Selasa, 04 Februari 2014

#9 KERUMITAN SANO NGGOANG

Manusia Merencanakan, Tuhan Mengeksekusi


Lihat Peta Lebih Besar
Rute perjalanan kami. Dari Selatan Danau, menuju Golo Manting (B) lalu ke desa sebelahnya, terakhir ke Golo Sengang (A)

         Wilayah cacahan kedua, Kecamatan Sano Nggoang, adalah wilayah yang rumit. Rumit di sisi topografi dan rumit di sisi sampling data. Supervisor kami mempunyai satu kebijakan dalam pembagian tim di setiap wilcah. Setiap tim terdiri dari dua orang, dan membawa satu motor sewaan. Karena jumlah laki-laki dan perempuan dalam tim kami sebanding, maka tiap tim enumerator terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Semuanya jadi empat tim. Diacak untuk setiap wilayah cacahan. Jadi tidak melulu si A selalu berpartner dengan si B. Itulah salah satu faktor yang membuat tim kami, tim DG, menjadi cukup solid dan hampir tanpa konflik.
            Kami tiba di Sano Nggoang, H-2 Lebaran Kurban. Hari pertama, karena masih belum mendapatkan motor sewaan, kami masih berkutat di desa sekitar ibukota kecamatan yang bisa diakses dengan mudah, Golo Mbu dan Wae Sano. Hari berikutnya, baru kami berencana untuk menyebar ke bagian desa kami masing-masing. Seperti yang aku bilang sebelumnya, Sano Nggoang memiliki wilayah yang cukup rumit dalam hal topografi. Jarak desa-desa yang dijadikan tempat pengambilan data bisa dibilang cukup jauh, eh tidak, sangat jauh dari pusat kecamatan. Hanya dua desa sampel saja yang accessable.
            Aku dan partner keduaku, Pulung, anak muda asal Depok yang satu kampus denganku, kebagian desa yang namanya Golo Manting dan Golo Sengang. Golo dalam bahasa Manggarai berarti gunung. Itu artinya, desa yang kami datangi letaknya di daerah yang bergunung-gunung semua. Awalnya, kami berencana menjadi enumerator commuter, pergi lalu pulang pada hari yang sama. Pertimbangannya, esok hari adalah Idul Adha, dan kalau bisa pulang ke basecamp, kenapa tidak pulang? Apalagi, pemilik basecamp sudah menyiapkan kue lebaran untuk esok hari. Sayang kan kalau tidak pulang?
            Namun harapan kami mendadak pupus tatkala Supervisor dan Pak Camat mengatakan kenyataan pahit. Kata supervisor, “Kalian nanti nginap saja, jauh soalnya. Katanya dua jam dari sini. Jangan bayangkan dua jamnya kayak di Jawa ya,” Dan kata Pak Camat, “Lebih baik menginap, nanti capek kalau bolak-balik. Penduduk sini saja kalau ke sana lebih memilih menginap lalu pulang esok harinya. Nanti di sana ada masjid juga, bisa sholat Idul Adha di sana.” Baiklah. Kami memutuskan untuk membawa perbekalan menginap semalam saja. Menjadi perantau di tanah perantauan kala hari raya. Namun kami tetap menyimpan setitik harapan agar bisa pulang ke basecamp hari itu juga.
