Selasa, 11 Februari 2014

#11 PINDAH SESI 2: MABUK KEPAYANG


Bau tanah basah, suara gemericik air, dingin yang malas, suara bruk brak bruk dari dua kamar yang bersebelahan. Hari itu hari pindahan. Meninggalkan Sano Nggoang dengan segala cerita yang sudah jadi masa lalu. Kucuran air langit bukan semakin berkurang, intensitasnya malah semakin menjadi. Ruang tamu basecamp penuh dengan bersebelas orang yang mulai terbiasa tinggal serumah. Bercengkerama, terkadang saling menjahili, cerita absurd, menganiaya yang bisa dianiaya, tertawa tak berhenti, sampai menangis, sampai perut sakit, lalu diam dan bosan. Hari pindahan adalah hari menunggu yang sangat santai. Menunggu kendaraan angkutan bisa dilakukan dengan menjemur cucian mulai dari basah sampai kering lagi. Tapi tentu saja tidak untuk hari itu. Mendung sedari pagi kemudian berlanjut presipitasi menghentikan kemilau matahari pagi yang biasanya berlanjut terik kala siang menyapa.
Hujan masih tak mau beranjak ketika oto angkutan kami datang. Kali ini bukan lagi truk sapi seperti kali pertama kami pindahan. Oto yang kami tumpangi adalah angkot disko berjalan yang biasa dipakai penduduk pada umumnya. Disko berjalan? Ya, kedatangan oto jenis ini sangat mudah ditengarai dari jauh. Speaker yang dipasang di atas deretan bangku penumpang selalu menggema dengan musik-musiknya yang rancak dan bersemangat. Musik dengan lagu cengeng pun jadi tak kedengaran seperti lagu cengeng lagi karena sudah diremix habis-habisan jadi musik disko. Lalu apakah penumpangnya juga bergoyang? Absolutely, yes! Meskipun si penumpang pada dasarnya duduk manis di atas kursinya, dijamin dia pasti bergoyang. Bergoyang ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang melewati jalanan berbatu mengocok badan di tengan hutan. Kalau sudah sampai ke jalan aspal apalagi aspal hot mix, jangan kira goyangnya akan berhenti. Justru semakin bertambah. Karena laju oto akan semakin tak terkendali melewati jalan menukik atau menurun tajam, berbelok hampir 180 derajat mengikuti alur jalan yang lebih mirip jalur jet coaster ketimbang jalan raya antar kabupaten.
            Itulah, itu dia faktor utama para penumpang yang tak terbiasa naik oto disko berjalan , hampir dari setengahnya tepar, mabuk darat sampai muntah-muntah. Hampir setengah hari berada di atas oto yang terus melaju mengocok-ngocok kepala sampai perut, empat orang tim kami tak berdaya, memegang plastik kresek hitam tempat muntahan di tangannya masing-masing, sibuk mencari minyak kayu putih untuk digosokkan di tengkuk, perut, atau bagian tubuh yang butuh kehangatan. Mereka yang sama sekali tak pernah mabuk darat tiba-tiba menderita mabuk darat akut!
            Untungnya, segepok snack bermerk Namiki yang kami beli pagi hari di pasar depan basecamp Sano Nggoang ditambah pemandangan sabana, sawah, beserta hijau-hijauan lain yang terhampar luas menjadi penangkal anti mabuk bagi tujuh orang anggota tim lainnya. Kala malam menjelang, purnama menyertai, taburan bintang di langit sana dan bintang di permukaan bumi menjadi teman perjalanan yang bakal dirindukan nanti, kala kami sudah kembali ke rutinitas di tempat kami tinggal masing-masing. Perjalanan itu kami akhiri lepas seperempat malam, di sebuah basecamp yang merupakan rumah kepala Kelurahan Nantal. Kami sampai di Kecamatan Kuwus, GPS menunjukkan altitude >1.300 meter dari permukaan laut. Hawa memang agak sedikit lebih hangat dari Dieng. Tapi tetap, hari-hari berikutnya bakal jadi hari-hari yang teramat dingin, kapten!  

Kayak begini nih bentukan oto disko berjalan di Manggarai. Yang kami tumpangi namanya "Kasih Sayang" #KameraHPTemenGue

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.