Senin, 30 Mei 2016

Cahaya di Atas Cahaya

Ada beberapa titik balik yang saya temui dalam hidup saya. Bagi saya, titik balik adalah peristiwa yang terjadi di salah satu fase hidup, ketika kita merasa sedang berada titik atas namun  terjun tiba-tiba ke titik paling dasar dan paling bawah dalam hidup kita, sehingga satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanya pasrah. Dan dari titik paling dasar tersebut, pada akhirnya kita kembali lagi ke titik awal kita sebelum jatuh atau bahkan justru melampaui titik awal, melejit melampaui batas.

Salah satu titik balik, saya alami 10 tahun silam. Saat yang bisa saya lihat hanyalah seberkas cahaya terang yang seakan-akan menarik saya menujunya. Peristiwa itu pernah saya ceritakan di blog ini pada postingan dengan judul Cahaya.

Beberapa studi ilmiah menjelaskan bahwa pada umumnya orang yang hampir mati pasti melihat seberkas cahaya terang. Waktu itu, saya pikir saya hampir mati. Lorong, cahaya terang di ujung, dan suara yang menyuruh saya lari, diiringi suara bergemuruh di sekeliling saya, suara kaca-kaca pecah, dan suara-suara menakutkan yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Belum pernah saya merasa setakut itu dan sepasrah itu. Pada akhirnya saya selamat, tanpa luka segores pun. Tubuh saya utuh, tanpa memar, tanpa cacat. Padahal tubuh saya terjatuh, terpeleset, dan terbentur.

Usai kejadian itu, pertanyaan mengenai suara siapa yang menyuruh saya lari selalu terbersit di kepala saya. Suara siapa?

Mungkin, bagi sebagian orang, hal-hal semacam itu hanya bentuk dari ilusi. Bagi saya, hal itu menjadi bukti nyata dari ayat ini:

“Bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (Q.S Ar Ra’du 11)”

(Malaikat menemani manusia mulai awal penciptaan pada rahim ibu, sampai ruh dicabut dari jasad ketika saat yang telah ditentukan tiba. Mereka tidak pernah lepas mengawasi manusia, kecuali ketika Allah memerintahkannya untuk berlepas diri dari manusia. Saat tertimpa musibah misalnya).

Titik balik terjadi berulangkali. Terutama saat kita merasa tinggi dan merasa lupa pada apa dan siapa diri kita sebenarnya. Pada saat hati kita melupakan Dia yang tak pernah melupakan kita. Sama halnya dengan Saptuari di bukunya: “Kembali ke titik nol” sebagai dasar memulai kembali berbisnis dengan cara yang benar setelah sebelumnya terpuruk. Sama halnya dengan Agustinus Wibowo yang menulis buku berjudul “Titik Nol” sebagai titik kembali kisah petualangannya: kembali pulang ke rumah. Titik balik pun demikian, adalah saat kita diminta pulang ketika hati sudah pergi terlalu jauh.

Titik balik akan memberikan kita cahaya. Cahaya di atas cahaya. Cahaya bagi siapa yang Dia kehendaki. Karena, ada juga yang tidak Dia kehendaki mendapatkan cahaya itu meskipun hanya sedikit.

“...Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS An-Nuur:35).”

Minggu, 22 Mei 2016

Tragedy Of The Commons

The Population problem has no technical solution, it requires a fundamental extension in morality. (Garrett Hardin)

Tidak ada solusi teknis yang mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lingkungan dan di masyarakat, solusi utamanya adalah moralitas masyarakat itu sendiri. Segala yang berhubungan dengan keteknikan hanyalah alat bantu. Itu yang diungkapkan Garret Hardin sebagai seorang ekologist.

The commons, bisa diartikan sebagai sumberdaya milik bersama. Sumberdaya milik bersama yang bebas dimanfaatkan siapa saja, diambil seberapa pun, dan semuanya (seharusnya) gratis. Contohnya? Air, ruang udara, ruang laut, dan lainnya.

Muncul instilah tragedy, ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dari keberadaan the commons yang seharusnya menyenangkan dan semestinya baik-baik saja. Pada dasarnya, apa yang terdapat di atas bumi, adalah milik bersama, bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, untuk apa saja, secukupnya.

Namun, sifat dasar manusia yang memang punya nafsu yang tak pernah puas menjadikan keberadaan the commons ini sebagai sebuah tragedi. Menjadi sebuah tragedi ketika semua sisi kehidupan dikomersilkan. Demi perut, demi kesenangan hidup, demi “masa depan” – masa depan yang dimaksud di sini adalah masa depan finansial.

Garret mengilustrasikan tragedy of the commons ini dengan beberapa kelompok manusia dan ternaknya. Kita misalkan ternak itu adalah kambing. Pada suatu tempat, terdapat satu padang rumput yang dihuni oleh 4 kelompok masyarakat. Sebut saja kelompok masyarakat A, kelompok masyarakat B, kelompok masyarakat C, dan kelompok masyarakat D. Pada kelompok masyarakat yang ada, telah disepakati bahwa setiap kelompok masyarakat hanya boleh memiliki 2 ekor kambing yang digembalakan di padang rumput tersebut.

