Sabtu, 27 Februari 2016

Dialog Sabtu Pagi




+ Itu endingnya kantong yang dibawa diceburin enggak?
-  Diceburin
+ Kalau kamu gimana? Kalau aku sih, dibuang aja seperempat bagian atau kugantung di tebing. Kapan-kapan kuambil lagi.
-  Bisa yang ngambil? Digantung di tebing? Ide bagus.
+ Ya kalau punya teknologi. Pakai rapling juga bisa. Paling nggak, tahu di mana posisinya.
-  Diambil sedikit-sedikit
+ Yeah. Nanti jadi kepikiran terus buat ngambil akhirnya.
-  Berarti harus milih salah satu dong, diceburin atau dibawa naik. Daripada kepikiran terus
+  Kalau pikirannya tadi disimpan dimasukkan dalam suatu kotak dan hanya boleh dibuka ketika sudah waktunya? Tapi enak lho, kalau egonya bisa dibawa ke atas.
-  Enak? Yakin? Aku mau praktekin dulu, kuceburin semuanya.
+ Udah ada niat move on?
I don't think so. But I'll try. Kita lihat batas kemampuan membawa ego itu sampai berapa lama. Sekarang belum semua diceburin sih. Masih setengah. Haha
+ Sampai tekanan dari luar untuk move on meninggalkan ego jauh lebih besar atau pembawa ego terprovokasi untuk menjatuhkannya, dibandingkan keinginan pribadinya untuk menjaga ego itu.

Kalau kamu? Apa yang akan kamu lakukan?

Kamis, 25 Februari 2016

[Resensi Novel] Muhammad, Rasul Pembebas

 
Judul Buku
Muhammad, Rasul Pembebas
Pengarang
Abdur Rahman Asy Syarqowi
Penerbit
Mitra Pustaka
Tahun Terbit
Ramadhan 1436 H/ 2015
Jumlah Halaman
693 halaman
Genre
Novel Sejarah
Dalam perspektif sosiologis, tentu Nabi Muhammad bukanlah makhluk yang dicetak dan diturunkan langsung dari langit keagungan. Ia adalah manusia biasa yang berlepotan lumpur dan debu perjuangan. Ia pedih dan mengerang karena berbagai penyakit struktural dan kultural yang menjangkiti manusia waktu itu. Maka dari itu, berjerih payah untuk untuk merombak tatanan sosial justru dengan pertama kali mengingkari keunggulan sukunya sendiri, yaitu Suku Quraisy yang dianggap paling tinggi derajatnya di antara suku-suku yang lain. Dalam kurun waktu 22 tahun, perjuangan Muhammad itu kemudian memunculkan tatanan sosial yang baru, yaitu kehidupan masyarakat yang egaliter dan menjunjung nilai keadilan. Itulah sebabnya kenapa Michael H. Hart meletakkan beliau pada urutan paling berpengaruh dalam sejarah
 Muhammad SAW, ditasbihkan menjadi rasul Allah jauh sebelum dia dilahirkan ke dunia ini. Terlahir di tengah-tengah Suku Quraisy, Muhammad tidak hidup dalam kemewahan. Dia yatim piatu ketika masih kecil. Ditinggalkan oleh kakeknya yang disayangi, kemudian hidup dengan pamannya, Abi Thalib yang selalu berusaha melindunginya. Pada akhirnya, paman yang selalu melindunginya dan menjaganya itu juga meninggalkannya. Kematian pamannya membuatnya bersedih hati, pamannya belum mengucapkan syahadat kala itu.

Novel ini mencoba mengungkapkan Muhammad SAW sebagai sisi manusia, bukan sebagai utusan Allah yang selalu benar. Namun, Muhammad sebagai manusia yang mempunyai sifat manusia, dan diutus sebagai seorang suri tauladan yang baik untuk manusia lainnya. Bukan sebagai seseorang dengan mukjizat yang 'wah' dan langsung membuat orang-orang percaya kepadanya, Muhammad membawa mukjizat berupa Al-Qur'an dan membawa dirinya sendiri sebagai role model. Perintah pertama yang diterimanya: "Bacalah" seakan menunjukkan bahwa sampai kapan pun manusia harus selalu belajar, harus selalu berusaha 'membaca' untuk tahu. Muhammad diutus sebagai Rasul akhir zaman yang berusaha menciptakan tatanan sosial baru sesuai petunjuk dari Allah SWT.

Muhammad mencontohkan kesabaran, kekuatan diri, kepasrahan, dan kepercayaan hanya kepada Allah. Terusir dari tanah kelahirannya sendiri, Mekkah, menuju tempat yang jauh, mendapat perlindungan dari penduduk Madinah, namun juga dihadang dengan fitnah-fitnah yang tak pernah usai menderanya. Muhammad menyadarkan, bahwa jalan menuju Allah tidak mudah. Pun sampai akhir zaman. Jalan menuju Allah tak pernah mudah.

Abdur Rahman Asy-Syarqowi menyuguhkan sejarah Muhammad dengan memilih bentuk cerita, bukan bentuk deskripsi atau bahasan. Menurutnya, menyebarkan buku-buku yang membahas tentang peradaban Islam di tengah masyarakat yang begitu heterogen ideologi dan agamanya tidaklah tugas seorang budayawan belaka, tetapi merupakan keharusan umat Islam dan tanggung jawab setiap orang melalui keahliannya. Abdur Rahman sedang mencoba memikul tanggung jawab sesuai dengan keahliannya, menulis cerita.

Rabu, 24 Februari 2016

(Dari) Bumi (Kepada) Langit

Bumi Langit. Bumi Langit Institute.

Mungkin banyak yang sudah pernah mendengarnya atau mengunjunginya. Pertama kali mendengar namanya : Bumi Langit, saya langsung tertarik. Namanya unik. Menarik. Menimbulkan tanda tanya. Saya tidak tahu nama apakah itu. Nama tempat? Nama orang? Atau nama apa?

Sebuah Video Youtube
Saya tahu tentang Bumi Langit dari hasil sharing seorang teman di grup WA. Dia mengirimkan share link sebuah video youtube, akhir tahun 2014 silam. Judulnya "The Happy Muslim"



Video di atas secara umum bercerita tentang kebahagiaan menurut pandangan Pak Iskandar, pemilik Bumi Langit Institute. Sebuah tempat yang dirancang untuk belajar tentang keseimbangan antara alam dan manusia. Pak Iskandar menyampaikan bahwa kejujuran dan kebahagiaan adalah sesuatu yang selalu berdampingan. Jika kita berusaha menjadi orang baik, kehidupan baik juga yang bisa kita ciptakan.  Setiap kebudayaan, setiap kepercayaan harus menyadarinya lalu melakukan sesuatu. 

