Kamis, 02 Oktober 2014

HALO MALANG!


“Terbang tinggi ke awan, mungkin ada yang bisa kutemukan. Menyeberangi ilalang, walaupun jauh yang harus kutempuh. Jalan masihlah panjang, banyak keinginan yang dilupakan. Masih harus berjuang. Percayalah masih ada banyak harapan. Terbanglah terbang, raihlah mimpi. Jangan berhenti, terbanglah serdadu kumbang....” Serdadu Kumbang – Ipang

Dendang lagu Tanah Airku menggema kala Senin pagi kemarin. Tak biasanya aku ikut upacara bendera hari Senin semenjak dua tahun terakhir. Dua tahun lalu adalah kali terakhir aku ikut upacara bendera, upacara tujuhbelasan, di salah satu pulau kecil dari 92 Pulau Kecil Terluar Indonesia. Buncah rasa bahagia sekaligus terharu benar-benar terasa kala itu. Pun dengan kemarin Senin, tak terasa senyum merekah lebar ketika ikut menyanyikan lagu Tanah Airku.

Seratus lebih siswa-siswi berseragam putih – merah beserta Bapak/ Ibu gurunya berdiri pagi-pagi di tengah lapangan upacara SDN Gunungsari, Tajinan, Malang, Jawa Timur. Ah bagaimana ceritanya aku bisa sampai di Malang? Entahlah, yang pasti itu sudah tergaris dalam kitab kehidupanku dan mereka yang bertemu sapa dalam sebuah kegiatan yang diberi nama “Kelas Inspirasi”.

Aku belum terlalu lama mengenal Kelas Inspirasi (KI). Direct Assessment (DA) Indonesia Mengajar IX lah yang memperkenalkan aku kepada  Kelas Inspirasi. Saat itu beberapa teman satu tim DA adalah jebolan KI. Dari sanalah aku penasaran dan mencoba mencari informasi tentang KI di web Indonesia Mengajar. KI adalah kegiatan sehari yang diperuntukkan bagi para profesional untuk berbagi cerita tentang profesi mereka kepada anak-anak Sekolah Dasar. Hanya butuh satu hari. Dan pilihanku jatuh pada tanggal 29 September. Malang.

Ternyata perlu istiqamah juga ketika kita sudah berani memilih dan memutuskan sesuatu. Ada banyak hal yang terkadang melemahkan niat. Bahkan sampai hampir hari H. Tapi tentu saja, niat yang lebih kuatlah yang menang. Tetap saja akhirnya aku berangkat ke Malang setelah minggu sebelumnya bolak-balik Jakarta – Jogja – Jakarta – Bandung – Malang. Toh rasa lelah di minggu-minggu sebelumnya itu terbayar sudah ketika berhasil bertemu muka dengan para jagoan masa depan di SDN Gunungsari.

Namaku Marul. Staf GIS (sistem informasi geografis) di salah satu instansi pemerintah di bidang kelautan. Tadinya aku ingin mengajak anak-anak yang penuh semangat itu keliling Indonesia, bahkan keliling dunia, lewat peta interaktif yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi apa daya, hukum murphy terburu-buru mendatangi tanpa permisi, semua benda elektronik yang sudah dipersiapkan menyambut hari inspirasi mendadak tak mau bekerja sama. Laptop tiba-tiba mati total. Hardisk tiba-tiba jebol. Bersamaan. Dan tak ada backup sama sekali. Dan pelaksanaan KI tinggal seminggu dimana saat itu aku harus bolak-balik ke sana kemari. Tak ada persiapan apa-apa lagi.

Lalu mendadak di rumah Jogja aku menemukan Peta Indonesia seukuran kertas A1 dan menemukan sebuah boneka tangan di tempat lainnya. Baiklah. Sepertinya mereka cukup bisa diandalkan menemaniku di depan kelas.

Saat anak-anak mengacungkan tangan tinggi-tinggi di kelas, saat itu juga semangatku juga ikut membubung tinggi. Bahagia itu sesederhana menyaksikan kegembiraan anak-anak yang tawanya lepas, bebas, tanpa beban, optimis, yang walaupun kadang anarkis, namun tetap manis.

Kelas II yang menyenangkan, semangat, dan saling menghargai. Saat meminta anak-anak kelas II mengeluarkan kertas untuk belajar menggambar denah, mereka dengan senang hati melakukannya. Di sini aku bertemu Aril, seorang anak berkebutuhan khusus yang berbakat. Seorang teman sebangkunya yang ternyata juga teman karib di rumah berseru kepadaku, “Ibu, lihat ini buku gambarnya Aril. Bagus bu...” Saat itu aku mendekatinya dan melihat buku gambarnya. Dia ternyata suka membuat karya dari daun yang ditempel-tempel membentuk gambar. Iya, bagus. Di sini bukan aku yang menginspirasi, merekalah yang menginspirasiku.

Kelas III yang aktif dan ramai. Lihat saja saat aku membentangkan Peta Indonesia dan meminta salah satu anak untuk menunjukkan suatu tempat yang tergambar di sana, hampir setengah kelas ikut meringsek maju dan menunjuk-nunjuk di peta.

Kelas IV yang malu-malu, penurut, tapi tetap semangat. Saat ditanyai sesuatu, hampir anak sekelas mengacungkan tangan. Walaupun, saat diminta menjawab, kebanyakan mereka hanya geleng-geleng kepala dan tidak jadi menjawab. Hampir semua anak lelaki di kelas ini ingin menjadi pemain sepak bola. Dan anak perempuannya ingin menjadi dokter dan koki. Ah, cita-cita masa kecil selalu membekas bukan? Bahkan ketika dewasa, cita-cita masa kecil bisa jadi terus mengusik. Semoga saja apa yang mereka cita-citakan benar-benar menjadi cita-cita yang tak hanya sekedar cita-cita. Semoga saja cita-cita mereka terpupuk, tersirami, tumbuh di atas lahan yang subur.

Semoga balon-balon impian yang terbang membubung tinggi ke angkasa yang diterbangkan seusai setengah hari yang membekas itu ikut membubungkan harapan mereka. Tinggi. Tanpa berhenti. Tinggi. Meledak di atas sana. Pecah. Semoga harapan mereka ikut pecah suatu hari nanti, di masa depan.
***

p.s. Terimakasih para relawan dan fasil KI Malang 2, kelompok 33, SDN Gunungsari Tajinan: Aisyah, Nila, Fadhil, Bu Suci, Mbak Cony, Mas Dieky, Mas Didi, Fatkhi, Fajrur, Igo. Selalu semangat menginspirasi lewat apapun dan dimanapun! Senang sudah dipertemukan dengan kalian :)

Jumat, 08 Agustus 2014

#14 PINDAH SESI 3: SELAMAT TINGGAL MANGGARAI BARAT

Gunung yang puncaknya berbentuk kerucut yang aku nggak tahu namanya.


