Selasa, 10 Maret 2015

KAWAH IJEN

“Di suatu ketika yang teramat singkat, kau tahu bagaimana menjadikannya bermakna”


Kalian percaya takdir? Saya iya. Saya percaya mereka memang seharusnya bertemu saya di Banyuwangi


Kantuk masih menggelayut di bola-bola mata ketika mesin elf sudah tak meraung lagi. Hawa dingin mulai terasa. Entah di ketinggian berapa. Aku masih mengantuk.

Sebagian besar penumpang elf mulai menggeruduk sebuah warung tepat di depan mata, mencari kehangatan. Bir, jahe, indomie panas, nasi goreng, teh panas, atau apapun yang bisa menghangatkan badan. Langit perlahan berganti spektrum warna. Biru, cyan, violet, memerah. Senja. Hijau yang terpantul dari bukit-bukit dan pepohonan mulai tak terlihat. Tempias air hujan kembali hadir. Udara rasanya bertambah dingin.

Ijen, di suatu Sabtu senja menuju Minggu. Aku yang sebelumnya tak akan berangkat ke sana, tergiring juga untuk sampai ke sana. Beberapa orang duduk-duduk atau tiduran di sekitar parkiran kendaraan. Banyak orang kecele, urung hiking malam-malam karena kawasan Kawah Ijen ditutup untuk pendakian di malam hari. Pusat Vulkanologi setempat menyatakan bahwa kadar belerang di kawah sedang mengalami peningkatan. Pendakian baru boleh dilakukan setelah pukul 3 dini hari. Artinya, kesempatan untuk bisa menjumpai blue fire sangat tipis, bahkan hampir tidak ada. Memang, sebaiknya pendakian dilakukan di musim kemarau, dimana cuaca selalu cerah sehingga kesempatan melihat blue fire tentu saja semakin terbuka lebar.

Kawah Ijen tidak hanya menyuguhkan fenomena alam yang mengagumkan, namun juga fenomena sosial yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya. Blue fire hampir selalu menjadi primadona bagi para pengunjung salah satu gunung belerang yang  terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso ini. Sebenarnya, ada hal lain yang menjadi daya tarik selain blue fire, yaitu kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk setempat yang berprofesi sebagai buruh pikul di kawasan penambangan belerang.

Penambang belerang tidak bekerja secara independen. Mereka dipekerjakan oleh sebuah perusahaan yang memberi upah pada setiap pikulan yang mereka lakukan. Pada setiap dua buah keranjang berisikan sekitar 60an kilogram belerang yang tertumpu pada bahu-bahu kekar mereka. Di situ pulalah letak salah satu tumpuan hidup mereka. Seorang buruh pikul yang kami temui mengatakan,  “Kalau tidak semangat, nanti istri saya makan apa?”

Tidak semua pemikul adalah orang-orang muda. Banyak pula lelaki lanjut usia yang masih bertahan menjadi buruh pikul. Nafas memburu terengah-engah menghisap asap belerang terkadang menghentikan langkah mereka. Beberapa bapak tua pemikul belerang yang kami temui saat turun menuju lokasi penambangan memberi saran kepada kami untuk membasahi masker yang kami pakai dan berjalan lebih pelan lagi untuk mengurangi risiko keracunan, juga agar nafas kami tidak habis di tengah perjalanan. Pagi itu asap belerang memang lumayan tebal, bisa membuat nafas sesak dan mata pedih.

Tracking sekitar satu sampai dua jam yang kami lakukan, mungkin bisa dilakukan dalam rentang waktu kurang dari satu jam oleh para buruh pikul. Fisik mereka sudah terlalu terlatih untuk melakukan itu. Adalah suatu pemandangan yang kontras ketika para pelancong yang sekedar piknik dan bersenang-senang bertemu dengan para buruh pikul yang bekerja sedemikian kerasnya melewati lembah, igir bukit, dan menantang nyawa demi menghidupi keluarganya.
***

Transportasi dari Pare – Baluran – Kawah Ijen: +/- Rp 180.000 - 200.000 (mobil elf)
Tiket masuk TN Baluran 15.000,00
Tiket masuk Kawah Ijen Rp 7.500,00

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.