Kamis, 18 Februari 2016

[Resensi Buku] Nadrenaline




Judul Buku
Nadrenaline
 Penulis
Nadine Chandrawinata
Penerbit
Penerbit B-First Anggota Ikapi
Tahun Terbit
 Februari 2012
Jumlah Halaman 
214 halaman


Nadine Chandrawinata, seorang artis mantan Putri Indonesia tahun 2005 merekam jejak petualangannya dalam buku Nadrenaline. Bukan tentang pengalamannya menjadi Putri Indonesia, melainkan pengalaman-pengalaman menantang yang pernah dia lalui di tempat-tempat yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Nadine, anak tertua dari tiga bersaudara adalah seorang petualang yang pernah menginjakkan kaki dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, juga tempat-tempat di luar negeri yang menurutnya menantang. Itulah kenapa buku ini diberi judul “Nadrenaline”. Adrenalin si Nadine.

Nadine sudah seperti kutu loncat: seminggu di pegunungan, seminggu di lautan, seminggu lagi di daratan. Dia selalu berada di tempat yang berbeda. Rumah hanya jadi tempat persinggahan sementaranya. Rasa senang, sedih, susah, puas, bangga, dia dapatkan selama bepergian. Memasuki beragam tempat dengan beragam kebudayaan dan kebiasaan unik membuatnya menyadari bahwa perbedaan memperindah jalannya kehidupan. Dia menemukan lelucon dunia, seperti percikan segar dalam kehidupan yang kosong.

Nadrenaline menceritakan bagaimana dan apa yang dilakukan Nadine di tempat-tempat baru. Piknik keluarga di Lombok, misteri Kokas, Fak-Fak dan keramahan Jailolo, sampai dinginnya Nepal dan Everest. Bagaimana dia bersusah-susah di jalan. Bersesak-sesak di mobil, losmen kecil, tidur di salah satu stasiun kereta api di India saat pengambilan film Sagarmatha, terkena badai di Gunung Merapi, bertahan tidak mandi seminggu di Nepal, sampai merasakan susahnya packing menentukan barang apa yang seharusnya dibawa selama bepergian.

Simak juga bagaimana jatuh cintanya dia pada dunia bawah laut. Kecintaan yang menyadarkannya bahwa dia punya sesuatu yang harus dilakukan sebagai manusia. Itu diuangkapkannya pada salah satu halaman bukunya:

Andai saya punya insang, saya akan tinggal di dalam laut, dan menelusuri perairan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tapi, Tuhan ciptakan saya bukan dengan ekor, melainkan dengan sepuluh jari pada kaki sebagai manusia sempurna. Artinya, saya masih dapat tugas di bumi ini. Saya tidak punya sayap untuk terbang dan saya juga tidak punya sirip untuk berenang. Tapi yang saya punya adalah sepasang kaki untuk berjalan.

Nadine selalu punya cara menikmati apa yang harus dilaluinya di hadapannya. Walaupun terkadang selama perjalanannya dia merasa tidak bebas karena sudah dikenal sebagai public figure, dia mampu melaluinya dengan baik. Kepedulian Nadine terhadap lingkungan juga diungkapkannya di buku ini. Tentang bagaimana usahanya tidak makan daging. Tentang betapa antinya dia makan sirip hiu dan mengkampanyekan tentang pentingnya melindungi penyu dan juga gajah. Dia pun menerbitkan majalah gratisan, Divemag, dan merangkul sahabat-sahabat artisnya ikut bersamanya berkampanye untuk kelestarian lingkungan. Tidak mudah, namun Nadine berhasil melakukannya.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.