November 2013. Oto truk bercat kayu warna hijau sudah menanti kami berkemas. Ini hari terakhir kami di Kabupaten Manggarai Barat. Kami harus pindah. Awal mula kami sampai di Flores, hawa asin laut menemani hari-hari kami di Labuan Bajo. Minggu-minggu berikutnya, sejuknya hawa lautan pohon kemiri dan dinginnya pegunungan berganti menemani kami. Lalu, tiga minggu terakhir, tampaknya kami harus kembali menghirup udara pantai. Kabupaten Ende. Ya, kami akan menuju salah satu tempat bersejarah di Indonesia. Ende, tempat pengasingan Bung Karno di masa pra kemerdekaan Indonesia.
Hangatnya perlakuan keluarga Bapak Lurah Nantal di tengah menggigilnya hawa Kuwus akhirnya harus diakhiri dengan perpisahan kami menuju Kabupaten Ende. Sesi foto bersama benar-benar mengakhiri pertemuan kami dengan keluarga beliau di bumi Flores. Entah, apakah suatu saat nanti kami bisa bertemu atau tidak. Hanya Tuhan yang tahu.
Deru mesin dan deru speaker disko menyala berbarengan. Terakhir, deru speaker disko, diprotes hampir seluruh penumpang, yaitu kami bersebelas. Akhirnya Pak Sopir mengalah, mematikan musiknya yang sudah disetel kencang-kencang demi menemani perjalanan menuju ke kota. Oto truk terlihat penuh, membawa muatan 11 penumpang yang berisik, serta barang-barang bawaan mereka yang lebay. Carrier lemari baju milik Pulung, Dian, Linda, dan tentu saja milikku – yang dulu sempat diprotes oleh para enumerator senior yang bawaannya simpel, cukup dua biji daypack ukuran kecil untuk dua bulan – ditambah lagi sekarung besar kuesioner yang rasanya tak habis-habis, lalu terakhir yang selalu membuat Mas Ghulam selaku supervisor kami bersungut-sungut ketika mengangkutnya karena menambah massa beban, yaitu dua kardus ikan teri asin dan sekardus asam mentah favoritnya mas Iwan, pemberian Bapak-Ibu Labuan Bajo, benar-benar membuat oto truk kecil itu bertambah sesak.
Kami menuju ke kota. Tepatnya, ke Ruteng. Ruteng, nama tempat di pegunungan yang dijadikan merk air mineral paling terkenal di Flores. Satu-satunya tempat yang menyediakan jasa travel sampai ke Ende. Ibukota Kabupaten Manggarai yang memiliki rumah sakit satu-satunya di Flores bagian barat ini menyambut kami yang sudah lama tidak melihat kota. Bangunan-bangunan yang lebih modern sudah bermunculan di sana-sini. Ruko, rumah bertembok batu bata atau batako sudah disemen. Tidak ada lagi babi jalan kesana-kemari dan berkubang di tengah jalan, karena jalan di sana sudah diaspal. Beberapa ATM dan warung makan sudah mulai mudah ditemukan. Kendaraan berseliweran. Kota kecil yang asri. Lonceng gereja, dengan arsitektur bangunannya yang modern dan minimalis, berdentang-dentang di ujung jalan, tak terkalahkan oleh deru kendaraan yang tak seberapa bising. Sebelum sampai ke pool travel, oto truk berhenti sebentar di sebuah pusat oleh-oleh makanan. Tertarik, kami turun dari oto. Ada yang mencari gorengan buat bekal di jalan. Ada yang masuk ke pusat oleh-oleh yang ternyata isinya kebanyakan adalah Sei Babi dan sejennisnya. Baiklah, semuanya urung untuk beli oleh-oleh.
Sesudah tiba di pool travel, kami mampir sebentar di warung – yang ternyata mayoritas tempat makan di sana dikuasai orang Jawa – lalu mengisi perut yang sudah lama tak terisi makanan selezat di warung itu.  Teringat ucapan dari orang-orang yang pernah kami wawancarai di Kuwus, “Hati-hati mabuk darat, perjalanan dari Ruteng ke Ende hampir seharian lewat jalan berbelok, naik-turun.” Teringat juga pengalaman sebelumnya saat berkendara memakai oto dari Sano Nggoang menuju Kuwus yang memabukkan bagi hampir setengah rombongan kala itu, maka kami membeli stok minuman soda yang katanya sih bisa mengurangi mabok darat. Mas Adi, Linda, Mas Iwan pun sudah ancang-ancang. Pesan kursi travel yang paling depan biar nggak mabuk!
Manggarai – Ende. Melintasi kebudayaan yang berbeda, tempat berbeda, dan tentunya hari yang berbeda. Hampir seharian kami di atas shuttle. Dan, oh, tertu saja tak ada perjalanan memabukkan seperti yang dibayangkan sebelumnya. Karena kali ini kami menumpang kendaraan berpindah yang paling nyaman menurut ukuran kami selama di sana. Ber-AC, tempat duduk empuk, sandaran nyaman, sopir yang hati-hati membawa nyawa manusia, dan tentu saja full musik dengan jenis lagu dan volume suara sesuai request para penumpangnya. Meskipun jalan berkelok, menukik, menunjam, untungnya sudah dilapisi aspal hotmix dan didukung dengan sarana transportasi yang tidak mengecewakan, jadi katakan selamat tinggal pada mabuk darat!
Aku kebagian bangku travel paling belakang bersama Mas Ghulam dan Mbak Prima, dua enumerator senior. Riang gembira mendendangkan lagu-lagu pop masa kecil sampai masa kini. Di luar jendela shuttle, tak ada landscape yang tak membuat kami berhenti berdecak kagum. Melihat kota kecil dari kejauhan, melintasi ladang kemiri, ladang vanili, hutan, sabana, seminari dan gereja di atas bukit, gunung, sawah, ladang enau – bahan baku sopi -- , sungai berbatu besar berair jernih, pantai, perkampungan, masjid di pinggir jalan di pinggir pantai, lembayung senja, dan terakhir, lampu-lampu eksotis Pulau Ende terlihat dari kejauhan. Kami berada di seberang Pulau Ende, masih di Pulau Flores, tepatnya Ende bagian selatan. Hampir tengah malam, mobil travel yang kami tumpangi masuk ke sebuah jalan kecil, mobil berhenti di sebuah gang yang berjarak hanya sekitar 10 meter dari rumah bersejarah milik Bung Karno di Ende. Rumah milik teman Mas Adi – editor kami – yang akan menampung kami dalam waktu lama. Rumah di depan masjid. “Akhirnya bisa dengar suara adzan lagi setiap hari,” Mas Iwan bernafas lega.

Sabtu, 26 April 2014

#13 REVISIT KOK BAHAGIA?



