bahagia muncul sebab kemudahan memakai pakaian syar'i saat ini. Kemudian di belakangnya, obrolan penuh kekhawatiran muncul. Dan apa yang kami obrolkan dan kami rasani itu hampir sama persis dengan tulisan dari mbak Siti Maryamah yang artikel aslinya ditulis di laman mojok.co . Saya izin share tulisannya di sini ya, Mbak.

Sependek ingatan saya, pada tahun 90-an dulu frasa gamis syar’i belum ada. Gamis ya syar’i lah. Apalagi? Frasa gamis syar’i waktu itu mungkin setara dengan frasa jomblo ngenes sekarang. Jomblo ya sudah tentu ngenes. Mau bagaimana lagi? Jadi, kata ‘syar’i’ itu inheren dalam kata gamis, seperti halnya kata ‘ngenes’ dalam jomblo. Semacam oksimoron.

Pada tahun 90-an itu, jilbab dan gamis itu pasti panjang, tebal, warna kalem atau gelap, longgar dengan model sederhana. Itu-itu saja. Rasanya ada aura ruhiyah tertentu saat mengenakannya. Rasanya lho, ya. Namun, belakangan ini perasaaan itu lebih mirip seperti ilusi saja.

Masa itu jilbab dan gamis adalah ekspresi dari ketundukan dalam hati pada titah Sang Pencipta. Simbol lahiriah dari esensi batiniah. Mengenakannya adalah ibadah, menetapi perintah menutup aurat. Tak lain tak bukan, tak lebih tak kurang. Hingga kemudian, sampailah kini kita di zaman yang sedemikian rupa berbeda.

Inilah zaman di mana mengenakan jilbab dan gamis tak jauh berbeda seperti soal memilih menu makanan. Mana yang disuka dimakan, mana yang bosan ditinggalkan. Tak ada bobot ruhiyah atau nuansa spiritualitas apapun di sana. Tak ada urusan hidayah di situ. Apa lagi getaran hati yang menggoncang-goncang jiwa ketika memutuskannya. Tak ada.

Pakai gamis tak lebih dari ganti koleksi isi lemari. Hal yang bisa dilakukan tanpa perlu menjemput hidayah datang. Hal yang sama yang akan dilakukan oleh para korban kebakaran dan banjir bandang, mengganti isi lemari. Yang pertama dilakukan penuh sukacita karena terpuaskan nafsu belanja, yang kedua dilakukan dengan terpaksa karena baju hangus dan hanyut di kali.

Hari gini, memakai gamis dan jilbab, juga bisa terjadi hanya karena tak enak pada tetangga dan teman sejawat. Peer pressure. Terpesona pada artis-artis dan model peraga busana muslim di sebuah fashion show. Ngiler pada manekin-manekin butik-butik nan mahal di mal-mal. Apa sajalah pemantik nafsu konsumtif. Tak ada pergumulan batin apapun di sana. Pergumulan isi dompet, iya. Urusannya seenteng ganti sepatu, tas, menu makanan bahkan pacar, karena bosan saja. Impulsif.

Tentu saja, tetaplah ada jilbaber dan gamis user yang melalui proses panjang dan mengharu biru ketika mengenakannya. Hal seperti itu selalu akan ada. Sebab hidayah tak pernah bosan menjemput orang-orang yang berhijrah di tiap zaman.

Tak seperti Hayati, hidayah tak pernah lelah, Bang.

Setelah potensi bisnis gamis syar’i terendus oleh kapitalis industri mode, situasi tak lagi sama. Segala sesuatu jika sudah tersentuh industrialisasi, biasanya memang bakal berganti dimensi. Film sebagai karya seni dan film sebagai industri, logikanya berbeda. Beternak ayam sebagai kegiatan pendukung kehidupan dan beternak sebagai industri, filosofinya berbeda. Menulis sebagai hobi dan menulis karena tuntutan industri, output-nya berbeda. Begitu juga gamis syar’i saat tercelup industri, auranya pun menjadi berbeda.

Yang tadinya bersimpel-simpel, jadi berimpel-rimpel. Yang tadinya tebal menutup bisa jadi tipis menerawang. Yang tadinya longgar semriwing jadi ketat membentuk. Pendeknya yang tadinya dimaksudkan untuk menutupi pesona, jadi menebar pesona. Duhai ukhti, kemana gerangan engkau mengambil teladan?

