Selasa, 17 Mei 2016

Main Sama Dian



Masih berhubungan dengan postingan sebelumnya. Tentang pertemuan dengan seseorang. Pertemuan dengan manusia lain bagi saya adalah salah satu pengejawantahan konsep jodoh. Kan kalau jodoh pasti bertemu. ^^

Saya kenal Dian pada akhir tahun 2013, saat kami tergabung dalam satu tim proyek di Pulau Flores. Yang ternyata kami adalah tetangga fakultas. Dia anak teknik, saya anak geo. Ternyata juga kami wisudanya barengan. Dia satu angkatan di bawah saya.

Hampir dua bulan kami serumah, sekamar, kadang sekasur, dan pastinya seperjalanan. Mulai dari sana, kami semakin takjub pada tempat-tempat asing yang belum pernah kami bayangkan bisa kami kunjungi. Semakin menyukai pergi ke tempat-tempat baru dan bertemu orang-orang baru yang sebelumnya asing bagi kami.
Kami menikmati waktu-waktu kami sebelum instagram ngehits dan menyebabkan tempat-tempat indah yang dulunya sepi sekarang mendadak ramai seperti pasar.
Jodoh adalah sesuatu atau seseorang yang tidak kita genggam terlalu erat atau kita paksakan untuk ada di situ. Dia kadang-kadang datang tiba-tiba, tanpa perencanaan, dan berlanjut dengan kedekatan-kedekatan yang tak dibuat-buat. Ketika saya menjadi saya, dan dia tetap menjadi dia. Lalu apapun saya dan dia, itu tak akan menjauhkan kami, justru malah akan mendekatkan kami. 

Sepulang kami dari Flores, dan menyelesaikan pekerjaan kami di Jogja, kami kembali meneruskan kehidupan kami masing-masing. Saya mengambil pekerjaan di Jakarta. Dian waktu itu pulang ke Serang, asalnya memang dari Banten. Tapi tak lama kemudian, dia mengambil pekerjaan di Jakarta juga, di sebuah konsultan perencanaan sebelum akhirnya juga pindah ke salah satu kementerian di barat Monas.

Kadang saat penat datang sementara waktu luang juga tersedia, pergi dengan Dian adalah salah satu pilihan di antara banyak pilihan lainnya. Jogging di Stadion Lebak Bulus, memanfaatkan diskonan tiket Dufan, sekedar makan di Atrium Senen, atau pernah juga suatu ketika malam hari sepulang kerja tiba-tiba saya bilang:
Di, aku nginep Serang ya besok.
Lalu esok paginya saya sudah berada di bus jurusan Merak. Sorenya tahu-tahu sudah sampai ujung Banten, menikmati sunset di Pantai Anyer, naik motor dari Kota Serang melintasi Cilegon.

We're different person. Saya INFP, Dian ENFJ. But sometimes we have same things. Seperti, kami sama-sama orang random yang menikmati ketidakpastian yang selalu muncul di depan kami. Suka lagu-lagu indie yang kadang bagi orang-orang itu nggak ngehits. Dan kami suka buku (tapi saya sangat suka kucing, dia nggak suka kucing). Kadang-kadang dia jadi Peri Buku buat saya. Saat saya memutuskan kembali di Jogja dan dia masih di Jakarta. Ada beberapa kali kejutan berupa  paketan buku-buku bagus sudah bertengger di atas meja belajar saya.

Walaupun kami sudah tidak sekota pun, memang sepertinya kami ditakdirkan sering bareng. Saat saya memutuskan untuk berada di Pare, Kampung Inggris, selama hampir tiga bulan lamanya, Dian tiba-tiba pengen nyusulin, "Aku ikut ya sist, dua minggu". Lalu akhirnya bareng lagi kami di sana dua minggu.

Tidak salah sepertinya kalau saya bilang, saya pergi kemana-mana dengan Dian itu adalah takdir yang tak terelakkan tanpa kami harus merencanakannya secara berlebihan. Karena, jika rencana-rencana itu saya lakukan dengan orang lain, bahkan dengan orang-orang yang sepertinya saya anggap sangat dekat, eh ujung-ujungnya nggak jadi.

