Rabu, 23 April 2014

MELEPAS RINDU DI SEMAK DAUN

Dalam setiap perjalanan yang jauh dari hingar bingar, kita akan menemukan kawan baru, saudara baru, cerita baru.

Mati gaya di kosan. Jari-jariku menyusuri berbagai akun jejaring sosial yang tersedia di ponsel. Jariku berhenti pada ikon burung biru. Twitter. Scroll, scroll, scroll, scroll. Lalu bola mataku tertumbuk pada satu status timeline. Open Trip Pulau Semak Daun #2 tanggal 12-13 April 2014.

Terbiasa bekerja di luar ruangan setiap hari tanpa terkungkung oleh kubikel-kubikel dan sudah enjoy dengan jam kerja yang jauh dari pola 8484 (masuk jam delapan pulang jam empat), butuh adaptasi ekstra. Merindukan perjalanan dan teman seperjalan yang biasa diajak berbagi seperti layaknya keluarga? Ya, tentu saja aku sangat merindukannya.

Maka, tanpa berpikir panjang – setelah mengajak kakak dan beberapa teman tapi tak ada yang bisa ikut – aku memutuskan untuk bergabung dengan trip Semak Daun dari Filosantara sendirian. Tak apa tak ada teman berangkat, toh niatnya kan berjalan lebih jauh sekaligus mencari teman seperjalanan kan?

Jumat malam, beberapa pekerjaan masih menumpuk. Tak yakin apakah esok hari bisa ikut trip atau tidak. Aku bertekad, pekerjaan harus selesai malam ini atau aku akan kehilangan satu kesempatan weekend yang tak tahu lagi kapan ada lagi. Alhasil, sampai setengah dua dinihari aku masih berkutat di depan laptop. Tidur dua jam. Packing kilat. Mandi kilat. Lalu bergegas menuju stasiun KRL Cikini seusai sholat shubuh, berlanjut menuju stasiun Jakarta Kota bertemu dengan beberapa kawan Filosantara, lalu naik taksi menuju Pelabuhan Muara Angke sebagai meeting point.

Pelabuhan Muara Angke jam enam pagi. Pelabuhan yang sudah seperti got dengan sampah bau bertebaran di sana sini sudah dipenuhi kapal-kapal yang siap mengantarkan para manusia pemburu liburan akhir pekan menuju Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Tidung, dan sekitarnya.

Tiga jam terombang ambing di Laut Jawa di atas atap geladak Kapal Dolphin menuju Pulau Pramuka. Ah, Laut, ombak, burung camar, ikan, bau air asin, deru mesin kapal, pulau-pulau kecil berpasir putih, atol, bakau, tertidur di atas kapal menatap langit luas. Lama sekali tidak merasakan kenikmatan seperti ini. Baru sadar, kalau waktu luang itu adalah salah satu kenikmatan yang terkadang secara tidak sadar telah aku khianati.

Pukul setengah sebelas siang kami sampai di Pulau Pramuka, pusat pemerintahan Kepulauan Seribu. Pulau kecil yang sudah cukup berkelimpahan fasilitas. Mungkin karena dia berada di pusat pemerintahan negara, akses mudah, fasilitas melimpah. Mulai dari rumah sakit, tempat ibadah, homestay, fasilitas MCK, kantor pos, ditambah kapal hilir mudik seharian. Beruntung di Jakarta ada tempat seperti Kepulauan Seribu. Ada tempat penyeimbang di dekat tempat yang teramat penat.

Snorkelling adalah salah satu aktivitas yang wajib dilakukan kalau kita sedang piknik ke pulau seribu. Sewa alat snorkelling, include snorkell, fin, dan pelampung cukup bayar Rp 25.000 per hari bisa puas mengamati laut dangkal dan ikan-ikan berseliweran sampai bosan.

Dan yang paling aku sukai dari trip ini adalah, tentu saja, camping! Ya, karena Pulau Semak Daun itu adalah pulau landai berpasir putih yang sangat sangat teramat kecil dan hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit untuk tahu segala sudutnya, serta tidak berpenghuni, tak ada sumber air tawar (dan harus beli Rp 5000 per jerigen dari penjaga pulau yang buka warung di sana), dan tak ada homestay, maka tiap pejalan yang ingin menginap di Pulau Semak Daun, mereka harus camping. Bagiku camping adalah salah satu media sosial yang ampuh mendekatkan satu orang dengan orang lain. Tidur satu tenda. Masak bersama. Makan bersama. Layaknya saudara. Layaknya keluarga. Itu terbukti. Dari tempat bernama tenda itu, orang-orang yang mempunyai nama Marul, Nia, Pita, dan Suci disatukan karena kebetulan menjadi teman satu tenda.

Semalam saja berada di Pulau Semak Daun, cukup untuk mengobati rindu nongkrong semalaman di dermaga sambil gitaran dan menyanyi di bawah cahaya bulan yang nyaris purnama, seperti di Maratua. Atau memandangi pulau sebelah dengan kelip cahaya buatannya seperti di tepian Pelabuhan Ende. Atau merasakan sepoi-sepoi angin di bawah rerimbunan pohon di depan rumah Bapak-Emak seperti di Labuan Bajo. Hanya kurang satu saja, tak kelihatan bintang bertaburan di angkasa karena tertutup mendung. L

Mengobati rindu pada laut (Pulau Air)


Menemukan Teman seperjalanan

There is no wifi in the forest. But I Promise you will find a better connection. There is no comfort bed in a tend, but I promise you will get a warmer connection. Thanks to Filosantara for the nice trip! :D

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.