Pekerjaan kami di Kuwus selesai hanya dalam empat hari. Heran juga, karena biasanya satu wilayah cacahan baru bisa kami selesaikan dalam lima atau enam hari. Kadang bisa juga lebih dari itu saking ribetnya pengambilan sampel, kondisi topografi, atau kejadian tak terduga seperti cuaca yang susah diprediksi kapan akan hujan kapan tidak. Kami bahagia.
Wait! Tunggu dulu. Kebahagiaan kami telah berhasil menyelesaikan pekerjaan sebelum waktunya tampaknya akan berhenti dulu beberapa menit. Gara-garanya, editor kami yang bernama Mas Adi menemukan kejanggalan dari kuesioner-kuesioner yang siap diedit dan dientry.
“Lung, Ini kok begini?” awalnya Mas Adi memanggil Pulung. Ada sesuatu yang salah di situ, Wilayah Cacahan Sano Nggoang. Lalu, setelah itu supervisor kami, Mas Ghulam, memanggil Mas Iwan dan Tamara, “Mas Iwan, Mas Iwan. Tamara, Tamara. Ini yang diambil sampelnya seharusnya bukan yang ini...” Yes! Kami salah ambil sampel di satu desa. Itu artinya REVISIT, kembali ke sana lagi. Terbayang perjalanan yang berkelok-kelok, berjam-jam, dan memabukkan. Kalau kata Jebraw di salah satu tayangan Jalan-Jalan Men! Episode Flores: “Gue saranin Lu minum obat anti mabok kalau mau berkendara di Flores!” Mas Iwan mendadak pusing membayangkannya. Kami yang sedang berkumpul di depan TV tiba-tiba cengoh terdiam beberapa saat mendengar berita buruk itu. Namun beberapa menit selanjutnya muka cengoh kami berubah menjadi muka ceria bahagia. Kami hanya bisa tertawa-tawa antara tertawa miris karena harus revisit atau tertawa senang karena ada saja yang bisa ditertawakan dan bisa kembali jalan-jalan menikmati alam. Semenjak peristiwa itu, muka Mas Iwan tiba-tiba berubah mimik menjadi mimik stress mendengar kata: REVISIT!
Revisit full team minus satu supervisor dan dua editor. Delapan enumerator tangguh siap kembali ke Sano Nggoang. Mas Supervisor memutuskan kami semua harus kembali ke sana biar pekerjaan bisa selesai dalam satu hari. Untungnya naik motor, jadi kemungkinan mabok darat bisa dihindari. Setengah hari naik motor kecepatan rata-rata 80 – 100 km/jam, di jalanan sepi berkelok-kelok laksana jalur jet coaster, menembus kabut malam, memandangi taburan bintang, melintasi lembah, bukit, ngarai, kampung-kampung, sawah, juga hutan. Kami laksana para bikers yang sedang touring menjelajah alam tak berbatas. Perjalanan sore sampai malam itu berlalu begitu cepat. Rasanya tak seperti sedang bekerja, tapi travelling. Itulah yang sering aku rindukan sekarang. Bekerja yang rasanya seperti tak bekerja saking klopnya kita dengan pekerjaan kita.
Revisit? Kenapa harus sedih ketika bisa dilakukan bersama-sama? Kenapa harus sedih ketika dengan begitu kita bisa lebih bisa menikmati kebersamaan?
***
Orang-orang sering takut berada di daerah jauh. Jauh dari kebiasaan, jauh dari apa yang disebut rumah, jauh dari fasilitas, jauh dari kata modern, jauh dari apa yang sering disebut kesenangan. Saat berada di tempat “jauh” itu, bisa jadi kita menemukan Tuhan. Bisa jadi juga kita akan kehilangan Tuhan. Menempuh perjalanan jauh berarti belajar memperkuat dan mempertahankan iman. Karena di sana kita akan disuguhi kejutan-kejutan yang terkadang memutarbalikkan pemikiran dan mengoyak hati yang ternyata masih lemah dan jauh dari kesempurnaan.
Berjalanlah lebih jauh jika kau masih punya kesempatan untuk melakukannya. Berjalanlah, beredarlah jangan berhenti. Bukankah kita baru boleh berhenti berjalan ketika nyawa sudah tidak diijinkan lagi bersatu bersama raga?

Rabu, 23 April 2014

MELEPAS RINDU DI SEMAK DAUN

Dalam setiap perjalanan yang jauh dari hingar bingar, kita akan menemukan kawan baru, saudara baru, cerita baru.

Mati gaya di kosan. Jari-jariku menyusuri berbagai akun jejaring sosial yang tersedia di ponsel. Jariku berhenti pada ikon burung biru. Twitter. Scroll, scroll, scroll, scroll. Lalu bola mataku tertumbuk pada satu status timeline. Open Trip Pulau Semak Daun #2 tanggal 12-13 April 2014.

Terbiasa bekerja di luar ruangan setiap hari tanpa terkungkung oleh kubikel-kubikel dan sudah enjoy dengan jam kerja yang jauh dari pola 8484 (masuk jam delapan pulang jam empat), butuh adaptasi ekstra. Merindukan perjalanan dan teman seperjalan yang biasa diajak berbagi seperti layaknya keluarga? Ya, tentu saja aku sangat merindukannya.

Maka, tanpa berpikir panjang – setelah mengajak kakak dan beberapa teman tapi tak ada yang bisa ikut – aku memutuskan untuk bergabung dengan trip Semak Daun dari Filosantara sendirian. Tak apa tak ada teman berangkat, toh niatnya kan berjalan lebih jauh sekaligus mencari teman seperjalanan kan?

Jumat malam, beberapa pekerjaan masih menumpuk. Tak yakin apakah esok hari bisa ikut trip atau tidak. Aku bertekad, pekerjaan harus selesai malam ini atau aku akan kehilangan satu kesempatan weekend yang tak tahu lagi kapan ada lagi. Alhasil, sampai setengah dua dinihari aku masih berkutat di depan laptop. Tidur dua jam. Packing kilat. Mandi kilat. Lalu bergegas menuju stasiun KRL Cikini seusai sholat shubuh, berlanjut menuju stasiun Jakarta Kota bertemu dengan beberapa kawan Filosantara, lalu naik taksi menuju Pelabuhan Muara Angke sebagai meeting point.

Pelabuhan Muara Angke jam enam pagi. Pelabuhan yang sudah seperti got dengan sampah bau bertebaran di sana sini sudah dipenuhi kapal-kapal yang siap mengantarkan para manusia pemburu liburan akhir pekan menuju Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Tidung, dan sekitarnya.

Tiga jam terombang ambing di Laut Jawa di atas atap geladak Kapal Dolphin menuju Pulau Pramuka. Ah, Laut, ombak, burung camar, ikan, bau air asin, deru mesin kapal, pulau-pulau kecil berpasir putih, atol, bakau, tertidur di atas kapal menatap langit luas. Lama sekali tidak merasakan kenikmatan seperti ini. Baru sadar, kalau waktu luang itu adalah salah satu kenikmatan yang terkadang secara tidak sadar telah aku khianati.

Pukul setengah sebelas siang kami sampai di Pulau Pramuka, pusat pemerintahan Kepulauan Seribu. Pulau kecil yang sudah cukup berkelimpahan fasilitas. Mungkin karena dia berada di pusat pemerintahan negara, akses mudah, fasilitas melimpah. Mulai dari rumah sakit, tempat ibadah, homestay, fasilitas MCK, kantor pos, ditambah kapal hilir mudik seharian. Beruntung di Jakarta ada tempat seperti Kepulauan Seribu. Ada tempat penyeimbang di dekat tempat yang teramat penat.

Snorkelling adalah salah satu aktivitas yang wajib dilakukan kalau kita sedang piknik ke pulau seribu. Sewa alat snorkelling, include snorkell, fin, dan pelampung cukup bayar Rp 25.000 per hari bisa puas mengamati laut dangkal dan ikan-ikan berseliweran sampai bosan.

