Jumat, 08 Agustus 2014

#14 PINDAH SESI 3: SELAMAT TINGGAL MANGGARAI BARAT

Gunung yang puncaknya berbentuk kerucut yang aku nggak tahu namanya.


November 2013. Oto truk bercat kayu warna hijau sudah menanti kami berkemas. Ini hari terakhir kami di Kabupaten Manggarai Barat. Kami harus pindah. Awal mula kami sampai di Flores, hawa asin laut menemani hari-hari kami di Labuan Bajo. Minggu-minggu berikutnya, sejuknya hawa lautan pohon kemiri dan dinginnya pegunungan berganti menemani kami. Lalu, tiga minggu terakhir, tampaknya kami harus kembali menghirup udara pantai. Kabupaten Ende. Ya, kami akan menuju salah satu tempat bersejarah di Indonesia. Ende, tempat pengasingan Bung Karno di masa pra kemerdekaan Indonesia.
Hangatnya perlakuan keluarga Bapak Lurah Nantal di tengah menggigilnya hawa Kuwus akhirnya harus diakhiri dengan perpisahan kami menuju Kabupaten Ende. Sesi foto bersama benar-benar mengakhiri pertemuan kami dengan keluarga beliau di bumi Flores. Entah, apakah suatu saat nanti kami bisa bertemu atau tidak. Hanya Tuhan yang tahu.
Deru mesin dan deru speaker disko menyala berbarengan. Terakhir, deru speaker disko, diprotes hampir seluruh penumpang, yaitu kami bersebelas. Akhirnya Pak Sopir mengalah, mematikan musiknya yang sudah disetel kencang-kencang demi menemani perjalanan menuju ke kota. Oto truk terlihat penuh, membawa muatan 11 penumpang yang berisik, serta barang-barang bawaan mereka yang lebay. Carrier lemari baju milik Pulung, Dian, Linda, dan tentu saja milikku – yang dulu sempat diprotes oleh para enumerator senior yang bawaannya simpel, cukup dua biji daypack ukuran kecil untuk dua bulan – ditambah lagi sekarung besar kuesioner yang rasanya tak habis-habis, lalu terakhir yang selalu membuat Mas Ghulam selaku supervisor kami bersungut-sungut ketika mengangkutnya karena menambah massa beban, yaitu dua kardus ikan teri asin dan sekardus asam mentah favoritnya mas Iwan, pemberian Bapak-Ibu Labuan Bajo, benar-benar membuat oto truk kecil itu bertambah sesak.
Kami menuju ke kota. Tepatnya, ke Ruteng. Ruteng, nama tempat di pegunungan yang dijadikan merk air mineral paling terkenal di Flores. Satu-satunya tempat yang menyediakan jasa travel sampai ke Ende. Ibukota Kabupaten Manggarai yang memiliki rumah sakit satu-satunya di Flores bagian barat ini menyambut kami yang sudah lama tidak melihat kota. Bangunan-bangunan yang lebih modern sudah bermunculan di sana-sini. Ruko, rumah bertembok batu bata atau batako sudah disemen. Tidak ada lagi babi jalan kesana-kemari dan berkubang di tengah jalan, karena jalan di sana sudah diaspal. Beberapa ATM dan warung makan sudah mulai mudah ditemukan. Kendaraan berseliweran. Kota kecil yang asri. Lonceng gereja, dengan arsitektur bangunannya yang modern dan minimalis, berdentang-dentang di ujung jalan, tak terkalahkan oleh deru kendaraan yang tak seberapa bising. Sebelum sampai ke pool travel, oto truk berhenti sebentar di sebuah pusat oleh-oleh makanan. Tertarik, kami turun dari oto. Ada yang mencari gorengan buat bekal di jalan. Ada yang masuk ke pusat oleh-oleh yang ternyata isinya kebanyakan adalah Sei Babi dan sejennisnya. Baiklah, semuanya urung untuk beli oleh-oleh.
Sesudah tiba di pool travel, kami mampir sebentar di warung – yang ternyata mayoritas tempat makan di sana dikuasai orang Jawa – lalu mengisi perut yang sudah lama tak terisi makanan selezat di warung itu.  Teringat ucapan dari orang-orang yang pernah kami wawancarai di Kuwus, “Hati-hati mabuk darat, perjalanan dari Ruteng ke Ende hampir seharian lewat jalan berbelok, naik-turun.” Teringat juga pengalaman sebelumnya saat berkendara memakai oto dari Sano Nggoang menuju Kuwus yang memabukkan bagi hampir setengah rombongan kala itu, maka kami membeli stok minuman soda yang katanya sih bisa mengurangi mabok darat. Mas Adi, Linda, Mas Iwan pun sudah ancang-ancang. Pesan kursi travel yang paling depan biar nggak mabuk!
Manggarai – Ende. Melintasi kebudayaan yang berbeda, tempat berbeda, dan tentunya hari yang berbeda. Hampir seharian kami di atas shuttle. Dan, oh, tertu saja tak ada perjalanan memabukkan seperti yang dibayangkan sebelumnya. Karena kali ini kami menumpang kendaraan berpindah yang paling nyaman menurut ukuran kami selama di sana. Ber-AC, tempat duduk empuk, sandaran nyaman, sopir yang hati-hati membawa nyawa manusia, dan tentu saja full musik dengan jenis lagu dan volume suara sesuai request para penumpangnya. Meskipun jalan berkelok, menukik, menunjam, untungnya sudah dilapisi aspal hotmix dan didukung dengan sarana transportasi yang tidak mengecewakan, jadi katakan selamat tinggal pada mabuk darat!
Aku kebagian bangku travel paling belakang bersama Mas Ghulam dan Mbak Prima, dua enumerator senior. Riang gembira mendendangkan lagu-lagu pop masa kecil sampai masa kini. Di luar jendela shuttle, tak ada landscape yang tak membuat kami berhenti berdecak kagum. Melihat kota kecil dari kejauhan, melintasi ladang kemiri, ladang vanili, hutan, sabana, seminari dan gereja di atas bukit, gunung, sawah, ladang enau – bahan baku sopi -- , sungai berbatu besar berair jernih, pantai, perkampungan, masjid di pinggir jalan di pinggir pantai, lembayung senja, dan terakhir, lampu-lampu eksotis Pulau Ende terlihat dari kejauhan. Kami berada di seberang Pulau Ende, masih di Pulau Flores, tepatnya Ende bagian selatan. Hampir tengah malam, mobil travel yang kami tumpangi masuk ke sebuah jalan kecil, mobil berhenti di sebuah gang yang berjarak hanya sekitar 10 meter dari rumah bersejarah milik Bung Karno di Ende. Rumah milik teman Mas Adi – editor kami – yang akan menampung kami dalam waktu lama. Rumah di depan masjid. “Akhirnya bisa dengar suara adzan lagi setiap hari,” Mas Iwan bernafas lega.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.