            Motor Mega Pro milik kecamatan dengan gagahnya mengantar kami menuju desa nun jauh di sana. Melaju melewati jalanan berbatu bercampur tanah. Melintasi aliran sungai-sungai kecil. Tanpa helm. Iya, tanpa helm. Karena di sana mungkin helm belum populer. Eh tidak, karena di sana tidak ada traffict light, tidak ada polisi lalu lintas, dan tidak ada produk helm yang dijual sampai di sana. Kendaraan bermotor saja jarang. Mungkin rugi juga kalau jualan helm di sana, biaya distribusi mahal, dan harga jual pasti juga jadi mahal, ujung-ujungnya nggak ada yang beli. Kehati-hatian dalam berkendara menjadi penting, untuk menjaga agar nyawa tetap berada di dalam raga, melewati jalan keras berbatu yang terkadang bersisikan jurang.
            Hanya ada satu jalur jalan yang menjadi penghubung antara pusat kecamatan dengan desa-desa tujuan kami. Awalnya hanya aku dan Pulung yang melintasi jalur itu. Tapi ternyata di belakang kami ada kawan kami yang lain, Dev dan Mbak Prima yang melewati jalur yang sama. Dan satu lagi, Sandi. Hari sebelumnya, Sandi sudah dibantu oleh yang lainnya menyelesaikan desa bagiannya. Kali itu, giliran dia membantu kawan yang lain. Katanya, desa yang mereka tuju lebih dekat jaraknya. Tapi, sebaiknya sih, jangan percaya dengan katanya. Karena bisa jadi kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan katanya.
            Hampir dua jam kami berkendara, perut terkocok-kocok akibat medan jalan yang tidak bersahabat dengan kendaraan bermotor biasa. Sangat dianjurkan untuk memakai kendaraan off road jika ingin berkendara di sana. Kata Tamara, temanku dari Kupang, wanita hamil bisa langsung keguguran kalau naik motor di jalan semacam itu. Benar kata Pak Camat, sangat tidak memungkinkan untuk bolak-balik basecamp-desa sampel, badan pasti remuk. Dua jam perjalanan, serasa berjam-jam lebih lama, jalan seakan tanpa ujung.
            Lalu bagaimana nasib Mbak Prima, Dev, dan Sandi? Yang katanya desa tujuan mereka jauh lebih dekat, ternyata sama jauhnya dengan desa tujuanku. Memang sih, desa mereka adalah desa pertama yang ditemui setelah desa terakhir di dekat ibukota kecamatan, dan itu bersebelahan langsung dengan Golo Manting yang hanya dibatasi sungai. Dan apesnya, saat itu aparat desa setempat yang hendak diwawancara sedang tidak ada di tempat karena sedang ada urusan pembagian Raskin di ibukota kecamatan. Para aparat baru kembali ke desa malam harinya atau esok pagi. Alhasil, mereka bertiga memutuskan untuk membantu kami menyelesaikan tugas kami di Golo Manting dan Golo Sengang sampai esok harinya tanpa persiapan dan perbekalan untuk menginap. Skenario matang sudah kami persiapkan dan tersusun benar-benar rapi dan ideal menurut kami. Siang sampai malam melakukan pengambilan data di Golo Manting, malam dan pagi ke desa sebelah, pagi sampai siang berikutnya ke Golo Sengang, lalu pulang. Tapi apalah arti rencana matang kalau Tuhan tidak mengizinkan rencana itu terlaksana?


