Minggu, 01 Mei 2016

Baking Soda. Mengapa Saya Memilihnya?

gambar dari sini

Diawali dari beberapa tahun silam. Sekitar tahun 2013 akhir. Seorang teman bernama Iin spoiler sedikit tentang gerakan keramas tanpa shampoo. Waktu itu yang saya tangkap dari cerita teman saya adalah: dengan memakai shampoo, rambut kita justru akan kehilangan kelembaban alaminya.  Tanpa shampoo, rambut akan lebih tahu kelembaban yang sesuai dengan dirinya sendiri. 

Kemudian dia menceritakan beberapa pengalaman orang lain yang sudah melakukan gerakan tanpa shampoo atau No Phoo ini. Katanya, banyak yang tidak betah dan menyerah di tengah jalan saat sudah memutuskan melakukan gerakan No Phoo. Karena, kebanyakan orang tidak tahan terhadap efek detoksnya. Efek detoks? Penjelasan secara sederhana, efek detoks adalah efek samping yang ditimbulkan ketika suatu kegiatan mencoba membersihkan dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Efeks detoks yang sering dialami oleh pelaku No Phoo adalah: muncul bintik seperti jerawat di kepala, muncul putih-putih seperti ketombe padahal bukan ketombe, atau justru rambut bertambah lepek. Bagi yang kurang istiqomah dan tidak tahan dengan efek detoks tersebut, memang kebanyakan menyerah. Bagi yang tahan, pada akhirnya akan mendapatkan hasil yang tak kalah luar biasanya. Rambut jadi cantik alami dan menghilangkan ketergantungan pada shampoo. 

Waktu itu, pengetahuan saya hanya sebatas itu. Hanya sekedar tahu dan sudah, tak ada tindak lanjut di diri saya sendiri. Pengetahuan saya hanya sebatas: No Phoo dilakukan untuk mengatasi masalah kecantikan dan kesehatan semata, tidak ada efek lain di luar itu.

Next. Masih berkaitan dengan hal yang saya ceritakan di atas. Pada akhir tahun 2014, saya bersama beberapa kawan SMA saya mengikuti trip ke Kampung Baduy Dalam. Suku Baduy Dalam, adalah suku yang masih sangat kental dengan berbagai aturan atau kearifan lokalnya. Beberapa aturan adat yang masih dipegang teguh oleh para Suku Baduy Dalam antara lain: tidak diperbolehkan menggunakan barang elektronik di dalam kampung; pembangunan rumah dengan desain, luasan, dan bahan yang seragam serta aturan pakaian yang sederhana sehingga tidak akan timbul persaingan harta duniawi di sana; serta aturan pelarangan pemakaian aneka macam sabun dan turunannya. Kearifan lokal terakhir yang saya sebutkan bagi saya sangat menarik.

Apa yang membuat pelarangan pemakaian sabun menjadi menarik buat saya? Waktu itu awalnya saya mikir, nggak pake sabun apa ya bersih? Selama dua hari di sana, saya dan teman saya mengamati para penduduknya, khususnya para wanita Baduy. Kulitnya bersih. Rambut cantik banget. Gigi bersih juga. Dan yang paling penting: air sungainya jernih banget! Ya iyalah, nggak ada pencemaran kimia dari segala jenis sabun dan turunannya. Sebuah aturan yang mungkin dianggap sebagian orang adalah aturan yang primitif dan mengekang. Tapi saya lihat sendiri dampaknya, luar binasa! Bukan hanya bagi diri mereka sendiri, tapi dampak luar biasa itu berlaku untuk alam di sekitar mereka. Hal kecil yang dilakukaan secara berjamaah, berdampak besar sekali.

Bagi saya, mereka itulah pioneer pembangunan berkelanjutan sebenarnya. Para manusia modern, pemerintah kita, orang-orang berilmu di dunia ini, bahkan kita sendiri, belum lama menyadari betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan atau sustainable development. Mereka, Suku Baduy Dalam, sudah melakukan aksi pembangunan berkelanjutan sejak berabad-abad yang lalu dan masih terus menjalankannya sampai sekarang.

Apa itu pembangunan berkelanjutan?
Pembangunan yang berprinsip untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa harus mengambil hak milik generasi yang akan datang. Intinya, menjaga lingkungan dan mengambil sumberdaya secukupnya agar tidak rusak dan tidak habis agar anak cucu kita pada generasi mendatang masih bisa hidup nyaman di bumi ini.

Apa yang saya temui di Kampung Baduy Dalam, membuat saya kagum. Ya, kagum. Sebatas kagum tapi saya juga belum melakukan apa-apa. Saya masih belum berani meninggalkan sabun, shampo, dan pasta gigi.

Berlanjut pada tahun 2015. Tahun di mana saya memutuskan kembali ke kampung halaman saya. Sepertinya apa yang saya alami dari tahun 2013 sampai 2015 ini memang saling berkaitan. Saya dipertemukan dengan Bumi Langit (ceritanya sudah pernah saya sampaikan di sini) dan dipertemukan lagi dengan Yulia, seorang kawan kuliah saya di geografi yang memeperkenalkan saya dengan baking soda.

Mulai dari situlah, saya sedikit demi sedikit berani meninggalkan sabun, shampoo, dan pasta gigi. Saya menggantinya dengan baking soda, serbuk putih yang biasa digunakan untuk pembuatan kue. Sebisa mungkin saya mencari bahan perawatan tubuh yang tidak jauh dari kata alami  dan natural. 

Mengapa baking soda?

Pertama, karena sudah banyak bukti yang berbicara bahwa benda ini ramah lingkungan, ramah di kantong, dan ramah pemanfaatan.
Kedua, ada buku yang membicarakan baking soda dari A sampai Z, dan saya percaya.
Ketiga, setelah saya memakainya (kadang) sebagai sabun, shampoo, dan pasta gigi, saya tambah percaya (karena saya sendiri sudah membuktikannya).
Keempat, baking soda buat saya paling reasonable untuk saya karena mudah didapatkan di mana saja. Dan saya memang belum menemukan pengganti yang mampu menjawab kemauan saya selain baking soda sampai sekarang.

Walaupun memang masih banyak kontroversi mengenai baik buruknya baking soda, saya berpikir, jika niat kita baik semoga saja pilihan saya untuk istiqomah di jalan ini menggunakan baking soda juga berakhir baik. 

Mulailah dari yang kecil. Mulai dari diri sendiri. Dan mari kita lakukan secara berjamaah agar dampak kebaikannya semakin besar.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.