Sabtu, 26 April 2014

#13 REVISIT KOK BAHAGIA?



Pekerjaan kami di Kuwus selesai hanya dalam empat hari. Heran juga, karena biasanya satu wilayah cacahan baru bisa kami selesaikan dalam lima atau enam hari. Kadang bisa juga lebih dari itu saking ribetnya pengambilan sampel, kondisi topografi, atau kejadian tak terduga seperti cuaca yang susah diprediksi kapan akan hujan kapan tidak. Kami bahagia.
Wait! Tunggu dulu. Kebahagiaan kami telah berhasil menyelesaikan pekerjaan sebelum waktunya tampaknya akan berhenti dulu beberapa menit. Gara-garanya, editor kami yang bernama Mas Adi menemukan kejanggalan dari kuesioner-kuesioner yang siap diedit dan dientry.
“Lung, Ini kok begini?” awalnya Mas Adi memanggil Pulung. Ada sesuatu yang salah di situ, Wilayah Cacahan Sano Nggoang. Lalu, setelah itu supervisor kami, Mas Ghulam, memanggil Mas Iwan dan Tamara, “Mas Iwan, Mas Iwan. Tamara, Tamara. Ini yang diambil sampelnya seharusnya bukan yang ini...” Yes! Kami salah ambil sampel di satu desa. Itu artinya REVISIT, kembali ke sana lagi. Terbayang perjalanan yang berkelok-kelok, berjam-jam, dan memabukkan. Kalau kata Jebraw di salah satu tayangan Jalan-Jalan Men! Episode Flores: “Gue saranin Lu minum obat anti mabok kalau mau berkendara di Flores!” Mas Iwan mendadak pusing membayangkannya. Kami yang sedang berkumpul di depan TV tiba-tiba cengoh terdiam beberapa saat mendengar berita buruk itu. Namun beberapa menit selanjutnya muka cengoh kami berubah menjadi muka ceria bahagia. Kami hanya bisa tertawa-tawa antara tertawa miris karena harus revisit atau tertawa senang karena ada saja yang bisa ditertawakan dan bisa kembali jalan-jalan menikmati alam. Semenjak peristiwa itu, muka Mas Iwan tiba-tiba berubah mimik menjadi mimik stress mendengar kata: REVISIT!
Revisit full team minus satu supervisor dan dua editor. Delapan enumerator tangguh siap kembali ke Sano Nggoang. Mas Supervisor memutuskan kami semua harus kembali ke sana biar pekerjaan bisa selesai dalam satu hari. Untungnya naik motor, jadi kemungkinan mabok darat bisa dihindari. Setengah hari naik motor kecepatan rata-rata 80 – 100 km/jam, di jalanan sepi berkelok-kelok laksana jalur jet coaster, menembus kabut malam, memandangi taburan bintang, melintasi lembah, bukit, ngarai, kampung-kampung, sawah, juga hutan. Kami laksana para bikers yang sedang touring menjelajah alam tak berbatas. Perjalanan sore sampai malam itu berlalu begitu cepat. Rasanya tak seperti sedang bekerja, tapi travelling. Itulah yang sering aku rindukan sekarang. Bekerja yang rasanya seperti tak bekerja saking klopnya kita dengan pekerjaan kita.
Revisit? Kenapa harus sedih ketika bisa dilakukan bersama-sama? Kenapa harus sedih ketika dengan begitu kita bisa lebih bisa menikmati kebersamaan?
***
Orang-orang sering takut berada di daerah jauh. Jauh dari kebiasaan, jauh dari apa yang disebut rumah, jauh dari fasilitas, jauh dari kata modern, jauh dari apa yang sering disebut kesenangan. Saat berada di tempat “jauh” itu, bisa jadi kita menemukan Tuhan. Bisa jadi juga kita akan kehilangan Tuhan. Menempuh perjalanan jauh berarti belajar memperkuat dan mempertahankan iman. Karena di sana kita akan disuguhi kejutan-kejutan yang terkadang memutarbalikkan pemikiran dan mengoyak hati yang ternyata masih lemah dan jauh dari kesempurnaan.
Berjalanlah lebih jauh jika kau masih punya kesempatan untuk melakukannya. Berjalanlah, beredarlah jangan berhenti. Bukankah kita baru boleh berhenti berjalan ketika nyawa sudah tidak diijinkan lagi bersatu bersama raga?

