Minggu, 22 Mei 2016

Tragedy Of The Commons

The Population problem has no technical solution, it requires a fundamental extension in morality. (Garrett Hardin)

Tidak ada solusi teknis yang mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lingkungan dan di masyarakat, solusi utamanya adalah moralitas masyarakat itu sendiri. Segala yang berhubungan dengan keteknikan hanyalah alat bantu. Itu yang diungkapkan Garret Hardin sebagai seorang ekologist.

The commons, bisa diartikan sebagai sumberdaya milik bersama. Sumberdaya milik bersama yang bebas dimanfaatkan siapa saja, diambil seberapa pun, dan semuanya (seharusnya) gratis. Contohnya? Air, ruang udara, ruang laut, dan lainnya.

Muncul instilah tragedy, ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dari keberadaan the commons yang seharusnya menyenangkan dan semestinya baik-baik saja. Pada dasarnya, apa yang terdapat di atas bumi, adalah milik bersama, bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, untuk apa saja, secukupnya.

Namun, sifat dasar manusia yang memang punya nafsu yang tak pernah puas menjadikan keberadaan the commons ini sebagai sebuah tragedi. Menjadi sebuah tragedi ketika semua sisi kehidupan dikomersilkan. Demi perut, demi kesenangan hidup, demi “masa depan” – masa depan yang dimaksud di sini adalah masa depan finansial.

Garret mengilustrasikan tragedy of the commons ini dengan beberapa kelompok manusia dan ternaknya. Kita misalkan ternak itu adalah kambing. Pada suatu tempat, terdapat satu padang rumput yang dihuni oleh 4 kelompok masyarakat. Sebut saja kelompok masyarakat A, kelompok masyarakat B, kelompok masyarakat C, dan kelompok masyarakat D. Pada kelompok masyarakat yang ada, telah disepakati bahwa setiap kelompok masyarakat hanya boleh memiliki 2 ekor kambing yang digembalakan di padang rumput tersebut.

Kehidupan berlangsung normal selama bertahun-tahun, mematuhi kesepakatan awal. Lama kelamaan, timbul perasaan tidak puas dari kelompok masyarakat A. Apa yang mereka dapatkan dari kambing-kambing ini hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Suatu hari mereka berinisiatif menambah jumlah kambing. Yang tadinya 2 menjadi 6. Hasil yang mereka dapatkan pada akhirnya lebih banyak. Bisa untuk membeli macam-macam barang, dan tentu saja harta yang mereka punya lebih banyak.

Kelompok masyarakat B yang nasibnya masih biasa-biasa saja, melihat si kelompok A yang kehidupannya menjadi lebih baik, berpikir untuk mengikuti jejak kelompok A tersebut. Mereka beli tambahan 2 ekor kambing, agar masa depan mereka menjadi lebih baik seperti kelompok A. Begitu pula yang dilakukan oleh dua kelompok lainnya. Kelompok masyarakat A seakan menjadi role model bagi yang lainnya. Padang rumput yang tadinya diisi oleh 8 ekor kambing, kemudian penuh diisi oleh 24 ekor kambing. Rumput-rumput yang tadinya dimakan bergiliran oleh 8 ekor kambing, menjadi cepat habis dengan adanya 24 ekor kambing. Lama-kelamaan, padang rumput itu rusak. Di sinilah mulai terjadi tragedi. Ketika rumput-rumput habis, kambing-kambing kekurangan makanan, lalu kehidupan keempat kelompok masyarakat ini menjadi lebih buruk dari pada kehidupan awal mereka yang sebenarnya sudah sangat cukup untuk hidup.
***

Tragedy of the commons sudah ada sejak lama. Mungkin, sejak manusia mulai menghuni bumi. Di sekitar kita, tragedy of the commons terjadi tanpa kita sadari bahwa itu adalah sebuah bentuk tragedi. Sebab, segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan tren, itu sudah tidak dianggap sebagai tragedi. Walaupun, itu sebenarnya adalah tragedi.

Bahasan tentang Tragedy of The Commons ini saya dapatkan pada kuliah Jumat kemarin, yang berakhir pada sedikit perenungan di akhir pekan tentang apa yang sedang terjadi di sekitar saya. Tragedi yang hendak saya bahas adalah tren travelling, jalan-jalan, piknik, atau apapun sebutannya yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Saya pun, juga terjerat dalam kesenangan tren tersebut.

Apakah yang terjadi di balik tren travelling itu termasuk Tragedy of The Commons?

Dulu. Dulu sekali waktu saya masih SMA sampai pertengahan tahun kuliah sarjana, pantai-pantai yang jauh dari rumah, gunung-gunung, atau tempat-tempat lain yang pemandangan alamnya bagus, masih relatif sepi. Pergi ke daerah timur Indonesia pun rasanya masih susah sekali dan penuh pengorbanan. Bahkan pergi ke tempat yang jauh kadang masih dipandang kurang kerjaan: ih kamu ngapain sih jauh-jauh ke sana?

Sekarang, situasi berbanding terbalik. Belum ada satu dekade, begitu drastis perubahan yang terjadi. Jika dulu lewat Jalan Wonosari ketika musim liburan arus kendaraan masih sangat lancar, sekarang Jalan Wonosari bahkan macet saat weekend, apalagi saat long weekend, lebih macet dibandingkan Jalan Kaliurang. Pantai-pantai, gunung-gunung, goa-goa, yang dulunya sepi, sekarang seperti pasar. Ramai. Semua seakan berlomba-lomba mencari tempat hits buat piknik. Travelling. Holiday.

Travelling, yang dulu identik dengan berjalan jauh dari rumah untuk mencari makna hidup, sekarang berubah arah menjadi pergi bermain mencari kesenangan hidup. Tidak bisa dipungkiri. Itu faktanya. Apa yang sedang terjadi sekarang ini.

Jika dulu pergi ke tempat yang jauh dan asing dilakukan untuk mencari ketenangan, sekarang beralih tujuan untuk sekedar hunting foto yang nantinya akan diupdate di Instagram dan media sosial lain. Saya pun, pernah begitu.

Lalu.

Sepertinya sekarang saya memutuskan untuk berhenti melakukannya.

Update tempat ngehits di instagram atau media sosial lainnya, menurut saya adalah salah satu pemantik tragedy of the commons. Sekali lagi, ini menurut saya.

Tempat-tempat dengan pemandangan alam yang dulunya bebas dinikmati siapa saja dengan penuh ketenangan dan rasa damai, sekali saja diupdate di media sosial, apalagi yang update adalah orang-orang terkenal dan berpengaruh, menyebabkan tempat tersebut dikomersilkan pada akhirnya. Didukung dengan tren travelling masa kini, tempat itu mendadak ramai seperti di pasar.

Lalu.

Tinggal menunggu waktu sampai tempat itu menjadi rusak. Jika pengunjungnya tidak bertanggungjawab. Jika daya dukung dan daya tampungnya terlampaui. Jika urusan kesenangan dunia menjadi tujuan utamanya.

Maka benar apa yang diungkapkan oleh Garret Hardin di awal tulisan ini, solusi utama adalah moral para pelakunya. Moral manusia yang memanfaatkan ruang tersebut. Kalau dalam agama yang saya anut, perbaiki dulu akhlaknya.

Gunakan ruang seperlunya, sewajarnya, secukupnya. Bukankah yang berlebihan itu tidak pernah baik?
***

Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya (zakatnya) di hari memetik hasilnya, tapi janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
(Q.S Al-An’am: 141)


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.