Minggu, 19 Januari 2014

#7 ROMANSA CINTA DI TEPIAN LABUAN BAJO

Depan rumah Bapak dan Emak. Menghadap Laut Flores


Ikan hasil tangkapan Bapak. Siap dibakar untuk makan siang :D
        Kalau kalian kira ini tentang kisah romantisku dengan seseorang di Labuan Bajo, kalian salah. Ini adalah cerita tentang Emak dan Bapak. Dua orang responden yang pernah kami temui dan sudah seperti orang tua kami sendiri. Dua manusia sederhana dan menjalani kehidupan sebagaimana adanya. Dua sosok manusia yang menurutku, harus aku ceritakan dalam salah satu episode jurnalku selama hampir dua bulan di Flores. Aku mengenal beliau berdua memang belum lama, namun cerita tentang mereka mampu membekas lama dalam ingatanku, ingatan kami, tim DG.
            Bapak orang Suku Ende. Tanah lahirnya di Kabupaten Ende. Badannya tinggi besar, kokoh, kulitnya legam terbakar matahari. Seorang nelayan tradisional yang mengarungi laut dengan ketinting kecilnya setiap malam, berharap mendapat ikan setiap melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Pertama kali ketemu Bapak, garis muka tegas dan keras milik beliau membuat aku sedikit takut. Kesannya sangar, suaranya besar. Setiap orang yang pertama ketemu beliau mungkin juga punya kesan pertama yang sama denganku.
            Entah bagaimana ceritanya Bapak bisa sampai di Labuan Bajo, aku tidak begitu tahu. Beliau sudah berpuluh-puluh tahun menetap di sana. Mungkin sejak aku belum lahir ke dunia ini. Bapak adalah salah seorang pemimpin kampung di sana, Kampung Ujung namanya. Letaknya di bagian utara Kelurahan Labuan Bajo, di pinggiran pesisir. Rumah beliau sederhana. Sangat sederhana. Di belakang rumah, pepohonan asam tumbuh tinggi menaungi tanah, menjadi perindang di kala matahari menyengat terik. Begitupun di depan rumah, pohon dengan buah-buahnya yang masam berserakan di tanah, memberi oksigen dan kesegaran di kala siang.
            Emak berasal dari Jawa, Jawa Tengah. Berpuluh-puluh tahun lalu Emak merantau. Sampailah misi perantauan Emak sehingga akhirnya terdampar di Pulau Flores. Mengadu nasib dengan berjualan soto di sana, bersama orang-orang Jawa lainnya. Sampai akhirnya, Emak ketemu Bapak. Bapak melamar Emak. Kemudian mereka berdua menikah dan tinggal bersama. Saat itu, aku sempat bertanya kepada Emak, “Gimana dulu kok ceritanya bisa sama Bapak?” Iseng aja sih tanya. Eh, ternyata Emak malah cerita banyak.
Awalnya, Emak hanya berniat berdagang soto di sana. Bermodalkan kemampuannya memasak, dan dilengkapi perlengkapan dan perabotan seadanya. Tak dinyana, Emak malah ketemu pujaan hatinya di sana. Kata Emak, Bapak itu baik. Bapak itu setia. Bapak itu bisa dipercaya. Itu kenapa Emak suka Bapak. Itulah kenapa juga Emak setia dengan Bapak. Bapak pernah punya istri sebelum dengan Emak, sampai akhirnya Bapak dan istrinya yang dulu berpisah. Mereka berpisah dan meninggalkan banyak hutang. Harta rumah sudah habis. Saat Emak jadi istri Bapak, Emak rela menjual harta berharganya: perabot dan perkakas lainnya yang biasa digunakan untuk menjual soto, akhirnya dijual untuk menutupi utang yang pernah ditinggalkan mantan istri pertama Bapak. Berat memang. Tapi Emak bilang beliau percaya Bapak. Mereka adalah salah satu pengejawantahan teori memberi dan menerima. Take and give.

