Jumat, 12 Februari 2016

Menyusuri Setapak Jalur Suwanting Merbabu

Gunung Merbabu yang terletak di Jawa bagian tengah -- meliputi Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga --  merupakan salah satu gunung favorit untuk para pendaki pemula. Tidak hanya satu jalur, ada beberapa jalur yang bisa menjadi alternatif para pendaki untuk bisa menuju ke puncak. Terdapat Jalur Thekelan, Wekas, Cunthel, Selo, dan Suwanting. Jalur Suwanting merupakan jalur lama yang pernah ditutup pada tahun 1998 silam, kemuadian baru dibuka lagi pada tahun 2015 lalu. Banyak yang bilang, pemandangan dari jalur ini seindah pemandangan jika mendaki via jalur Selo. Karena informasi itulah, kami berdelapan akhirnya memutuskan untuk naik melalui jalur Suwanting pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016 lalu.

Jalur Suwanting tidak terlalu jauh dari Yogyakarta. Waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Yogyakarta menuju Ketep. Jarak dari Ketep sendiri sekitar 4 kilometer jauhnya. Setelah mengikuti petunjuk arah di tepi jalan yang mengarahkan para pendaki untuk menuju basecamp Suwanting, para pendaki musti melewati satu kampung, yaitu Dusun Suwanting, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang untuk bisa sampai ke basecamp kecil di tepi ladang sayur yang menghampar menghijau.

Jalur pendakian Suwanting (sumber: infopendaki.com)


Kami naik sekitar jam 15.30 WIB. Para ranger memberikan petunjuk pada kami sebelum berangkat mendaki. Belum ada satupun dari tim kami yang pernah mendaki lewat jalur ini sebelumnya. Hanya ada satu jalur via Suwanting, namun kami diminta berhati-hati agar tidak tersasar. Naik ambil kanan, turun ambil kiri. Cukup banyak yang akan melakukan pendakian waktu itu. Menurut petugas, sudah ada 50 pendaki yang tercatat pada dua hari terakhir. Bersamaan dengan kami, 70 orang rombongan pendakian massal asal Bandung juga tampak bersiap-siap untuk naik. Walaupun sedang musim hujan, waktu itu memang sedang hari libur, tidak heran jika lumayan ramai juga para pendaki yang datang. 

Berbarengan dengan kami juga, ada dua orang pendaki wanita dari Bekasi yang akan naik. Dari mereka, kami baru tahu kalau di jalur ini tidak ada bonus sama sekali. Jalannya nanjak terus sampai atas, hampir tidak ada jalan datar menuju landai seperti yang ada di jalur Selo. Mendengar itu, saya cukup keder juga, karena saya masih super amatir. Apalagi sekembalinya saya ke Jogja selama setengah tahun ini, saya hampir tidak pernah berjalan kaki jauh-jauh, dan itu cukup berpengaruh juga bagi kekuatan kaki. Dan memang benar, selama pendakian baik naik maupun turun, saya selalu jadi rombongan sapu bersih alias rombongan paling belakang.

Basecamp sampai pos I kami tempuh dalam waktu setengah jam. Perjalanan dari basecamp menuju pos I melewati ladang sayur mayur milik warga dan berakhir di hutan pinus hijau segar, namanya Lembah Lempong. Selepas pos I, kabut mulai turun dibarengi dengan turunnya tetes-tetes air hujan. Perjalanan semakin nanjak, kanan kiri hanya ada semak dan hutan campuran. Lumayan lama kami berjalan menuju pos II. Saya dan empat teman lainnya lebih sering berhenti dan jalan pelan. Tiga yang lain sudah jalan duluan. Katanya sih, naik gunung sebaiknya menyesuaikan endurance masing-masing. Kalau biasa cepat, lebih baik jalan cepat. Kalau biasa pelan, jangan memaksakan diri untuk cepat-cepat.

Bagi saya, perjalanan naik gunung kali ini merupakan perjalanan naik gunung tersantai, meskipun medannya cukup berat. Sesekali kelompok pendaki lainnya menawari kami untuk beristirahat, minum jahe anget sambil makan sosis bakar, berteduh di flysheet, maupun berteduh di tenda-tenda saat hujan deras turun. Perjalanan dari pos I menuju pos II yang normalnya hanya memakan waktu sekitar 2 jam, kami habiskan selama sekitar 4 jam.

Sekitar jam 9 malam, kami sampai ke pos II setelah sebelumnya salah mengira kalau Lembah Ngrijan adalah pos II. Di sana, tiga teman yang lain sudah menunggu. Dan kami memutuskan untuk mendirikan camp sebelum pos III saja, karena pos III masih jauh, sementara sudah terlalu malam jika harus melewati Hutan Manding yang katanya jalannya banyak cabangnya. Maka, karena belum ada satu pun dari kami sudah pernah lewat jalur ini, diputuskan kami tak usah memaksakan diri sampai pos III. Kami sampai di tempat camp kami (entah Lembah Singo atau Lembah Manding) sekitar jam 10 lebih, hampir jam 11 malam. Kami masih berharap untuk bisa sampai ke pos III esok harinya.

Ternyata, kenyataan berkata lain. Pagi itu hujan dan berkabut, didukung fisik yang cukup lelah, kami memutuskan untuk tidak naik sampai Puncak Suwanting. Lebih baik kembali lagi saat cuaca bagus untuk mendaki. Dan pagi itu, kami memutuskan tinggal di tenda sambil masak pizza dan sandwich (ini kali pertama juga saya ngerasa naik gunung berasa piknik). Untungnya juga, kami membawa cukup persediaan air minum, jadi tak usah jauh-jauh cari air (camp kami ada jauh di bawah sumber mata air).


Terimakasih sudah mau sabar sama saya ^^ (photo by: Nasrulloh)
Kemewahan adalah kabahagiaan yang dibagi-bagi (photo by: Sammy Arkoun Serageldin)
Masya Allah dapet bonus dobel pelangi (photo by: Nasrulloh)
 
Dan pelajaran dari perjalanan naik gunung kali ini adalah: Jangan memaksakan diri, yang penting bisa pulang dengan selamat.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.