Esensi gamis syar’i sebagai ekspresi penghambaan auranya itu kesunyian. Sedangkan konsekuensi gamis syar’i sebagai industri, auranya adalah kemeriahan dan tepuk tangan. Menjadi paradoks yang begitu banal jika kedua hal itu dikawinkan. Yang terjadi kemudian adalah kawin paksa dengan banyak KDRT di dalamnya.

Hedonisme sebagai suplier energi industri mode adalah sesuatu yang bersebrangan dengan nilai-nilai kesederhanaan sebagai salah satu esensi ajaran Islam paling sublim. Enggak nyambung di level substansi, tapi di level permukaan, bisa disulap jadi serasi. Ini dampak dahsyat ketika jargon bisnis akhirat telah tersemat. Logika dan nalar sehat dipersilakan beristirahat.

Mari kita lihat.  Ketika ingin mewarnai industri mode, muslimah diprovokasi untuk terbiasa berhias, tabarruj, menebar pesona demi layak dilihat publik mode. Tampak memalukan, norak, dan ndeso jika datang–apalagi berpartisipasi–dalam sebuah fashion show dengan muka polos, pucat dan berkilat-kilat karena muka berminyak kena cahaya lampu. Itu wajah apa wajan, sih, sebenarnya?

Riasan yang sudah susah payah ditempel-tempel ke wajah, bisa sayang dihapus waktu berwudlu.Ikhtilat, campur baur laki-laki dan perempuan yang wangi-wangi bukan muhrim dalam fashion show adalah hal biasa. Fashion show busana muslim sekalipun. Substansi ajaran Islam yang mengatur gaya hidup, diperkosa oleh misi kapitalis yang mempromosikan hidup gaya.

Inilah salah satu KDRT dalam perkawinan Islam dan kapitalis. Sebuah kekalahan telak yang malah ditepuktangani si pecundang dengan meriah.Sebuah label besar bahkan menjadikan salah satu oknum terindikasi LGBT sebagai ikon dan desainernya. Dia tampil percaya diri dan advis-advis modenya diamini oleh para penganut keyakinan yang menentang keras orientasi seksual si idola. Para pemuja brand tertentu konon ada yang nangis-nangis karena kalah cepat rebutan koleksi limited yang diincarnya. Ieu teh kumaha, Iteung?

Bagi industri mode sendiri, istilah gamis gaul dan gamis syar’i tak ada beda substansi. Masalahnya hanya perbedaan lini dan segmentasi. Keduanya sama-sama pengumpul pundi-pundi. Satu pabrikan bisa membuat beberapa label untuk masing-masing lini, dan semua laris manis diserap pasar nan hedonis dan gigantis. Urusan menginventarisasi nama-nama label dan share pasarnya, serahkan saja pada Kalis Mardiasih.

Tapi tentu saja, selalu ada pengecualian atas segala sesuatu. Tetap ada para pengusaha gamis dan busana muslim yang rela menempuh jalan sunyi memproduksi perlengkapan muslim tanpa memprovokasi orang untuk berlebihan berkonsumsi. Saya sangat percaya itu dan respek sepenuh hati pada mereka ini. Semoga bisnisnya senantiasa diberkahi. Aamin. 

Akhirul kalam wahai para keponakan, dengarkan Tante Gober bersabda :Jika gamismu lebaran nanti adalah gamismu sepuluh tahun lalu, hidupmu akan baik-baik saja. Lebaran akan tetap jatuh pada 1 Syawal dan takbirnya tetap Allahu Akbar. Sadarlah, tak ada tim hisab dan rukyat ormas manapun yang memperhitungkan keberadaan gamis barumu sebagai dasar pengambilan keputusan. Tak ada yang berani mengganti bunyi takbir jadi Innalillahi hanya karena kau tak punya gamis OSD pujaan para ukhti.
..............................................................
Kekhawatiran semacam ini yang akhirnya membuat seorang teman gerah dan membuka toko online yang mengusung slogan "Anti Tabarruj!" di mana yang dijual adalah gamis simpel, tidak rempong, dan sungguh diharapkan tidak membuat orang yang memandangnya menjadi terkagum-kagum atas pakaian yang dipakainya, maupun dandanan ala sosialita yang terpoles di wajah pemakainya.

