Selasa, 01 Maret 2016

VERTIKULTUR

Dalam rangkaian acara Agricultural Engineering Week (AEW) 2016 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian di Taman Budaya Yogyakarta minggu kemarin, diadakan workshop vertikultur yang diisi oleh Pak Budi Haryono dari PT INDMIRA, perusahaan yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan agrokomplek (pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan) serta rehabilitasi lingkungan sejak tahun 1985.

Sejak seorang kawan naik gunung saya memposting poster mengenai acara ini di instagram, saya langsung tertarik. Sebenarnya ada beberapa workshop menarik lainnya. Ada workshop tentang hidroponik, tentang pengolahan kopi, dan pemasaran hasil pertanian skala rumah tangga. Namun, karena waktu dan kesempatan yang memihak hanya sesuai dengan jadwal workshop vertikultur, tak apalah. Itu saja sudah sangat menarik bagi saya.

Istilah vertikultur sendiri berasal dari Bahasa Inggris, vertical (tegak lurus) dan culture (budaya). Jadi bisa disimpulkan bahwa pertanian sistem vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Ada dua macam teknik vertikultur, yaitu teknik hidroponik dan teknik konvensional.

Apa perbedaannya?

Teknik vertikultur hidroponik memakai media tanam yang berbeda dengan teknik vertikultur konvensional. Jika pada sistem vertikultur hidroponik memakai media sama seperti  sistem hidroponik berupa arang sekam, spons, serta beberapa kebutuhan nutrisi dan mineral lainnya. Sementara, sistem konvensional pada umumnya memakai media tanam berupa sekam, kompos atau pupuk kandang, serta tanah atau pasir. Teknik penyiramannya pun berbeda. Jika pada teknik hidroponik penyiraman dilakukan secara otomatis dan membutuhkan banyak air yang mengalir, maka pada sistem konvensional, penyiraman dilakukan secara manual dan tidak membutuhkan banyak air karena penyiraman dilakukan seperlunya saja.

Tanaman yang disa dibudidayakan secara vertikultur adalah tanaman sayur yang berupa sayuran daun dan sayuran buah. Sayuran daun seperti seledri, daun bawang, selada, sawi, caisin, bayam, kangkung, dan sejenisnya. Sayurang buah seperti tomat, cabai, terong, stroberi, dan  sejenisnya.

Lalu apa manfaat bertanam secara vertikultur?

Pertama, manfaat ekonomi. Dengan melakukan penanaman sistem vertikultur di rumah tangga masing-masing, akan mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga. Uang bisa dihemat karena sumber pangan berupa sayur-mayur sebagian sudah bisa ditanam sendiri. Selain itu, jika hasil penanaman berlebih, itu bisa menjadi income jika mampu memasarkan dengan baik. Kedua, manfaat estetika yang menambah keindahan dan mampu menjadi media pemanfaatan lahan terbatas. Ketiga, manfaat hidup sehat. Sistem penanaman vertikultur di rumah, memungkinkan untuk bisa mengawasi penggunaan pupuk dan menghindari pestisida yang berbahaya untuk tubuh.

Sistem pertanian vertikultur tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, dalam pertanian vertikultur, satu titik tanam bisa menghasilnya banyak pohon dan hasil yang lebih banyak juga. Hemat pupuk karena pada vertikultur konvensional, pupuk bisa digunakan dalam satu sampai dua kali masa tanam. Menambah nilai estetika, juga mudah dipindah-pindah karena vertikultur dilakukan pada tempat tersendiri yang memungkinkan untuk dipindah kemana-mana tanpa khawatir merusak tanaman. Sayangnya, sistem pertanian veltikultur memerlukan biaya investasi cukup tinggi di awal karena memerlukan modal untuk membuat tempat penanaman dari pipa paralon. Apalagi jika menggunakan vertikultur hidroponik, maka biaya akan menjadi lebih mahal. Selain itu, budidaya ini juga ditengarai rentan terhadap jamur.

Sebelum melakukan penanaman, perlu diketahui syarat tumbuh tanaman, yaitu 1) air (sebagai katalis akar untuk menyerap nutrisi); 2) nutrisi (bisa berupa pupuk) ; 3) porositas (kemampuan tanah dalam meloloskan/ menyerap air); 4) sinar matahari (sumber energi fotosintesis) ; dan 5) udara (sumber karbon dioksida untuk fotosintesis). Jika semua syarat tumbuh itu sudah terpenuhi, maka bisa dilakukan langkah selanjutnya. Yaitu action!

Video edukasi tentang vertikultur dari TVRI Yogyakarta di bawah ini semoga bisa membantu mencerahkan dan memahami apa dan bagaimana vertikultur dilakukan ^^



Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.