Dan yang paling aku sukai dari trip ini adalah, tentu saja, camping! Ya, karena Pulau Semak Daun itu adalah pulau landai berpasir putih yang sangat sangat teramat kecil dan hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit untuk tahu segala sudutnya, serta tidak berpenghuni, tak ada sumber air tawar (dan harus beli Rp 5000 per jerigen dari penjaga pulau yang buka warung di sana), dan tak ada homestay, maka tiap pejalan yang ingin menginap di Pulau Semak Daun, mereka harus camping. Bagiku camping adalah salah satu media sosial yang ampuh mendekatkan satu orang dengan orang lain. Tidur satu tenda. Masak bersama. Makan bersama. Layaknya saudara. Layaknya keluarga. Itu terbukti. Dari tempat bernama tenda itu, orang-orang yang mempunyai nama Marul, Nia, Pita, dan Suci disatukan karena kebetulan menjadi teman satu tenda.

Semalam saja berada di Pulau Semak Daun, cukup untuk mengobati rindu nongkrong semalaman di dermaga sambil gitaran dan menyanyi di bawah cahaya bulan yang nyaris purnama, seperti di Maratua. Atau memandangi pulau sebelah dengan kelip cahaya buatannya seperti di tepian Pelabuhan Ende. Atau merasakan sepoi-sepoi angin di bawah rerimbunan pohon di depan rumah Bapak-Emak seperti di Labuan Bajo. Hanya kurang satu saja, tak kelihatan bintang bertaburan di angkasa karena tertutup mendung. L

Mengobati rindu pada laut (Pulau Air)


Menemukan Teman seperjalanan

There is no wifi in the forest. But I Promise you will find a better connection. There is no comfort bed in a tend, but I promise you will get a warmer connection. Thanks to Filosantara for the nice trip! :D

Rabu, 02 April 2014

#12 BERKUBANG: ANTARA SIAL DAN BERUNTUNG

Pasca petualangan di Sano Nggoang berakhir, kami sudah agak lega. Pasalnya, kata orang-orang, medan paling berat ada di Sano Nggoang, dan kami telah melewatinya. Perjalanan kami terus berlanjut, yang tadinya mengunjungi pulau kecil, menyusuri pesisir, menuju bukit, lalu  sebuah pegunungan berhawa dingin menanti kedatangan kami. Kecamatan Kuwus, masih di Kabupaten Manggarai Barat.
Dulu sih, dulu banget, aku berpikiran kalau seluruh daratan NTT itu pasti panas. Mungkin makanan otak sehari-hari yang tayang di media televisi dan dunia maya cukup memiliki peran penting meracuni batang otak dengan anggapan mainstream semacam itu. Atau, mungkin juga aku yang terlalu tidak peduli tentang semua yang sebenarnya ada di luar sana. Sebenarnya iya, NTT itu memang panas, di daerah pesisirnya atau dataran rendahnya. Tapi di Flores, ketika kita sampai di pegunungan, wuuuu, bakal menggigil siang malam.
Masih seperti minggu-minggu sebelumnya, kami menjadi enumerator bikers, naik motor sewaan. Kali ini motor sewaan dari tukang ojek yang biasa mangkal di dekat-dekat basecamp. Dan minggu-minggu di Kuwus, aku habiskan dengan partner lain lagi, yaitu Sandi. Pada minggu-minggu sebelumnya pasti ada saja kekonyolan yang terjadi jika ada Sandi di situ. Kekonyolan yang “menggemaskan”. Bagaimana dengan minggu-mingguku di Kuwus nantinya? Entahlah, kita lihat nanti.
Kelurahan Nantal, rumah milik Bapak Lurah menjadi persinggahan kami sementara waktu. Di Kuwus, aku merasakan toleransi antar umat beragama yang tak hanya wacana semata. Keluarga Bapak Lurah, umat Katolik yang taat. Istrinya seorang guru, dengan tiga anaknya yang masih sekolah dan tinggal serumah. Mereka menyambut kami, yang mayoritas muslim, dengan ramah, hangat, dan menyenangkan. Menyediakan tempat tidur, selimut, dan makanan – yang insya allah halal – setiap hari untuk kami.
Kuwus adalah daerah yang hampir 100%-nya adalah penganut agama non Islam. Masjid paling dekat letaknya puluhan kilometer jauhnya. Menjadi minoritas di suatu pulau, di sebuah negeri yang mayoritas muslim. Itu adalah sesuatu yang baru bagiku. Karena biasanya, di manapun aku berada, aku selalu masuk ke dalam golongan mayoritas. Beberapa teman sempat mewanti-wanti, “Sholatnya dijaga, hati-hati pilih makanan, hati-hati ilmu hitam, hati-hati diguna-guna.”
Ketidaktahuan terkadang membuat kita paranoid terhadap sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Aku selalu teringat nasehat ibuku, “Kalau kita berbuat baik pada orang lain, orang lain pasti akan berbuat baik juga pada kita.” Juga nasehat dari Bapak Labuan Bajo di minggu pertama kami sampai di Flores, “Kalau niat kita baik, kita pasti akan dilindungi, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.”

Sawah

Babi

mataair

***

Selasa, 11 Februari 2014

#11 PINDAH SESI 2: MABUK KEPAYANG


Bau tanah basah, suara gemericik air, dingin yang malas, suara bruk brak bruk dari dua kamar yang bersebelahan. Hari itu hari pindahan. Meninggalkan Sano Nggoang dengan segala cerita yang sudah jadi masa lalu. Kucuran air langit bukan semakin berkurang, intensitasnya malah semakin menjadi. Ruang tamu basecamp penuh dengan bersebelas orang yang mulai terbiasa tinggal serumah. Bercengkerama, terkadang saling menjahili, cerita absurd, menganiaya yang bisa dianiaya, tertawa tak berhenti, sampai menangis, sampai perut sakit, lalu diam dan bosan. Hari pindahan adalah hari menunggu yang sangat santai. Menunggu kendaraan angkutan bisa dilakukan dengan menjemur cucian mulai dari basah sampai kering lagi. Tapi tentu saja tidak untuk hari itu. Mendung sedari pagi kemudian berlanjut presipitasi menghentikan kemilau matahari pagi yang biasanya berlanjut terik kala siang menyapa.
Hujan masih tak mau beranjak ketika oto angkutan kami datang. Kali ini bukan lagi truk sapi seperti kali pertama kami pindahan. Oto yang kami tumpangi adalah angkot disko berjalan yang biasa dipakai penduduk pada umumnya. Disko berjalan? Ya, kedatangan oto jenis ini sangat mudah ditengarai dari jauh. Speaker yang dipasang di atas deretan bangku penumpang selalu menggema dengan musik-musiknya yang rancak dan bersemangat. Musik dengan lagu cengeng pun jadi tak kedengaran seperti lagu cengeng lagi karena sudah diremix habis-habisan jadi musik disko. Lalu apakah penumpangnya juga bergoyang? Absolutely, yes! Meskipun si penumpang pada dasarnya duduk manis di atas kursinya, dijamin dia pasti bergoyang. Bergoyang ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang melewati jalanan berbatu mengocok badan di tengan hutan. Kalau sudah sampai ke jalan aspal apalagi aspal hot mix, jangan kira goyangnya akan berhenti. Justru semakin bertambah. Karena laju oto akan semakin tak terkendali melewati jalan menukik atau menurun tajam, berbelok hampir 180 derajat mengikuti alur jalan yang lebih mirip jalur jet coaster ketimbang jalan raya antar kabupaten.
            Itulah, itu dia faktor utama para penumpang yang tak terbiasa naik oto disko berjalan , hampir dari setengahnya tepar, mabuk darat sampai muntah-muntah. Hampir setengah hari berada di atas oto yang terus melaju mengocok-ngocok kepala sampai perut, empat orang tim kami tak berdaya, memegang plastik kresek hitam tempat muntahan di tangannya masing-masing, sibuk mencari minyak kayu putih untuk digosokkan di tengkuk, perut, atau bagian tubuh yang butuh kehangatan. Mereka yang sama sekali tak pernah mabuk darat tiba-tiba menderita mabuk darat akut!
            Untungnya, segepok snack bermerk Namiki yang kami beli pagi hari di pasar depan basecamp Sano Nggoang ditambah pemandangan sabana, sawah, beserta hijau-hijauan lain yang terhampar luas menjadi penangkal anti mabuk bagi tujuh orang anggota tim lainnya. Kala malam menjelang, purnama menyertai, taburan bintang di langit sana dan bintang di permukaan bumi menjadi teman perjalanan yang bakal dirindukan nanti, kala kami sudah kembali ke rutinitas di tempat kami tinggal masing-masing. Perjalanan itu kami akhiri lepas seperempat malam, di sebuah basecamp yang merupakan rumah kepala Kelurahan Nantal. Kami sampai di Kecamatan Kuwus, GPS menunjukkan altitude >1.300 meter dari permukaan laut. Hawa memang agak sedikit lebih hangat dari Dieng. Tapi tetap, hari-hari berikutnya bakal jadi hari-hari yang teramat dingin, kapten!  