Pak Iskandar mulai jatuh cinta kepada Islam sejak mengetahui bahwa Islam mengajarkan semua sisi kehidupan dengan jelas. Dan menurut beliau, "Ketika sudah jatuh cinta, kamu siap untuk berkorban. Berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dalam hidup". Mungkin itu alasan beliau meninggalkan banyak hal yang sudah beliau punyai demi membangun Bumi Langit Institute, untuk memperkenalkan dan memberikan edukasi tentang konsep keseimbangan antara manusia dengan alam. Karena, kebahagiaan menurut Pak Iskandar adalah 'menjadi seimbang'. 

Dalam Islam, sebagai manusia, kita memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan di sekitar kita. Ada dua lingkungan. Pertama lingkungan internal, yaitu tubuh kita sendiri. Kedua, lingkungan eksternal, yang merupakan seluruh ciptaan di alam raya ini. Lingkungan internal dan eksternal merupakan cerminan satu sama lain. 

Sekarang, secara tidak sadar, kita telah dikuasai oleh uang sebagai alat kebahagiaan. Telah dipengaruhi oleh industri yang dibangun oleh manusia sendiri, yang menyasar kita agar menjadi ketergantungan pada dunia industri dan menjadi target pasar yang sempurna. Secara tidak sadar menjauhkan kita dari alam. Menjadikan kota sebagai tujuan orang-orang. Untuk mencari uang, agar mendapatkan kebahagiaan. Akibatnya, mau tak mau, manusia menjadi tergantung pada produk-produk industri. Islam merupakan salah satu solusi yang mampu mengembalikan konsep keseimbangan itu. 

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kondisional. Masalah ego. Seringkali kita merasakan kebahagiaan adalah sesuatu yang kita miliki. Tapi bukan. Kebahagiaan sebenarnya adalah sesuatu yang kita berikan kepada yang lainnya, bukan sesuatu yang kita dapatkan.

Kunjungan Pertama



Sehabis nonton video youtube itu, lalu mendapatkan cerita yang menarik hati dari teman-teman yang pernah ke sana, saya akhirnya mengunjungi Bumi Langit Institute bersama seorang teman, Yulia. Kunjungan pertama saya lakukan pada Januari 2015, sehabis saya resign dari kantor saya di Jakarta.

Tadinya, berharap bisa ketemu dan mengobrol dengan Pak Iskandar langsung. Namun saat itu beliau sedang tidak ada di tempat, jadi yang menemui kami adalah salah seorang anaknya (atau saudaranya ya, saya lupa namanya). Dari beliau, sedikit-sedikit mata saya mulai terbuka.

Pertama, konsep lingkungan internal. Tentang diri sendiri. Apakah kita sudah baik pada diri sendiri? Pada tubuh sendiri? Apakah makanan yang kita berikan pada tubuh sendiri memang baik? Atau kita sekedar makan apa yang kita sukai tanpa berpikir apakah itu baik untuk tubuh? Tubuh juga butuh makanan yang baik, bukan sekedar halal, tapi juga halalan thayyiban (baik dan halal)

Beliau kemudian mengingatkan kami akan ketergantungan pada dunia industri. Dunia industri sangat mempengaruhi dan menciptakan dunia baru yang menyebabkan ketergantungan. Karena Bumi Langit fokus dalam bidang pangan dan alam, beliau mengingatkan tentang industri makanan. Mie, makanan awetan, fast food, minyak sawit, ayam broiler, pestisida, rekayasa genetik demi memenuhi kebutuhan pangan, semua beliau jabarkan. 

Makanlah yang halal dan juga baik. Yang penting, makanlah secukupnya jangan berlebihan. Cari yang sehat, bukan asal enak. Tubuh juga perlu disedekahi dengan makanan yang baik dan sehat.

Saat mendengar perkataan itu, ingatan saya kembali flashback pada kehidupan setahun ke belakang saat di ibukota. Ternyata saya sudah mendzolimi tubuh saya sendiri (pantas saja jadi melar banget, jadi sering sakit, dan sering malas ngapa-ngapain. Karena gaya hidupnya nggak seimbang!)

Iya. Saya ingat-ingat lagi gaya hidup saya sebelumnya. Sering lembur. Saat lembur itulah, aneka fastfood yang enak-enak dipesan untuk menemani lemburan sampai tengah malam di kantor. Sering ikut rapat yang suguhannya tentu saja enak-enak dan mengenyangkan. Sering dinas ke luar kota, ke daerah-daerah. Saat dinas itulah, sekaligus waktunya wisata kuliner. Karena, orang-orang daerah biasanya membawa kami ke tempat makan khas daerahnya yang tentunya enak-enak. Kalap ketika dinas luar? Itu biasa. Apalagi kalau dinasnya di daerah-daerah pesisir. Seafood di mana-mana, uang berkecukupan. Nafsu jadi kebablasan, perut jadi lupa diri. Dikenyangkan sekenyang-kenyangnya.

Lalu selepas dari sana, saya lumayan merenung. Makan secukupnya, makan yang sehat jangan asal enak, jangan berlebihan.

Kunjungan Kedua
Kunjungan kedua saya lakukan setahun setelahnya, pada bulan Januari 2016. Kali ini ditambah si kembar Erna-Erni dan satu makhluk ganteng bernama Sigit. Ketika kunjungan pertama saya tersentil tentang konsep lingkungan internal, kunjungan kedua ini kami belajar tentang konsep eksternal. Hubungan antara manusia dengan lingkungannya.


 Jadi, Bumi Langit Institute yang berlokasi di Jalan Mangunan Km 3, Giriloyo, Imogiri, Bantul (sebelum Hutan Pinus Imogiri Bantul) itu mengembangkan konsep pertanian yang dinamakan permakultur. Apa itu permakultur? Bisa dicek di sini. Kita juga bisa mengikuti tour singkat keliling kebun yang dikembangkan oleh Bumi Langit Institute.

