Jumat, 13 Mei 2016

Rahasia-Nya Yang Penuh Teka-Teki

Semesta sedang bekerja. Bekerja dengan cara yang kadang tidak kita duga. Cara yang membuat kita takjub, bahkan ternganga. Kita tidak tahu sedang berperan sebagai apa. Tapi semesta tahu kita harus memerankan apa. Dan di atas semua itu, Tuhan lah yang telah menuliskan cerita hidup kita. Bersiaplah ternganga lebih lebar. Bersiaplah tertakjub lebih dalam. Selamat menempuh jalan cerita masing-masing. Selamat mencari dan menemukan petunjuk. Selamat menuju pada akhir cerita. Dan bersiaplah terkejut dengan akhir cerita kita. Entah sad ending atau happy ending. ~putrimaru  

Teluk Awur, Jepara. Bersama semesta yang sedang bekerja.


Kejadian demi kejadian yang telah kita alami dari lahir sampai hari ini semua saling terkait. Semua kejadian membentuk simpul-simpul baru, Kepastian meloncat menjadi ketidakpastian dan sebaliknya. Keyakinan berubah menjadi keraguan, begitu pula sebaliknya. Orang-orang yang menjadi lawan main kita, orang-orang yang pernah kita temui, ada maksud di balik pertemuan antar manusia yang pernah terjadi. Ada benang merah yang menghubungkan setiap kejadian. Menjadi petunjuk ataupun menjadi pertanda.

Pernah tidak, kalian dipertemukan dengan orang yang sama sekali belum pernah kalian kenal, lalu ternyata di kemudian hari pertemuan itu ternyata menjadi petunjuk dalam kehidupan di depan kalian? Pasti pernah. Saya pernah. Ada dua orang yang akan saya ceritakan di sini. Orang yang tidak saya kenal, bahkan sekarang ini saya lupa siapa namanya, namun apa yang mereka katakan menjadi nasihat baik yang saya ingat dan mempengaruhi beberapa keputusan saya.

1. Satu
Saya pernah menceritakannya sebelumnya dalam tulisan saya di blog ini, judulnya "Obrolan Pagi" . Pertemuan saya dengan seorang dosen sebuah universitas swasta di kota saya yang saat itu sedang menyelesaikan disertasinya di kampus saya. Seorang bapak yang sudah sepuh, berusia lebih dari setengah abad. Waktu itu, melalui sekretariat jurusan beliau meminta bantuan kepada mahasiswa S1 untuk membantu memperbaiki peta yang beliau buat. Saya ditakdirkan untuk membantu beliau. 

Hanya sekali dua kali ketemu. Di pertemuan terakhir, saat saya menyerahkan hasil pekerjaan saya kepada beliau, obrolan itu muncul.

"Nak Putri rencana ke depan apa?" tanya beliau. Waktu itu saya memang sedang menyelesaikan skripsi saya. Beliau ingin tahu apa yang akan saya lakukan pasca lulus. Waktu itu di pikiran saya, saya mau bekerja sampai saya menikah. Setelah menikah, maka ada masa depan baru yang nantinya akan saya kompromikan bersama suami saya. Itu yang ada di pikiran saya waktu itu. Bahkan ibu saya yang menginginkan saya kuliah lagi biar bisa jadi dosen atau agar bisa menunjang karir saya  ke depan nanti pun tidak saya gubris. Saya lebih memilih untuk mencari pengalaman di luar kehidupan kuliah sampai nanti menikah. Bekerja.

Pikiran saya agak berubah setelah obrolan tak sampai dua puluh menit dengan bapak itu.

"Saya pengen bekerja dulu, Pak," kata saya waktu itu.

"Nggak pengen kuliah lagi?" tanya beliau.

Jawaban saya waktu itu adalah: TIDAK. Lalu beliau mengatakan hal ini kepada saya:
"Kenapa tidak? Menuntut ilmu setinggi-tingginya itu tidak ada salahnya, Nak. Bukannya Allah menjamin menaikkan derajat orang-orang berilmu?" 

Saya mengangguk.

"Kalau saran Bapak, Nak. Nak Putri besok sekolah lagi, ya. Niatkan saja untuk meningkatkan kualitas ibadah. Ya, percaya tidak percaya, Bapak sendiri merasa ibadah yang dulu hanya rutinitas dan rasanya hampa, jadi tidak hampa lagi begitu mendapat ilmu baru. Apalagi di bidang ilmu ini. Terasa betul.”