Kayak begini nih bentukan oto disko berjalan di Manggarai. Yang kami tumpangi namanya "Kasih Sayang" #KameraHPTemenGue

Jumat, 07 Februari 2014

#10 MANGGARAI BARAT: KOPI DAN KERAMAHANNYA

“While we don’t advocate walking through areas known to be unsafe , we have found that neighboorhoods that appear sketchy or dirty on the surface are often those with the friendliest and warmest people around. There’s value in appreciating and respecting those whose living conditions are different than our own. And you may just learn a thing or two from how people in such conditions engage in and often embrace life “
(Daniel Noll, 7 Ways To Travel Outside Your Comfort Zone)

Sebuah perkampungan bernama "Naga" di Kabupaten Manggarai Barat

Jangan menilai isi buku dari sampulnya. Pepatah yang tak asing lagi. Sampul di Indonesia timur secara umum tergambar sebagai wilayah dengan penduduk berkulit gelap, tampilan garang, bahkan kasar. Juga sering digambarkan dengan wilayah tertinggal jauh dari akses dan fasilitas umum. Sampul yang demikian membuat beberapa orang di luar lingkungan timur Indonesia mungkin takut untuk tinggal atau menetap di sana.
Surat kabar cetak ataupun elektronik seringkali memberitakan tentang pengeroyokan, penyerangan, atau tindakan brutal lainnya yang dilakukan oleh rakyat Indonesia timur. Pemberitaan terus menerus dan sering, membuat mindset masyarakat yang tak tahu keadaan sebenarnya, diarahkan menuju mindset negatif juga. Otakku pun sempat juga tercuci dengan anggapan demikian. Dan teori-teori tadi terpatahkan setelah aku berkesempatan berada di salah satu belahan Indonesia timur hampir selama dua bulan lamanya. Sejalan dengan apa yang dituliskan oleh Daniel Noll, tempat yang dianggap terbelakang atau anggapan minus lainnya, bisa jadi menyimpan kehangatan dan keramahan lebih dari yang kita kira.
Manggarai. Nama tempat yang sepertinya tak asing lagi. Ya, kalau menyebutkan nama Manggarai, pikiran mayoritas orang Pulau Jawa pasti larinya ke tempat seputaran ibukota. Tapi Manggarai ini lain, dia ada di belahan pulau lain dan masih di Indonesia. Wilayah Manggarai Raya, salah satunya adalah Kabupaten Manggarai Barat, berada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Berada di sana dan menjadi manusia nomaden selama dua bulan, memaksaku berinteraksi dengan masyarakat lokal setiap harinya, menyelami permukaan demi merasakan kebudayaan yang ada di sana.
Kopi Manggarai. Biji hitam komoditi lokal kualitas internasional. Manggarai, adalah salah satu surga kopi nusantara. Minum kopi nampaknya menjadi suatu keharusan jika berada di sana. Menyuguh tamu dengan kopi arabica lokal menjadi kebudayaan yang sudah berlaku turun temurun, terutama bagi masyarakat pegunungan. Bahkan, meskipun tamu itu sendiri adalah tetangga samping rumah yang juga punya berkilo-kilo kopi hasil kebunnya sendiri, suguhan kopi tetap menjadi suatu keharusan. Bubuk kopi di sana pada umumnya adalah olahan lokal, tanam sendiri, petik sendiri, jemur sendiri, sangrai sendiri, tumbuk sendiri. Mabuk kopi rasanya, setiap masuk ke rumah warga, beberapa menit seusai meletakkan pantat dan memperkenalkan diri, segelas kopi pekat manis sudah terhidang di hadapan kita. Para pecinta kopi pasti bahagia berada di sana, menikmati bergelas-gelas kopi panas sekaligus merasakan kehangatan silaturahmi warga daerah.
Kalau berkunjung ke rumah warga Manggarai, selain hilang dahaga, dijamin juga tak akan kelaparan jika kunjungan dilakukan saat jam-jam makan. Penduduk Manggarai pantang membiarkan tamunya pergi kelaparan. Meskipun mereka sedang tak punya apa-apa untuk disuguhkan, mereka akan mencari apapun agar tamunya bisa makan. Meski dengan lauk sangat-sangat sederhana dan seadanya, ini adalah salah satu cara untuk menghormati tamunya. Bagi muslim, tenang saja. Warga tak akan menyuguhkan makanan dari babi hitam hasil ternak karena mereka tahu muslim tidak makan babi dan babi pada umumnya digunakan untuk keperluan pesta saja, terutama sebagai belis dalam adat pernikahan.
Belis bisa dikatakan adalah mas kawin yang harus dibayarkan oleh calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan. Tidak hanya di Manggarai saja, syarat belis sebenarnya berlaku hampir untuk seluruh suku-suku asli penghuni Nusa Tenggara Timur. Keluarga si perempuan biasanya menentukan belis apa saja yang harus ada sebagai syarat sahnya pernikahan. Jika pihak laki-laki tidak bisa memenuhi syarat belis dari pihak perempuan, jangan harap pernikahan bisa segera dilangsungkan. Bentuk belis bisa bermacam-macam tergantung dari asal daerah dan keinginan keluarga si perempuan. Binatang ternak seperti babi, kuda, kerbau, sapi menjadi salah satu pilihan belis. Ada juga daerah yang mensyaratkan gading gajah sebagai belis, atau tambahan kain songke hitam bermotif wajik colorful, tenun khas suku Manggarai. Belis yang diminta, terkadang tidak hanya satu atau dua binatang ternak, namun bisa jadi puluhan atau ratusan binatang ternak yang jika dikalkulasikan nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah! Karena saking beratnya belis yang dibayarkan, keluarga mempelai laki-laki biasanya dibantu oleh masyarakat satu kampung atau satu desa dengan sumbangan ternak yang juga tak hanya satu-dua ternak saja. Soal adat belis ini, seorang warga suku asli Manggarai pernah berbicara kepadaku, “Nona, sebenarnya masyarakat Manggarai itu kaya-kaya. Lihat saja kami punya kebun berhektar-hektar dan ternak berpuluh-puluh. Tapi tetap saja mereka habis untuk bayar belis. Itu memang adat di sini.”
Segelas, dua gelas, tiga gelas Kopi Manggarai setiap hari. Surga kopi.
Di Manggarai, jika niat kita baik, tak perlu takut untuk minta izin menginap seandainya pulang kemalaman. Justru mereka biasanya menyarankan kita untuk menginap dan dengan senang hati membagi tempat tidurnya dan mencukupi kebutuhan makan kita. Selain ramah, masyarakat Manggarai dikenal sebagai masyarakat yang selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Mereka sering meminta maaf. Kata-kata neka rabo hampir selalu muncul pada tiap percakapan. Neka rabo, bahasa Manggarai yang berarti “jangan marah”. Jika kata-kata itu muncul, artinya mereka ingin meminta maaf. Saat mereka kelupaan memberikan sesuatu, “Nona, saya lupa. Jangan marah ee.” Saat merasa apa yang diberikan tidak berkenan di hati, “Neka rabo, jangan marah ee.”
Manggarai, berada di sana yang awalnya sangat asing, lama-lama menjadi tempat yang terasa dekat di hati. Mengenal dan tahu budaya tanah lain dengan kondisi yang sangat berbeda dengan tanah kelahiran. Belajar cara-cara lain menghadapi hidup. Itu sudah. J

