Rabu, 24 Februari 2016

(Dari) Bumi (Kepada) Langit

Bumi Langit. Bumi Langit Institute.

Mungkin banyak yang sudah pernah mendengarnya atau mengunjunginya. Pertama kali mendengar namanya : Bumi Langit, saya langsung tertarik. Namanya unik. Menarik. Menimbulkan tanda tanya. Saya tidak tahu nama apakah itu. Nama tempat? Nama orang? Atau nama apa?

Sebuah Video Youtube
Saya tahu tentang Bumi Langit dari hasil sharing seorang teman di grup WA. Dia mengirimkan share link sebuah video youtube, akhir tahun 2014 silam. Judulnya "The Happy Muslim"



Video di atas secara umum bercerita tentang kebahagiaan menurut pandangan Pak Iskandar, pemilik Bumi Langit Institute. Sebuah tempat yang dirancang untuk belajar tentang keseimbangan antara alam dan manusia. Pak Iskandar menyampaikan bahwa kejujuran dan kebahagiaan adalah sesuatu yang selalu berdampingan. Jika kita berusaha menjadi orang baik, kehidupan baik juga yang bisa kita ciptakan.  Setiap kebudayaan, setiap kepercayaan harus menyadarinya lalu melakukan sesuatu. 

Pak Iskandar mulai jatuh cinta kepada Islam sejak mengetahui bahwa Islam mengajarkan semua sisi kehidupan dengan jelas. Dan menurut beliau, "Ketika sudah jatuh cinta, kamu siap untuk berkorban. Berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dalam hidup". Mungkin itu alasan beliau meninggalkan banyak hal yang sudah beliau punyai demi membangun Bumi Langit Institute, untuk memperkenalkan dan memberikan edukasi tentang konsep keseimbangan antara manusia dengan alam. Karena, kebahagiaan menurut Pak Iskandar adalah 'menjadi seimbang'. 

Dalam Islam, sebagai manusia, kita memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan di sekitar kita. Ada dua lingkungan. Pertama lingkungan internal, yaitu tubuh kita sendiri. Kedua, lingkungan eksternal, yang merupakan seluruh ciptaan di alam raya ini. Lingkungan internal dan eksternal merupakan cerminan satu sama lain. 

Sekarang, secara tidak sadar, kita telah dikuasai oleh uang sebagai alat kebahagiaan. Telah dipengaruhi oleh industri yang dibangun oleh manusia sendiri, yang menyasar kita agar menjadi ketergantungan pada dunia industri dan menjadi target pasar yang sempurna. Secara tidak sadar menjauhkan kita dari alam. Menjadikan kota sebagai tujuan orang-orang. Untuk mencari uang, agar mendapatkan kebahagiaan. Akibatnya, mau tak mau, manusia menjadi tergantung pada produk-produk industri. Islam merupakan salah satu solusi yang mampu mengembalikan konsep keseimbangan itu. 

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kondisional. Masalah ego. Seringkali kita merasakan kebahagiaan adalah sesuatu yang kita miliki. Tapi bukan. Kebahagiaan sebenarnya adalah sesuatu yang kita berikan kepada yang lainnya, bukan sesuatu yang kita dapatkan.

Kunjungan Pertama



Sehabis nonton video youtube itu, lalu mendapatkan cerita yang menarik hati dari teman-teman yang pernah ke sana, saya akhirnya mengunjungi Bumi Langit Institute bersama seorang teman, Yulia. Kunjungan pertama saya lakukan pada Januari 2015, sehabis saya resign dari kantor saya di Jakarta.

Tadinya, berharap bisa ketemu dan mengobrol dengan Pak Iskandar langsung. Namun saat itu beliau sedang tidak ada di tempat, jadi yang menemui kami adalah salah seorang anaknya (atau saudaranya ya, saya lupa namanya). Dari beliau, sedikit-sedikit mata saya mulai terbuka.

Pertama, konsep lingkungan internal. Tentang diri sendiri. Apakah kita sudah baik pada diri sendiri? Pada tubuh sendiri? Apakah makanan yang kita berikan pada tubuh sendiri memang baik? Atau kita sekedar makan apa yang kita sukai tanpa berpikir apakah itu baik untuk tubuh? Tubuh juga butuh makanan yang baik, bukan sekedar halal, tapi juga halalan thayyiban (baik dan halal)

Beliau kemudian mengingatkan kami akan ketergantungan pada dunia industri. Dunia industri sangat mempengaruhi dan menciptakan dunia baru yang menyebabkan ketergantungan. Karena Bumi Langit fokus dalam bidang pangan dan alam, beliau mengingatkan tentang industri makanan. Mie, makanan awetan, fast food, minyak sawit, ayam broiler, pestisida, rekayasa genetik demi memenuhi kebutuhan pangan, semua beliau jabarkan. 