Kehidupan berlangsung normal selama bertahun-tahun, mematuhi kesepakatan awal. Lama kelamaan, timbul perasaan tidak puas dari kelompok masyarakat A. Apa yang mereka dapatkan dari kambing-kambing ini hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Suatu hari mereka berinisiatif menambah jumlah kambing. Yang tadinya 2 menjadi 6. Hasil yang mereka dapatkan pada akhirnya lebih banyak. Bisa untuk membeli macam-macam barang, dan tentu saja harta yang mereka punya lebih banyak.

Kelompok masyarakat B yang nasibnya masih biasa-biasa saja, melihat si kelompok A yang kehidupannya menjadi lebih baik, berpikir untuk mengikuti jejak kelompok A tersebut. Mereka beli tambahan 2 ekor kambing, agar masa depan mereka menjadi lebih baik seperti kelompok A. Begitu pula yang dilakukan oleh dua kelompok lainnya. Kelompok masyarakat A seakan menjadi role model bagi yang lainnya. Padang rumput yang tadinya diisi oleh 8 ekor kambing, kemudian penuh diisi oleh 24 ekor kambing. Rumput-rumput yang tadinya dimakan bergiliran oleh 8 ekor kambing, menjadi cepat habis dengan adanya 24 ekor kambing. Lama-kelamaan, padang rumput itu rusak. Di sinilah mulai terjadi tragedi. Ketika rumput-rumput habis, kambing-kambing kekurangan makanan, lalu kehidupan keempat kelompok masyarakat ini menjadi lebih buruk dari pada kehidupan awal mereka yang sebenarnya sudah sangat cukup untuk hidup.
***

Tragedy of the commons sudah ada sejak lama. Mungkin, sejak manusia mulai menghuni bumi. Di sekitar kita, tragedy of the commons terjadi tanpa kita sadari bahwa itu adalah sebuah bentuk tragedi. Sebab, segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan tren, itu sudah tidak dianggap sebagai tragedi. Walaupun, itu sebenarnya adalah tragedi.

Bahasan tentang Tragedy of The Commons ini saya dapatkan pada kuliah Jumat kemarin, yang berakhir pada sedikit perenungan di akhir pekan tentang apa yang sedang terjadi di sekitar saya. Tragedi yang hendak saya bahas adalah tren travelling, jalan-jalan, piknik, atau apapun sebutannya yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Saya pun, juga terjerat dalam kesenangan tren tersebut.

Apakah yang terjadi di balik tren travelling itu termasuk Tragedy of The Commons?

Dulu. Dulu sekali waktu saya masih SMA sampai pertengahan tahun kuliah sarjana, pantai-pantai yang jauh dari rumah, gunung-gunung, atau tempat-tempat lain yang pemandangan alamnya bagus, masih relatif sepi. Pergi ke daerah timur Indonesia pun rasanya masih susah sekali dan penuh pengorbanan. Bahkan pergi ke tempat yang jauh kadang masih dipandang kurang kerjaan: ih kamu ngapain sih jauh-jauh ke sana?

Sekarang, situasi berbanding terbalik. Belum ada satu dekade, begitu drastis perubahan yang terjadi. Jika dulu lewat Jalan Wonosari ketika musim liburan arus kendaraan masih sangat lancar, sekarang Jalan Wonosari bahkan macet saat weekend, apalagi saat long weekend, lebih macet dibandingkan Jalan Kaliurang. Pantai-pantai, gunung-gunung, goa-goa, yang dulunya sepi, sekarang seperti pasar. Ramai. Semua seakan berlomba-lomba mencari tempat hits buat piknik. Travelling. Holiday.

Travelling, yang dulu identik dengan berjalan jauh dari rumah untuk mencari makna hidup, sekarang berubah arah menjadi pergi bermain mencari kesenangan hidup. Tidak bisa dipungkiri. Itu faktanya. Apa yang sedang terjadi sekarang ini.

Jika dulu pergi ke tempat yang jauh dan asing dilakukan untuk mencari ketenangan, sekarang beralih tujuan untuk sekedar hunting foto yang nantinya akan diupdate di Instagram dan media sosial lain. Saya pun, pernah begitu.

Lalu.

Sepertinya sekarang saya memutuskan untuk berhenti melakukannya.

Update tempat ngehits di instagram atau media sosial lainnya, menurut saya adalah salah satu pemantik tragedy of the commons. Sekali lagi, ini menurut saya.