Selasa, 04 Februari 2014

#9 KERUMITAN SANO NGGOANG

Manusia Merencanakan, Tuhan Mengeksekusi


Lihat Peta Lebih Besar
Rute perjalanan kami. Dari Selatan Danau, menuju Golo Manting (B) lalu ke desa sebelahnya, terakhir ke Golo Sengang (A)

         Wilayah cacahan kedua, Kecamatan Sano Nggoang, adalah wilayah yang rumit. Rumit di sisi topografi dan rumit di sisi sampling data. Supervisor kami mempunyai satu kebijakan dalam pembagian tim di setiap wilcah. Setiap tim terdiri dari dua orang, dan membawa satu motor sewaan. Karena jumlah laki-laki dan perempuan dalam tim kami sebanding, maka tiap tim enumerator terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Semuanya jadi empat tim. Diacak untuk setiap wilayah cacahan. Jadi tidak melulu si A selalu berpartner dengan si B. Itulah salah satu faktor yang membuat tim kami, tim DG, menjadi cukup solid dan hampir tanpa konflik.
            Kami tiba di Sano Nggoang, H-2 Lebaran Kurban. Hari pertama, karena masih belum mendapatkan motor sewaan, kami masih berkutat di desa sekitar ibukota kecamatan yang bisa diakses dengan mudah, Golo Mbu dan Wae Sano. Hari berikutnya, baru kami berencana untuk menyebar ke bagian desa kami masing-masing. Seperti yang aku bilang sebelumnya, Sano Nggoang memiliki wilayah yang cukup rumit dalam hal topografi. Jarak desa-desa yang dijadikan tempat pengambilan data bisa dibilang cukup jauh, eh tidak, sangat jauh dari pusat kecamatan. Hanya dua desa sampel saja yang accessable.
            Aku dan partner keduaku, Pulung, anak muda asal Depok yang satu kampus denganku, kebagian desa yang namanya Golo Manting dan Golo Sengang. Golo dalam bahasa Manggarai berarti gunung. Itu artinya, desa yang kami datangi letaknya di daerah yang bergunung-gunung semua. Awalnya, kami berencana menjadi enumerator commuter, pergi lalu pulang pada hari yang sama. Pertimbangannya, esok hari adalah Idul Adha, dan kalau bisa pulang ke basecamp, kenapa tidak pulang? Apalagi, pemilik basecamp sudah menyiapkan kue lebaran untuk esok hari. Sayang kan kalau tidak pulang?
            Namun harapan kami mendadak pupus tatkala Supervisor dan Pak Camat mengatakan kenyataan pahit. Kata supervisor, “Kalian nanti nginap saja, jauh soalnya. Katanya dua jam dari sini. Jangan bayangkan dua jamnya kayak di Jawa ya,” Dan kata Pak Camat, “Lebih baik menginap, nanti capek kalau bolak-balik. Penduduk sini saja kalau ke sana lebih memilih menginap lalu pulang esok harinya. Nanti di sana ada masjid juga, bisa sholat Idul Adha di sana.” Baiklah. Kami memutuskan untuk membawa perbekalan menginap semalam saja. Menjadi perantau di tanah perantauan kala hari raya. Namun kami tetap menyimpan setitik harapan agar bisa pulang ke basecamp hari itu juga.
            Motor Mega Pro milik kecamatan dengan gagahnya mengantar kami menuju desa nun jauh di sana. Melaju melewati jalanan berbatu bercampur tanah. Melintasi aliran sungai-sungai kecil. Tanpa helm. Iya, tanpa helm. Karena di sana mungkin helm belum populer. Eh tidak, karena di sana tidak ada traffict light, tidak ada polisi lalu lintas, dan tidak ada produk helm yang dijual sampai di sana. Kendaraan bermotor saja jarang. Mungkin rugi juga kalau jualan helm di sana, biaya distribusi mahal, dan harga jual pasti juga jadi mahal, ujung-ujungnya nggak ada yang beli. Kehati-hatian dalam berkendara menjadi penting, untuk menjaga agar nyawa tetap berada di dalam raga, melewati jalan keras berbatu yang terkadang bersisikan jurang.
            Hanya ada satu jalur jalan yang menjadi penghubung antara pusat kecamatan dengan desa-desa tujuan kami. Awalnya hanya aku dan Pulung yang melintasi jalur itu. Tapi ternyata di belakang kami ada kawan kami yang lain, Dev dan Mbak Prima yang melewati jalur yang sama. Dan satu lagi, Sandi. Hari sebelumnya, Sandi sudah dibantu oleh yang lainnya menyelesaikan desa bagiannya. Kali itu, giliran dia membantu kawan yang lain. Katanya, desa yang mereka tuju lebih dekat jaraknya. Tapi, sebaiknya sih, jangan percaya dengan katanya. Karena bisa jadi kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan katanya.
            Hampir dua jam kami berkendara, perut terkocok-kocok akibat medan jalan yang tidak bersahabat dengan kendaraan bermotor biasa. Sangat dianjurkan untuk memakai kendaraan off road jika ingin berkendara di sana. Kata Tamara, temanku dari Kupang, wanita hamil bisa langsung keguguran kalau naik motor di jalan semacam itu. Benar kata Pak Camat, sangat tidak memungkinkan untuk bolak-balik basecamp-desa sampel, badan pasti remuk. Dua jam perjalanan, serasa berjam-jam lebih lama, jalan seakan tanpa ujung.
            Lalu bagaimana nasib Mbak Prima, Dev, dan Sandi? Yang katanya desa tujuan mereka jauh lebih dekat, ternyata sama jauhnya dengan desa tujuanku. Memang sih, desa mereka adalah desa pertama yang ditemui setelah desa terakhir di dekat ibukota kecamatan, dan itu bersebelahan langsung dengan Golo Manting yang hanya dibatasi sungai. Dan apesnya, saat itu aparat desa setempat yang hendak diwawancara sedang tidak ada di tempat karena sedang ada urusan pembagian Raskin di ibukota kecamatan. Para aparat baru kembali ke desa malam harinya atau esok pagi. Alhasil, mereka bertiga memutuskan untuk membantu kami menyelesaikan tugas kami di Golo Manting dan Golo Sengang sampai esok harinya tanpa persiapan dan perbekalan untuk menginap. Skenario matang sudah kami persiapkan dan tersusun benar-benar rapi dan ideal menurut kami. Siang sampai malam melakukan pengambilan data di Golo Manting, malam dan pagi ke desa sebelah, pagi sampai siang berikutnya ke Golo Sengang, lalu pulang. Tapi apalah arti rencana matang kalau Tuhan tidak mengizinkan rencana itu terlaksana?