Tour Guide kali ini adalah Mas Krishna dan seorang temannya dari Bogor (saya lupa namanya lagi). Mereka membawa kami berkeliling dan menceritakan konsep keseimbangan dalam bidang pertanian dan peternakan.

Mereka menunjukkan kepada kami sistem menanam secara permakultur, di mana semua tanaman ditanam secara heterogen sehingga mengurangi hama dan penyakit tanaman. Menunjukkan bagaimana rumah di sana dibangun. Rumah berbahan buluh bambu dan semen secukupnya, sejuk dan tahan gempa. Menunjukkan bagaimana caranya mengolah kotoran hewan, manusia, dan sampah sehingga menjadi berkah. Menunjukkan bagaimana mereka mengatur kebun sehingga semuanya diharapkan berjalan seimbang. Bagaimana mereka membangun dengan ilmu. Membangun rumah yang dikelilingi kebun dan kandang, namun tidak berbau dan tetap nyaman ditinggali. Konsep rumah di desa yang sudah terlupakan seiring perkembangan zaman. Industri sudah berhasil mempengaruhi pasar untuk berubah menjadi (katanya) lebih modern.

Mereka mengingatkan kepada kami. Segala yang berasal dari tanah adalah berkah. Pun kotoran hewan dan manusia. Itu semua berkah. Menanam adalah sedekah. Sedekah kepada tanah, sedekah kepada bumi.  Dengan menanam sendiri dan memelihara hewan ternak sendiri, pada akhirnya kita akan memberi sedekah yang baik terhadap tubuh kita sendiri. Dengan menciptakan lingkungan seperti itu dan menerapkan gaya hidup yang baik, sedikit-sedikit kita akan terlepas dari jeratan produk-produk industri. Kita akan mendapatkan apa yang diperlukan dari sekitar kita, memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri dan terjamin mutu dan kualitasnya. Mengapa simbah-simbah kita dulu sehat-sehat? Mungkin itu salah satu jawabannya.

Semoga saja, saya bisa menerapkan gaya hidup dan ilmu yang bagus ini.

Jumat, 19 Februari 2016

Sudah Siapkah? Mulai Tanggal 21 Februari, Kantong Plastik Belanjaan Tidak Gratis!



Mulai tanggal 21 Februari 2016, Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) bersepakat untuk melakukan uji coba penerapan kantong plastik berbayar di jaringan retail modern. Rencananya penerapan akan dilakukan di beberapa kota. Kota-kota tersebut adalah: Bandung, Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Medan, Denpasar, Palembang, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, Jayapura, Banda Aceh, Tangerang Selatan, Pekanbaru, Yogyakarta, Kendari dan Malang.

Mengapa kebijakan ini diterapkan? 
Alasannya, Indonesia menduduki peringkat 2 dunia penyumbang sampah plastik ke laut. Kasihan ikan-ikan dan penghuni laut lain kan, kalau peringkatnya semakin naik? Selain itu, orang Indonesia memakai 100 milyar plastik setiap tahunnya. Sebagaian besar akhirnya dibuang menjadi sampah di laut maupun di darat. Sementara, kantong plastik sendiri susah terurai di dalam tanah. Sehingga jika dengan jumlah sebanyak itu sebagian besar hanya menjadi sampah, artinya kita turut andil menjadi pencemar lingkungan. Kemudian diterapkanlah Polluter Pays Principle, yaitu prinsip dimana konsumen membayar dampak negatif terhadap lingkungan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap lingkungan.

Diberlakukannya kebijakan ini juga sesuai dengan peraturan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang ditargetkan akan terbit pada tanggal 6 Juni 2016 setelah sebelumnya KLHK melakukan survey di mana 82,7 % responden setuju tentang kebijakan pengurangan kantong plastik ini

Beberapa negara lain yang sudah menerapkan kebijakan semacam ini sudah mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Sebut saja Inggris dan Amerika yang berhasil mengurangi sebanyak lebih dari 70% sampah plastik dalam kurun waktu 1 tahun saja. Semoga saja ya, Indonesia juga bisa mendapatkan hasil memuaskan seperti kedua negara tersebut. 

Apa yang bisa kita lakukan?
Sebagai konsumen yang baik, kita dihimbau untuk membawa kantong belanja sendiri kalau tidak mau membayar untuk setiap kantong plastik yang kita gunakan setelah belanja. Belum ada penetapan harga secara pasti tentang besaran harga kantong plastik. Diperkirakan besaran harga sekitar Rp 200 - Rp 2.000 per lembar plastik selama masa uji coba, dan akan dikaji ulang setelah masa uji coba berlangsung. Sayang juga kan, kalau mau beli kantong plastiknya jika hanya untuk dibuang saja.

Sebagai konsumen yang baik, kita juga sebaiknya menghargai para peritel yang menerapkan kebijakan ini. Jadi, nanti jika di kasir diminta bayar kantong plastik, jangan langsung mencak-mencak. Ini juga dilakukan demi kemaslahatan umat dan kelestarian lingkungan juga lho.

Terakhir. Mari bantu kampanye pengurangan kantong plastik ini lewat sosmed atau lewat media mana saja. Semoga masa depan lingkungan kita semakin baik.   

Kamis, 18 Februari 2016

[18+] Bukti Kalau Dunia Ini Memang Ngeri (Menurut Saya)



Apalagi yang bisa dilakukan kecuali memohon perlindungan pada Tuhan Semesta Alam? (Loc: Museum Tsunami, Banda Aceh)
Akhir-akhir ini, sedang ramai pembahasan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Permintaan pelegalan status mereka di negeri ini semakin memanas. Memanas antara yang pro dan yang kontra. Dulu saya tak pernah ambil pusing soal LGBT maupun tentang berbagai bentuk penyimpangan seksual lainnya. Istilahnya saya cuek. Masa bodo lah mereka mau lesbi, mau gay, mau ini, mau itu, toh itu hidup mereka. Saya tidak melakukannya dan mereka tidak mengganggu saya. Sudah cukup itu saja.