Terasa betul. Waktu itu saya tidak mengiyakan, juga tidak bilang tidak. Sampai setelah hampir dua tahun lulus dan sudah bekerja, saya membaca kembali blog saya, dan menemukan tulisan saya yang menceritakan obrolan saya bersama Si Bapak Dosen. Saat itu saya sedang galau-galaunya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya atau tidak. Lalu petunjuk-petunjuk itu bermunculan dan membawa saya memutuskan untuk resign dan kuliah lagi.   

Terasa betul. Ya, saya sedang merasakannya sekarang. Terasa betul :')
Geografi. Semakin ke sini, saya semakin jatuh cinta.
Jatuh cinta pada Dia yang mengarahkan saya ke sini. Di tempat ini. Pada ilmu ini. Pada alam ciptaan-Nya. Pada semua yang pernah saya temui. Pada apa-apa yang pernah mampir dalam hidup saya.

Allah tidak pernah memberikan jalan yang salah buat saya,
Hanya saja, saya sering nakal dan kenakalan saya kadang membuat saya ragu kepada-Nya

2. Dua
Stasiun Jatinegara. Sehabis jam 9 malam. Waktu itu saya lembur di kantor dan memutuskan pulang naik KRL. Untuk sampai kos saya, dari Stasiun Gondangdia saya harus berpindah kereta di Stasiun Jatinegara. 

Malam itu, sedang ada gangguan kereta. Kereta yang seharusnya sudah ada di Stasiun Jatinegara jam 9 malam, belum muncul-muncul juga. Satu jam lebih kereta belum datang. Sebenarnya saya bisa memilih naik ojek, busway, atau angkutan umum lain. Jarak dari kos saya dari stasiun Jatinegara tidak terlalu jauh. Tapi, waktu itu saya hanya ingin naik KRL. Entah kenapa saya lebih memilih menunggu selama lebih dari satu jam dibandingkan pulang lebih cepat dan menemui kasur lebih cepat dengan naik moda transportasi lain selain KRL.

Saat itulah, Ibu itu muncul. Seorang ibu-ibu setengah baya seumuran ibu saya. Dia duduk di samping saya dan mengajak saya mengobrol. Kami tidak saling memperkenalkan nama. Obrolan di antara kami muncul begitu saja secara alami. Awalnya hanya ngobrol ngalor-ngidul ngomongin berita, acara TV, dan kehidupan sehari-hari.

Sampai akhirnya ibu itu menceritakan tentang dirinya kepada saya tanpa diminta. Beliau belum pernah menikah. Seorang lulusan S2 universitas ternama di Depok sana. Beliau tidak bercerita aktivitas sekarang apa. Yang beliau ceritakan adalah tentang penyesalannya yang pernah bersikap tidak baik dan seenaknya kepada kedua orang tuanya. Sampai keduanya meninggal, beliau belum sempat meminta maaf.

Lalu yang saya ingat sampai sekarang adalah ucapan beliau:
"Kita tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa dan memilih orang tua seperti apa. Waktu itu orang tua Ibu miskin. Ibu tidak terima dengan keadaan waktu itu. Ibu sombong dan tidak menghargai mereka, bersikap seenaknya. Di tengah pengaruh teman-teman yang lahir dari keluarga kaya. Ibu menyakiti hati mereka."

Saya tidak berkomentar apa-apa selama Ibu itu bercerita. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Saya cuma mendengarkan.

"Ibu tidak menikah sampai sekarang, itu akibat kesalahan Ibu sendiri. Ibu bersikap tidak baik kepada orangtua, dan bersikap seenaknya dan memaksakan kehendak pada mereka."

Terakhir, saat kereta datang dan kami berpisah karena kami berhenti di stasiun berbeda dan saya harus berada di empat gerbong paling depan agar dapat peron, sementara si Ibu itu harus berada di gerbong belakang agar dekat dengan pintu keluar stasiun, beliau berkata:
"Nak, baik-baik ya sama orang tua. Apapun kehendak kamu, percaya aja kehendak mereka pasti lebih baik buat kamu."

Sampai kos saya nangis. Asli saya nangis tiba-tiba. Duh cengeng banget :')
Saya nggak tahu apa maksudnya saya dulu tiba-tiba ketemu Ibu itu.
Sekarang, insyaa Allah saya tahu kenapa dulu tiba-tiba ketemu Si Ibu.
Saya yakin nasihat ibu itu benar adanya.

Selalu ada maksud di balik setiap pertemuan. Semesta yang mempertemukan.
Sampai sekarang, semesta masih mengerjakan tugasnya. Semesta mengerjakan tugasnya dengan baik untuk para penghuni di dalamnya. Semesta masih bekerja sampai dia diminta berhenti bekerja.


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.