Tempat-tempat dengan pemandangan alam yang dulunya bebas dinikmati siapa saja dengan penuh ketenangan dan rasa damai, sekali saja diupdate di media sosial, apalagi yang update adalah orang-orang terkenal dan berpengaruh, menyebabkan tempat tersebut dikomersilkan pada akhirnya. Didukung dengan tren travelling masa kini, tempat itu mendadak ramai seperti di pasar.

Lalu.

Tinggal menunggu waktu sampai tempat itu menjadi rusak. Jika pengunjungnya tidak bertanggungjawab. Jika daya dukung dan daya tampungnya terlampaui. Jika urusan kesenangan dunia menjadi tujuan utamanya.

Maka benar apa yang diungkapkan oleh Garret Hardin di awal tulisan ini, solusi utama adalah moral para pelakunya. Moral manusia yang memanfaatkan ruang tersebut. Kalau dalam agama yang saya anut, perbaiki dulu akhlaknya.

Gunakan ruang seperlunya, sewajarnya, secukupnya. Bukankah yang berlebihan itu tidak pernah baik?
***

Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya (zakatnya) di hari memetik hasilnya, tapi janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
(Q.S Al-An’am: 141)


Selasa, 17 Mei 2016

Main Sama Dian



Masih berhubungan dengan postingan sebelumnya. Tentang pertemuan dengan seseorang. Pertemuan dengan manusia lain bagi saya adalah salah satu pengejawantahan konsep jodoh. Kan kalau jodoh pasti bertemu. ^^

Saya kenal Dian pada akhir tahun 2013, saat kami tergabung dalam satu tim proyek di Pulau Flores. Yang ternyata kami adalah tetangga fakultas. Dia anak teknik, saya anak geo. Ternyata juga kami wisudanya barengan. Dia satu angkatan di bawah saya.

Hampir dua bulan kami serumah, sekamar, kadang sekasur, dan pastinya seperjalanan. Mulai dari sana, kami semakin takjub pada tempat-tempat asing yang belum pernah kami bayangkan bisa kami kunjungi. Semakin menyukai pergi ke tempat-tempat baru dan bertemu orang-orang baru yang sebelumnya asing bagi kami.
Kami menikmati waktu-waktu kami sebelum instagram ngehits dan menyebabkan tempat-tempat indah yang dulunya sepi sekarang mendadak ramai seperti pasar.
Jodoh adalah sesuatu atau seseorang yang tidak kita genggam terlalu erat atau kita paksakan untuk ada di situ. Dia kadang-kadang datang tiba-tiba, tanpa perencanaan, dan berlanjut dengan kedekatan-kedekatan yang tak dibuat-buat. Ketika saya menjadi saya, dan dia tetap menjadi dia. Lalu apapun saya dan dia, itu tak akan menjauhkan kami, justru malah akan mendekatkan kami. 

Sepulang kami dari Flores, dan menyelesaikan pekerjaan kami di Jogja, kami kembali meneruskan kehidupan kami masing-masing. Saya mengambil pekerjaan di Jakarta. Dian waktu itu pulang ke Serang, asalnya memang dari Banten. Tapi tak lama kemudian, dia mengambil pekerjaan di Jakarta juga, di sebuah konsultan perencanaan sebelum akhirnya juga pindah ke salah satu kementerian di barat Monas.

Kadang saat penat datang sementara waktu luang juga tersedia, pergi dengan Dian adalah salah satu pilihan di antara banyak pilihan lainnya. Jogging di Stadion Lebak Bulus, memanfaatkan diskonan tiket Dufan, sekedar makan di Atrium Senen, atau pernah juga suatu ketika malam hari sepulang kerja tiba-tiba saya bilang:
Di, aku nginep Serang ya besok.
Lalu esok paginya saya sudah berada di bus jurusan Merak. Sorenya tahu-tahu sudah sampai ujung Banten, menikmati sunset di Pantai Anyer, naik motor dari Kota Serang melintasi Cilegon.

We're different person. Saya INFP, Dian ENFJ. But sometimes we have same things. Seperti, kami sama-sama orang random yang menikmati ketidakpastian yang selalu muncul di depan kami. Suka lagu-lagu indie yang kadang bagi orang-orang itu nggak ngehits. Dan kami suka buku (tapi saya sangat suka kucing, dia nggak suka kucing). Kadang-kadang dia jadi Peri Buku buat saya. Saat saya memutuskan kembali di Jogja dan dia masih di Jakarta. Ada beberapa kali kejutan berupa  paketan buku-buku bagus sudah bertengger di atas meja belajar saya.

Walaupun kami sudah tidak sekota pun, memang sepertinya kami ditakdirkan sering bareng. Saat saya memutuskan untuk berada di Pare, Kampung Inggris, selama hampir tiga bulan lamanya, Dian tiba-tiba pengen nyusulin, "Aku ikut ya sist, dua minggu". Lalu akhirnya bareng lagi kami di sana dua minggu.