Namun, pandangan saya perlahan-lahan berubah setelah saya menemui beberapa kejadian dan kisah yang terjadi di sekitar saya atau di sekitar kehidupan teman-teman saya. Saya tidak boleh cuek bebek lagi. Ini beberapa kejadian atau kisah yang pernah dibagi kepada saya:

Tentang Eksibisionis
Sudah lama kejadiannya. Teman saya yang mengalaminya. Ketika mau berangkat kuliah berjalan kaki, di dekat kampus ada seorang lelaki yang tiba-tiba mendekatinya dan tanpa dinyana-nyana mengeluarkan “barangnya” di hadapan teman saya yang seorang perempuan. Sontak, teman saya kaget lalu lari. Bukan kali pertama ia mengalaminya. Pernah, di buskota dia mengalami hal yang sama. Dan setelah kejadian itu dia hanya bisa nangis. Dulu saya tidak menyadari bahwa kejadian semacam itu adalah kejadian yang sangat buruk bagi seorang perempuan. Baru akhir-akhir ini saja saya menyadari bahwa kejadian semacam itu ternyata sangat tidak baik bagi keadaan psikologis seorang perempuan. Terutama bagi perempuan yang belum menikah.

Tentang Pelecehan Seksual
Ini juga dialami oleh salah seorang teman saya. Ceritanya dia mau berangkat ke kantor dari kosnya. Kantornya berjarak tidak jauh dari kosnya, hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Dari kos menuju kantornya memang harus melewati gang yang lebih sering sepi ketimbang ramai. Suatu hari, saat dia sedang dalam perjalanannya menuju kantor. Tiba-tiba, (entah dari depan atau dari belakang saya lupa ceritanya) ada seorang lelaki yang (maaf) meremas-remas payudaranya. Teman saya yang berjilbab ini jelas saja kaget bukan kepalang. Sampai kantor dia nangis-nangis. Setelah kejadian itu dia harus diantar jemput satpam atau teman kantornya selama beberapa waktu. Dia trauma. Sampai akhirnya dia berhasil menemukan benteng pertahanannya. Menutup tubuhnya dengan pakaian yang super sopan dan rapi.

Tentang Fetish
Ternyata menutup tubuh dengan pakaian super sopan dan rapi bukan jaminan keamanan untuk seorang perempuan. Ini cerita yang baru saja saya dapatkan dari teman saya. Di dunia ini ada yang disebut dengan orang-orang fetish. Fetisisme adalah bentuk penyimpangan seksual yang menyebabkan orang tersebut terangsang hanya dengan melihat anggota tubuh atau barang-barang yang sebenarnya tidak lazim di dalam suatu kehidupan seksual. Semisal, melihat kaki yang terbungkus kaus kaki, melihat jari-jari tangan, melihat sepatu high heels, itu sudah membuat seorang itu terangsang hebat. Dan salah satu yang menurut saya adalah bentuk fetisisme yang sudah parah adalah: fetish terhadap para wanita berjilbab lebar atau berburqa! Seorang teman pernah membagikan hal ini. Pada suatu laman facebook, para orang fetish berkomentar beramai-ramai di bawah foto perempuan berburqa. Bukan komentar biasa. Tapi, komentar yang menunjukkan mereka onani hanya dengan melihat foto itu. Sedikit bisa dinalar jika onani dilakukan ketika melihat foto perempuan berpose seksi atau perempuan telanjang. Namun ini? Bayangkan! Apa lagi yang bisa dilakukan seorang perempuan dewasa dengan usahanya yang keras untuk menjaga diri, selain berdoa pada Tuhannya agar dirinya dijaga dari fitnah-fitnah semacam itu?

Tentang LGBT
Tahun 2014 silam. Saya dan teman-teman kuliah saya yang bekerja di Ibukota sedang berusaha mendapatkan tiket mudik lebaran. Tahu sendiri kan, dapat tiket kereta api untuk hari raya adalah perjuangan berat bagi mereka yang ada di kota-kota besar, terutama di Jakarta. Pada H-90 hari keberangkatan, kami janjian ketemu di salah satu restoran cepat saji yang buka 24 jam yang menyediakan fasilitas wifi gratis dan kencang demi sebuah tiket mudik. Waktu itu kami, 3 perempuan dan 3 laki-laki, begadang di sebuah restoran cepat saji itu. Sekali lagi, demi sebuah tiket mudik yang sudah habis beberapa menit setelah pemesanan online dibuka!

Daaan, kami baru tahu kalau di sekitaran tempat itu adalah salah satu basis perkumpulan untuk para pelaku gay. Awalnya biasa-biasa saja. Namun semakin malam, semakin dini hari, melihat apa yang dilakukan orang-orang di sana, mendengar obrolan-obrolannya. Wow, ternyata begitu. Ketika itu, saya semakin sadar kalau lingkungan itu benar-benar membentuk seseorang. Jika terus-terusan berada di lingkungan A, sebagai manusia yang imannya masih setipis tisu, sikap kita lama kelamaan, sadar atau tidak sadar, akan berubah seperti sikap atau kelakuan orang-orang yang ada di lingkungan A tersebut. Sekuat apapun bertahan, lama-lama akan goyah juga.

Selanjutnya, ada cerita dari seorang teman saya lagi. Dia punya kenalan sepasang manusia yang sudah menikah. Mereka menjalani proses menuju pernikahan dengan baik dan sesuai prosedur agama. Secara fisik, jika dilihat dari luar dan dari keseharian dan tindak-tanduknya, masing-masing orang dari pasangan ini adalah orang baik-baik dan orang normal. Namun, semua tersingkap setelah pernikahan itu sudah terjadi. Sebut saja pasangan ini namanya X dan Y. Si Y ternyata adalah pelaku LGBT. Dia menikah dengan lawan jenis untuk memenuhi tuntutan status sosial saja. Selama beberapa tahun X dan Y tak pernah ‘bersentuhan’. X tetap bertahan mempertahankan pernikahannya dengan Y (kalau tidak salah, sudah hampir 4 tahun mereka menikah). Ah, duniaa. Kalau saya mungkin sudah tidak sanggup rasanya.

Cerita-cerita di atas semakin menyadarkan saya, sekuat apapun kita berusaha menjaga diri atau menahan diri, ada saja sesuatu yang tidak bisa kita handle. Seberusaha apapun kita jadi orang baik-baik, selalu ada hal tidak baik di luar sana yang harus siap kita hadapi. Hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah berdoa sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya, agar kita dikuatkan dan dilindungi dari hal-hal semacam ini sampai nanti waktunya kita benar-benar “pulang ke rumah”. Sebenarnya, ada lagi cerita lainnya. Namun, sudahlah, cukup itu saja yang saya ceritakan di sini.

Dunia ini semakin ngeri (menurut saya). Waspadalah!