Idul Adha: Gila! Ini Gila!

Gerbang Pelangi melengkung sempurna. Sambutan untuk kami di Golo Manting :)
Idul Adha, merantau di perantauan

            Ini kali pertama aku tidak mendengar kumandang suara takbir menjelang hari raya kurban. Ini pertama kali juga aku merayakan Idul Adha tanpa ada seremoni penyembelihan hewan kurban. Penduduk Golo Manting, tempat di mana aku dan teman-teman menginap, mayoritas adalah penganut Katholik. Beruntung masih ada satu masjid kecil dan beberapa penduduk muslim yang mengadakan sholat ied pagi harinya. Agama Katholik hidup dan berkembang di Pulau Flores berkat kunjungan Belanda pada masa silam. Sebagian besar penduduk di pegunungan, menganut kepercayaan ini. Dan sebagian besar penduduk di daerah pesisir sekitar pelabuhan, mayoritas beragama Islam yang tersebar melalui jasa para pedagang muslim yang singgah di sana dahulu kala. Dua agama ini saling berdampingan dan bersisian selama berpuluh-puluh tahun tanpa ada konflik yang berarti di Pulau Flores.
            Idul Adha waktu itu kami habiskan dengan mencari data sehabis sholat ied. Kali ini lokasi pengambilan data di desa sebelah. Tepat seperti apa yang kami rencanakan hari sebelumnya. Segalanya berjalan dengan normal sampai tiba-tiba tanpa dinyana, air dari langit tumpah ruah turun mengguyur bumi. Hujan pertama di Sano Nggoang. Hujan pertama yang biasanya memang sangat deras dan lama di sana. Hujan yang penuh keberkahan membasahi tanah-tanah yang ditumbuhi komoditas kemiri, kopi, kakao, vanili, dan rempah-rempah lainnya. Membasahi jalanan tanah merah yang pasti licin dan susah kering sehabis hujan. Dan entah kapan keringnya. Dan entah bisa dilalui motor atau tidak. Dan inilah awal mula kejadian-kejadian tak direncanakan akan berlangsung.
            Saat hujan deras mulai turun, aku dan Pulung baru saja selesai melakukan wawancara di salah satu rumah warga. Tuan rumah kemudian menyilakan kami makan, tahu kalau kami adalah para musafir yang pasti kelaparan. Sup ubi menjadi penyelamat perut kami waktu itu. Tak lama kemudian, Devi yang juga sudah selesai wawancara di rumah lain nongol diantar Bapak Kepala Dusun sebelah. “Kita nggak bisa maksa jalan, licin,” katanya. Si empunya rumah menyarankan kami untuk tinggal di rumahnya dulu, “Ini hujan pertama, biasanya lama. Susah kalau mau pulang. Kalian istirahat di sini dulu saja.” Alhasil, kami menunggu sampai hujan agak reda. Hujan agak reda membuat Bapak Kepala Dusun yang tadinya mengantar Dev, pamit pulang jalan kaki, yang pada akhirnya dipaksa untuk diantar Pulung naik motor sampai rumah. Awalnya ditolak, namun akhirnya beliau mau juga diantar.
            Beberapa menit kemudian, Pulung balik dengan tampilan acak adul. “Gue habis jatuh di pertigaan sono. Licin. Pak Dusun jatuh juga. Akhirnya beliau jalan kaki, tadi ketimpa motor gue. Aduh, gue jadi kagak enak,” dia curhat dengan gaya betawinya. Baru saja Pulung melepas mantol dan duduk kembali di dipan tuan rumah, dari luar muncul Sandi. Dan awkward moment pun terjadi...
            Sandi muncul. Tanpa salam, tanpa permisi, dan tanpa ba bi bu melepas mantolnya dan melemparnya sambil bilang, “Gila! Ini Gila! Aku mau pulang!”. Kami yang ada di ruangan itu sejenak cuma bengong, termasuk tuan rumah yang bingung tiba-tiba ada orang asing masuk rumahnya sambil teriak-teriak emosi. Nggak enak sama tuan rumah. Bingung antara mau ketawa atau sedih melihat kemunculan Sandi tiba-tiba seperti itu.
            “Lu ngapain, San? Motor Lu mana?” Pulung heran.
            “Tadi aku jatuh di turunan pertigaan itu. Motornya nggak bisa naik. Tak tinggal di sana. Trus aku jalan ke sini,” dia sejenak menghela nafas lalu beralih ke tuan rumah yang masih bengong,”Pak, ini nanti jalannya keringnya kira-kira jam berapa?” Asli, ini pertanyaan epic banget yang sontak membuat kami di situ ketawa, karena hanya Tuhan yang tahu jalan tanah merah berlumpur sehabis hujan deras di sana keringnya jam berapa. Dev yang waktu itu sudah agak emosi, sampai bersilat lidah dengan Sandi di depan tuan rumah dan dihentikan oleh Pulung. Aku hanya bisa diam menyaksikan rentetan peristiwa yang baru saja terekam lewat mata dan telingaku.
            Awkward moment itu pun akhirnya diakhiri dengan Dev yang buru-buru mengambil motor Sandi yang ditinggalkan begitu saja di pertigaan dan diakhiri pamitan kami kepada tuan rumah dengan beribu-ribu ucapan terima kasih dan permohonan maaf atas kejadian yang baru saja berlangsung di rumahnya. Pada akhirnya, momen tadi menjadi momen paling menggemaskan bagi tim kami selama di Flores dan ucapan Sandi menjadi jargon tak terlupakan untuk kami. Pelajaran berharga: penting untuk bisa mengatur emosi ketika dihadapkan pada tekanan-tekanan tak terduga. Salam: Gila! Ini Gila! XD

