Sabtu, 30 April 2016

Asiyah, Fir'aun, dan Musa

Sumber dari sini

Siapa Asiyah?
Siapa Fir'aun?
Siapa Musa?

Tampaknya tak perlu dijelaskan siapa mereka. Sudah banyak ulasan tentang tiga nama tersebut. Bahkan kisah ketiganya sudah terpampang jelas di Al-Qur'an dan kitab lainnya yang muncul setelah zaman Nabi Musa. 

Saya tidak hendak menulis tentang hal-hal berat mengenai mereka. Tulisan ini semata-mata lahir dari pikiran saya setelah berpuluh-puluh tahun disuguhi kisah tentang nabi-nabi. Dari zaman masih ikut TPA sampai sekarang, cerita nabi-nabi selalu menyajikan hal-hal menarik.

Musa dan Fir'aun adalah kisah historis fenomenal yang tidak hanya dikaji oleh para ahli agama, namun juga oleh para ilmuwan sejarah, arkeologi, dan ilmu terkait lainnya. Mesir, piramida dan mummy sang raja sampai sekarang menjadi bukti utama supaya manusia tak pernah melupakan kisah yang pernah terjadi di tempat itu berabad-abad silam.

Dari kisah Musa dan Fir'aun, akhir-akhir ini saya tertarik pada satu sosok wanita di balik perseteruan mereka, Asiyah. Asiyah binti Muzahim.

Asiyah seorang wanita yang telah dijamin oleh Allah menghuni surgaNya. Asiyah menjadi salah satu dari golongan wanita yang dimuliakan oleh Allah. Seorang wanita mulia yang berjodoh dengan seorang lelaki keji dan egois.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baikadalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (Q.S An-Nuur 26)
Dari banyak kajian atau bacaan, tentu saja kisah Fir'aun dan istrinya bertolak belakang dengan ayat tersebut. Para ahli agama sudah banyak memberi penjelasan mengenai perkara tersebut.

Suatu hari muncul juga pertanyaan dari diri saya, sama seperti pertanyaan orang lain pada umumnya. Mengapa Asiyah yang baik menjadi istri Fir'aun? Fir'aun, lelaki yang seperti itu. Bukankah wanita yang baik untuk lelaki yang baik?

Lalu, sejenak merunut kembali kisah Musa yang diceritakan terperinci di dalam Al-Qur'an (menurut saya yang masih awam dan masih perlu banyak belajar ini, Kisah Musa merupakan kisah yang paling urut, lengkap, dan terperinci dibandingkan kisah-kisah nabi lainnya. Atau ini hanya perasaan saya saja?). Di situ diceritakan tentang kekejaman Fir'aun yang takut kekuasaannya akan direbut oleh seorang lelaki keturunan Bani Israil sehingga menitahkan untuk membunuh para bayi lelaki dari kalangan Bani Israil.

Suatu ketika, seorang bayi kecil lelaki lahir di tengah-tengah kaum Bani Israil, dia Musa. Atas petunjuk dari Allah, Ibu Musa diperintahkan menghanyutkan bayinya di Sungai Nil. Dan sudah suratan takdir pula sebenarnya, bayi itu dipertemukan dengan Asiyah, seorang wanita yang digilai oleh Fir'aun dan menjadi istrinya. Saking cintanya Fir'aun pada Asiyah, tentu saja dia tak sanggup menolak permintaan istri kesayangannya itu.

Kebetulan kah itu semua?

Tentu saja tidak, kan?
Mengapa Asiyah yang baik menjadi jodoh Fir'aun yang kejam?
Untuk menyelamatkan Musa.
Asiyah terlahir untuk Musa.
Dia punya misi hidup di dunia untuk menjadi penyelamat Musa.
Dia adalah sebentuk jodoh untuk Musa.
Menjadi ibu angkatnya.

Wanita-wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Asiyah yang baik lahir untuk menolong Musa yang baik.

Di kehidupan saat ini, sering saya melihat hal yang sama di sekitar saya. Seseorang yang nampak baik dipertemukan dengan pasangan yang menurut saya enggak banget. (Su'udzon banget ya saya? Astaghfirullaah).

Dan setelah sedikit merenungi kisah di atas, mindset saya seberusaha mungkin saya ubah. Bisa jadi si orang baik yang punya pasangan enggak banget itu memang sudah punya misi yang digariskan oleh Sang Maha Kuasa yang saya sendiri tak tahu apa itu misinya. Bahkan si pelaku sebenarnya juga belum menyadari misinya sampai dia melakukannya. Mungkin saja dengan adanya pernikahan antara si baik dan si enggak banget itu muncul anak-anak luar biasa yang menanti untuk dibesarkan. Mungkin saja si baik nantinya menjadi penyelamat hidup dan penunjuk arah untuk si enggak banget. Mungkin saja ada banyak hal-hal tersembunyi yang sebenarnya baik dan tidak sepantasnya saya mengira-ira seperti ini.

Setiap manusia yang lahir punya misi tertentu yang diamanahkan oleh Allah.
Misi utamanya tentu saja jadi khalifah, yang ini pun masih perlu digali lebih dalam oleh masing-masing manusia. Khalifah yang seperti apa?
Kemudian misi khususnya? Tak ada yang tahu sampai orang itu menjalaninya.

**jika ada hal-hal yang perlu diluruskan dari tulisan saya di atas, mohon dibantu. Kebenaran datangnya hanya dari Allah. Manusia tempatnya salah dan khilaf. 
Saya manusia. ^^

Bantul, 30 April 2016


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.