[Resensi Buku] Nadrenaline




Judul Buku
Nadrenaline
 Penulis
Nadine Chandrawinata
Penerbit
Penerbit B-First Anggota Ikapi
Tahun Terbit
 Februari 2012
Jumlah Halaman 
214 halaman


Nadine Chandrawinata, seorang artis mantan Putri Indonesia tahun 2005 merekam jejak petualangannya dalam buku Nadrenaline. Bukan tentang pengalamannya menjadi Putri Indonesia, melainkan pengalaman-pengalaman menantang yang pernah dia lalui di tempat-tempat yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Nadine, anak tertua dari tiga bersaudara adalah seorang petualang yang pernah menginjakkan kaki dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, juga tempat-tempat di luar negeri yang menurutnya menantang. Itulah kenapa buku ini diberi judul “Nadrenaline”. Adrenalin si Nadine.

Nadine sudah seperti kutu loncat: seminggu di pegunungan, seminggu di lautan, seminggu lagi di daratan. Dia selalu berada di tempat yang berbeda. Rumah hanya jadi tempat persinggahan sementaranya. Rasa senang, sedih, susah, puas, bangga, dia dapatkan selama bepergian. Memasuki beragam tempat dengan beragam kebudayaan dan kebiasaan unik membuatnya menyadari bahwa perbedaan memperindah jalannya kehidupan. Dia menemukan lelucon dunia, seperti percikan segar dalam kehidupan yang kosong.

Nadrenaline menceritakan bagaimana dan apa yang dilakukan Nadine di tempat-tempat baru. Piknik keluarga di Lombok, misteri Kokas, Fak-Fak dan keramahan Jailolo, sampai dinginnya Nepal dan Everest. Bagaimana dia bersusah-susah di jalan. Bersesak-sesak di mobil, losmen kecil, tidur di salah satu stasiun kereta api di India saat pengambilan film Sagarmatha, terkena badai di Gunung Merapi, bertahan tidak mandi seminggu di Nepal, sampai merasakan susahnya packing menentukan barang apa yang seharusnya dibawa selama bepergian.

Simak juga bagaimana jatuh cintanya dia pada dunia bawah laut. Kecintaan yang menyadarkannya bahwa dia punya sesuatu yang harus dilakukan sebagai manusia. Itu diuangkapkannya pada salah satu halaman bukunya:

Andai saya punya insang, saya akan tinggal di dalam laut, dan menelusuri perairan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tapi, Tuhan ciptakan saya bukan dengan ekor, melainkan dengan sepuluh jari pada kaki sebagai manusia sempurna. Artinya, saya masih dapat tugas di bumi ini. Saya tidak punya sayap untuk terbang dan saya juga tidak punya sirip untuk berenang. Tapi yang saya punya adalah sepasang kaki untuk berjalan.

Nadine selalu punya cara menikmati apa yang harus dilaluinya di hadapannya. Walaupun terkadang selama perjalanannya dia merasa tidak bebas karena sudah dikenal sebagai public figure, dia mampu melaluinya dengan baik. Kepedulian Nadine terhadap lingkungan juga diungkapkannya di buku ini. Tentang bagaimana usahanya tidak makan daging. Tentang betapa antinya dia makan sirip hiu dan mengkampanyekan tentang pentingnya melindungi penyu dan juga gajah. Dia pun menerbitkan majalah gratisan, Divemag, dan merangkul sahabat-sahabat artisnya ikut bersamanya berkampanye untuk kelestarian lingkungan. Tidak mudah, namun Nadine berhasil melakukannya.

Rabu, 17 Februari 2016

[Review Lagu] Putih ~ Efek Rumah Kaca


  




Sejujurnya, saya tidak begitu paham tentang musik. Hanya, kadang saya suka mendengarkan orang bernyanyi dan main musik. Tentang lagu yang saya sukai? Hmm, tidak pasti. Jika ada lagu yang punya makna mendalam, lirik yang filosofis, dan musikalisasi yang sedang sesuai dengan suasana hati, secara otomatis saya suka lagu itu.


Lagu berjudul "PUTIH" dari band indie yang menurut saya -- dari dulu -- namanya aneh ini, merupakan lagu yang langsung membuat jatuh hati setelah sekali saya mendengarkannya. Ini lagu kedua yang saya sukai dari grup band ini setelah lagu "DESEMBER" (yang menceritakan tentang hujan yang menyembuhkan luka). 

Kebanyakan lagu ERK memang becerita tentang hidup dan kehidupan. Begitu pula lagu "PUTIH" ini, yang digarap selama kurun waktu 5 tahun sejak tahun 2010. Dikutip dari web resmi ERK:

"Putih, lagu berdurasi 9.48 menit, mulai direkam pada tahun 2010. Rekaman pertama instrumen piano, dilakukan di Pendulum studio, yang sekarang sudah rata dengan tanah. Selanjutnya, perlahan-lahan lagu itu dibongkar dan dipasang sedikit demi sedikit selama kurang lebih 5 tahun di berbagai studio seperti Black dan Als studio. Putih adalah lagu tentang keluarga, gabungan dari dua lagu tentang “Tiada” dan “Ada.” Ide tentang “Tiada” didapatkan dari hasil obrolan dengan seorang teman yang bernama Adi Amir Zainun, yang pada akhirnya pergi meninggalkan kami menuju kekekalan sebelum lagu ini selesai dikerjakan. Sedangkan, ide tentang “Ada” bermula dari kebahagiaan akan lahirnya anak-anak kami, penerus penerus kami, harapan-harapan kami. Lagu ini kami dedikasikan untuk mereka"


Dan menurut saya, lagu ini dalem banget. Selain musikalitasnya yang menurut saya pecah banget, setiap baris liriknya tidak ada yang terkesan tidak penting. Ketika kehidupan ini adalah proses dari ada menjadi tiada. Dari kelahiran yang penuh harapan di masa depan, sampai kematian yang menandakan semua yang dilakukan di dunia ini telah usai, berganti menuju keabadian yang sebenarnya.

Lagu tentang "Tiada", menggambarkan keadaan manusia yang baru saja meninggal. Meninggalkan keluarganya, rumahnya yang hangat, menandakan dia sudah usai dengan dunia fana, menuju kesempurnaan kehidupan yang sesungguhnya. Alam akherat.