Kekhawatiran semacam ini juga yang sempat membuat saya agak ragu ketika seseorang begitu menggebu-gebu merayu-rayu saya agar memakai gamis seperti apa yang dipakai oleh mbak-mbak yang waktu itu sedang lewat. Saya takut terhadap ketidaktulusan, hanya ingin dipuji alim padahal kelakuan masih minus, dan sederet alasan duniawi lainnya.

Namun, pada akhirnya saya menyadari. Ini adalah soal hidayah yang dijemput atas nama rahmat. Di atas komersialisasi industri dan tren masa kini yang mungkin suatu saat akan kehilangan gema seperti yang telah dilalui oleh sang batu akik, gamis tetaplah gamis, yang tujuan utamanya adalah menutup aurat dengan sempurna. Gamis tetaplah gamis, penutup luar yang tidak mempengaruhi hati pemakainya, dialah yang seharusnya dipengaruhi hati pemakainya. Dan semoga fenomena yang terjadi pada gamis masa kini, tidak menyurutkan langkah para muslimah yang benar-benar ingin berhijrah tanpa pujian dan sanjungan; yang benar-benar ingin menjadi baik tanpa embel-embel menjadi cantik dan anggun dengan memakai gamis; yang murni ingin berubah karena hidayah, rahmat, dan ridhonya Sang Pemilik Hidup dan Kehidupan; yang tulus ingin berbagi pada hidup dan kehidupan.

Semoga.

Bantul,
di salah satu hari pada 10 hari akhir Ramadhan.

Minggu, 19 Juni 2016

SEPERTI APAKAH SEBENARNYA SAYA?

Setiap orang punya masalah. Setiap masalah ada solusinya.
Setiap orang punya pertanyaan. Setiap pertanyaan ada jawabannya.



Ramadhan hari ke-tigabelas. Memasuki sepuluh hari kedua, hari-hari penuh ampunan. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh memohon ampun atas kesalahan-kesalahannya, dia akan diampuni. Sebaik-baik orang yang pernah melakukan kesalahan, adalah dia yang bersungguh-sungguh memohon ampun atas kesalahan-kesalahannya.

Ramadhan, bulan mulia. Suci. Istimewa. Dia terpilih menjadi waktu yang penuh rahmat dan penuh keberkahan. Bulan turunnya kitab petunjuk bagi seluruh manusia. Al-Qur'an al Karim. Begitu banyak julukan baik yang diberikan kepada kitab ini sebagai kitab akhir zaman, Al-Huda (petunjuk), As-Syifa' (obat), Al-Furqan (pembeda), Al-Mau'idhoh (nasehat), Ar-Rahmah (tanda kasih sayangnya Allah), dan berderet-deret nama baik lainnya.

Petunjuk bagi mereka yang sedang mencari-cari jalanNya. Petunjuk, hidayah, bagi mereka yang tersesat jauh. Hidayah yang harganya sangat mahal dan tak bisa dibeli dengan emas sepenuh bumi dan langit. Obat bagi mereka yang memang sakit dan merasa sakit. Pembeda antara yang baik dan buruk, hak dan bathil, hitam dan putih, halal dan haram. Pembeda yang benar-benar membedakan tanpa ada warna abu-abu membingungkan. Penasehat yang nasehatnya tidak bermaksud menyakiti dan menghakimi. Tanda kasih sayang yang ditinggalkan Sang Awal dan Sang Akhir untuk para manusia akhir zaman agar kembali kepada-Nya dengan selamat.

Seorang berpeci putih di depan menjelaskan mengenai Al-Qur'an. Saya kira, bakal membosankan dengan kalimat-kalimat formalnya. Perkiraan saya totally salah. Sampai-sampai teman di samping saya bilang: merinding! atas penjelasan-penjelasan yang beliau paparkan dan sampaikan. Saya mengamini apa yang dikatakan teman saya itu.

Al-Qur'an itu solusi atas semua permasalahan hidup. Wahyu kepada Muhammad SAW turun ayat demi ayat dengan kurun waktu tertentu karena menjawab permasalahan-permasalahan kala itu, yang pada akhirnya merupakan jawaban atas semua masalah yang terjadi di dunia. Catat! SEMUA. Itu artinya, setiap masalah yang ada dalam diri kita, yang kita temui dalam rutinitas kita ada jawabannya dalam kitab istimewa ini.

