Senin, 15 Februari 2016

[Resensi Novel] The Kite Runner

The Kite Runner Edisi Keempat, Cetakan II
Judul Buku
The Kite Runner
Penulis
Khaled Hosseini
Penerbit
Penerbit Qanita, PT. Mizan
Tahun Terbit
Edisi Keempat, Cetakan II (Februari 2014)
Jumlah Halaman
490 Halaman

Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk menentukan apa jadinya diriku. Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan dan menerima apapun yang mungkin menimpaku. Atau, aku bisa melarikan diri. Akhirnya, aku melarikan diri
 Mengambil latar belakang negara asal Khaled Hosseini, Afghanistan, The Kite Runner menyajikan cerita menyentuh tentang kehidupan seorang Amir dari masa kanak-kanaknya sampai ia bertumbuh dewasa. Amir Khan mempunya kehidupan masa kecil yang hampir sempurna dengan rumah yang luas, ayah yang kaya, kebutuhan yang selalu dipenuhi, dan dua pembantu yang setia, Ali dan anaknya Hassan.

Pada kehidupan yang terlihat bahagia itu, Amir sebenarnya sedang berusaha memenangkan hati ayahnya yang dipanggilnya dengan sebutan Baba. Sosok Baba, seorang pemberani dan vokal menentang ketidak adilan, sama sekali tidak ada dalam diri Amir yang penakut, dianggap pengecut, dan suka menenggelamkan dirinya bersama buku-buku dan tulisan. Di balik sikapnya yang penakut, Amir selalu punya Hassan, seorang pembantu keturunan Hazara seumuran dia yang selalu setia di belakangnya. Namun, keberadaan Hassan terkadang menjadi momok tersendiri bagi Amir. Baba sangat perhatian pada Hassan, bahkan menurutnya bersikap terlalu baik pada Hassan ketimbang pada dia, anak kandung Baba sendiri. Baba selalu bersikap lembut pada Hasan, suka memberinya hadiah dan pujian. Dan puncaknya pada ulangtahun Hassan, Baba memberikan hadiah yang sangat istimewa dan membuat iri Amir.

Ketidaksukaan Amir pada Hassan tidak lantas membuat mereka berjauhan. Justru, mereka selalu bermain bersama. Di mana ada Amir, di situ ada Hassan yang selalu menemaninya dan setia melayaninya. Turnamen adu layang-layang yang telah mengakar menjadi tradisi di Afghanistan, menjadi satu-satunya cara Amir untuk memenangkan hati Baba. Dia harus menjadi juara! Hassan, seperti biasa, setia di sisi Amir, dan berjanji menjadi pengejar layang-layang terakhir yang berhasil dikalahkan Amir pada turnamen tersebut.

Amir berhasil. Dia berhasil menjadi juara adu layang-layang dan menjatuhkan banyak layang-layang lawannya. Layang-layang terakhir yang jatuh, menjadi simbol kemenangan sempurna bagi siapa saja yang mampu mengejar dan mendapatkannya. Dan Hassan berjanji pada Amir, dia akan mendapatkan layang-layang terakhir itu untuk Amir. Pengejar layang-layang terakhir dengan kaki-kaki kecilnya berlari menembus jalanan, rumah-rumah, dan pagar-pagar demi tuannya, seorang Amir. Hassan berhasil mendapatkannya. Namun, pada saat yang sama, Amir telah mengkhianati Hassan. Dia meninggalkan Hassan saat Hassan benar membutuhkan Amir. Amir mencuri kehidupan Hassan. Kelak, kejadian itu menjadi hantu yang membayangi Amir ke mana pun ia pergi.

Hubungan Amir dan Hassan semakin memburuk setelah itu. Ditambah kedatangan Rusia dan Taliban di negeri itu, hancurlah kebahagian Amir dan penduduk negerinya. Taliban yang semula digadang-gadang menjadi penyelamat dari musuh, nyatanya membuat negeri itu semakin porak-poranda. Amir dan Baba terpaksa harus pergi, menjadi pengungsi di negeri jauh, Amerika. Meninggalkan seluruh kebanggaannya di Afghanistan.

Amir menyukai kehidupan barunya di Amerika. Dia mampu mengubur masa lalu. Dia mampu membunuh kenangan-kenangan dan kesalahannya pada Hassan. Dia mendapatkan seorang istri yang sangat dicintainya. Dan hubungannya dengan Baba semakin membaik. Hingga suatu ketika, ada pesan dari Afghanistan. Rahim Khan, sahabat Baba yang selalu memberi semangat pada Amir, memintanya pergi ke Pakistan untuk menemuinya. Rahim Khan menawarkan opsi yang dapat menebus kesalahan Amir pada Hassan. Kenangan yang terkubur itu kembali menyeruak dan memaksa Amir pergi ke Pakistan, lalu pulang ke Afghanistan.

Di sana, Amir mendapatkan satu kenyataan pahit. Baba yang dari dulu dikaguminya dengan nasehat, "Tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri", ternyata telah membohonginya. Selanjutnya, hanya nurani Amir lah yang mampu menolongnya kembali menjadi orang baik.

Khaled Hosseini selalu berhasil menciptakan karakter yang kuat dan tidak sia-sia dalam setiap tutur kisahnya. Dia mampu menyisipkan kisah tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan di Afghanistan, negeri indah yang akhirnya harus hancur terkoyak-koyak akibat perang dan perebutan kekuasaan.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.