Lagu tentang "Ada", menceritakan kelahiran seorang manusia yang selalu punya harapan di masa depan. Yang harus siap menghadapi segala tantangan dan ujian di dunia yang tentu saja tak mudah. Tentang bagaimana seharusnya hidup menjadi manusia: gunakan akal, hati, nalar, dan iman.

Lagu "PUTIH" bisa didownload gratis di souncloud ERK maupun di situs Ripstore.Asia


PUTIH
Tiada (untuk Adi Amir Zainun)
Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga

Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga

Oh, kini aku lengkap sudah
Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

Ada (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)
Lalu pecah tangis bayi Seperti kata Wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api

Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran
Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

Dan ini video komikalisasi di youtube yang keren juga



Senin, 15 Februari 2016

[Resensi Novel] The Kite Runner

The Kite Runner Edisi Keempat, Cetakan II
Judul Buku
The Kite Runner
Penulis
Khaled Hosseini
Penerbit
Penerbit Qanita, PT. Mizan
Tahun Terbit
Edisi Keempat, Cetakan II (Februari 2014)
Jumlah Halaman
490 Halaman

Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk menentukan apa jadinya diriku. Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan dan menerima apapun yang mungkin menimpaku. Atau, aku bisa melarikan diri. Akhirnya, aku melarikan diri
 Mengambil latar belakang negara asal Khaled Hosseini, Afghanistan, The Kite Runner menyajikan cerita menyentuh tentang kehidupan seorang Amir dari masa kanak-kanaknya sampai ia bertumbuh dewasa. Amir Khan mempunya kehidupan masa kecil yang hampir sempurna dengan rumah yang luas, ayah yang kaya, kebutuhan yang selalu dipenuhi, dan dua pembantu yang setia, Ali dan anaknya Hassan.

Pada kehidupan yang terlihat bahagia itu, Amir sebenarnya sedang berusaha memenangkan hati ayahnya yang dipanggilnya dengan sebutan Baba. Sosok Baba, seorang pemberani dan vokal menentang ketidak adilan, sama sekali tidak ada dalam diri Amir yang penakut, dianggap pengecut, dan suka menenggelamkan dirinya bersama buku-buku dan tulisan. Di balik sikapnya yang penakut, Amir selalu punya Hassan, seorang pembantu keturunan Hazara seumuran dia yang selalu setia di belakangnya. Namun, keberadaan Hassan terkadang menjadi momok tersendiri bagi Amir. Baba sangat perhatian pada Hassan, bahkan menurutnya bersikap terlalu baik pada Hassan ketimbang pada dia, anak kandung Baba sendiri. Baba selalu bersikap lembut pada Hasan, suka memberinya hadiah dan pujian. Dan puncaknya pada ulangtahun Hassan, Baba memberikan hadiah yang sangat istimewa dan membuat iri Amir.

Ketidaksukaan Amir pada Hassan tidak lantas membuat mereka berjauhan. Justru, mereka selalu bermain bersama. Di mana ada Amir, di situ ada Hassan yang selalu menemaninya dan setia melayaninya. Turnamen adu layang-layang yang telah mengakar menjadi tradisi di Afghanistan, menjadi satu-satunya cara Amir untuk memenangkan hati Baba. Dia harus menjadi juara! Hassan, seperti biasa, setia di sisi Amir, dan berjanji menjadi pengejar layang-layang terakhir yang berhasil dikalahkan Amir pada turnamen tersebut.

Amir berhasil. Dia berhasil menjadi juara adu layang-layang dan menjatuhkan banyak layang-layang lawannya. Layang-layang terakhir yang jatuh, menjadi simbol kemenangan sempurna bagi siapa saja yang mampu mengejar dan mendapatkannya. Dan Hassan berjanji pada Amir, dia akan mendapatkan layang-layang terakhir itu untuk Amir. Pengejar layang-layang terakhir dengan kaki-kaki kecilnya berlari menembus jalanan, rumah-rumah, dan pagar-pagar demi tuannya, seorang Amir. Hassan berhasil mendapatkannya. Namun, pada saat yang sama, Amir telah mengkhianati Hassan. Dia meninggalkan Hassan saat Hassan benar membutuhkan Amir. Amir mencuri kehidupan Hassan. Kelak, kejadian itu menjadi hantu yang membayangi Amir ke mana pun ia pergi.

Hubungan Amir dan Hassan semakin memburuk setelah itu. Ditambah kedatangan Rusia dan Taliban di negeri itu, hancurlah kebahagian Amir dan penduduk negerinya. Taliban yang semula digadang-gadang menjadi penyelamat dari musuh, nyatanya membuat negeri itu semakin porak-poranda. Amir dan Baba terpaksa harus pergi, menjadi pengungsi di negeri jauh, Amerika. Meninggalkan seluruh kebanggaannya di Afghanistan.

Amir menyukai kehidupan barunya di Amerika. Dia mampu mengubur masa lalu. Dia mampu membunuh kenangan-kenangan dan kesalahannya pada Hassan. Dia mendapatkan seorang istri yang sangat dicintainya. Dan hubungannya dengan Baba semakin membaik. Hingga suatu ketika, ada pesan dari Afghanistan. Rahim Khan, sahabat Baba yang selalu memberi semangat pada Amir, memintanya pergi ke Pakistan untuk menemuinya. Rahim Khan menawarkan opsi yang dapat menebus kesalahan Amir pada Hassan. Kenangan yang terkubur itu kembali menyeruak dan memaksa Amir pergi ke Pakistan, lalu pulang ke Afghanistan.

Di sana, Amir mendapatkan satu kenyataan pahit. Baba yang dari dulu dikaguminya dengan nasehat, "Tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri", ternyata telah membohonginya. Selanjutnya, hanya nurani Amir lah yang mampu menolongnya kembali menjadi orang baik.

Khaled Hosseini selalu berhasil menciptakan karakter yang kuat dan tidak sia-sia dalam setiap tutur kisahnya. Dia mampu menyisipkan kisah tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan di Afghanistan, negeri indah yang akhirnya harus hancur terkoyak-koyak akibat perang dan perebutan kekuasaan.

