Senin, 06 Juli 2015

#15 SI ISTRI PERTAMA

     

           Entah apa yang saya pikirkan, sampai-sampai saya tiba-tiba teringat pada Bapak dan Budhe Labuan Bajo. Mungkin saya sedang berada pada titik di mana saya menemui kerinduan saya pada mereka. Pada Labuan Bajo, pada Manggarai Barat, pada perjalanan yang pernah menggoreskan berbagai perasaan yang kelak akan selalu saya syukuri karena pernah mampir di relung hati saya. Sampai sekarang, saya masih menganggap perjalanan saya di Flores adalah perjalanan paling sukses buat hati saya.Bukan karena saya berhasil menemukan tambatan hati saya di sana. Sama sekali bukan. Karena memang bukan. Namun, apa yang saya lakukan seusai pekerjaan pertama saya sebagai enumerator di Flores sana, sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang saya ambil di kemudian hari. Mengingat-ingat apa yang pernah saya temui di sana, selalu berhasil mengembalikan hati saya yang sering secara tidak sadar terlempar jauh dari tempat asalnya.

                Dan ingatan yang ingin saya ceritakan kembali kali ini terjadi sehabis Idul Adha di sebuah desa yang “cukup” terpencil di sebuah pegunungan di Manggarai Barat. Sebut saja namanya Desa Golo. Saya dan teman-teman tim saya waktu itu bermalam di rumah salah seorang kepala desa. Jangan dibayangkan rumah kepala desa di sana adalah rumah bagus yang punya ruangan cukup untuk tamu. Kalau boleh dibilang, rumah yang dihuni oleh Bapak Kepala Desa dan keluarganya bukanlah rumah yang layak huni. Sebuah rumah panggung dari bambu yang bolong sana-sini dan sangat-sangat sederhana. Saya dan seorang teman wanita kala itu diberi tempat untuk tidur di ruangan dalam, bersama istri kepala desa dan saudarinya. Saya dan teman saya diberi tempat di pojokan ruangan di atas kasur tipis lembab dengan kelambu seadanya. Kadang-kadang kecoak atau tikus kecil berdecit berlalu lalang tanpa takut. Sangat tidak nyaman, pikir saya waktu itu. Saya sampai tak bisa tidur nyenyak ketika itu.

                Tak hanya itu saja. Rasa tidak nyaman itu berlanjut dengan ketiadaan air untuk MCK di rumah tersebut. Bagi saya sendiri sebenarnya tidak terlalu masalah pergi berhari-hari tanpa mandi. Hanya saja, emosi saya saat itu sedang dalam keadaan susah menolerir diri saya yang sama sekali tak bisa bersentuhan dengan air. Ada lagi hal lain, yang ketika itu membuat saya bertambah tidak nyaman. Soal makanan. Tidak biasanya saya mengeluhkan soal makanan, apalagi sedang berada di tempat yang jauh dari rumah. Padahal biasanya saya termasuk gampang makan kalau sudah sangat lapar. Namun entah kenapa kali itu perut dan emosi saya sedang rewel-rewelnya. Saya hampir muntah ketika makan nasi sayuran yang berasa hanya asin saja. Yah, walaupun sajian makanan itu pada akhirnya memang berhasil saya habiskan karena merasa tidak enak hati dengan tuan rumah. Namun tetap saja saya butuh usaha keras untuk itu.

                Saya terus saja mengeluh dalam hati. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada hati dan jiwa saya kali itu. Saya secara sadar terus mengeluh. Sampai akhirnya, keluhan demi keluhan itu akhirnya berhenti dengan sendirinya setelah saya berinteraksi dengan istri Bapak Kepala Desa. Istri Bapak Kepala Desa, mungkin baru berusia sekitar 40 tahunan. Beliau istri pertama. Ya, istri pertama. Artinya, memang ada istri kedua. Istri pertama, yang rumahnya saya tinggali waktu itu, mengalami musibah pasca melahirkan putranya yang terakhir. Badan beliau lumpuh sebagian, tak bisa digerakkan. Keadaan yang seperti itu membuatnya memberi izin suaminya menikah lagi, karena beliau tak bisa melakukan tugas istri dengan maksimal. Ah, berbagi suami? Saya tak mau membayangkan. Saya tidak anti poligami karena itu memang sudah ada aturan syariatnya dalam agama yang saya anut, namun jika saya berada di sisi Si Istri Pertama, saya sama sekali tak yakin bisa melakoninya.

                Di tengah keterbatasan beliau itu, beliau melayani kami para tamunya dengan baik dengan apa yang dia punya. Sehabis subuh yang gelap karena memang belum ada listrik mengalir di sana, beliau memutar shalawat di ponsel yang cukup bisa diandalkan untuk memberi hiburan seadanya.

 “Mau kopi, Nak? Bisa bantu Ibu merebus kopi di dapur?”  pagi itu saudarinya sedang pergi  sehingga meminta bantuan saya dan kawan saya membuat perapian dari kayu di dapur tradisional yang berada di bagian belakang rumah beliau untuk sekedar membuat kopi. Para lelaki di luar sudah kusak-kusuk mengobrol. Tak lama kemudian, saudari beliau muncul, mengambil alih tugas kami. Kami beranjak masuk. Istri kepala desa mengajak kami mengobrol, menceritakan anaknya.

“Anak ibu sekarang ada di mana?” kami iseng bertanya. Beliau tiba-tiba sangat bersemangat ketika ditanyai soal anaknya. Beliau membuka ponselnya, menunjukkan dua lelaki tampan dalam layar ponsel, “Ini anak saya, dan yang ini anak kakak saya. Umurnya kira-kira sama seperti anak berdua ini.”

“Mereka sedang kuliah di Makassar. Taun depan anak saya dapat beasiswa ke Mesir kalau lancar,” beliau terus bercerita sambil memperlihatkan foto-foto yang lain. Foto-foto kegiatan pengabdian masyarakat anaknya dan teman-teman sekampusnya di Desa Golo. Ibu di depan saya itu, ibu yang ikhlas dan tidak mengeluh atas apa yang sudah ditakdirkan untuknya berhasil menampar saya saat itu juga. 

Jauh di dalam hati saya meringis perih. Duh, apalah saya ini, Gusti! Berani-beraninya mengeluh atas keadaan yang bukan keadaan saya sendiri! Astaghfirullah!      

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.