Tidak salah sepertinya kalau saya bilang, saya pergi kemana-mana dengan Dian itu adalah takdir yang tak terelakkan tanpa kami harus merencanakannya secara berlebihan. Karena, jika rencana-rencana itu saya lakukan dengan orang lain, bahkan dengan orang-orang yang sepertinya saya anggap sangat dekat, eh ujung-ujungnya nggak jadi.

Begitu pun di Pare. Mendadak kami pergi ke Baluran lalu Kawah Ijen. Kemudian minggu berikutnya sudah ada di Bromo. We're random people. 

"Gingaps? Insyaa Allah aku besok sampai Jogja. Hahaha. Ini baru aja dapet tiket go show."

Pertengahan Mei, tiba-tiba dia kirim pesan WhatsApp ke saya. Setelah dua bulan sebelumnya dia ke Jogja dan pergi ke Merbabu bersama saya dan beberapa kawan kuliah saya dan kawannya kawan kuliah saya, dia balik lagi ke Jogja tanpa rencana. Katanya, "Nggak tahu ya, tiap penat, tiap bingung mau ngapain, Jogja itu selalu jadi pilihan tempat buat pulang", katanya.


"Aku pengen leyeh-leyeh di hutan pinus," dia bilang.

Hari minggunya, saya menemaninya ke hutan pinus (setelah sebelumnya sarapan bubur di parkiran Kompleks Makam Imogiri dan terharu begitu tahu murahnya harga makanan di sana). AndOut of expectation! Sampai di hutan pinus, ada hal di luar ekspektasi kami. Beberapa kali saya atau Dian pernah ke sana, apa yang kami temui adalah ketenangan dan gemerisik suara syahdu dedaunan pinus yang bergesekan. Tapi, yang kami temui ketika itu adalah parkiran yang penuh dengan kendaraan, dan hutan yang tak lagi syahdu. 

"Gilaa udah rame banget! Kayak hutan pinus yang ada di Bogor! Bentar lagi ada kafe dibangun di tengah-tengah hutan, nih!" Dian bereaksi.


"Yaudah yok, masuk aja. Udah terlanjur di sini."

Kami masuk, mencari tempat yang kira-kira enak buat leyeh-leyeh, tapi semua tempat sudah penuh. Sampai kami mencari di pojok-pojok dan menemukan satu bangku kosong. Kami duduk, ngobrol, mengamati orang-orang. Ada yang pacaran. Ada yang sudah siap dengan ootd-nya masing-masing. Banyak yang membawa tongsis, sportcam, dan kamera-kamera masa kini lainnya. Kami hanya duduk makan kacang. Sedang tidak tertarik untuk foto-foto. Padahal biasanya kami banyak potret sana potret sini. Saat itu, hasrat untuk jadi anak masa kini sudah hilang.

"Trennya udah kayak begini ya?" kata saya sambil mengamati sekitar.

"Iya, sekarang semua pada suka piknik. Dulu mah sepi banget ya."

"Banyak tren ya sekarang?"

"Emang apa aja?"

"Tren piknik, tren jilbab dan gamis lebar, tren ootd..."

"Haha iya. Kadang nggak bisa bedain mana yang cuma ikut-ikutan mana yang nggak."

Cukup lama kami duduk di bangku yang sama. Cerita macem-macem. Mengamati sekitar. Sampai akhirnya kami memutuskan sewa hammock yang juga sedang menjadi tren masa kini dan sudah muncul stand persewaan hammock di hutan pinus!

"Aku pengen tidur. Kamu lagi nggak ngapa-ngapain kan hari ini?" tanya Dian. Saya menggeleng. Kami turun dan meminta mas-mas persewaan hammock memasangkan hammock. Kami lanjutkan leyeh-leyeh kami. Tiduran dan baca buku.

Ada motif di balik pergi main. Ada yang memang butuh, ada yang hanya ikut-ikutan biar dibilang keren, ada yang memang punya misi tertentu yang kadang tidak terlintas di pikiran kita.

Selalu ada yang bisa diamati dan dibicarakan di sekitar kita. Bahkan, mungkin kita juga menjadi salah satu bahan pembicaraan yang tak ada habisnya untuk orang-orang di sekitar kita.

Aih, pada akhirnya tulisan saya menjadi tidak nyambung.

Yogyakarta,
diselesaikan 24 Mei 2016
di Perpustakaan Pusat UGM



Jumat, 13 Mei 2016

Rahasia-Nya Yang Penuh Teka-Teki

Semesta sedang bekerja. Bekerja dengan cara yang kadang tidak kita duga. Cara yang membuat kita takjub, bahkan ternganga. Kita tidak tahu sedang berperan sebagai apa. Tapi semesta tahu kita harus memerankan apa. Dan di atas semua itu, Tuhan lah yang telah menuliskan cerita hidup kita. Bersiaplah ternganga lebih lebar. Bersiaplah tertakjub lebih dalam. Selamat menempuh jalan cerita masing-masing. Selamat mencari dan menemukan petunjuk. Selamat menuju pada akhir cerita. Dan bersiaplah terkejut dengan akhir cerita kita. Entah sad ending atau happy ending. ~putrimaru  

Teluk Awur, Jepara. Bersama semesta yang sedang bekerja.


