Rabu, 02 April 2014

#12 BERKUBANG: ANTARA SIAL DAN BERUNTUNG

Pasca petualangan di Sano Nggoang berakhir, kami sudah agak lega. Pasalnya, kata orang-orang, medan paling berat ada di Sano Nggoang, dan kami telah melewatinya. Perjalanan kami terus berlanjut, yang tadinya mengunjungi pulau kecil, menyusuri pesisir, menuju bukit, lalu  sebuah pegunungan berhawa dingin menanti kedatangan kami. Kecamatan Kuwus, masih di Kabupaten Manggarai Barat.
Dulu sih, dulu banget, aku berpikiran kalau seluruh daratan NTT itu pasti panas. Mungkin makanan otak sehari-hari yang tayang di media televisi dan dunia maya cukup memiliki peran penting meracuni batang otak dengan anggapan mainstream semacam itu. Atau, mungkin juga aku yang terlalu tidak peduli tentang semua yang sebenarnya ada di luar sana. Sebenarnya iya, NTT itu memang panas, di daerah pesisirnya atau dataran rendahnya. Tapi di Flores, ketika kita sampai di pegunungan, wuuuu, bakal menggigil siang malam.
Masih seperti minggu-minggu sebelumnya, kami menjadi enumerator bikers, naik motor sewaan. Kali ini motor sewaan dari tukang ojek yang biasa mangkal di dekat-dekat basecamp. Dan minggu-minggu di Kuwus, aku habiskan dengan partner lain lagi, yaitu Sandi. Pada minggu-minggu sebelumnya pasti ada saja kekonyolan yang terjadi jika ada Sandi di situ. Kekonyolan yang “menggemaskan”. Bagaimana dengan minggu-mingguku di Kuwus nantinya? Entahlah, kita lihat nanti.
Kelurahan Nantal, rumah milik Bapak Lurah menjadi persinggahan kami sementara waktu. Di Kuwus, aku merasakan toleransi antar umat beragama yang tak hanya wacana semata. Keluarga Bapak Lurah, umat Katolik yang taat. Istrinya seorang guru, dengan tiga anaknya yang masih sekolah dan tinggal serumah. Mereka menyambut kami, yang mayoritas muslim, dengan ramah, hangat, dan menyenangkan. Menyediakan tempat tidur, selimut, dan makanan – yang insya allah halal – setiap hari untuk kami.
Kuwus adalah daerah yang hampir 100%-nya adalah penganut agama non Islam. Masjid paling dekat letaknya puluhan kilometer jauhnya. Menjadi minoritas di suatu pulau, di sebuah negeri yang mayoritas muslim. Itu adalah sesuatu yang baru bagiku. Karena biasanya, di manapun aku berada, aku selalu masuk ke dalam golongan mayoritas. Beberapa teman sempat mewanti-wanti, “Sholatnya dijaga, hati-hati pilih makanan, hati-hati ilmu hitam, hati-hati diguna-guna.”
Ketidaktahuan terkadang membuat kita paranoid terhadap sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Aku selalu teringat nasehat ibuku, “Kalau kita berbuat baik pada orang lain, orang lain pasti akan berbuat baik juga pada kita.” Juga nasehat dari Bapak Labuan Bajo di minggu pertama kami sampai di Flores, “Kalau niat kita baik, kita pasti akan dilindungi, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.”

