Selasa, 08 September 2015

HEY MEMORY!



Hari pertama masuk kuliah. Kuliah lagi. Keputusan yang berkali-kali saya pertimbangkan sejak setahun lalu. Saya telat dan kursi yang bisa dijangkau hanyalah kursi belakang. Dua orang sudah mengisi bangku belakang. Saya satu-satunya angkatan 2008 yang mengambil kuliah di jurusan ini, dan di semester ini. Selebihnya, adalah para anak muda di angkatan bawah saya serta para pegawai yang sedang tugas belajar. Dua orang yang saya ceritakan tadi, satu adalah kawan KKN saya dan satu lagi kawan yang kenal karena pernah bekerja bersama beberapa waktu lalu. Saya mengambil tempat duduk di samping mereka.

Kawan KKN saya, sebut saja namanya Havis, adek angkatan saya, adalah seorang yang slengekan dan suka seenaknya. Meskipun begitu, kalau tak ada dia, banyak pekerjaan akan menjadi tidak beres. Selama berpartner dengan dia pun, walau kadang mengesalkan, tapi kami selalu bisa ngobrol ngalor-ngidul tentang apapun.

Seperti tadi pagi. Alih-alih memperhatikan seorang profesor yang berkisah di depan kelas, kami yang mulai mengantuk mulai berkisah sendiri di belakang. Topik yang kami bicarakan tentu saja topik yang tak pernah ada habisnya untuk diceritakan sekalipun kami sering membicarakannya: KKN. Dari empat jam kuliah, mungkin lebih dari satu jam kami habiskan untuk berkisah. “M” adalah Marul, dan “H” adalah Havis. Dialog dalam bahasa Jawa sebenarnya. Tapi saya tulis kembali dalam bahasa Indonesia.

H : Rul, minggu depan ada Mara*** Jazz, lho.
M : Iya. Aku kemarin dikirimin foto sama Willy (anak Mara***) tentang Mara*** Jazz. Ayo Vis ke sana. (ngomong muka datar. Seakan-akan Mara*** itu cuma nyeberang kali)
H : Aku pengen kita semua bisa balik sana berduapuluh lagi. Tambah anggota keluarga masing-masing nggak papa wis. Kamu juga besok bawa suamimu boleh. Kapan nikah? Udah tua kamu Rul. Haha. (~hsyem)
M : Udah susah ya sekarang. Udah beda juga rasanya. Eh, aku kemarin ditelepon Bapak. Katanya kangen anak KKN angkatan kita yang banyak kerjanya. Yang sekarang banyak mainnya. Haha
H : Iyalah. Kita dulu mulai dari nol. Kerjanya beneran. Mana ada kita dulu mikir main. Mainnya sambil kerja lah. Duit aja ketir-ketir. Sama LPP* aja hampir ditolak. Inget kan kita dulu kayak gimana? Nyari duitnya gimana? Mandirinya di sana kayak apa?
M : Haha. Inget jualan macem-macem di Sunmor, ngemper di Bandara Djuanda, tidur berjubel berduapuluh di rumah Pak Hen, di basecampnya Bestari, di Singkuang. Naikin barang-barang seabrek pindah2 dari bus, pesawat, mobil, speedboat. Naik kapal seharian demi mau presentasi ke tempat Pak Bupati. Takbiran di atas kapal kecil di tengah laut sambil masak mie, padahal kita udah beli kembang api banyak buat dinyalain di Pulau. Datang ke sana sama warga disambut datar-datar aja, pas mau penarikan bener-bener diadain acara meriah sampai nangis-nangis. Benar-benar perjuangan.
H : Dan kita patut berbangga. Peta yang kita bikin dulu jadi acuan di dinas-dinas dan kementerian. Ada di brosur wisata juga. Dan kita udah bikin rame Mara*** gara-gara eksplore goa. Berbangga sekaligus bersedih sih. Gara-gara tambah terkenal lama-lama Mara*** nggak seindah dulu. Jadi kita kudu bangga apa sedih kalau gini, Rul?
M : Dua-duanya berarti, Vis. Untung kita dulu kompak banget ya... (terharu)

Sehabis itu, pembicaraan absurd masih berlanjut sampai kuliah hampir selesai. Update kabar masing-masing personel yang kita tahu lalu melanjutkan pembicaraan yang disertai awalan kalimat Inget nggak dulu kita..... (oke kami nggak bisa move on).

Entahlah, bagi saya, momen KKN adalah momen ketika hidup saya seperti berada di dunia mimpi yang indah. Mimpi indah sementara waktu sebelum bangun dari tidur panjang.



Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.