Begitu pun di Pare. Mendadak kami pergi ke Baluran lalu Kawah Ijen. Kemudian minggu berikutnya sudah ada di Bromo. We're random people. 

"Gingaps? Insyaa Allah aku besok sampai Jogja. Hahaha. Ini baru aja dapet tiket go show."

Pertengahan Mei, tiba-tiba dia kirim pesan WhatsApp ke saya. Setelah dua bulan sebelumnya dia ke Jogja dan pergi ke Merbabu bersama saya dan beberapa kawan kuliah saya dan kawannya kawan kuliah saya, dia balik lagi ke Jogja tanpa rencana. Katanya, "Nggak tahu ya, tiap penat, tiap bingung mau ngapain, Jogja itu selalu jadi pilihan tempat buat pulang", katanya.


"Aku pengen leyeh-leyeh di hutan pinus," dia bilang.

Hari minggunya, saya menemaninya ke hutan pinus (setelah sebelumnya sarapan bubur di parkiran Kompleks Makam Imogiri dan terharu begitu tahu murahnya harga makanan di sana). AndOut of expectation! Sampai di hutan pinus, ada hal di luar ekspektasi kami. Beberapa kali saya atau Dian pernah ke sana, apa yang kami temui adalah ketenangan dan gemerisik suara syahdu dedaunan pinus yang bergesekan. Tapi, yang kami temui ketika itu adalah parkiran yang penuh dengan kendaraan, dan hutan yang tak lagi syahdu. 

"Gilaa udah rame banget! Kayak hutan pinus yang ada di Bogor! Bentar lagi ada kafe dibangun di tengah-tengah hutan, nih!" Dian bereaksi.


"Yaudah yok, masuk aja. Udah terlanjur di sini."

Kami masuk, mencari tempat yang kira-kira enak buat leyeh-leyeh, tapi semua tempat sudah penuh. Sampai kami mencari di pojok-pojok dan menemukan satu bangku kosong. Kami duduk, ngobrol, mengamati orang-orang. Ada yang pacaran. Ada yang sudah siap dengan ootd-nya masing-masing. Banyak yang membawa tongsis, sportcam, dan kamera-kamera masa kini lainnya. Kami hanya duduk makan kacang. Sedang tidak tertarik untuk foto-foto. Padahal biasanya kami banyak potret sana potret sini. Saat itu, hasrat untuk jadi anak masa kini sudah hilang.

"Trennya udah kayak begini ya?" kata saya sambil mengamati sekitar.

"Iya, sekarang semua pada suka piknik. Dulu mah sepi banget ya."

"Banyak tren ya sekarang?"

"Emang apa aja?"

"Tren piknik, tren jilbab dan gamis lebar, tren ootd..."

"Haha iya. Kadang nggak bisa bedain mana yang cuma ikut-ikutan mana yang nggak."

Cukup lama kami duduk di bangku yang sama. Cerita macem-macem. Mengamati sekitar. Sampai akhirnya kami memutuskan sewa hammock yang juga sedang menjadi tren masa kini dan sudah muncul stand persewaan hammock di hutan pinus!

"Aku pengen tidur. Kamu lagi nggak ngapa-ngapain kan hari ini?" tanya Dian. Saya menggeleng. Kami turun dan meminta mas-mas persewaan hammock memasangkan hammock. Kami lanjutkan leyeh-leyeh kami. Tiduran dan baca buku.

Ada motif di balik pergi main. Ada yang memang butuh, ada yang hanya ikut-ikutan biar dibilang keren, ada yang memang punya misi tertentu yang kadang tidak terlintas di pikiran kita.

Selalu ada yang bisa diamati dan dibicarakan di sekitar kita. Bahkan, mungkin kita juga menjadi salah satu bahan pembicaraan yang tak ada habisnya untuk orang-orang di sekitar kita.

Aih, pada akhirnya tulisan saya menjadi tidak nyambung.

Yogyakarta,
diselesaikan 24 Mei 2016
di Perpustakaan Pusat UGM



Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.