Jumat, 07 Februari 2014

#10 MANGGARAI BARAT: KOPI DAN KERAMAHANNYA

“While we don’t advocate walking through areas known to be unsafe , we have found that neighboorhoods that appear sketchy or dirty on the surface are often those with the friendliest and warmest people around. There’s value in appreciating and respecting those whose living conditions are different than our own. And you may just learn a thing or two from how people in such conditions engage in and often embrace life “
(Daniel Noll, 7 Ways To Travel Outside Your Comfort Zone)

Sebuah perkampungan bernama "Naga" di Kabupaten Manggarai Barat

Jangan menilai isi buku dari sampulnya. Pepatah yang tak asing lagi. Sampul di Indonesia timur secara umum tergambar sebagai wilayah dengan penduduk berkulit gelap, tampilan garang, bahkan kasar. Juga sering digambarkan dengan wilayah tertinggal jauh dari akses dan fasilitas umum. Sampul yang demikian membuat beberapa orang di luar lingkungan timur Indonesia mungkin takut untuk tinggal atau menetap di sana.
Surat kabar cetak ataupun elektronik seringkali memberitakan tentang pengeroyokan, penyerangan, atau tindakan brutal lainnya yang dilakukan oleh rakyat Indonesia timur. Pemberitaan terus menerus dan sering, membuat mindset masyarakat yang tak tahu keadaan sebenarnya, diarahkan menuju mindset negatif juga. Otakku pun sempat juga tercuci dengan anggapan demikian. Dan teori-teori tadi terpatahkan setelah aku berkesempatan berada di salah satu belahan Indonesia timur hampir selama dua bulan lamanya. Sejalan dengan apa yang dituliskan oleh Daniel Noll, tempat yang dianggap terbelakang atau anggapan minus lainnya, bisa jadi menyimpan kehangatan dan keramahan lebih dari yang kita kira.
Manggarai. Nama tempat yang sepertinya tak asing lagi. Ya, kalau menyebutkan nama Manggarai, pikiran mayoritas orang Pulau Jawa pasti larinya ke tempat seputaran ibukota. Tapi Manggarai ini lain, dia ada di belahan pulau lain dan masih di Indonesia. Wilayah Manggarai Raya, salah satunya adalah Kabupaten Manggarai Barat, berada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Berada di sana dan menjadi manusia nomaden selama dua bulan, memaksaku berinteraksi dengan masyarakat lokal setiap harinya, menyelami permukaan demi merasakan kebudayaan yang ada di sana.
Kopi Manggarai. Biji hitam komoditi lokal kualitas internasional. Manggarai, adalah salah satu surga kopi nusantara. Minum kopi nampaknya menjadi suatu keharusan jika berada di sana. Menyuguh tamu dengan kopi arabica lokal menjadi kebudayaan yang sudah berlaku turun temurun, terutama bagi masyarakat pegunungan. Bahkan, meskipun tamu itu sendiri adalah tetangga samping rumah yang juga punya berkilo-kilo kopi hasil kebunnya sendiri, suguhan kopi tetap menjadi suatu keharusan. Bubuk kopi di sana pada umumnya adalah olahan lokal, tanam sendiri, petik sendiri, jemur sendiri, sangrai sendiri, tumbuk sendiri. Mabuk kopi rasanya, setiap masuk ke rumah warga, beberapa menit seusai meletakkan pantat dan memperkenalkan diri, segelas kopi pekat manis sudah terhidang di hadapan kita. Para pecinta kopi pasti bahagia berada di sana, menikmati bergelas-gelas kopi panas sekaligus merasakan kehangatan silaturahmi warga daerah.
Kalau berkunjung ke rumah warga Manggarai, selain hilang dahaga, dijamin juga tak akan kelaparan jika kunjungan dilakukan saat jam-jam makan. Penduduk Manggarai pantang membiarkan tamunya pergi kelaparan. Meskipun mereka sedang tak punya apa-apa untuk disuguhkan, mereka akan mencari apapun agar tamunya bisa makan. Meski dengan lauk sangat-sangat sederhana dan seadanya, ini adalah salah satu cara untuk menghormati tamunya. Bagi muslim, tenang saja. Warga tak akan menyuguhkan makanan dari babi hitam hasil ternak karena mereka tahu muslim tidak makan babi dan babi pada umumnya digunakan untuk keperluan pesta saja, terutama sebagai belis dalam adat pernikahan.
Belis bisa dikatakan adalah mas kawin yang harus dibayarkan oleh calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. Tidak hanya di Manggarai saja, syarat belis sebenarnya berlaku hampir untuk seluruh suku-suku asli penghuni Nusa Tenggara Timur. Keluarga si perempuan biasanya menentukan belis apa saja yang harus ada sebagai syarat sahnya pernikahan. Jika pihak laki-laki tidak bisa memenuhi syarat belis dari pihak perempuan, jangan harap pernikahan bisa segera dilangsungkan. Bentuk belis bisa bermacam-macam tergantung dari asal daerah dan keinginan keluarga si perempuan. Binatang ternak seperti babi, kuda, kerbau, sapi menjadi salah satu pilihan belis. Ada juga daerah yang mensyaratkan gading gajah sebagai belis, atau tambahan kain songke hitam bermotif wajik colorful, tenun khas suku Manggarai. Belis yang diminta, terkadang tidak hanya satu atau dua binatang ternak, namun bisa jadi puluhan atau ratusan binatang ternak yang jika dikalkulasikan nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah! Karena saking beratnya belis yang dibayarkan, keluarga mempelai laki-laki biasanya dibantu oleh masyarakat satu kampung atau satu desa dengan sumbangan ternak yang juga tak hanya satu-dua ternak saja. Soal adat belis ini, seorang warga suku asli Manggarai pernah berbicara kepadaku, “Nona, sebenarnya masyarakat Manggarai itu kaya-kaya. Lihat saja kami punya kebun berhektar-hektar dan ternak berpuluh-puluh. Tapi tetap saja mereka habis untuk bayar belis. Itu memang adat di sini.”
Segelas, dua gelas, tiga gelas Kopi Manggarai setiap hari. Surga kopi.
Di Manggarai, jika niat kita baik, tak perlu takut untuk minta izin menginap seandainya pulang kemalaman. Justru mereka biasanya menyarankan kita untuk menginap dan dengan senang hati membagi tempat tidurnya dan mencukupi kebutuhan makan kita. Selain ramah, masyarakat Manggarai dikenal sebagai masyarakat yang selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Mereka sering meminta maaf. Kata-kata neka rabo hampir selalu muncul pada tiap percakapan. Neka rabo, bahasa Manggarai yang berarti “jangan marah”. Jika kata-kata itu muncul, artinya mereka ingin meminta maaf. Saat mereka kelupaan memberikan sesuatu, “Nona, saya lupa. Jangan marah ee.” Saat merasa apa yang diberikan tidak berkenan di hati, “Neka rabo, jangan marah ee.”
Manggarai, berada di sana yang awalnya sangat asing, lama-lama menjadi tempat yang terasa dekat di hati. Mengenal dan tahu budaya tanah lain dengan kondisi yang sangat berbeda dengan tanah kelahiran. Belajar cara-cara lain menghadapi hidup. Itu sudah. J

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.