Senin, 03 Februari 2014

#8 SELAMAT DATANG DI SANO NGGOANG: DANAU YANG BERCAHAYA

         Selama ini, obyek wisata danau paling terkenal di Pulau Flores dan sudah mendunia adalah Danau Kelimutu yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Taman Nasional. Bahkan saat ini, setiap tahun rutin diadakan Festival Danau Kelimutu. Belum terlalu banyak yang tahu, selain Danau Kelimutu sebenarnya ada satu danau lain yang berukuran beberapa kali lipat lebih besar, yaitu Sano Nggoang. Dalam bahasa Manggarai, Sano berarti danau. Dan Nggoang berarti bercahaya. Jadi, secara harfiah Sano Nggoang bisa diartikan sebagai “Danau yang Bercahaya”. Salah satu wilayah administratif di Kabupaten Manggarai Barat menggunakan nama danau ini sebagai dasar toponimi kecamatannya.
Sano Nggoang kala senja, dari Sabana Desa Waesano. Hampir menyerah untuk bisa sampai sini :p

            Jika melalui jalur darat antar kecamatan, butuh waktu sekitar empat jam sampai ke sana dari Dalong yang berada di Kecamatan Komodo naik oto (Masyarakat sekitar biasa menyebut mobil dengan istilah oto). Untuk sampai sana, kami musti melintasi satu kecamatan terlebih dahulu, yaitu Kecamatan Mbeliling. Tadinya kami berencana naik satu-satunya bus yang menghubungkan Labuan Bajo dengan Sano Nggoang. Tapi karena busnya lewat lebih cepat dan kami kesiangan siap-siap, lewatlah satu kesempatan emas itu. Mau tak mau kami harus cari oto sendiri. Sebenarnya kami sempat kesulitan mencari oto yang mau disewa sampai ke sana. Kebanyakan sopir oto tidak berani mengambil resiko membawa kami beserta barang-barang kami yang seabrek ke sana. Kata mereka, itu terlalu beresiko saking buruknya akses jalan yang harus dilewati. Saat bingung mencari kendaraan yang mau mengangkut kami, lagi-lagi bantuan datang dari Bapak (makasih bapak J). Berkat beberapa bantuan dari beliau, kami akhirnya bisa dapat kendaraan. Berupa satu kendaraan besar yang disebut..., truk sapi! Iya, truk sapi. Satu-satunya kendaraan yang mau berbaik hati mengangkut kami. Oke, tak apa. Setidaknya aku bisa nostalgia naik truk sapi kegencet-gencet saat KKL III di Kabupaten Banyuwangi dahulu kala. Setidaknya sih, truk sapi di Flores lebih gede, dan nggak bakal kegencet-gencet juga karena kami cuma bersebelas. *abaikan*
            Flores. Kabupaten Manggarai Barat, menuju Kecamatan Sano Nggoang. Sungguh, ini tempat yang indah mempesona. Lanskap bergunung-gunung tiada berbatas. Tak ada jarak antara kita dengan alam. Pucuk-pucuk pepohonan berdaun putih kehijauan pucat terhampar luas, lautan pohon kemiri. Pun dengan kopi. Atau ada juga kakao. Tempat di mana manusianya belum terlalu overdosis untuk menguasai apapun yang dipunyai bumi. Tempat di mana sapi, kambing, kerbau, dan binatang ternak lain tak perlu dikandangkan. Cukup biarkan mereka hidup bebas berkeliaran di lapangan atau kadang juga di jalan-jalan. Tak ada yang takut kehilangan mereka.
            Kabupaten Manggarai Barat adalah kabupaten yang tergolong muda, salah satu hasil pemekaran wilayah pada tahun 2003. Dulunya, Manggarai Barat menjadi satu kesatuan dengan Kabupaten Manggarai dengan Ruteng sebagai ibukotanya. Saking luasnya wilayah pemerintahan Kabupaten Manggarai menjadi salah satu penyebab terjadinya pemekaran, menjadi Kabupaten Manggarai yang tetap beribukota di Ruteng, Kabupaten Manggarai Barat yang beribukota di Labuan Bajo, dan juga Kabupaten Manggarai Timur yang beribukota di Borong. Bisa dikatakan, Manggarai Barat baru mulai merangkak. Masih banyak desa-desa yang jauh dari keterjangkauan, beberapa daerah yang jauh dari ibukota kabupaten belum teraliri listrik sama sekali dari PLN, ada juga yang memakai lampu tenaga surya dari PLN, dan beberapa lainnya sudah terjangkau kabel-kabel PLN. Semakin jauh dari ibukota kabupaten, semakin buruklah infrastruktur, dan semakin minimlah fasilitas umum. Begitupun dengan Kecamatan Sano Nggoang.
            Basecamp kami terletak di pusat kecamatan. Meskipun pusat kecamatan, daerah tempat kami tinggal sangat amat bebas dari polusi dan kebisingan kendaraan. Karena kendaraan yang lewat di situ setiap hari bisa dihitung dengan jari. Depan basecamp, terdapat pasar “paling besar” di Sano Nggoang. Buka seminggu sekali saja, dari pagi sampai siang. Ketika hari pasar, oto-oto disko berjalan memenuhi jalan ibukota kecamatan. Di luar hari itu, maka pasar kembali sepi. Di sekeliling basecamp, lansekap pegunungan tinggi menjulang. Hawa tak lagi panas seperti basecamp sebelumnya. Sebelah timur, beberapa ratus meter dari basecamp, mengalir sungai teramat jernih, tempat favorit editor kami untuk mencuci sambil mengambil air untuk keperluan MCK di basecamp.  Beberapa kilo barat daya basecamp, tersebutlah danau paling besar di sana, Sano Nggoang. Danau air belerang, bekas kawah hasil aktifitas vulkanik tua, berbau busuk, berair hangat, berwarna hijau berkilau. Di balik keindahannya, wilayah ini menyimpan cerita-cerita tak terlupakan bagi kami, para pemburu data.
Aku beruntung, kebagian  cari data di desa yang nglewatin tempat dengan view seindah ini :D


