Sabtu, 11 Januari 2014

FACING A MOUNTAIN

Masih banyak yang ingin aku tuliskan tentang perjalanan sepanjang Oktober – November di NTT tahun lalu. Tapi ada satu hal yang membuatku sangat ingin menuliskan hal lain yang aku lakukan awal Desember lalu. Tentang mendaki gunung.
Aku bukan orang yang sering mendaki gunung. Akhir tahun 2013 lalu baru kali pertama aku menginjakkan kaki menapaki sebuah gunung yang katanya cocok didaki oleh para amatiran sepertiku, Gunung Merbabu. Kami mendaki via Selo, Kabupaten Boyolali. Track untuk para amatiran itu nyatanya mampu membuatku mengerti apa yang sering dituliskan oleh banyak orang tentang filosofi pendakian.
Mendaki gunung adalah salah satu cara mengenali diri sendiri. Mengenali bagaimana diri sendiri menghadapi dan menjalani kehidupan dan mengukur kemampuan diri masing-masing. Ada beberapa benang merah antara mendaki gunung dengan bagaimana sebaiknya menjalani hidup.

Puncak Triangulasi Gunung Merbabu. (IG: @putrimaru)

Pertama. Kebanyakan pendaki, apalagi yang masih amatiran biasanya terlalu semangat berjalan di awal, loyo ketika akhir. Begitu kan? Ketika awal-awal, semangatnya minta ampun, ketika hampir usai, rasanya sudah mau menyerah saja. Padahal sudah benar-benar hampir usai. Orang-orang bilang, saat mendaki gunung, pendaki harus tahu kapan harus berhenti, berapa lama dia sebaiknya berhenti, dan kapan harus berjalan lagi. Sehingga dia tak akan kehabisan tenaga ketika sudah hampir garis finish. Iya, hidup sebaiknya juga begitu kan? Menjaga ritme, berusaha konsisten, dan bersabarlah sampai garis finish. Step by step.
Kedua. Kata seorang teman, tujuan mendaki gunung bukanlah puncak, puncak itu bonus. Yang penting, bisa pulang ke rumah dengan selamat. Puncak adalah ambisi. Iya, mengikuti ambisi tidaklah salah. Itu hak prerogatif setiap orang. Jika dia mampu mencapainya, kenapa tidak? Tapi yang penting, dalam hidup, sekali lagi, adalah “pulang” dengan “selamat”. Kembali ke rumah yang sebenarnya, bertemu Tuhan dengan selamat. Capaian selama hidup: jabatan, materi, prestasi, itu adalah bonus.
Ketiga. Memilih jalur pendakian adalah salah satu seni mendaki gunung. Kadang jalur pendakian tak hanya satu. Pun ketika sudah memilih satu jalur masuk, selama perjalanan masih ada jalan bercabang. Hidup juga begitu. Biar kata tak ingin pusing-pusing memilih salah satu di antara dua atau banyak lainnya, nyatanya mau tak mau tetap harus memilih salah satu saja kan biar bisa sampai tujuan? Itu juga seninya hidup, seni memilih XD
Keempat. Camp adalah tempat yang nyaman. Tempat yang hangat untuk tidur, nyaman untuk singgah, dan mampu melindungi para pendaki dari dinginnya dunia luar. Kadang, kalau sudah nyaman di camp, susah rasanya mau beranjak. Beranjak menuju puncak, maupun beranjak turun kembali ke rumah. Tapi faktanya, tidak mungkin kan selamanya singgah di camp? Kalau kelamaan, persediaan logistik bakal habis. Mau beli di mana? Tempat yang awalnya nyaman pun lama-lama jadi tidak nyaman. That’s why, we are supposed to go out of the box. Keluar dari zona nyaman dan melanjutkan perjalanan, mengembangkan diri. Aja mung ndheprok ndhodhok ana kono thok. Jangan cuma duduk manis di situ-situ saja.
Well, sebenarnya masih ada filosofi lain. Tapi empat itu yang paling mengganggu pikiranku dan minta dituliskan di laman sederhana ini. :)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.