Makanlah yang halal dan juga baik. Yang penting, makanlah secukupnya jangan berlebihan. Cari yang sehat, bukan asal enak. Tubuh juga perlu disedekahi dengan makanan yang baik dan sehat.

Saat mendengar perkataan itu, ingatan saya kembali flashback pada kehidupan setahun ke belakang saat di ibukota. Ternyata saya sudah mendzolimi tubuh saya sendiri (pantas saja jadi melar banget, jadi sering sakit, dan sering malas ngapa-ngapain. Karena gaya hidupnya nggak seimbang!)

Iya. Saya ingat-ingat lagi gaya hidup saya sebelumnya. Sering lembur. Saat lembur itulah, aneka fastfood yang enak-enak dipesan untuk menemani lemburan sampai tengah malam di kantor. Sering ikut rapat yang suguhannya tentu saja enak-enak dan mengenyangkan. Sering dinas ke luar kota, ke daerah-daerah. Saat dinas itulah, sekaligus waktunya wisata kuliner. Karena, orang-orang daerah biasanya membawa kami ke tempat makan khas daerahnya yang tentunya enak-enak. Kalap ketika dinas luar? Itu biasa. Apalagi kalau dinasnya di daerah-daerah pesisir. Seafood di mana-mana, uang berkecukupan. Nafsu jadi kebablasan, perut jadi lupa diri. Dikenyangkan sekenyang-kenyangnya.

Lalu selepas dari sana, saya lumayan merenung. Makan secukupnya, makan yang sehat jangan asal enak, jangan berlebihan.

Kunjungan Kedua
Kunjungan kedua saya lakukan setahun setelahnya, pada bulan Januari 2016. Kali ini ditambah si kembar Erna-Erni dan satu makhluk ganteng bernama Sigit. Ketika kunjungan pertama saya tersentil tentang konsep lingkungan internal, kunjungan kedua ini kami belajar tentang konsep eksternal. Hubungan antara manusia dengan lingkungannya.


 Jadi, Bumi Langit Institute yang berlokasi di Jalan Mangunan Km 3, Giriloyo, Imogiri, Bantul (sebelum Hutan Pinus Imogiri Bantul) itu mengembangkan konsep pertanian yang dinamakan permakultur. Apa itu permakultur? Bisa dicek di sini. Kita juga bisa mengikuti tour singkat keliling kebun yang dikembangkan oleh Bumi Langit Institute.

Tour Guide kali ini adalah Mas Krishna dan seorang temannya dari Bogor (saya lupa namanya lagi). Mereka membawa kami berkeliling dan menceritakan konsep keseimbangan dalam bidang pertanian dan peternakan.

Mereka menunjukkan kepada kami sistem menanam secara permakultur, di mana semua tanaman ditanam secara heterogen sehingga mengurangi hama dan penyakit tanaman. Menunjukkan bagaimana rumah di sana dibangun. Rumah berbahan buluh bambu dan semen secukupnya, sejuk dan tahan gempa. Menunjukkan bagaimana caranya mengolah kotoran hewan, manusia, dan sampah sehingga menjadi berkah. Menunjukkan bagaimana mereka mengatur kebun sehingga semuanya diharapkan berjalan seimbang. Bagaimana mereka membangun dengan ilmu. Membangun rumah yang dikelilingi kebun dan kandang, namun tidak berbau dan tetap nyaman ditinggali. Konsep rumah di desa yang sudah terlupakan seiring perkembangan zaman. Industri sudah berhasil mempengaruhi pasar untuk berubah menjadi (katanya) lebih modern.

Mereka mengingatkan kepada kami. Segala yang berasal dari tanah adalah berkah. Pun kotoran hewan dan manusia. Itu semua berkah. Menanam adalah sedekah. Sedekah kepada tanah, sedekah kepada bumi.  Dengan menanam sendiri dan memelihara hewan ternak sendiri, pada akhirnya kita akan memberi sedekah yang baik terhadap tubuh kita sendiri. Dengan menciptakan lingkungan seperti itu dan menerapkan gaya hidup yang baik, sedikit-sedikit kita akan terlepas dari jeratan produk-produk industri. Kita akan mendapatkan apa yang diperlukan dari sekitar kita, memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri dan terjamin mutu dan kualitasnya. Mengapa simbah-simbah kita dulu sehat-sehat? Mungkin itu salah satu jawabannya.

Semoga saja, saya bisa menerapkan gaya hidup dan ilmu yang bagus ini.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.