Senin, 03 Februari 2014

#8 SELAMAT DATANG DI SANO NGGOANG: DANAU YANG BERCAHAYA

         Selama ini, obyek wisata danau paling terkenal di Pulau Flores dan sudah mendunia adalah Danau Kelimutu yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Taman Nasional. Bahkan saat ini, setiap tahun rutin diadakan Festival Danau Kelimutu. Belum terlalu banyak yang tahu, selain Danau Kelimutu sebenarnya ada satu danau lain yang berukuran beberapa kali lipat lebih besar, yaitu Sano Nggoang. Dalam bahasa Manggarai, Sano berarti danau. Dan Nggoang berarti bercahaya. Jadi, secara harfiah Sano Nggoang bisa diartikan sebagai “Danau yang Bercahaya”. Salah satu wilayah administratif di Kabupaten Manggarai Barat menggunakan nama danau ini sebagai dasar toponimi kecamatannya.
Sano Nggoang kala senja, dari Sabana Desa Waesano. Hampir menyerah untuk bisa sampai sini :p

            Jika melalui jalur darat antar kecamatan, butuh waktu sekitar empat jam sampai ke sana dari Dalong yang berada di Kecamatan Komodo naik oto (Masyarakat sekitar biasa menyebut mobil dengan istilah oto). Untuk sampai sana, kami musti melintasi satu kecamatan terlebih dahulu, yaitu Kecamatan Mbeliling. Tadinya kami berencana naik satu-satunya bus yang menghubungkan Labuan Bajo dengan Sano Nggoang. Tapi karena busnya lewat lebih cepat dan kami kesiangan siap-siap, lewatlah satu kesempatan emas itu. Mau tak mau kami harus cari oto sendiri. Sebenarnya kami sempat kesulitan mencari oto yang mau disewa sampai ke sana. Kebanyakan sopir oto tidak berani mengambil resiko membawa kami beserta barang-barang kami yang seabrek ke sana. Kata mereka, itu terlalu beresiko saking buruknya akses jalan yang harus dilewati. Saat bingung mencari kendaraan yang mau mengangkut kami, lagi-lagi bantuan datang dari Bapak (makasih bapak J). Berkat beberapa bantuan dari beliau, kami akhirnya bisa dapat kendaraan. Berupa satu kendaraan besar yang disebut..., truk sapi! Iya, truk sapi. Satu-satunya kendaraan yang mau berbaik hati mengangkut kami. Oke, tak apa. Setidaknya aku bisa nostalgia naik truk sapi kegencet-gencet saat KKL III di Kabupaten Banyuwangi dahulu kala. Setidaknya sih, truk sapi di Flores lebih gede, dan nggak bakal kegencet-gencet juga karena kami cuma bersebelas. *abaikan*
            Flores. Kabupaten Manggarai Barat, menuju Kecamatan Sano Nggoang. Sungguh, ini tempat yang indah mempesona. Lanskap bergunung-gunung tiada berbatas. Tak ada jarak antara kita dengan alam. Pucuk-pucuk pepohonan berdaun putih kehijauan pucat terhampar luas, lautan pohon kemiri. Pun dengan kopi. Atau ada juga kakao. Tempat di mana manusianya belum terlalu overdosis untuk menguasai apapun yang dipunyai bumi. Tempat di mana sapi, kambing, kerbau, dan binatang ternak lain tak perlu dikandangkan. Cukup biarkan mereka hidup bebas berkeliaran di lapangan atau kadang juga di jalan-jalan. Tak ada yang takut kehilangan mereka.
            Kabupaten Manggarai Barat adalah kabupaten yang tergolong muda, salah satu hasil pemekaran wilayah pada tahun 2003. Dulunya, Manggarai Barat menjadi satu kesatuan dengan Kabupaten Manggarai dengan Ruteng sebagai ibukotanya. Saking luasnya wilayah pemerintahan Kabupaten Manggarai menjadi salah satu penyebab terjadinya pemekaran, menjadi Kabupaten Manggarai yang tetap beribukota di Ruteng, Kabupaten Manggarai Barat yang beribukota di Labuan Bajo, dan juga Kabupaten Manggarai Timur yang beribukota di Borong. Bisa dikatakan, Manggarai Barat baru mulai merangkak. Masih banyak desa-desa yang jauh dari keterjangkauan, beberapa daerah yang jauh dari ibukota kabupaten belum teraliri listrik sama sekali dari PLN, ada juga yang memakai lampu tenaga surya dari PLN, dan beberapa lainnya sudah terjangkau kabel-kabel PLN. Semakin jauh dari ibukota kabupaten, semakin buruklah infrastruktur, dan semakin minimlah fasilitas umum. Begitupun dengan Kecamatan Sano Nggoang.
            Basecamp kami terletak di pusat kecamatan. Meskipun pusat kecamatan, daerah tempat kami tinggal sangat amat bebas dari polusi dan kebisingan kendaraan. Karena kendaraan yang lewat di situ setiap hari bisa dihitung dengan jari. Depan basecamp, terdapat pasar “paling besar” di Sano Nggoang. Buka seminggu sekali saja, dari pagi sampai siang. Ketika hari pasar, oto-oto disko berjalan memenuhi jalan ibukota kecamatan. Di luar hari itu, maka pasar kembali sepi. Di sekeliling basecamp, lansekap pegunungan tinggi menjulang. Hawa tak lagi panas seperti basecamp sebelumnya. Sebelah timur, beberapa ratus meter dari basecamp, mengalir sungai teramat jernih, tempat favorit editor kami untuk mencuci sambil mengambil air untuk keperluan MCK di basecamp.  Beberapa kilo barat daya basecamp, tersebutlah danau paling besar di sana, Sano Nggoang. Danau air belerang, bekas kawah hasil aktifitas vulkanik tua, berbau busuk, berair hangat, berwarna hijau berkilau. Di balik keindahannya, wilayah ini menyimpan cerita-cerita tak terlupakan bagi kami, para pemburu data.
Aku beruntung, kebagian  cari data di desa yang nglewatin tempat dengan view seindah ini :D


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.