Kamis, 02 Oktober 2014

HALO MALANG!


“Terbang tinggi ke awan, mungkin ada yang bisa kutemukan. Menyeberangi ilalang, walaupun jauh yang harus kutempuh. Jalan masihlah panjang, banyak keinginan yang dilupakan. Masih harus berjuang. Percayalah masih ada banyak harapan. Terbanglah terbang, raihlah mimpi. Jangan berhenti, terbanglah serdadu kumbang....” Serdadu Kumbang – Ipang

Dendang lagu Tanah Airku menggema kala Senin pagi kemarin. Tak biasanya aku ikut upacara bendera hari Senin semenjak dua tahun terakhir. Dua tahun lalu adalah kali terakhir aku ikut upacara bendera, upacara tujuhbelasan, di salah satu pulau kecil dari 92 Pulau Kecil Terluar Indonesia. Buncah rasa bahagia sekaligus terharu benar-benar terasa kala itu. Pun dengan kemarin Senin, tak terasa senyum merekah lebar ketika ikut menyanyikan lagu Tanah Airku.

Seratus lebih siswa-siswi berseragam putih – merah beserta Bapak/ Ibu gurunya berdiri pagi-pagi di tengah lapangan upacara SDN Gunungsari, Tajinan, Malang, Jawa Timur. Ah bagaimana ceritanya aku bisa sampai di Malang? Entahlah, yang pasti itu sudah tergaris dalam kitab kehidupanku dan mereka yang bertemu sapa dalam sebuah kegiatan yang diberi nama “Kelas Inspirasi”.

Aku belum terlalu lama mengenal Kelas Inspirasi (KI). Direct Assessment (DA) Indonesia Mengajar IX lah yang memperkenalkan aku kepada  Kelas Inspirasi. Saat itu beberapa teman satu tim DA adalah jebolan KI. Dari sanalah aku penasaran dan mencoba mencari informasi tentang KI di web Indonesia Mengajar. KI adalah kegiatan sehari yang diperuntukkan bagi para profesional untuk berbagi cerita tentang profesi mereka kepada anak-anak Sekolah Dasar. Hanya butuh satu hari. Dan pilihanku jatuh pada tanggal 29 September. Malang.

Ternyata perlu istiqamah juga ketika kita sudah berani memilih dan memutuskan sesuatu. Ada banyak hal yang terkadang melemahkan niat. Bahkan sampai hampir hari H. Tapi tentu saja, niat yang lebih kuatlah yang menang. Tetap saja akhirnya aku berangkat ke Malang setelah minggu sebelumnya bolak-balik Jakarta – Jogja – Jakarta – Bandung – Malang. Toh rasa lelah di minggu-minggu sebelumnya itu terbayar sudah ketika berhasil bertemu muka dengan para jagoan masa depan di SDN Gunungsari.

Namaku Marul. Staf GIS (sistem informasi geografis) di salah satu instansi pemerintah di bidang kelautan. Tadinya aku ingin mengajak anak-anak yang penuh semangat itu keliling Indonesia, bahkan keliling dunia, lewat peta interaktif yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi apa daya, hukum murphy terburu-buru mendatangi tanpa permisi, semua benda elektronik yang sudah dipersiapkan menyambut hari inspirasi mendadak tak mau bekerja sama. Laptop tiba-tiba mati total. Hardisk tiba-tiba jebol. Bersamaan. Dan tak ada backup sama sekali. Dan pelaksanaan KI tinggal seminggu dimana saat itu aku harus bolak-balik ke sana kemari. Tak ada persiapan apa-apa lagi.

Lalu mendadak di rumah Jogja aku menemukan Peta Indonesia seukuran kertas A1 dan menemukan sebuah boneka tangan di tempat lainnya. Baiklah. Sepertinya mereka cukup bisa diandalkan menemaniku di depan kelas.

Saat anak-anak mengacungkan tangan tinggi-tinggi di kelas, saat itu juga semangatku juga ikut membubung tinggi. Bahagia itu sesederhana menyaksikan kegembiraan anak-anak yang tawanya lepas, bebas, tanpa beban, optimis, yang walaupun kadang anarkis, namun tetap manis.

Kelas II yang menyenangkan, semangat, dan saling menghargai. Saat meminta anak-anak kelas II mengeluarkan kertas untuk belajar menggambar denah, mereka dengan senang hati melakukannya. Di sini aku bertemu Aril, seorang anak berkebutuhan khusus yang berbakat. Seorang teman sebangkunya yang ternyata juga teman karib di rumah berseru kepadaku, “Ibu, lihat ini buku gambarnya Aril. Bagus bu...” Saat itu aku mendekatinya dan melihat buku gambarnya. Dia ternyata suka membuat karya dari daun yang ditempel-tempel membentuk gambar. Iya, bagus. Di sini bukan aku yang menginspirasi, merekalah yang menginspirasiku.

Kelas III yang aktif dan ramai. Lihat saja saat aku membentangkan Peta Indonesia dan meminta salah satu anak untuk menunjukkan suatu tempat yang tergambar di sana, hampir setengah kelas ikut meringsek maju dan menunjuk-nunjuk di peta.

Kelas IV yang malu-malu, penurut, tapi tetap semangat. Saat ditanyai sesuatu, hampir anak sekelas mengacungkan tangan. Walaupun, saat diminta menjawab, kebanyakan mereka hanya geleng-geleng kepala dan tidak jadi menjawab. Hampir semua anak lelaki di kelas ini ingin menjadi pemain sepak bola. Dan anak perempuannya ingin menjadi dokter dan koki. Ah, cita-cita masa kecil selalu membekas bukan? Bahkan ketika dewasa, cita-cita masa kecil bisa jadi terus mengusik. Semoga saja apa yang mereka cita-citakan benar-benar menjadi cita-cita yang tak hanya sekedar cita-cita. Semoga saja cita-cita mereka terpupuk, tersirami, tumbuh di atas lahan yang subur.

Semoga balon-balon impian yang terbang membubung tinggi ke angkasa yang diterbangkan seusai setengah hari yang membekas itu ikut membubungkan harapan mereka. Tinggi. Tanpa berhenti. Tinggi. Meledak di atas sana. Pecah. Semoga harapan mereka ikut pecah suatu hari nanti, di masa depan.
***

p.s. Terimakasih para relawan dan fasil KI Malang 2, kelompok 33, SDN Gunungsari Tajinan: Aisyah, Nila, Fadhil, Bu Suci, Mbak Cony, Mas Dieky, Mas Didi, Fatkhi, Fajrur, Igo. Selalu semangat menginspirasi lewat apapun dan dimanapun! Senang sudah dipertemukan dengan kalian :)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.