Minggu, 14 Februari 2016

[Resensi] Looking For Alaska


Looking For Alaska (John Green)

Judul buku         : Looking For Alaska (Mencari Alaska)
Pengarang         : John Green
Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : 2015 (cetakan kelima)
Jumlah halaman : 286 halaman
Jenis buku         : Novel fiksi remaja

John Green atau memiliki nama lengkap John Michael Green merupakan penulis novel fiksi remaja sekaligus pencipta video-video pendidikan yang berasal dari Amerika. Looking for Alaska merupakan novel pertamanya yang berhasil meraih anugerah Michael Printz Award. Beberapa karyanya yang lain bahkan sudah difilmkan seperti Paper Towns dan The Fault in Our Stars.
  
Meskipun merupakan novel fiksi remaja yang hampir menyerupai teenlit, Looking for Alaska tidak melulu membicarakan tentang cinta maupun jangkitan virus merah jambu pada remaja. Novel ini lebih bercerita mengenai persahabatan dan gilanya kehidupan sekolah di sebuah asrama, serta berbicara tentang kehidupan yang selalu penuh pertanyaan untuk dijawab.
Miles Halter, seorang yang sangat menyukai kata-kata terakhir para tokoh, merasakan kehidupan yang membosankan di tempat asalnya di Florida. Ia masuk ke sekolah asrama Culver Creek di Alabama untuk mencari apa yang disebut dengan 'kemungkinan besar'. 

Pertemuan dengan Kolonel, Alaska, dan Takumi yang memberikan julukan baru padanya, 'Pudge', membuat hidupnya tak sama lagi. Mereka menghabiskan masa-masa kenakalan remaja, menjajal hal-hal baru dan liar, serta mendapatkan berbagai bentuk 'kemungkinan besar' yang mereka cari.

Alaska Young, seorang gadis yang memiliki emosi meledak-ledak, penyuka buku, dan pencetus ide-ide gila telah berhasil menarik Pudge ke dalam lingkarannya. Dia selalu punya kejutan yang membuat Pudge tak bisa lepas darinya. Hanya seratus duapuluh hari Pudge mengenal sosok Alaska. Tapi gadis itu sudah berhasil membuatnya memikirkan hal-hal yang tak ada di pikirannya sebelumnya. Pudge tahu semua kata-kata terakhir para tokoh terkenal lewat buku biografi mereka. Namun Pudge tak pernah mengetahui kata-kata terakhir Alaska, seorang gadis misterius yang penuh kejutan.

Bagaimana caramu keluar dari labirin penderitaan? Itu pertanyaan terpenting Alaska Young pada kelas Dr. Hyde yang selalu terngiang-ngiang di telinga Pudge. Pertanyaan yang menempatkan fakta tak terbantahkan mengenai penderitaan dalam pemahaman mengenai dunia. Dan kemungkinan jawabannya adalah satu: kematian.




Urban Farming


Selada, salah satu tanaman sayur yang mudah tumbuh di rumah

FAO (Food and Agriculture Organization) mendefinisikan pertanian perkotaan (urban farming) sebagai  
Sebuah industri yang memproduksi, memproses, dan memasarkan produk dan bahan bakar nabati, terutama dalam menanggapi permintaan harian konsumen di dalam perkotaan, yang menerapkan metode produksi intensif, memanfaatkan dan mendaur ulang sumber daya dan limbah perkotaan untuk menghasilkan beragam tanaman dan hewan ternak.

Sementara,  Council on Agriculture, Science and Technology (CAST) menekankan urban farming lebih kepada
Mencakup aspek kesehatan lingkungan, remediasi, dan rekreasi. Kebijakan di berbagai kota juga memasukkan aspek keindahan kota dan kelayakan penggunaan tata ruang yang berkelanjutan dalam menerapkan pertanian urban

Kamis, 11 Februari 2016 lalu, pada acara Syariah Fest yang diadakan di Masjid Kampus UGM, saya berkesempatan bertemu dan mengobrol dengan Mas Catur, pemilik Jogja Ara Garden yang fokus membudidayakan Pohon Tin, sebuah tanaman buah yang disebutkan namanya dalam Q.S At-Tiin ayat 1-2.

Sedikit pembicaraan kami menyenggol topik mengenai urban farming.Urban farming sebenarnya adalah salah satu kegiatan menanam sebagai solusi mengolah limbah rumah tangga. Sejalan dengan pengertian dari FAO, esensi dari urban farming sebenarnya lebih menekankan kepada pemanfaatan barang-barang atau bahan yang berasal dari limbah rumah tangga yang sudah ada, bukan mengada-adakan yang tidak ada. Sebagai contoh, jika ada plastik wadah minyak atau botol bekas, maka itulah yang digunakan sebagai media tanam. 

Yang banyak dikeluhkan orang-orang dari urban farming adalah luas lahan. Urban farming adalah kegiatan untuk menghijaukan lahan, terutama lahan perkotaan yang sudah lebih banyak ditanami beton ketimbang ditanami pohon. Jadi ketersediaan lahan yang kurang luas seharusnya jangan dipermasalahkan, justru itulah yang menjadi keunikan urban farming. Dia menuntut kreatifitas lebih untuk memanfaatkan lahan dan limbah rumah tangga yang ada agar berdayaguna tinggi. Sebagai salah satu program ketahanan pangan, urban farming bisa menjadi solusi memenuhi kebutuhan pangan (terutama sayur) untuk masing-masing rumah tangga. 

Kegiatan urban farming sudah semakin dikenal oleh masyarakat sejak dicetuskannya program Indonesia Berkebun oleh Ridwan Kamil. Sekarang, Indonesia Berkebun sendiri sudah memiliki jejaring di 30 kota dan 8 kampus di Indonesia. Meskipun sudah semakin booming akhir-akhir ini, kegiatan urban farming masih perlu untuk terus dikampanyekan. Terutama kampanye penyadaran terhadap anak-anak agar terbiasa dengan kegiatan menanam. Dan penyadaran terhadap anak-anak akan lebih efektif jika dilakukan oleh ibunya. Hal inilah yang diungkapkan oleh Mas Catur, "Dulu saya pernah ngajarin anak-anak tentang urban farming, tapi anaknya malah pada lari-lari. Malah ibu-ibunya yang tertarik. Jadi lebih baik ibunya dulu yang diajarin, biar ibunya yang ngajarin anak-anaknya. Karena ibu kan sumber pendidikan untuk anak-anaknya..."