Ke Golo Sengang
Melintasi sungai-sungai kecil semacam ini :)

            Usai peristiwa tadi, kami berempat bergegas menuju rumah respondennya Mbak Prima. Pulung yang masih trauma terjatuh di kondisi jalan batu yang banyak tanahnya tidak berani diboncengi, “Rul, lu ama Dev aja ya? Gue takut jatuh.”
Kata Dev, “Tenang, kalau sama aku nggak akan jatuh kok.” Baru saja motor jalan sehabis dia ngomong begitu..., GUBRAK! Oke, kami jatuh. Dan bukannya langsung berdiriin motor, kami malah ngetawain diri sendiri, “Mana Dev? Katanya nggak akan jatuh?” Pelajaran lagi: jangan sombong!
            Ketika sampai di rumah responden Mbak Prima, dia baru saja selesai wawancara. Kami langsung heboh cerita ini-itu. Saat itu di luar masih gerimis. Tapi kami memutuskan untuk tetap pamit karena hari sudah semakin siang. Tetap melaju dengan motor masing-masing.
Jalanan masih basah. Sampai pada jalan full   tanah tanpa ada penutup batuan sedikitpun, ban motor yang dikendarai Pulung terjebak lumpur, tak bisa jalan sama sekali. Setelah berdebat cukup lama, kami memutuskan untuk meninggalkan semua motor di rumah warga sekitar lalu kami jalan ke Golo Sengang. Menurut warga sekitar, satu jam bisa sampai Golo Sengang jalan kaki. Itu kata warga sekitar.
            Kenyataannya, dua puluh menit pertama kami baru sampai ke dusun sebelah. Itu pun kami berhenti dulu mencari sinyal. Di sana, satu-satunya tempat bersinyal hanya ada di bawah sebuah pohon kapuk randu. Kami menyebutnya pohon sinyal. Sampai di sana, beberapa warga sekitar tampak nongkrong mencari sinyal. Saat kami datang ke situ, mereka heran,”Lho motornya ke mana?” Memang, di sana kedatangan orang asing  akan sangat terlihat. Berasa jadi artis. Dikerumuni warga sekitar yang mencoba memberi kami saran agar bisa mendapatkan sinyal untuk memberi kabar pada supervisor kalau hari itu kami tak bisa pulang lagi.
            Tiga puluh menit berikutnya, kami baru sampai ujung desa di perbatasan antara desa sebelumnya dengan Golo Manting. Kami terus berjalan dengan bekal seadanya melewati lembah yang diapit bukit-bukit hijau terhampar luas. Cerita ini itu sampai tak terasa kami sudah berjalan jauh dan bertanya-tanya, kapan sampainya? Sampai akhirnya kami bertemu seorang bapak-bapak berkuda.
            “Oi, mau ke mana ini?”
            “Ke Golo Sengang, Pak. Ke rumah Bapak Desa.”
            “Oh Bapak Desa tadi baru mau pergi. Semoga saja masih di rumah.”
            “Kalau Bapak Sekdes atau Kaur?”
            “Bapak Sekdes juga sedang pergi sepertinya. Kalian ke rumah Bapak Kaur saja.”
            “Masih jauh, Pak? Kalau jalan berapa menit kira-kira?”
            “Tidak, sudah dekat. Sepuluh menit sampai.”
            Beliau menjelaskan jalan yang harus kami lewati untuk bisa sampai rumah para aparat desa, melewati sungai dan beberapa jalan menanjak dan menurun. Hanya kurang sepuluh menit. Kami kembali bersemangat.
            Lima belas menit jalan, belum ada tanda-tanda ada kampung. Lima belas menit berikutnya, tampak rumah tradisional dari bilik bambu. Sebuah perkampungan. Lega, akhirnya sampai juga. Sampai perkampungan itu, kami menghampiri seorang warga, “Permisi Mama, kalau rumah Bapak Desa atau Bapak Sekdes, atau Bapak Kaur di mana ya?”
            “Oo, masih jauh. Setengah jam lagi jalan kaki,” Apa??? Sekali lagi, jangan terlalu percaya apa kata orang. Yah, jarak sepuluh menit tadi mungkin kalau naik kuda, kudanya lari kencang. Kami melanjutkan perjalanan lagi sembari berdoa semoga orang-orang yang harus kami wawancara ada di tempat semua, jadi usaha kami tidak sia-sia.
            Tak lama kemudian, di tengah nafas yang semakin tersenggal, bertemulah kami dengan serombongan warga yang juga sedang berjalan. Kami berhenti dan saling menyapa, “Wah, hendak ke mana?”
            “Ke rumah Bapak Desa, Pak,” kata kami
            “Bapak Desa ada di belakang, cepat-cepat saja ke sana. Ini para warga desa mau ke desa sebelah, ada hajatan, besok baru pulang lagi ke sini,” keterangan dari warga yang kami temui di jalan membuat kami terdiam. Teringat rumah tempat kami menitipkan motor, sebelah tempat hajatan berlangsung. Dan sekarang hampir semua warga pergi ke sana. Skenario Allah sungguh tak bisa ditebak.
Sehabis hujan. Itu tanahnya masih basah, jadi licin. Btw, lihat bapak-bapak yang pakai sarung dan peci? Dulu aku kira sarung dan peci di Indonesia itu ciri khas orang muslim. Tapi di sini pandanganku berubah, sarung dan peci itu dipakai oleh semua umat beragama di Indonesia :D