Kejadian demi kejadian yang telah kita alami dari lahir sampai hari ini semua saling terkait. Semua kejadian membentuk simpul-simpul baru, Kepastian meloncat menjadi ketidakpastian dan sebaliknya. Keyakinan berubah menjadi keraguan, begitu pula sebaliknya. Orang-orang yang menjadi lawan main kita, orang-orang yang pernah kita temui, ada maksud di balik pertemuan antar manusia yang pernah terjadi. Ada benang merah yang menghubungkan setiap kejadian. Menjadi petunjuk ataupun menjadi pertanda.

Pernah tidak, kalian dipertemukan dengan orang yang sama sekali belum pernah kalian kenal, lalu ternyata di kemudian hari pertemuan itu ternyata menjadi petunjuk dalam kehidupan di depan kalian? Pasti pernah. Saya pernah. Ada dua orang yang akan saya ceritakan di sini. Orang yang tidak saya kenal, bahkan sekarang ini saya lupa siapa namanya, namun apa yang mereka katakan menjadi nasihat baik yang saya ingat dan mempengaruhi beberapa keputusan saya.

1. Satu
Saya pernah menceritakannya sebelumnya dalam tulisan saya di blog ini, judulnya "Obrolan Pagi" . Pertemuan saya dengan seorang dosen sebuah universitas swasta di kota saya yang saat itu sedang menyelesaikan disertasinya di kampus saya. Seorang bapak yang sudah sepuh, berusia lebih dari setengah abad. Waktu itu, melalui sekretariat jurusan beliau meminta bantuan kepada mahasiswa S1 untuk membantu memperbaiki peta yang beliau buat. Saya ditakdirkan untuk membantu beliau. 

Hanya sekali dua kali ketemu. Di pertemuan terakhir, saat saya menyerahkan hasil pekerjaan saya kepada beliau, obrolan itu muncul.

"Nak Putri rencana ke depan apa?" tanya beliau. Waktu itu saya memang sedang menyelesaikan skripsi saya. Beliau ingin tahu apa yang akan saya lakukan pasca lulus. Waktu itu di pikiran saya, saya mau bekerja sampai saya menikah. Setelah menikah, maka ada masa depan baru yang nantinya akan saya kompromikan bersama suami saya. Itu yang ada di pikiran saya waktu itu. Bahkan ibu saya yang menginginkan saya kuliah lagi biar bisa jadi dosen atau agar bisa menunjang karir saya  ke depan nanti pun tidak saya gubris. Saya lebih memilih untuk mencari pengalaman di luar kehidupan kuliah sampai nanti menikah. Bekerja.

Pikiran saya agak berubah setelah obrolan tak sampai dua puluh menit dengan bapak itu.

"Saya pengen bekerja dulu, Pak," kata saya waktu itu.

"Nggak pengen kuliah lagi?" tanya beliau.

Jawaban saya waktu itu adalah: TIDAK. Lalu beliau mengatakan hal ini kepada saya:
"Kenapa tidak? Menuntut ilmu setinggi-tingginya itu tidak ada salahnya, Nak. Bukannya Allah menjamin menaikkan derajat orang-orang berilmu?" 

Saya mengangguk.

"Kalau saran Bapak, Nak. Nak Putri besok sekolah lagi, ya. Niatkan saja untuk meningkatkan kualitas ibadah. Ya, percaya tidak percaya, Bapak sendiri merasa ibadah yang dulu hanya rutinitas dan rasanya hampa, jadi tidak hampa lagi begitu mendapat ilmu baru. Apalagi di bidang ilmu ini. Terasa betul.”

Terasa betul. Waktu itu saya tidak mengiyakan, juga tidak bilang tidak. Sampai setelah hampir dua tahun lulus dan sudah bekerja, saya membaca kembali blog saya, dan menemukan tulisan saya yang menceritakan obrolan saya bersama Si Bapak Dosen. Saat itu saya sedang galau-galaunya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya atau tidak. Lalu petunjuk-petunjuk itu bermunculan dan membawa saya memutuskan untuk resign dan kuliah lagi.   

Terasa betul. Ya, saya sedang merasakannya sekarang. Terasa betul :')
Geografi. Semakin ke sini, saya semakin jatuh cinta.
Jatuh cinta pada Dia yang mengarahkan saya ke sini. Di tempat ini. Pada ilmu ini. Pada alam ciptaan-Nya. Pada semua yang pernah saya temui. Pada apa-apa yang pernah mampir dalam hidup saya.