Sawah

Babi

mataair

***

Hari pertama, delapan enumerator menuju desa yang berada pada satu kluster. Kuesioner Fasilitas Puskesmas dan beberapa bidan desa menjadi tanggunganku dan Sandi. Sudah terbiasa dengan jalanan berbatu-batu, melintasi sungai demi sungai ketika di Sano Nggoang dahulu, menjadikan perjalanan di Kuwus menjadi lebih ringan, walaupun sebenarnya jalanannya hanya sedikit lebih baik dibandingkan dengan Sano Nggoang.
Hari-hari berikutnya, Aku dan Sandi kebagian wilayah yang cukup jauh dari basecamp. Kami harus turun sampai Kecamatan Cancar, sebuah daerah agraris di Flores yang terkenal dengan pola tanam padi membulat mirip dengan crop circle. Di sana, kami mengandalkan GPS alias Global Pitakonan Sistem, atau mengedepankan bertanya ke orang lain daripada sesat di jalan. HP Android canggih sekalipun minim fungsi kecuali untuk ngegame, alarm, mencatat koordinat jikalau GPS handheld kehabisan baterai, atau untuk kalkulasi angka lewat kalkulator saja. Sinyal di sana memang minim. Apalagi sinyal internet, PHP sungguh. Baterai juga harus dihemat, karena setali tiga uang dengan sinyal, di kampung-kampung yang jauh dari ibukota kecamatan, listrik juga minim.
Hari-hari menjadi enumerator bersama Sandi, aku tidak tahu apakah itu adalah suatu kesialan atau keberuntungan, kami sempat beberapa kali terjatuh dan terpeleset. Berkubang di dalam tanah berlumpur, yang mungkin juga adalah bekas kubangan babi-babi hitam yang berseliweran ke sana kemari di sana.
Kubangan pertama dan kedua kami temui saat memburu Ibu Bidan Desa di suatu kampung yang aksesnya cukup sulit. Saat melewati jalan tanah tengah sawah yang basah penuh kubangan sisa hujan kemarin, motor yang berjalan pelan-pelan kehilangan kendali supir yang ragu-ragu menginjakkan kaki di tanah. Akhirnya gerakan slow motion terjadi. Saking slow motionnya, kami antara sadar tak sadar kalau waktu itu kami sedang jatuh. Tahu-tahu, Sandi yang terjatuh di sampingku tiba-tiba panik, “Rul, itu kakimu!” Kakiku kelihatan seperti tertimpa motor. Untungnya body motor tertahan oleh batuan-batuan lumayan besar. Kami tidak apa-apa, tidak kurang suatu apapun, tidak basah dan juga tidak luka. Kami bersyukur. Di tempat sesepi itu, jauh dari peradaban, kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan jika terjadi apa-apa pada kami.
Kubangan yang lain kami temui saat kami berada di ujung perbatasan antara Kabupaten Manggarai Barat dengan Kabupaten Manggarai, di sebuah perkampungan bernama Bangkal Lewat. Menuju Bangkal Lewat harus memutar lewat kecamatan lain. Beberapa ruas jalanan yang rusak mengharuskan aku naik turun dari motor dan berjalan sepanjang ruas jalan rusak tersebut. Saat sudah memasuki perkampungan, kami menemui jalan dengan kondisi sama persis dengan jalan yang membuat kami jatuh sebelumnya. Yang ini, jatuhnya lebih slow motion lagi. Seperti adegan drama yang dibuat melambat, kami seakan jatuh pelan. Episode jatuh yang ini jauh lebih dramatis sebenarnya. Ada efek suara “BRUK!!” lalu “CEPROT!!”. Stang motor bengkok. Bajuku basah kuyup sampe sedalem-dalemnya, tertempeli lumpur hitam yang melekat sempurna. Tas juga basah kuyup. Untungnya, baju ganti di dalam tas tetap kering dan bisa diajak berkompromi.
Kami buru-buru menghampiri rumah warga terdekat. Berniat meminjam kamar mandinya. Selain ketersediaan listrik yang berbanding lurus dengan kondisi sinyal, kondisi dan ketersediaan tempat MCK pun demikian. Susah didapat. Begitu dapat, aku langsung mengganti semua pakaianku. Menjadi enumerator di tempat yang tak terjangkau harus siap-siap menjadi manusia nomaden, setidaknya harus selalu siap-siap sarana prasana pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari di tas ransel.
Kami diantar menuju rumah Bapak Kepala Desa usai peristiwa berlumpur itu. Bapak Kepala Desa masih berusia muda, menyambut kedatangan kami. Mempersilakan kami untuk menginap di rumah panggungnya malam nanti. Dan tanpa basa-basi aku meminta ijin untuk mencuci baju korban lumpur di kamar mandi beliau. Dari beliau kami akhirnya tahu, tak ada warga yang berani mengendarai motor lewat jalan itu. Pasti dituntun, kalau tidak, pada akhirnya pasti jatuh.
Ah sudahlah, semuanya sudah terjadi. Dan yang sudah terjadi, biarkan terjadi. Ambil hikmahnya. Mungkin kalau tidak jatuh, Aku dan Sandi justru akan keteteran dengan kerjaan kami dan tidak akan bertemu dengan para warga yang baik hati. Mungkin.
***
Hawa Kuwus yang dingin tampaknya tidak berbanding lurus dengan hati para warga masyarakatnya yang selalu hangat. Berbanding terbalik dengan hawa panas di kota besar dengan hati warga masyakatnya yang cenderung dingin.
Saat itu, hujan turun deras. Deras sekali, sampai kami yang sedang berkunjung ke rumah Bapak Sekretaris Desa tak bisa saling dengar ketika ada orang lain bicara saking berisiknya hujan di luar sana. Aku dan Sandi sedianya mau kembali ke rumah Bapak Kepala Desa secepatnya. Tapi hujan telah menjebak kami.
Adik perempuan Bapak Sekdes mempersilakanku beristirahat di atas kasur berkelambu milik mereka. Hujan deras entah kapan mau berhenti.  Sandi masih mengobrol dengan beberapa aparat desa di ruang tamu. Waktu sholat sudah tiba. Aku meminta izin untuk sembahyang di rumah mereka. Tak ada raut keberatan di muka mereka. Aku sholat. Dan di ujung ruangan, anak-anak kecil, keponakan dan anak bapak Sekdes sedang asyik merapal alkitab di hadapan patung Bunda Maria. Saat itulah, aku merasakan suasana yang syahdu sekali. Gemericik air hujan. Kampung yang jauh dari hingar bingar. Kedamaian antar umat beragama. Kehangatan warga Indonesia yang sesungguhnya. Dan aku semakin cinta negeri ini.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.