Bertemu Bapak Desa
Jalanan di Kampung Golo Sengang. Yang pakai kaus oranye itu Bapak Kepala Desanya

            Sudah sekitar dua jam kami berjalan. Kami tidak mau menyerah. Kami terus berjalan sampai akhirnya bertemu dengan sosok Bapak Desa yang sudah siap pergi ke tempat hajatan. Bersalaman di jalan, menjelaskan maksud kami, dan menceritakan keadaan kami. Awalnya, Bapak Desa meminta untuk menemuinya esok hari saja. Namun melihat keadaan kami dan mendengar cerita kami, beliau beserta beberapa orang serombongan yang berjalan bersama beliau akhirnya berbaik hati untuk pulang kembali ke rumah. Menerima kami, tamu dari jauh.
            Sore sampai malam, kami mengefektifkan waktu mengambil data. Malamnya, menginap di rumah panggung berbilik bambu sederhana milik beliau. Mengobrol bermacam-macam hal, membicarakan banyak peristiwa di bawah remang-remang lampu tenaga surya. Rumah beliau sangat amat sederhana, bolong di sana-sini. Itu karena beliau lebih mementingkan menggunakan hartanya untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi ketimbang untuk memperbaiki rumahnya. Bahkan salah satu anaknya sampai mendapatkan beasiswa ke Mesir. Aku kembali malu dengan keadaanku yang serba berkecukupan namun sering menyerah dengan keadaan. Sekali lagi. Setiap orang adalah guru bagi yang lainnya.
            Aku bersyukur pernah berada di tempat seperti Sano Nggoang. Tentu saja, di luar segala kerumitannya.  

Terimakasih jalan yang tampak tak berujung :)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.