Allah tidak pernah memberikan jalan yang salah buat saya,
Hanya saja, saya sering nakal dan kenakalan saya kadang membuat saya ragu kepada-Nya

2. Dua
Stasiun Jatinegara. Sehabis jam 9 malam. Waktu itu saya lembur di kantor dan memutuskan pulang naik KRL. Untuk sampai kos saya, dari Stasiun Gondangdia saya harus berpindah kereta di Stasiun Jatinegara. 

Malam itu, sedang ada gangguan kereta. Kereta yang seharusnya sudah ada di Stasiun Jatinegara jam 9 malam, belum muncul-muncul juga. Satu jam lebih kereta belum datang. Sebenarnya saya bisa memilih naik ojek, busway, atau angkutan umum lain. Jarak dari kos saya dari stasiun Jatinegara tidak terlalu jauh. Tapi, waktu itu saya hanya ingin naik KRL. Entah kenapa saya lebih memilih menunggu selama lebih dari satu jam dibandingkan pulang lebih cepat dan menemui kasur lebih cepat dengan naik moda transportasi lain selain KRL.

Saat itulah, Ibu itu muncul. Seorang ibu-ibu setengah baya seumuran ibu saya. Dia duduk di samping saya dan mengajak saya mengobrol. Kami tidak saling memperkenalkan nama. Obrolan di antara kami muncul begitu saja secara alami. Awalnya hanya ngobrol ngalor-ngidul ngomongin berita, acara TV, dan kehidupan sehari-hari.

Sampai akhirnya ibu itu menceritakan tentang dirinya kepada saya tanpa diminta. Beliau belum pernah menikah. Seorang lulusan S2 universitas ternama di Depok sana. Beliau tidak bercerita aktivitas sekarang apa. Yang beliau ceritakan adalah tentang penyesalannya yang pernah bersikap tidak baik dan seenaknya kepada kedua orang tuanya. Sampai keduanya meninggal, beliau belum sempat meminta maaf.

Lalu yang saya ingat sampai sekarang adalah ucapan beliau:
"Kita tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa dan memilih orang tua seperti apa. Waktu itu orang tua Ibu miskin. Ibu tidak terima dengan keadaan waktu itu. Ibu sombong dan tidak menghargai mereka, bersikap seenaknya. Di tengah pengaruh teman-teman yang lahir dari keluarga kaya. Ibu menyakiti hati mereka."

Saya tidak berkomentar apa-apa selama Ibu itu bercerita. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Saya cuma mendengarkan.

"Ibu tidak menikah sampai sekarang, itu akibat kesalahan Ibu sendiri. Ibu bersikap tidak baik kepada orangtua, dan bersikap seenaknya dan memaksakan kehendak pada mereka."

Terakhir, saat kereta datang dan kami berpisah karena kami berhenti di stasiun berbeda dan saya harus berada di empat gerbong paling depan agar dapat peron, sementara si Ibu itu harus berada di gerbong belakang agar dekat dengan pintu keluar stasiun, beliau berkata:
"Nak, baik-baik ya sama orang tua. Apapun kehendak kamu, percaya aja kehendak mereka pasti lebih baik buat kamu."

Sampai kos saya nangis. Asli saya nangis tiba-tiba. Duh cengeng banget :')
Saya nggak tahu apa maksudnya saya dulu tiba-tiba ketemu Ibu itu.
Sekarang, insyaa Allah saya tahu kenapa dulu tiba-tiba ketemu Si Ibu.
Saya yakin nasihat ibu itu benar adanya.

Selalu ada maksud di balik setiap pertemuan. Semesta yang mempertemukan.
Sampai sekarang, semesta masih mengerjakan tugasnya. Semesta mengerjakan tugasnya dengan baik untuk para penghuni di dalamnya. Semesta masih bekerja sampai dia diminta berhenti bekerja.


Selasa, 10 Mei 2016

KUN ANTA!



Kun Anta
Penyanyi asli: Humood AlKudheer
lirik lagu dan terjemahannya dari sini


لأجاريهم، قلدت ظاهر ما فيهم
فبدوتُ شخصاً آخر، كي أتفاخر
Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim 
Fabadautu syakhsan aakhar, kai atafaa khar
Ketika ingin bersaing dengan yang lain aku ingin meniru sifat luar dan dalamnya. Jadi aku bisa menjadi seseoran lain dengan bangga.

و ظننتُ أنا، أنّي بذلك حُزْت غنى
فوجدتُ أنّي خاسر، فتلك مظاهر
 Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina
Fawajad tu anni kha-sir, fatilka mazohir
Dan aku kira jika aku lakukan itu aku akan mendapatkan kelebihan, tetapi aku hanya mendapat kerugian dari sifatku itu.

لا لا
لا نحتاج المال
كي نزداد جمالا
جوهرنا هنا
في القلب تلالا
La la
La nahtajul ma la 
Kai nazdada jama la
Jauharna huna
Fi qalbi talala
Tidak tidak, kita tidak membutuhkan harta untuk kebagusan, mutiara ada disini, didalam hati ia bersinar.