Minggu, 19 Januari 2014

#7 ROMANSA CINTA DI TEPIAN LABUAN BAJO

Depan rumah Bapak dan Emak. Menghadap Laut Flores


Ikan hasil tangkapan Bapak. Siap dibakar untuk makan siang :D
        Kalau kalian kira ini tentang kisah romantisku dengan seseorang di Labuan Bajo, kalian salah. Ini adalah cerita tentang Emak dan Bapak. Dua orang responden yang pernah kami temui dan sudah seperti orang tua kami sendiri. Dua manusia sederhana dan menjalani kehidupan sebagaimana adanya. Dua sosok manusia yang menurutku, harus aku ceritakan dalam salah satu episode jurnalku selama hampir dua bulan di Flores. Aku mengenal beliau berdua memang belum lama, namun cerita tentang mereka mampu membekas lama dalam ingatanku, ingatan kami, tim DG.
            Bapak orang Suku Ende. Tanah lahirnya di Kabupaten Ende. Badannya tinggi besar, kokoh, kulitnya legam terbakar matahari. Seorang nelayan tradisional yang mengarungi laut dengan ketinting kecilnya setiap malam, berharap mendapat ikan setiap melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Pertama kali ketemu Bapak, garis muka tegas dan keras milik beliau membuat aku sedikit takut. Kesannya sangar, suaranya besar. Setiap orang yang pertama ketemu beliau mungkin juga punya kesan pertama yang sama denganku.
            Entah bagaimana ceritanya Bapak bisa sampai di Labuan Bajo, aku tidak begitu tahu. Beliau sudah berpuluh-puluh tahun menetap di sana. Mungkin sejak aku belum lahir ke dunia ini. Bapak adalah salah seorang pemimpin kampung di sana, Kampung Ujung namanya. Letaknya di bagian utara Kelurahan Labuan Bajo, di pinggiran pesisir. Rumah beliau sederhana. Sangat sederhana. Di belakang rumah, pepohonan asam tumbuh tinggi menaungi tanah, menjadi perindang di kala matahari menyengat terik. Begitupun di depan rumah, pohon dengan buah-buahnya yang masam berserakan di tanah, memberi oksigen dan kesegaran di kala siang.
            Emak berasal dari Jawa, Jawa Tengah. Berpuluh-puluh tahun lalu Emak merantau. Sampailah misi perantauan Emak sehingga akhirnya terdampar di Pulau Flores. Mengadu nasib dengan berjualan soto di sana, bersama orang-orang Jawa lainnya. Sampai akhirnya, Emak ketemu Bapak. Bapak melamar Emak. Kemudian mereka berdua menikah dan tinggal bersama. Saat itu, aku sempat bertanya kepada Emak, “Gimana dulu kok ceritanya bisa sama Bapak?” Iseng aja sih tanya. Eh, ternyata Emak malah cerita banyak.
Awalnya, Emak hanya berniat berdagang soto di sana. Bermodalkan kemampuannya memasak, dan dilengkapi perlengkapan dan perabotan seadanya. Tak dinyana, Emak malah ketemu pujaan hatinya di sana. Kata Emak, Bapak itu baik. Bapak itu setia. Bapak itu bisa dipercaya. Itu kenapa Emak suka Bapak. Itulah kenapa juga Emak setia dengan Bapak. Bapak pernah punya istri sebelum dengan Emak, sampai akhirnya Bapak dan istrinya yang dulu berpisah. Mereka berpisah dan meninggalkan banyak hutang. Harta rumah sudah habis. Saat Emak jadi istri Bapak, Emak rela menjual harta berharganya: perabot dan perkakas lainnya yang biasa digunakan untuk menjual soto, akhirnya dijual untuk menutupi utang yang pernah ditinggalkan mantan istri pertama Bapak. Berat memang. Tapi Emak bilang beliau percaya Bapak. Mereka adalah salah satu pengejawantahan teori memberi dan menerima. Take and give.

Sabtu, 11 Januari 2014

FACING A MOUNTAIN

Masih banyak yang ingin aku tuliskan tentang perjalanan sepanjang Oktober – November di NTT tahun lalu. Tapi ada satu hal yang membuatku sangat ingin menuliskan hal lain yang aku lakukan awal Desember lalu. Tentang mendaki gunung.
Aku bukan orang yang sering mendaki gunung. Akhir tahun 2013 lalu baru kali pertama aku menginjakkan kaki menapaki sebuah gunung yang katanya cocok didaki oleh para amatiran sepertiku, Gunung Merbabu. Kami mendaki via Selo, Kabupaten Boyolali. Track untuk para amatiran itu nyatanya mampu membuatku mengerti apa yang sering dituliskan oleh banyak orang tentang filosofi pendakian.
Mendaki gunung adalah salah satu cara mengenali diri sendiri. Mengenali bagaimana diri sendiri menghadapi dan menjalani kehidupan dan mengukur kemampuan diri masing-masing. Ada beberapa benang merah antara mendaki gunung dengan bagaimana sebaiknya menjalani hidup.

Puncak Triangulasi Gunung Merbabu. (IG: @putrimaru)

Pertama. Kebanyakan pendaki, apalagi yang masih amatiran biasanya terlalu semangat berjalan di awal, loyo ketika akhir. Begitu kan? Ketika awal-awal, semangatnya minta ampun, ketika hampir usai, rasanya sudah mau menyerah saja. Padahal sudah benar-benar hampir usai. Orang-orang bilang, saat mendaki gunung, pendaki harus tahu kapan harus berhenti, berapa lama dia sebaiknya berhenti, dan kapan harus berjalan lagi. Sehingga dia tak akan kehabisan tenaga ketika sudah hampir garis finish. Iya, hidup sebaiknya juga begitu kan? Menjaga ritme, berusaha konsisten, dan bersabarlah sampai garis finish. Step by step.
Kedua. Kata seorang teman, tujuan mendaki gunung bukanlah puncak, puncak itu bonus. Yang penting, bisa pulang ke rumah dengan selamat. Puncak adalah ambisi. Iya, mengikuti ambisi tidaklah salah. Itu hak prerogatif setiap orang. Jika dia mampu mencapainya, kenapa tidak? Tapi yang penting, dalam hidup, sekali lagi, adalah “pulang” dengan “selamat”. Kembali ke rumah yang sebenarnya, bertemu Tuhan dengan selamat. Capaian selama hidup: jabatan, materi, prestasi, itu adalah bonus.
Ketiga. Memilih jalur pendakian adalah salah satu seni mendaki gunung. Kadang jalur pendakian tak hanya satu. Pun ketika sudah memilih satu jalur masuk, selama perjalanan masih ada jalan bercabang. Hidup juga begitu. Biar kata tak ingin pusing-pusing memilih salah satu di antara dua atau banyak lainnya, nyatanya mau tak mau tetap harus memilih salah satu saja kan biar bisa sampai tujuan? Itu juga seninya hidup, seni memilih XD
Keempat. Camp adalah tempat yang nyaman. Tempat yang hangat untuk tidur, nyaman untuk singgah, dan mampu melindungi para pendaki dari dinginnya dunia luar. Kadang, kalau sudah nyaman di camp, susah rasanya mau beranjak. Beranjak menuju puncak, maupun beranjak turun kembali ke rumah. Tapi faktanya, tidak mungkin kan selamanya singgah di camp? Kalau kelamaan, persediaan logistik bakal habis. Mau beli di mana? Tempat yang awalnya nyaman pun lama-lama jadi tidak nyaman. That’s why, we are supposed to go out of the box. Keluar dari zona nyaman dan melanjutkan perjalanan, mengembangkan diri. Aja mung ndheprok ndhodhok ana kono thok. Jangan cuma duduk manis di situ-situ saja.
Well, sebenarnya masih ada filosofi lain. Tapi empat itu yang paling mengganggu pikiranku dan minta dituliskan di laman sederhana ini. :)

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.