Senin, 30 Mei 2016

Cahaya di Atas Cahaya

Ada beberapa titik balik yang saya temui dalam hidup saya. Bagi saya, titik balik adalah peristiwa yang terjadi di salah satu fase hidup, ketika kita merasa sedang berada titik atas namun  terjun tiba-tiba ke titik paling dasar dan paling bawah dalam hidup kita, sehingga satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanya pasrah. Dan dari titik paling dasar tersebut, pada akhirnya kita kembali lagi ke titik awal kita sebelum jatuh atau bahkan justru melampaui titik awal, melejit melampaui batas.

Salah satu titik balik, saya alami 10 tahun silam. Saat yang bisa saya lihat hanyalah seberkas cahaya terang yang seakan-akan menarik saya menujunya. Peristiwa itu pernah saya ceritakan di blog ini pada postingan dengan judul Cahaya.

Beberapa studi ilmiah menjelaskan bahwa pada umumnya orang yang hampir mati pasti melihat seberkas cahaya terang. Waktu itu, saya pikir saya hampir mati. Lorong, cahaya terang di ujung, dan suara yang menyuruh saya lari, diiringi suara bergemuruh di sekeliling saya, suara kaca-kaca pecah, dan suara-suara menakutkan yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Belum pernah saya merasa setakut itu dan sepasrah itu. Pada akhirnya saya selamat, tanpa luka segores pun. Tubuh saya utuh, tanpa memar, tanpa cacat. Padahal tubuh saya terjatuh, terpeleset, dan terbentur.

Usai kejadian itu, pertanyaan mengenai suara siapa yang menyuruh saya lari selalu terbersit di kepala saya. Suara siapa?

Mungkin, bagi sebagian orang, hal-hal semacam itu hanya bentuk dari ilusi. Bagi saya, hal itu menjadi bukti nyata dari ayat ini:

“Bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (Q.S Ar Ra’du 11)”

(Malaikat menemani manusia mulai awal penciptaan pada rahim ibu, sampai ruh dicabut dari jasad ketika saat yang telah ditentukan tiba. Mereka tidak pernah lepas mengawasi manusia, kecuali ketika Allah memerintahkannya untuk berlepas diri dari manusia. Saat tertimpa musibah misalnya).

Titik balik terjadi berulangkali. Terutama saat kita merasa tinggi dan merasa lupa pada apa dan siapa diri kita sebenarnya. Pada saat hati kita melupakan Dia yang tak pernah melupakan kita. Sama halnya dengan Saptuari di bukunya: “Kembali ke titik nol” sebagai dasar memulai kembali berbisnis dengan cara yang benar setelah sebelumnya terpuruk. Sama halnya dengan Agustinus Wibowo yang menulis buku berjudul “Titik Nol” sebagai titik kembali kisah petualangannya: kembali pulang ke rumah. Titik balik pun demikian, adalah saat kita diminta pulang ketika hati sudah pergi terlalu jauh.

Titik balik akan memberikan kita cahaya. Cahaya di atas cahaya. Cahaya bagi siapa yang Dia kehendaki. Karena, ada juga yang tidak Dia kehendaki mendapatkan cahaya itu meskipun hanya sedikit.

“...Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS An-Nuur:35).”

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.