Rabu, 10 Februari 2016

Susahnya Memahami (Dunia) Perempuan


Secara fisik, saya perempuan. Namun ada banyak hal yang tidak bisa atau lebih tepatnya belum bisa saya pahami mengenai perempuan. Coba tanya saya masalah model sepatu wanita. Taunya cuma kets, wedges, flat shoes. Tanya soal make up? Lipstik aja taunya cuma wardah tigapuluh ribuan sama lipstik umroh (entah apa namanya), maka jangan tanya saya soal eyeshadow, maskara, pensil alis, pemulas pipi, eyeliner, atau apalah namanya. Mungkin cukup beli sekali buat setahun. Karena cuma dipakai kalau pas lagi ada kondangan aja, itu pun tipis bahkan sampai tak kelihatan di muka. Seorang teman pernah protes soal hal yang satu ini, "Ya ampuun mbak! Make up mu mbok ditebelin dikit kenapa?" Lalu dia sibuk memoles muka saya. Saya ingat ketika saya wisuda S1. Normalnya, tiap perempuan selalu senang dan bahagia di hari wisuda karena tampil berbeda dan tampil cantik. Iya saya bahagia, dan saya juga pakai make up. Tapi, begitu sampai ruangan, saya tak tahan kemudian sibuk mencari tisu, berusaha menghapus apa yang ada di muka saya. Kemudian setelah itu saya mikir, apa iya kalau besok pas hari pernikahan saya, saya juga bakal seperti itu lagi? Untungnya, semakin ke sini, kebiasaan itu lumayan berkurang. Saya sedikit bisa menahan diri.

Sejalan dengan pemakaian make up, begitupun dengan perawatan wajah. Seseorang pernah protes pada saya, "Mbok perawatan di salon. Kok nggak pernah perawatan sih?". Entahlah, saya tidak tertarik. Seberusaha apapun saya memunculkan ketertarikan saya untuk perawatan di salon, hasilnya nihil. Saya lebih suka merawat diri dengan cepat dan sederhana di rumah, yang bisa disambi sambil mengetik, baca buku, atau ngerajut. Ke salon, paling banter cuma potong rambut. Pernah saya mencoba creambath di salon sekali, lalu ngantuk, lalu belum pernah mencobanya lagi. Perempuan macam apa yang bisa merasa tidak bahagia pergi ke salon?

Dunia perempuan lainnya yang sampai sekarang juga tidak bisa saya pahami adalah soal belanja baju, tas, atau sepatu. Jangan heran kalau baju, tas, atau sepatu yang saya pakai cuma yang itu-itu saja. Saya memakai apa yang saya sukai dan membeli apa yang saya butuhkan, tapi saya tak bisa menjadi seperti para perempuan lainnya. Saya tidak pintar mencari barang diskonan atau barang bagus model masa kini. Dan saya kembali heran pada diri saya sendiri.

Saya tidak heran pada perempuan-perempuan lain yang suka pergi ke salon; perempuan yang punya beragam model baju, gamis, jilbab, sepatu, atau tas; maupun pada perempuan yang perhatian soal wajah dan fisiknya. Saya lebih heran pada diri saya sendiri. Dan mungkin keheranan itu hampir mirip pada para lelaki yang tidak suka rokok, futsal, nonton bola, atau tidak suka pada aktifitas fisik yang menantang. 

Saya perempuan yang susah paham dengan dunia perempuan.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.