Maka menanamlah, karena menanam itu sedekah:
“Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim Hadits no.1552)
g muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya." (HR. Imam Bukhari hadits no.2321)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/eddasory/menanamlah-meskipun-tanamanmu-dirusak-tapi-itu-sedekah_550e3551a33311a62dba7ff4
"Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya." (HR. Imam Bukhari hadits no.2321)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/eddasory/menanamlah-meskipun-tanamanmu-dirusak-tapi-itu-sedekah_550e3551a33311a62dba7ff4

Jumat, 12 Februari 2016

Menyusuri Setapak Jalur Suwanting Merbabu

Gunung Merbabu yang terletak di Jawa bagian tengah -- meliputi Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga --  merupakan salah satu gunung favorit untuk para pendaki pemula. Tidak hanya satu jalur, ada beberapa jalur yang bisa menjadi alternatif para pendaki untuk bisa menuju ke puncak. Terdapat Jalur Thekelan, Wekas, Cunthel, Selo, dan Suwanting. Jalur Suwanting merupakan jalur lama yang pernah ditutup pada tahun 1998 silam, kemuadian baru dibuka lagi pada tahun 2015 lalu. Banyak yang bilang, pemandangan dari jalur ini seindah pemandangan jika mendaki via jalur Selo. Karena informasi itulah, kami berdelapan akhirnya memutuskan untuk naik melalui jalur Suwanting pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016 lalu.

Jalur Suwanting tidak terlalu jauh dari Yogyakarta. Waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Yogyakarta menuju Ketep. Jarak dari Ketep sendiri sekitar 4 kilometer jauhnya. Setelah mengikuti petunjuk arah di tepi jalan yang mengarahkan para pendaki untuk menuju basecamp Suwanting, para pendaki musti melewati satu kampung, yaitu Dusun Suwanting, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang untuk bisa sampai ke basecamp kecil di tepi ladang sayur yang menghampar menghijau.

Jalur pendakian Suwanting (sumber: infopendaki.com)


Kami naik sekitar jam 15.30 WIB. Para ranger memberikan petunjuk pada kami sebelum berangkat mendaki. Belum ada satupun dari tim kami yang pernah mendaki lewat jalur ini sebelumnya. Hanya ada satu jalur via Suwanting, namun kami diminta berhati-hati agar tidak tersasar. Naik ambil kanan, turun ambil kiri. Cukup banyak yang akan melakukan pendakian waktu itu. Menurut petugas, sudah ada 50 pendaki yang tercatat pada dua hari terakhir. Bersamaan dengan kami, 70 orang rombongan pendakian massal asal Bandung juga tampak bersiap-siap untuk naik. Walaupun sedang musim hujan, waktu itu memang sedang hari libur, tidak heran jika lumayan ramai juga para pendaki yang datang. 

Berbarengan dengan kami juga, ada dua orang pendaki wanita dari Bekasi yang akan naik. Dari mereka, kami baru tahu kalau di jalur ini tidak ada bonus sama sekali. Jalannya nanjak terus sampai atas, hampir tidak ada jalan datar menuju landai seperti yang ada di jalur Selo. Mendengar itu, saya cukup keder juga, karena saya masih super amatir. Apalagi sekembalinya saya ke Jogja selama setengah tahun ini, saya hampir tidak pernah berjalan kaki jauh-jauh, dan itu cukup berpengaruh juga bagi kekuatan kaki. Dan memang benar, selama pendakian baik naik maupun turun, saya selalu jadi rombongan sapu bersih alias rombongan paling belakang.

Basecamp sampai pos I kami tempuh dalam waktu setengah jam. Perjalanan dari basecamp menuju pos I melewati ladang sayur mayur milik warga dan berakhir di hutan pinus hijau segar, namanya Lembah Lempong. Selepas pos I, kabut mulai turun dibarengi dengan turunnya tetes-tetes air hujan. Perjalanan semakin nanjak, kanan kiri hanya ada semak dan hutan campuran. Lumayan lama kami berjalan menuju pos II. Saya dan empat teman lainnya lebih sering berhenti dan jalan pelan. Tiga yang lain sudah jalan duluan. Katanya sih, naik gunung sebaiknya menyesuaikan endurance masing-masing. Kalau biasa cepat, lebih baik jalan cepat. Kalau biasa pelan, jangan memaksakan diri untuk cepat-cepat.

Bagi saya, perjalanan naik gunung kali ini merupakan perjalanan naik gunung tersantai, meskipun medannya cukup berat. Sesekali kelompok pendaki lainnya menawari kami untuk beristirahat, minum jahe anget sambil makan sosis bakar, berteduh di flysheet, maupun berteduh di tenda-tenda saat hujan deras turun. Perjalanan dari pos I menuju pos II yang normalnya hanya memakan waktu sekitar 2 jam, kami habiskan selama sekitar 4 jam.

Sekitar jam 9 malam, kami sampai ke pos II setelah sebelumnya salah mengira kalau Lembah Ngrijan adalah pos II. Di sana, tiga teman yang lain sudah menunggu. Dan kami memutuskan untuk mendirikan camp sebelum pos III saja, karena pos III masih jauh, sementara sudah terlalu malam jika harus melewati Hutan Manding yang katanya jalannya banyak cabangnya. Maka, karena belum ada satu pun dari kami sudah pernah lewat jalur ini, diputuskan kami tak usah memaksakan diri sampai pos III. Kami sampai di tempat camp kami (entah Lembah Singo atau Lembah Manding) sekitar jam 10 lebih, hampir jam 11 malam. Kami masih berharap untuk bisa sampai ke pos III esok harinya.

Ternyata, kenyataan berkata lain. Pagi itu hujan dan berkabut, didukung fisik yang cukup lelah, kami memutuskan untuk tidak naik sampai Puncak Suwanting. Lebih baik kembali lagi saat cuaca bagus untuk mendaki. Dan pagi itu, kami memutuskan tinggal di tenda sambil masak pizza dan sandwich (ini kali pertama juga saya ngerasa naik gunung berasa piknik). Untungnya juga, kami membawa cukup persediaan air minum, jadi tak usah jauh-jauh cari air (camp kami ada jauh di bawah sumber mata air).


Terimakasih sudah mau sabar sama saya ^^ (photo by: Nasrulloh)
Kemewahan adalah kabahagiaan yang dibagi-bagi (photo by: Sammy Arkoun Serageldin)
Masya Allah dapet bonus dobel pelangi (photo by: Nasrulloh)
 
Dan pelajaran dari perjalanan naik gunung kali ini adalah: Jangan memaksakan diri, yang penting bisa pulang dengan selamat.

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.