لا لا
نرضي الناس بما لا
نرضاه لنا حالا
ذاك جمالنا
يسمو يتعالى
 La la
Nurdhin nasi bima la
Nardhohu la na ha la 
Za ka jamaluna
Yasmu yataa’la
Kita tidak perlu memandang pandangan orang lain yang tiada, keadaannya nya tidak sama dengan kita. Itulah keelokan kita, semakin naik keatas

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala 
Jadilah diri sendiri, pasti akan menambah keelokanmu

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً
Kun anta tazdada jamala
Jadilah diri sendiri, pasti akan menambah keelokanmu 

لا لا لا لا لا لا لا لا
أتقبّلهم، الناس لست أقلّدهم
إلا بما يرضيني، كي أرضيني
La la la la la la la la 
Attaqabbalhum, anna-su lastu qalliduhum 
Illa bima yurdhi-ni, kai urdhi ni
Tidak Tidak Tidak
Aku menerima mereka, tapi aku tidak meniru mereka
Kecuali apa yang telah kuterima dan aku menyukainya

سأكون أنا، مثلي تماما هذا أنا
فقناعتي تكفيني، ذاك يقيني
Sa akunu ana, mithli tamaman hazana
Fakona a’ti takfini, za ka yaqi ni 
Aku ingin menjadi diri sendiri, inilah kesempuranaanku
Cukup dengan hal ini, dan aku yakin itu

Sepertinya beberapa postingan terakhir di blog saya ngomongin lagu ya? Hmm, kebetulan aja. Kebetulan aja bisanya nulis hal-hal ringan buat refreshing. Tapi insyaa Allah lagu-lagunya bermanfaat. Minimal buat diri sendiri. Maksimal buat orang lain yang lagi butuh motivasi.

Kun Anta. Be Yourself. Jadi diri sendiri. Pertama kali tahu istilah ini di top searchingnya instagram (Instagram jualan tentunya, karena sekarang saya tak punya sosmed pribadi kecuali WhatsApp dan Blog-Pengumuman Penting). Ada buku dengan cover warna pink yang judulnya Kun Anta, penulisnya @negeriakhirat. Oke, saya penasaran. Lalu mulai mencari-cari postingan dengan tagar #kunanta. Lalu ada banyak postingan motivasi tentang menjadi diri sendiri di dalam tagar #kunanta tersebut.

Di salah satu postingan instagram, saya menemukan video lagu Kun Anta. Penyanyinya namanya Mimi kalau tidak salah, dari Malaysia. Saya kira itu penyanyi aslinya. Saya jatuh cinta sama yang nyanyi, sama lagunya, dan sama liriknya. Kemudian setelah iseng searching di Youtube, saya baru tahu, oh ternyata penyanyi aslinya dari Arab Saudi. Seorang lelaki tampan yang seumuran dengan saya, namanya Humood AlKudheer. Dan ternyata Kun Anta ini sudah menjadi viral di sosmed sudah lama, terutama di Malaysia. 

Just be yourself. Jadi dirimu sendiri. Jadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Begitu kata-kata bijak di lirik lagunya.
Anyway, biarpun maksudnya baik, jangan nyuruh orang lain berubah jadi orang lain yang kita inginkan juga ya. Biarkan dia yang berubah menjadi lebih baik sesuai dengan keinginannya sendiri, bukan karena keinginan orang lain. Karena, perubahan yang berasal dari hati akan lebih ringan dan akan susah goyah, dibandingkan perubahan yang disebabkan karena keinginan orang lain. 

Kun Anta. Jadilah diri sendiri :)

Senin, 09 Mei 2016

The Best of Banda Neira

Di sela-sela nunggu processing citra yang nggak kelar-kelar.
Setelah tadi tergoda nonton Captain America: Civil War yang hari ini bisa dapet tiket buy one get two di sebuah pusat perbelanjaan yang bangunannya belum 100% jadi di daerah Babarsari.
Setelah sedih nonton perang-perangan antar teman sendiri. Apalagi selama di jalan tadi banyak aksi untuk Aleppo.

Kenapa tulisan saya tidak nyambung begini ya?

Judul postingan saya kali ini adalah The Best of Banda Neira. Banda Neira itu nama sebuah pulau di kawasan Maluku sana. Tapi ini bukan bahas tentang Banda Neira yang di Maluku. Ini Banda Neira, sebuah grup band indie, yang diisi oleh dua personel: Rara Sekar dan Ananda Badudu.

Kalau kata tumblr dari grup band ini, Banda Neira adalah suatu bentuk proyek bertanggungjawab dari Rara Sekar dan Ananda Badudu, yang tadinya bermula dari keisengan. Berawal dari keisengan, diupload di soundcloud, banyak yang suka, kemudian diseriusin. I think that they love what they do, and they do what they love.