Caranya?

Beliau menjelaskan dengan singkat dan jelas: Berwudhu, Shalat Hajat, Baca Al-Qur'an, Temukan Jawabannya.

Al-Qur'an itu kitab suci. Sucikanlah diri kita untuk menyatu dengan yang suci. Shalat hajat, berdoalah pada Zat Yang Maha Mendengar dan Mengetahui, tentang masalah yang kita hadapi, tentang pertanyaan yang kita butuhkan jawabannya. Mohonkan dipertemukan dengan jawaban-jawaban itu lewat Al-Qur'an. Lalu, yakini dan percaya bahwa kitab yang penuh petunjuk itu akan memberikan jawabannya pada kita. 

Kemudian, baca Al-Qur'an. Buka secara random, biar Sang Pemberi Petunjuk yang menggerakkan tangan kita untuk membuka salah satu atau beberapa halamannya. Biarkan Dia menggerakkan hati dan mata kita untuk memilih ayat mana yang ingin kita baca. Baca bahasa aslinya dulu (bahasa arab) dengan penuh penghayatan dan keyakinan. Terakhir, baca terjemahan ayat-ayat yang kita baca. Rasakan jawabannya di situ. Jika merasa belum ketemu, ulangi baca lagi. Begitu terus. Sampai kita merasa menemukan jawabannya, entah dalam beberapa halaman, satu halaman, satu kalimat, atau bahkan mungkin hanya dalam satu kata. Jika merasa tidak ketemu, bisa jadi hati kita belum ikhlas dan belum yakin terhadap apa yang kita baca.

"Al-Qur'an punya jawaban atas semua pertanyaan," begitu kata beliau. Bahkan pertanyaan mengenai siapa diri kita sebenarnya. Manusia jenis apakah kita? Bagaimana karakter kita? Munafik? Pembohong? Orang Mukmin? Fasik? Orang baik? Atau apa?

Saya tercenung.

Kemudian, saya benar-benar mencobanya di rumah. Manusia seperti apakah sebenarnya saya?

Dan jawaban yang saya temukan sangat telak menusuk-nusuk. Merinding. Hampir remuk.

"Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin" (QS An-Nur : 2)

"kecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang" (QS An-Nur: 4)


-Kamar kakak kedua, Ramadhan ketigabelas-
disarikan dari penjelasan Ust. Mucharoom Noor
di tengah-tengah deadline tugas, deadline kerjaan, dan deadline kehidupan-kematian yang masih menunggu untuk diselesaikan

Sabtu, 11 Juni 2016

Rekam Jejak Tentang Hijrah yang Terjadi

Dia yang mendapatkan petunjuk yang benar dan mengikuti petunjuk itu adalah orang yang beruntung.

Dua puluh enam tahun. Seperempat abad lebih setahun. Itu bukan waktu yang singkat. Bukan pula waktu yang lama. Berbicara masalah waktu, itu memang relatif. Jika berbicara tentang mati, maka waktu seakan tak pernah berhenti, dia melaju cepat dan tiba-tiba terhenti. Artinya, kematian itu dekat. Jika berbicara tentang hidup, maka waktu adalah sesuatu yang berhenti di genggaman tanpa ingin melepaskannya. Artinya, kehidupan di dunia itu menggoda.

Selama kurun waktu tersebut, tentu banyak hal terjadi bergantian, datang dan pergi. Dalam kurun waktu selama itu, beberapa peristiwa hijrah telah terjadi. Hijrah. Pindah. Berubah. Ada beberapa kali perpindahan. Ada banyak hal berubah. Termasuk pada diri saya.