Rabu, 23 April 2014

MELEPAS RINDU DI SEMAK DAUN

Dalam setiap perjalanan yang jauh dari hingar bingar, kita akan menemukan kawan baru, saudara baru, cerita baru.

Mati gaya di kosan. Jari-jariku menyusuri berbagai akun jejaring sosial yang tersedia di ponsel. Jariku berhenti pada ikon burung biru. Twitter. Scroll, scroll, scroll, scroll. Lalu bola mataku tertumbuk pada satu status timeline. Open Trip Pulau Semak Daun #2 tanggal 12-13 April 2014.

Terbiasa bekerja di luar ruangan setiap hari tanpa terkungkung oleh kubikel-kubikel dan sudah enjoy dengan jam kerja yang jauh dari pola 8484 (masuk jam delapan pulang jam empat), butuh adaptasi ekstra. Merindukan perjalanan dan teman seperjalan yang biasa diajak berbagi seperti layaknya keluarga? Ya, tentu saja aku sangat merindukannya.

Maka, tanpa berpikir panjang – setelah mengajak kakak dan beberapa teman tapi tak ada yang bisa ikut – aku memutuskan untuk bergabung dengan trip Semak Daun dari Filosantara sendirian. Tak apa tak ada teman berangkat, toh niatnya kan berjalan lebih jauh sekaligus mencari teman seperjalanan kan?

Jumat malam, beberapa pekerjaan masih menumpuk. Tak yakin apakah esok hari bisa ikut trip atau tidak. Aku bertekad, pekerjaan harus selesai malam ini atau aku akan kehilangan satu kesempatan weekend yang tak tahu lagi kapan ada lagi. Alhasil, sampai setengah dua dinihari aku masih berkutat di depan laptop. Tidur dua jam. Packing kilat. Mandi kilat. Lalu bergegas menuju stasiun KRL Cikini seusai sholat shubuh, berlanjut menuju stasiun Jakarta Kota bertemu dengan beberapa kawan Filosantara, lalu naik taksi menuju Pelabuhan Muara Angke sebagai meeting point.

Pelabuhan Muara Angke jam enam pagi. Pelabuhan yang sudah seperti got dengan sampah bau bertebaran di sana sini sudah dipenuhi kapal-kapal yang siap mengantarkan para manusia pemburu liburan akhir pekan menuju Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Tidung, dan sekitarnya.

Tiga jam terombang ambing di Laut Jawa di atas atap geladak Kapal Dolphin menuju Pulau Pramuka. Ah, Laut, ombak, burung camar, ikan, bau air asin, deru mesin kapal, pulau-pulau kecil berpasir putih, atol, bakau, tertidur di atas kapal menatap langit luas. Lama sekali tidak merasakan kenikmatan seperti ini. Baru sadar, kalau waktu luang itu adalah salah satu kenikmatan yang terkadang secara tidak sadar telah aku khianati.

Pukul setengah sebelas siang kami sampai di Pulau Pramuka, pusat pemerintahan Kepulauan Seribu. Pulau kecil yang sudah cukup berkelimpahan fasilitas. Mungkin karena dia berada di pusat pemerintahan negara, akses mudah, fasilitas melimpah. Mulai dari rumah sakit, tempat ibadah, homestay, fasilitas MCK, kantor pos, ditambah kapal hilir mudik seharian. Beruntung di Jakarta ada tempat seperti Kepulauan Seribu. Ada tempat penyeimbang di dekat tempat yang teramat penat.

Snorkelling adalah salah satu aktivitas yang wajib dilakukan kalau kita sedang piknik ke pulau seribu. Sewa alat snorkelling, include snorkell, fin, dan pelampung cukup bayar Rp 25.000 per hari bisa puas mengamati laut dangkal dan ikan-ikan berseliweran sampai bosan.

Dan yang paling aku sukai dari trip ini adalah, tentu saja, camping! Ya, karena Pulau Semak Daun itu adalah pulau landai berpasir putih yang sangat sangat teramat kecil dan hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit untuk tahu segala sudutnya, serta tidak berpenghuni, tak ada sumber air tawar (dan harus beli Rp 5000 per jerigen dari penjaga pulau yang buka warung di sana), dan tak ada homestay, maka tiap pejalan yang ingin menginap di Pulau Semak Daun, mereka harus camping. Bagiku camping adalah salah satu media sosial yang ampuh mendekatkan satu orang dengan orang lain. Tidur satu tenda. Masak bersama. Makan bersama. Layaknya saudara. Layaknya keluarga. Itu terbukti. Dari tempat bernama tenda itu, orang-orang yang mempunyai nama Marul, Nia, Pita, dan Suci disatukan karena kebetulan menjadi teman satu tenda.