Kalau saya bilang, suara Rara Sekar renyah-renyah manis. Suara Ananda Badudu, hmm, serak-rendah-unik. Dan kolaborasi keduanya adalah ruhnya Banda Neira. Ananda Badudu, seorang wartawan koran Tempo dan Rara Sekar seorang pegiat LSM. Kedua kawan yang berkolaborasi iseng di bidang musik. Ananda Badudu, dengan kata-katanya yang tak pernah kehilangan kata-kata, menciptakan lirik yang membuat lagu-lagu Banda Neira semacam ada efek magisnya. Lalu suara renyah Rara Sekar siapa sih yang tidak suka?

Lagu pertama yang saya dengar dari Banda Neira adalah Berjalan Lebih Jauh. Dan kebiasaan saya, setiap kali saya suka sebuah lagu, saya pasti mengulang-ulang mendengarkannya dan lama kelamaan jadi soundtrack hidup. Haish.

Berjalan Lebih Jauh soundtrack hidup saya yang menemani perjalanan saya ke Merbabu, Lawu, Flores, Bali, Makassar, Minahasa, Baduy, Jakarta, Aceh, dll, dsb. Ketika saya dulu suka pergi ke mana-mana. Pokoknya setiap saya pergi ke tempat yang jauh dari rumah lagu ini cocok jadi teman. Sekarang sih, saya sudah berubah jadi anak rumahan banget. 

Entah Berantah juga lagu istimewa selama perjalanan dan selama dihadapkan pada situasi yang tak pernah pasti. Yang pasti di dunia ini kan adalah ketidakpastian itu sendiri. Ini lirik favorit saya dari lagu Entah Berantah: Dan kawan, bawaku tersesat ke entah berantah. Tersaru antara nikmat atau lara. Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya. Tanda tanya terus aja deh hidup ini. Nanti tanda titiknya kalau ruhnya sudah lepas dari badan. 

Senja di Jakarta, ini soundtrack hidup saya selama tinggal di Jakarta. Lagunya memang Jakarta Banget.

Rindu. Ini soundtrack hidup saya sebagai jomblo berwawasan. haha.

Di Beranda. Kalau kamu lagi di perantauan, lagu ini bikin sedih loh. Beneran. Kalau saya sih iya soalnya.

Itu tadi album pertama. Masih banyak lagu di album pertama yang belum saya sebutkan dan nggak kalah bagus dari lagu-lagu yang sudah saya sebutkan. 

Februari 2016 lalu duo Banda Neira mengeluarkan album baru sebagai tanda vakumnya mereka karena Rara Sekar mau melanjutkan pendidikannya.
Dan album ke dua ini lebih wow dari album pertama. Dari segi musikalitasnya terutama. Dan The Best of The Best bagi saya adalah lagu yang judulnya Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.  Pas banget jadi soundtrack hidup saya sekarang. Mau dengerin? Ini nih



Lagu lain: Derai-derai Cemara, Langit dan Laut, Matahari Pagi, dll, dsb juga nggak kalah bagusnya sebenarnya.

Baiklah, processing citra sudah selesai. Mari pulang! Selamat mengakhiri Senin!
Maaf untuk postingan random hari ini :))

Senin, 02 Mei 2016

The Piano Guys. Lovable Melody.

I ever told you that I were not good in music. I can't play music. I never do well in playing any music instrument. But I ever told you so, that sometimes I love to listening music. Some melodies make me melting, some rhytms make me happy, or sad, or I don't know what feeling I can tell you properly.


I've found The Piano Guys when I was doing my thesis for undergraduate student, 3 years ago. When I felt stuck with my "never-ending-boredom", I usually do my break activity. Reading, watching movies, or listening music.

So, why I love those guys? Why I love "how they play their music like a trance"? And who is Piano Guys?
I can't explain it well.
But I'll try to explain something now.

The Piano Guys is youtube artist. Consist of some "crazy musician". They come from USA. And they doing well to execute their lovable melody. Their music  are amazing. They cover all music perfectly. And they have great-superb-amazing-beauty scenery of their video clip background. Almost all of their video clip make me like I were fly away in another world.  You'll see The Great Wall of China on Kungfu Piano. Scotland Northern Highland on This is Your Fight Song. Some Snow Field on When Stars and Salt Collide. Oahu on What Are Word. And the most epic video in my opinion is Peponi, which taken on the peak of grand canyon! How crazy they are :))

See Jon Schmidt the pianist and Steven Sharp Nelson as a cellist will appeal your spirit comes back. It isn't because they are foreigners and handsome. But, they do their job wholeheartedly. And their passion affect you to do your job wholeheartedly too.

They have accompanied me finished my undergraduate thesis. I think, they will be nice friends to my graduate thesis this year :))

This in one of their video. You must see the others. I beg you, you will say: I'll Say! after you watching this!

*I do say sorry for my bad grammar anyway :))

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.