Sabtu, 11 Januari 2014

FACING A MOUNTAIN

Masih banyak yang ingin aku tuliskan tentang perjalanan sepanjang Oktober – November di NTT tahun lalu. Tapi ada satu hal yang membuatku sangat ingin menuliskan hal lain yang aku lakukan awal Desember lalu. Tentang mendaki gunung.
Aku bukan orang yang sering mendaki gunung. Akhir tahun 2013 lalu baru kali pertama aku menginjakkan kaki menapaki sebuah gunung yang katanya cocok didaki oleh para amatiran sepertiku, Gunung Merbabu. Kami mendaki via Selo, Kabupaten Boyolali. Track untuk para amatiran itu nyatanya mampu membuatku mengerti apa yang sering dituliskan oleh banyak orang tentang filosofi pendakian.
Mendaki gunung adalah salah satu cara mengenali diri sendiri. Mengenali bagaimana diri sendiri menghadapi dan menjalani kehidupan dan mengukur kemampuan diri masing-masing. Ada beberapa benang merah antara mendaki gunung dengan bagaimana sebaiknya menjalani hidup.

Puncak Triangulasi Gunung Merbabu. (IG: @putrimaru)

Pertama. Kebanyakan pendaki, apalagi yang masih amatiran biasanya terlalu semangat berjalan di awal, loyo ketika akhir. Begitu kan? Ketika awal-awal, semangatnya minta ampun, ketika hampir usai, rasanya sudah mau menyerah saja. Padahal sudah benar-benar hampir usai. Orang-orang bilang, saat mendaki gunung, pendaki harus tahu kapan harus berhenti, berapa lama dia sebaiknya berhenti, dan kapan harus berjalan lagi. Sehingga dia tak akan kehabisan tenaga ketika sudah hampir garis finish. Iya, hidup sebaiknya juga begitu kan? Menjaga ritme, berusaha konsisten, dan bersabarlah sampai garis finish. Step by step.
Kedua. Kata seorang teman, tujuan mendaki gunung bukanlah puncak, puncak itu bonus. Yang penting, bisa pulang ke rumah dengan selamat. Puncak adalah ambisi. Iya, mengikuti ambisi tidaklah salah. Itu hak prerogatif setiap orang. Jika dia mampu mencapainya, kenapa tidak? Tapi yang penting, dalam hidup, sekali lagi, adalah “pulang” dengan “selamat”. Kembali ke rumah yang sebenarnya, bertemu Tuhan dengan selamat. Capaian selama hidup: jabatan, materi, prestasi, itu adalah bonus.
Ketiga. Memilih jalur pendakian adalah salah satu seni mendaki gunung. Kadang jalur pendakian tak hanya satu. Pun ketika sudah memilih satu jalur masuk, selama perjalanan masih ada jalan bercabang. Hidup juga begitu. Biar kata tak ingin pusing-pusing memilih salah satu di antara dua atau banyak lainnya, nyatanya mau tak mau tetap harus memilih salah satu saja kan biar bisa sampai tujuan? Itu juga seninya hidup, seni memilih XD
Keempat. Camp adalah tempat yang nyaman. Tempat yang hangat untuk tidur, nyaman untuk singgah, dan mampu melindungi para pendaki dari dinginnya dunia luar. Kadang, kalau sudah nyaman di camp, susah rasanya mau beranjak. Beranjak menuju puncak, maupun beranjak turun kembali ke rumah. Tapi faktanya, tidak mungkin kan selamanya singgah di camp? Kalau kelamaan, persediaan logistik bakal habis. Mau beli di mana? Tempat yang awalnya nyaman pun lama-lama jadi tidak nyaman. That’s why, we are supposed to go out of the box. Keluar dari zona nyaman dan melanjutkan perjalanan, mengembangkan diri. Aja mung ndheprok ndhodhok ana kono thok. Jangan cuma duduk manis di situ-situ saja.
Well, sebenarnya masih ada filosofi lain. Tapi empat itu yang paling mengganggu pikiranku dan minta dituliskan di laman sederhana ini. :)

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.