Kamis, 18 Februari 2016

[18+] Bukti Kalau Dunia Ini Memang Ngeri (Menurut Saya)



Apalagi yang bisa dilakukan kecuali memohon perlindungan pada Tuhan Semesta Alam? (Loc: Museum Tsunami, Banda Aceh)
Akhir-akhir ini, sedang ramai pembahasan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Permintaan pelegalan status mereka di negeri ini semakin memanas. Memanas antara yang pro dan yang kontra. Dulu saya tak pernah ambil pusing soal LGBT maupun tentang berbagai bentuk penyimpangan seksual lainnya. Istilahnya saya cuek. Masa bodo lah mereka mau lesbi, mau gay, mau ini, mau itu, toh itu hidup mereka. Saya tidak melakukannya dan mereka tidak mengganggu saya. Sudah cukup itu saja.

Namun, pandangan saya perlahan-lahan berubah setelah saya menemui beberapa kejadian dan kisah yang terjadi di sekitar saya atau di sekitar kehidupan teman-teman saya. Saya tidak boleh cuek bebek lagi. Ini beberapa kejadian atau kisah yang pernah dibagi kepada saya:

Tentang Eksibisionis
Sudah lama kejadiannya. Teman saya yang mengalaminya. Ketika mau berangkat kuliah berjalan kaki, di dekat kampus ada seorang lelaki yang tiba-tiba mendekatinya dan tanpa dinyana-nyana mengeluarkan “barangnya” di hadapan teman saya yang seorang perempuan. Sontak, teman saya kaget lalu lari. Bukan kali pertama ia mengalaminya. Pernah, di buskota dia mengalami hal yang sama. Dan setelah kejadian itu dia hanya bisa nangis. Dulu saya tidak menyadari bahwa kejadian semacam itu adalah kejadian yang sangat buruk bagi seorang perempuan. Baru akhir-akhir ini saja saya menyadari bahwa kejadian semacam itu ternyata sangat tidak baik bagi keadaan psikologis seorang perempuan. Terutama bagi perempuan yang belum menikah.

Tentang Pelecehan Seksual
Ini juga dialami oleh salah seorang teman saya. Ceritanya dia mau berangkat ke kantor dari kosnya. Kantornya berjarak tidak jauh dari kosnya, hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Dari kos menuju kantornya memang harus melewati gang yang lebih sering sepi ketimbang ramai. Suatu hari, saat dia sedang dalam perjalanannya menuju kantor. Tiba-tiba, (entah dari depan atau dari belakang saya lupa ceritanya) ada seorang lelaki yang (maaf) meremas-remas payudaranya. Teman saya yang berjilbab ini jelas saja kaget bukan kepalang. Sampai kantor dia nangis-nangis. Setelah kejadian itu dia harus diantar jemput satpam atau teman kantornya selama beberapa waktu. Dia trauma. Sampai akhirnya dia berhasil menemukan benteng pertahanannya. Menutup tubuhnya dengan pakaian yang super sopan dan rapi.

Tentang Fetish
Ternyata menutup tubuh dengan pakaian super sopan dan rapi bukan jaminan keamanan untuk seorang perempuan. Ini cerita yang baru saja saya dapatkan dari teman saya. Di dunia ini ada yang disebut dengan orang-orang fetish. Fetisisme adalah bentuk penyimpangan seksual yang menyebabkan orang tersebut terangsang hanya dengan melihat anggota tubuh atau barang-barang yang sebenarnya tidak lazim di dalam suatu kehidupan seksual. Semisal, melihat kaki yang terbungkus kaus kaki, melihat jari-jari tangan, melihat sepatu high heels, itu sudah membuat seorang itu terangsang hebat. Dan salah satu yang menurut saya adalah bentuk fetisisme yang sudah parah adalah: fetish terhadap para wanita berjilbab lebar atau berburqa! Seorang teman pernah membagikan hal ini. Pada suatu laman facebook, para orang fetish berkomentar beramai-ramai di bawah foto perempuan berburqa. Bukan komentar biasa. Tapi, komentar yang menunjukkan mereka onani hanya dengan melihat foto itu. Sedikit bisa dinalar jika onani dilakukan ketika melihat foto perempuan berpose seksi atau perempuan telanjang. Namun ini? Bayangkan! Apa lagi yang bisa dilakukan seorang perempuan dewasa dengan usahanya yang keras untuk menjaga diri, selain berdoa pada Tuhannya agar dirinya dijaga dari fitnah-fitnah semacam itu?

Tentang LGBT
Tahun 2014 silam. Saya dan teman-teman kuliah saya yang bekerja di Ibukota sedang berusaha mendapatkan tiket mudik lebaran. Tahu sendiri kan, dapat tiket kereta api untuk hari raya adalah perjuangan berat bagi mereka yang ada di kota-kota besar, terutama di Jakarta. Pada H-90 hari keberangkatan, kami janjian ketemu di salah satu restoran cepat saji yang buka 24 jam yang menyediakan fasilitas wifi gratis dan kencang demi sebuah tiket mudik. Waktu itu kami, 3 perempuan dan 3 laki-laki, begadang di sebuah restoran cepat saji itu. Sekali lagi, demi sebuah tiket mudik yang sudah habis beberapa menit setelah pemesanan online dibuka!

Daaan, kami baru tahu kalau di sekitaran tempat itu adalah salah satu basis perkumpulan untuk para pelaku gay. Awalnya biasa-biasa saja. Namun semakin malam, semakin dini hari, melihat apa yang dilakukan orang-orang di sana, mendengar obrolan-obrolannya. Wow, ternyata begitu. Ketika itu, saya semakin sadar kalau lingkungan itu benar-benar membentuk seseorang. Jika terus-terusan berada di lingkungan A, sebagai manusia yang imannya masih setipis tisu, sikap kita lama kelamaan, sadar atau tidak sadar, akan berubah seperti sikap atau kelakuan orang-orang yang ada di lingkungan A tersebut. Sekuat apapun bertahan, lama-lama akan goyah juga.

Selanjutnya, ada cerita dari seorang teman saya lagi. Dia punya kenalan sepasang manusia yang sudah menikah. Mereka menjalani proses menuju pernikahan dengan baik dan sesuai prosedur agama. Secara fisik, jika dilihat dari luar dan dari keseharian dan tindak-tanduknya, masing-masing orang dari pasangan ini adalah orang baik-baik dan orang normal. Namun, semua tersingkap setelah pernikahan itu sudah terjadi. Sebut saja pasangan ini namanya X dan Y. Si Y ternyata adalah pelaku LGBT. Dia menikah dengan lawan jenis untuk memenuhi tuntutan status sosial saja. Selama beberapa tahun X dan Y tak pernah ‘bersentuhan’. X tetap bertahan mempertahankan pernikahannya dengan Y (kalau tidak salah, sudah hampir 4 tahun mereka menikah). Ah, duniaa. Kalau saya mungkin sudah tidak sanggup rasanya.

Cerita-cerita di atas semakin menyadarkan saya, sekuat apapun kita berusaha menjaga diri atau menahan diri, ada saja sesuatu yang tidak bisa kita handle. Seberusaha apapun kita jadi orang baik-baik, selalu ada hal tidak baik di luar sana yang harus siap kita hadapi. Hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah berdoa sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya, agar kita dikuatkan dan dilindungi dari hal-hal semacam ini sampai nanti waktunya kita benar-benar “pulang ke rumah”. Sebenarnya, ada lagi cerita lainnya. Namun, sudahlah, cukup itu saja yang saya ceritakan di sini.

Dunia ini semakin ngeri (menurut saya). Waspadalah!

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.