Salah satu fungsi blog ini bagi saya adalah sebagai media rekam jejak selama kehidupan saya di dunia. Entah ada orang lain yang membaca, entah tidak. Satu-satunya media sosial yang saya pertahankan sampai saat ini adalah blog ini. Di saat media sosial lain berganti-ganti, hilang lalu muncul yang baru, ngehits lalu pudar gemanya, ini adalah media sosial yang selama ini membersamai perubahan yang terjadi pada diri saya. Di saat saya memutuskan untuk menghapus semua media sosial pribadi saya, ini adalah satu-satunya media sosial yang saya pertahankan. Karena, bagi saya, blog ini adalah media sosial yang paling jujur untuk diri saya sendiri. Karena, saya tak perlu mengharapkan banyak like dan tak perlu tahu siapa yang melihat diri saya. Karena saya suka menuangkan banyak hal lewat tulisan. Karena saya hanya ingin memiliki rekam jejak selama hidup saya. Karena saya hanya sedang mengingatkan diri saya sendiri, lewat tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Tulisan yang membersamai perubahan yang terjadi pada diri saya.

Lalu rekam jejak yang ingin saya tulis, dimulai pada tahun 2006.

2006
Saya masih kelas 1 SMA ketika sebuah gempa bumi tak lebih dari 1 menit menghancurkan rumah yang saya tinggali dan hanya meninggalkan kamar mandi yang masih berdiri tegak. Selama beberapa minggu saya merasakan jadi pengungsi dan kehilangan rumah yang nyaman. Di saat yang sama saya dipertemukan dengan orang-orang yang peduli kepada sesama. Saya ingin seperti mereka.

Bencana yang menjadi pengingat kalau saya tak punya apa-apa kecuali diri saya. Diri saya pun bukan milik saya. Saya adalah milik Yang Maha Menciptakan.

Seusai bencana yang terjadi, bibit-bibit ketertarikan pada geografi mulai muncul, tapi hanya sedikit.

2008 - 2009
Saya lulus SMA. Di tahun ini Allah mengabulkan doa saya. Agar saya dapat tempat kuliah dengan teman-teman yang saling mendukung. Saya mendapatkannya di tempat saya kuliah. Kartografi dan Penginderaan Jauh UGM. Jurusan yang  saat itu adalah jurusan yang sangat asing dan sama sekali tidak populer. Tapi saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Teman-teman yang kelak sangat saya syukuri pernah saya temui. Teman-teman yang membersamai banyak perubahan sikap dan pemikiran dalam diri saya. Dan ternyata jurusan yang dianggap tidak populer, pada akhirnya saya jatuh cinta kepadanya. Pada akhirnya saya sangat amat bersyukur berada di tempat terpilih itu.

Di tahun ini, saya kehilangan nenek saya. Nenek yang membuat saya menyukai hewan. Kucing, anjing, dan lainnya. Nenek saya seorang penyayang binatang. Dan sejak kecil saya terbiasa hidup dengan adanya beberapa binatang peliharaan di sekitar saya. Bukan binatang peliharaan berjenis mahal, tapi binatang kampung yang kadang memang kampungan :p. Anjing kampung, kucing kampung, ayam kampung. Jadi jangan heran kalau saya sering bersikap kampungan kalau ketemu beberapa jenis binatang, terutama kucing (suka ngajak si kucing ngobrol atau sekedar say hello sama si kucing. :p)

Di tahun yang sama, saya melakukan kesalahan saya yang pertama. Yang nantinya akan saya ulangi beberapa tahun kemudian.

2010
KKL II Wonosobo. Di kampus saya, di setiap akhir semester genap, selalu ada kegiatan kuliah kerja lapangan. Praktek kerja lapangan yang biasanya dilakukan di luar kota. Kali ini KKL dilaksanakan di Wonosobo. Kegiatan inilah, awal mula saya menyukai apa yang dinamakan "perjalanan". Pergi ke tempat baru dan mencoba mengenal tempat-tempat baru.

Di tahun ini, Gunungapi Merapi erupsi. Kegiatan kuliah terhenti. Hampir seluruh Jogja berubah menjadi abu-abu. Hujan abu vulkanik terjadi selama beberapa minggu. Ini kali pertama saya menemui bencana erupsi gunungapi sebesar itu. Banyak mahasiswa yang menjadi relawan di banyak pengungsian. Pengungsian yang awalnya tidak begitu jauh dari KRB II, turun lebih jauh dari KRB III. Lalu saat puncak erupsi terjadi, pengungsian berpindah ke daerah perbatasan Kabupaten Sleman dan Kota Jogja. Di sekitar Youth Center, atau Stadion Maguwoharjo. Banyak orang kehilangan rumah, ternak, dan tanah. Banyak yang akhirnya harus meninggalkan desanya, berpindah ke desa lain karena desanya sudah hilang tertimbun material erupsi. Kehilangan rumah dan tanah tumbuh selamanya, dan harus hijrah ke tempat baru tanpa persiapan. Relokasi.

