Rabu, 08 Juli 2015

Bromo dan Momen yang Menghilang





Sudah sejak bulan Januari, sehabis saya resign dari kantor, sudah ada rencana untuk main ke Jawa Timur. Waktu itu, saya dan beberapa kawan – Dian, Pulung, dan Linda – punya rencana menghabiskan waktu bersama di daerah Jawa Timur. Sudah lama memang, kami tidak bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang obrolan-obrolan kami di media sosial benar-benar membuat kami ingin pergi lagi ke tempat yang jauh dari rutinitas dan melakukan hal-hal absurd dan konyol bersama-sama.

 Rencana yang kami rencanakan jauh-jauh hari, seperti biasa, tidak berjalan sesuai rencana. Pada akhirnya, seperti biasa juga, yang merealisasikan trip ke Jawa Timur adalah saya dan Dian. Linda masih ada kerjaan ngenum di daerah Blitar. Begitu pun Pulung, dia masih ada tanggungjawab yang menunggu untuk diselesaikan. Saya, karena memang niat mau pergi ke Pare yang notabene memang berada di Jawa Timur, maka akhirnya realisasi itu terjadi juga. Dian, yang entah, sepertinya memang ditakdirkan untuk punya nasib seperti saya (mulai dari NTT, Jakarta, sampai akhirnya ke Pare), juga berhasil melakukan trip ke daerah Jawa Timur.

Di Pare, trip yang diadakan tiap akhir pekan oleh para tutor dan travel agent mempermudah realisasi rencana kami. Pada suatu pekan, ada tawaran untuk join trip ke Bromo dengan harga 200k lengkap mulai transport PP, jeep, sopir, dan tiket masuk. Tanpa pikir terlalu panjang, kami akhirnya ikut. Kali itu, kami berangkat sebelum tengah malam memakai kendaraan jenis Isuzu Elf. Sempat mengalami pecah ban di perjalanan, akhirnya kami sampai tepat waktu juga di sana.

Kami sampai di kawasan Taman Nasional Bromo sekitar pukul 3 pagi. Saya sudah siap-siap dengan jaket lumayan tebal dan sarung tangan yang baru saja saya beli di toko dekat camp di Pare. Setelah sebelumnya di Ijen saya merasa kedinginan karena tidak memakai sarung tangan, saya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama di Bromo. Apalagi, kata teman yang pernah ke Bromo, Bromo itu sangaat dingin. Didukung dengan aneka macam foto di sosial media yang menunjukkan bahwa para pengunjung kebanyakan memakai jaket tebal, sarung tangan tebal, syal hangat, dan topi rajut, saya sangat percaya bahwa Bromo itu pasti sangat dingin.

Ternyata, perkiraan saya salah. Bromo sama sekali tidak terlalu dingin. Saya bahkan sebenarnya tidak terlalu memerlukan sarung tangan. Hanya saja, daripada saya kecewa karena sudah terlanjur membeli sarung tangan, saya pakai juga sarung tangan itu untuk sekedar berfoto biar kelihatan dingin banget. Mungkin saja, ketidakdinginan itu dipacu oleh faktor terlalu ramainya kendaraan yang berkumpul di Penanjakan, tempat paling hits di Bromo untuk melihat matahari terbit.

Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa Bromo akan secrowded itu, meskipun weekend sekalipun. Ya, Bromo ketika weekend rasanya seperti di pasar malam. Tracking ke Penanjakan dilakukan dengan langkah sempit-sempit. Itu pun harus pandai-pandai cari spot nyempil di atas bukit, agar pandangan tidak terhalang kepala-kepala manusia. Di titik pemberhentian kami di Bromo itu, kami – saya dan Dian – benar-benar merasa kehilangan momen.

Bromo memang indah. Landscape yang tersaji benar-benar menakjubkan. Masya Allah. Mulai dari matahari terbit, Gunung Bromo, sabana, pasir berbisik, masyarakat Tengger, sampai kawahnya, memiliki kekhasan masing-masing. Hanya saja, saya merasa sisi magis Bromo sudah hilang. Bromo tak lebih hanyalah tempat piknik biasa. Turis datang, membayar, berkeliling memakai jeep atau kendaraan pribadi, melihat pemandangan, berfoto-foto, update di media sosial. Sudah hanya itu. Sekedar piknik biasa di tempat yang sudah dikomersilkan segala sisinya.

Saya dan juga Dian, mungkin berekspektasi berlebihan terhadap Bromo sehingga apa yang kita rasakan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mungkin juga, kami yang kelewat tidak gaul dan gagal paham mengenai tempat-tempat piknik yang sudah terlalu dikuasai oleh sosial media. Dan bisa jadi, kami lah yang sebenarnya berpikiran terlalu klasik, yang mengharapkan ketenangan dan privasi perjalanan di tempat yang sudah kelewat “publik” seperti di Bromo.

Hanya saja, kami merasa benar-benar kehilangan momen perjalanan di sana. Saya juga tidak tahu kenapa. (Bantul, 06 Juli 2015)         

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.