Semalam saja berada di Pulau Semak Daun, cukup untuk mengobati rindu nongkrong semalaman di dermaga sambil gitaran dan menyanyi di bawah cahaya bulan yang nyaris purnama, seperti di Maratua. Atau memandangi pulau sebelah dengan kelip cahaya buatannya seperti di tepian Pelabuhan Ende. Atau merasakan sepoi-sepoi angin di bawah rerimbunan pohon di depan rumah Bapak-Emak seperti di Labuan Bajo. Hanya kurang satu saja, tak kelihatan bintang bertaburan di angkasa karena tertutup mendung. L

Mengobati rindu pada laut (Pulau Air)


Menemukan Teman seperjalanan

There is no wifi in the forest. But I Promise you will find a better connection. There is no comfort bed in a tend, but I promise you will get a warmer connection. Thanks to Filosantara for the nice trip! :D

Rabu, 02 April 2014

#12 BERKUBANG: ANTARA SIAL DAN BERUNTUNG

Pasca petualangan di Sano Nggoang berakhir, kami sudah agak lega. Pasalnya, kata orang-orang, medan paling berat ada di Sano Nggoang, dan kami telah melewatinya. Perjalanan kami terus berlanjut, yang tadinya mengunjungi pulau kecil, menyusuri pesisir, menuju bukit, lalu  sebuah pegunungan berhawa dingin menanti kedatangan kami. Kecamatan Kuwus, masih di Kabupaten Manggarai Barat.
Dulu sih, dulu banget, aku berpikiran kalau seluruh daratan NTT itu pasti panas. Mungkin makanan otak sehari-hari yang tayang di media televisi dan dunia maya cukup memiliki peran penting meracuni batang otak dengan anggapan mainstream semacam itu. Atau, mungkin juga aku yang terlalu tidak peduli tentang semua yang sebenarnya ada di luar sana. Sebenarnya iya, NTT itu memang panas, di daerah pesisirnya atau dataran rendahnya. Tapi di Flores, ketika kita sampai di pegunungan, wuuuu, bakal menggigil siang malam.
Masih seperti minggu-minggu sebelumnya, kami menjadi enumerator bikers, naik motor sewaan. Kali ini motor sewaan dari tukang ojek yang biasa mangkal di dekat-dekat basecamp. Dan minggu-minggu di Kuwus, aku habiskan dengan partner lain lagi, yaitu Sandi. Pada minggu-minggu sebelumnya pasti ada saja kekonyolan yang terjadi jika ada Sandi di situ. Kekonyolan yang “menggemaskan”. Bagaimana dengan minggu-mingguku di Kuwus nantinya? Entahlah, kita lihat nanti.
Kelurahan Nantal, rumah milik Bapak Lurah menjadi persinggahan kami sementara waktu. Di Kuwus, aku merasakan toleransi antar umat beragama yang tak hanya wacana semata. Keluarga Bapak Lurah, umat Katolik yang taat. Istrinya seorang guru, dengan tiga anaknya yang masih sekolah dan tinggal serumah. Mereka menyambut kami, yang mayoritas muslim, dengan ramah, hangat, dan menyenangkan. Menyediakan tempat tidur, selimut, dan makanan – yang insya allah halal – setiap hari untuk kami.
Kuwus adalah daerah yang hampir 100%-nya adalah penganut agama non Islam. Masjid paling dekat letaknya puluhan kilometer jauhnya. Menjadi minoritas di suatu pulau, di sebuah negeri yang mayoritas muslim. Itu adalah sesuatu yang baru bagiku. Karena biasanya, di manapun aku berada, aku selalu masuk ke dalam golongan mayoritas. Beberapa teman sempat mewanti-wanti, “Sholatnya dijaga, hati-hati pilih makanan, hati-hati ilmu hitam, hati-hati diguna-guna.”
Ketidaktahuan terkadang membuat kita paranoid terhadap sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Aku selalu teringat nasehat ibuku, “Kalau kita berbuat baik pada orang lain, orang lain pasti akan berbuat baik juga pada kita.” Juga nasehat dari Bapak Labuan Bajo di minggu pertama kami sampai di Flores, “Kalau niat kita baik, kita pasti akan dilindungi, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.”

Sawah

Babi

mataair

***
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.