2011
KKL III Banyuwangi. KKL selalu menjadi gong atas semua yang terjadi di kampus. Kali itu, satu gerbong kereta ekonomi Jogja-Banyuwangi penuh oleh kami, 49 mahasiswa.  Saya semakin dekat dengan teman-teman saya. Mengenal mereka lebih dekat, lebih jauh, dan lebih intens. Banyak yang saya pelajari dari sini. Tentang memasak, mulai berubah menjadi lebih "wanita", tentang persahabatan, tentang toleransi, tentang kerjasama, dan tentang menjalani dan menikmati sesuatu yang telah kita  terima.

2012
Ketika KKL adalah gong bagi kegiatan perkuliahan di fakultas saya, KKN atau Kuliah Kerja Nyata adalah gong kegiatan di universitas saya sebelum menyusun skripsi. Seorang sahabat SMA saya, Bedjo, menawari saya untuk KKN bersamanya. Walaupun pada akhirnya teman saya itu tidak jadi ke sana, saya tetap ke sana.

Ini kali pertama saya pergi dan tinggal selama beberapa lama di pulau kecil tanpa meninggalkan tempat tersebut. Tempat yang sama sekali berbeda dengan tempat kelahiran saya yang banyak sawah. Yang saya lihat di sana hanyalah laut, laut, dan laut. Tempat ini, membuat saya jatuh cinta dengan laut dan pesisir.

KKN mengajarkan banyak hal juga. Kerjasama, kekompakan, kepercayaan, kekeluargaan, toleransi, kerja keras, kesederhanaan, rasa syukur, dan tentang cara menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

2013
Tahun kerja keras penyelesaian skripsi. Akhirnya saya menyelesaikannya.

Di tahun yang sama, seusai wisuda. Saya bekerja pada sebuah proyek pengumpulan data fasilitas pendidikan dan kesehatan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Saya berpindah-pindah tempat tinggal seminggu sekali selama sekitar dua bulan lamanya. Merasakan tinggal bersama warga setempat. Mendengarkan kisah-kisah mereka. Bertemu dengan hal-hal yang sama sekali berbeda dengan hal-hal yang pernah saya temui sebelumnya. Berusaha melebur dengan masyarakat setempat dengan adat, kebiasaan, makanan, kepercayaan, dan agama yang hampir 90% berbeda, walaupun masih di negara yang sama. Saya menikmatinya. Lebih dari sekedar bekerja, pekerjaan saya saat itu sekaligus menjadi sebuah perjalanan hijrah bagi hati saya.

Akhir tahun 2013, saya memberanikan diri menggabungkan diri bersama komunitas ODOJ (One Day One Juz). Sempat ada ketakutan pada diri Ibu saya. Takutnya saya berubah menjadi "radikal". Saya ingin berubah, dan saya melakukannya pelan-pelan. Jika jalan menuju kebaikan itu mudah, jika berubah menjadi baik itu menyenangkan, tentu saja semua orang sudah menjadi baik, kan?

2014
Saya memutuskan hijrah ke Jakarta, mendapatkan pekerjaan yang terkadang membuat saya harus pergi ke tempat-tempat berpesisir di luar kota, atau di luar pulau. Dan di sana saya belajar mengatasi tekanan, walaupun pada akhirnya tidak bisa dibilang berhasil. Ada banyak hal juga yang saya pelajari di sini. Menjadi lebih tahu karakter orang-orang tertentu dan mencoba mengatasinya.

Saya dipertemukan dengan YISC Al-Azhar. Dengan sahabat-sahabat kelas Dhuha (de Human Hijrah for Allah) di angkatan Al-Hijrah. Belajar lagi membenarkan bacaan Al-Qur'an saya yang masih terlalu berantakan. Kelak, saat saya sudah meninggalkan Jakarta, walaupun tidak terlalu akrab, sahabat-sahabat kelas Dhuha saya lah yang menjadi salah satu teman yang bisa mengingatkan saya ketika hati saya sedang pergi menjauh dari peraduannya.

Pertengahan tahun 2014, saya sempat berusaha mendapatkan cita-cita yang pernah terucap saat saya masih kuliah. Saya pengen ikut program Indonesia Mengajar. Orang tua saya tidak memberikan restu pada saya. Tapi saya tetap nekat ikut seleksi. (Mungkin) Karena tidak ada restu dari orangtua juga, di tahap akhir seleksi, saya tidak lolos :)
Untuk mengobati kekecewaan saya, tanpa sepengetahuan orang tua saya (maafkan sayaa), saya pergi ke Malang untuk mengisi Kelas Inspirasi di sana. Kenapa di Malang? Padahal di Bekasi, Tangerang, bahkan Jakarta pun ada? Karena jadwal yang sesuai hanya ada di Malang.

2015
Saya resign dari kantor saya di Jakarta dengan keyakinan: Rejeki saya ada di tangan Gusti Allah. Apapun yang saya lakukan, rejeki saya sudah dijamin oleh-Nya.

Kemudian saya hijrah ke Kampung Inggris, Pare, Kediri selama tiga bulan. Menjadi anak asrama, menjadi tidak dikenal dan tidak ingin diketahui. Menghabiskan hari-hari seru di sana. Antri mandi sebelum subuh, menyederhanakan hidup dan kehidupan, menjadi anak gaul Pare.

Setelah itu saya pulang kembali ke Jogja, kuliah lagi. Jadi mahasiswa lagi di tempat yang sama, mengambil jurusan pengelolaan pesisir.

Dan di tahun ini pula, saya melakukan kesalahan yang sama. Hmm, tidak. Tidak sama. Kesalahan yang saya lakukan lebih salah dari kesalahan 2009 silam. Jika di tahun sebelumnya saya mencoba mendekat pada Dia yang memberi saya hidup dan kehidupan, tahun ini saya malah jauh sekali dari-Nya. Dan di titik ini, saya baru menyadari bahwa memaafkan kesalahan diri sendiri yang dilakukan pada diri sendiri, itu jauh lebih sulit daripada memaafkan kesalahan orang lain kepada kita.

2016
Di tahun ini saya menemukan salah satu titik balik.

Saya ditantang untuk menerapkan ilmu ikhlas. Ternyata sulit. Sampai sekarang pun saya masih belum berhasil 100%.

Di tahun ini, kakak perempuan saya menikah, dan itu semakin meyakinkan saya untuk tidak usah galau masalah jodoh. Yang saya lakukan sekarang adalah: mencoba mendekat lagi kepada-Nya setelah sebelumnya pergi jauh dari-Nya. Berusaha biar tidak kepeleset lagi dan lagi.

Semakin banyak tantangan di depan. Semakin banyak yang harus diselesaikan. Maka, semakin harus semangatlah saya. ^^

Senin, 06 Juni 2016

Dari Perut Turun ke Nafsu

Belum lama saya tahu bahayanya tidak bisa menahan keinginan perut dari kebanyakan makan. Takut jadi gemuk? Ternyata bukan. Gemuk itu hanyalah efek samping dari kebanyakan makan. Ada hal lain yang musti diwaspadai dari keinginan perut yang tak pernah puas, dari perut yang tak pernah merasa kenyang. Kalau saya tidak membuktikan pada diri saya sendiri, saya mungkin hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Berhubung saya sudah membuktikan pada diri saya sendiri, saya jadi mudah memahami kemudian mempercayai kata-kata ini: ingin mengendalikan diri? Kendalikan perut.

Secara naluriah manusia menginginkan pemenuhan yang cepat, mudah dan dengan hasil yang maksimal. Keinginan ini apabila tidak dikendalikan biasanya akan melahirkan sikap tergesa-gesa, tidak peduli kepada sesama, dan menghalalkan segala cara. Itulah yang disebut dengan konsep hawwah yang berarti perut, sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Dengan kata lain, upaya mengendalikan perut, insyaa Allah adalah sekaligus upaya pengendalian nafsu. (dr Tauhiid Nur Azhar)

Saya pernah menjadi lumayan gemuk akibat kebanyakan makan enak dan makan banyak. Tidak semua orang menjadi gemuk akibat makan. Ada beberapa teman yang tidak bisa menjadi gemuk walaupun makannya super banyak. Di sini saya tidak menekankan pada kasus gemuk atau tidak gemuk. Tapi lebih kepada kebanyakan makan dan tidak kebanyakan makan.

Kembali kepada diri saya sendiri. Saya pernah menjadi cukup gemuk. Dan itu cukup menjadi salah satu bahan bercandaan teman-teman saya. Saya tidak ambil pusing soal itu sebenarnya. Saya termasuk orang yang cuek. Pun dengan penampilan. Masa bodo banget. Serah dah lu mau bilang apa yang penting gue nyaman kayak begini.

Kemudian pada suatu titik, saya merasa cukup lelah. Terutama saat sedang berada jauh dari rumah, saya banyak makan. Makanan yang saya makan enak-enak, tidak apa adanya dan adanya apa seperti di rumah. Di sini saya kehilangan pengendalian diri terhadap perut saya. Saya gampang sakit. Saya gampang mengeluh. Saya gampang frustasi. Waktu itu saya berpikir, saya stress makanya saya makan banyak. Ternyata bukan seperti itu. Pada akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa makan terlalu banyak dan terlalu kenyang ditambah cukup tekanan dapat memantik rasa frustasi, maka saya gampang stres. Kemudian stres itu saya obati dengan menghabiskan uang di bioskop setiap pekan dan kegiatan bersenang-senang lainnya yang biasa dilakukan di kota-kota besar. Saya jadi boros. Walaupun sebenarnya tidak seboros orang lain, tapi tetap saja saya merasa boros.

Dari situ saya memutuskan untuk diet. Diet mengurangi porsi makan. Ternyata, susah. Butuh waktu panjang dan kesabaran tersendiri untuk melakukannya. Dulu sekali saya pernah menganggap remeh orang-orang yang melakukan diet. Kurang kerjaan banget sih, begitu pikir saya. Daan, ternyata saya malah menjadi salah seorang yang dulu saya pikir sebagai orang kurang kerjaan itu. Betapa piciknya saya. Padahal saya tidak tahu alasan mereka diet untuk apa dan karena apa.

Saya sempat mencoba diet mayo dan beberapa diet lain yang saya lupa apa namanya. Tapi, dari beberapa diet itu, kunci utama terletak pada:

“Tidaklah sekali-kali manusia memenuhi sebuah wadah pun yang lebih berbahaya dari perutnya. Cukuplah bagi anak adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia harus mengisinya, maka 1/3 (bagian lambung) untuk makanan, 1/3 lagi untuk minuman, dan 1/3 lagi untuk udara (nafasnya)” (HR. Tirmidzi, shahih)

Makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.

Sudah, itu kuncinya. Bukan untuk tubuh yang langsing, tapi untuk tubuh yang seimbang. Mengendalikan nafsu yang meledak-ledak dan susah dikendalikan. Mengendalikan keinginan yang terlalu tinggi, terlalu tergesa-gesa, memaksakan keinginan pada orang lain, dan menjadikan pikiran menjadi lebih waras dan menjauhkan hati dari keinginan yang terlalu menggebu-gebu. Kunci dasarnya ada di perut.

Dari situ, saya baru mengerti makna Puasa. Mengapa orang yang sangat ingin menikah tapi belum dimampukan, diperintahkan untuk berpuasa? Puasa itu mengendalikan keinginan perut, dan pada akhirnya memang mampu mengendalikan nafsu. Dengan catatan, puasa itu dilakukan dengan sebaik-baik niat dan dilakukan dengan benar: makan secukupnya dan jangan berlebih-lebihan. Karena, akan percuma jika siangnya puasa tapi malamnya justru kalap memakan makanan enak dengan porsi banyak. Bukan seperti itu caranya. Sederhanakan makan, latihlah perut agar merasa cukup dengan porsi makan yang tidak terlalu berlebihan.

Saya sudah membuktikannya. Mengendalikan perut dapat mengendalikan segalanya dan mendatangkan kejernihan pikiran sekaligus menghadirkan ketenangan hati.

Selamat menjalankan ibadah puasa J

Kamar Inspirasi,
1 Ramadhan 1437 H
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.