Senin, 16 Desember 2013

#5 BASECAMP PERTAMA: MEMULAI PETUALANGAN

           


          Basecamp pertama kami adalah rumah kosong milik salah satu staff kecamatan yang jarang ditempati oleh si empunya rumah. Jaraknya sekitar satu jam dari bandara naik kendaraan bermotor. Rumah dari bilah-bilah papan yang disusun miring beratapkan seng, di tepi jalan aspal Trans Flores, di pojokan tanjakan yang dinamakan tanjakan Dalong. Konon katanya, keahlian seorang sopir bisa diukur dari seberapa bisa dia melalui tanjakan ini. Tanjakan yang menikung dan menanjak tajam. Saat kami tiba di sana saja, malam harinya baru saja terjadi tragedi. Sebuah truk pengangkut pipa dari Surabaya yang melintas pada dini hari, tidak bisa mengendalikan laju kendaraan. Alhasil, alih-alih melaju tepat di jalurnya, truknya malah tak terkendali kemudian oleng menimpa sebuah rumah yang dibangun tepat di tepian tanjakan, jaraknya dua rumah dari basecamp kami. Untung tak ada korban jiwa. Katanya sih, rumah-rumah di dekat tanjakan itu sudah sering menjadi korban dari keganasan Tanjakan Dalong. Truk itu sampai hampir seminggu bersarang di sana, menunggu bos dari Surabaya untuk mengatasinya dan mengganti kerugian atas musibah yang terjadi. Jalan di depan basecamp memang jalur utama antar kota antar kabupaten, jadi tak heran kalau banyak kendaraan besar yang sering melintas. Makanya, setiap ada truk atau bus, atau kendaraan besar lainnya lewat dan suara kendaraan sudah tersendat-sendat, kami sering melongok-longok keluar rumah, khawatir akan terjadi tragedi yang berulang.


            Setiap pagi sebelum ngenum kami habiskan buat antri di kamar mandi belakang gereja atau di sungai. FYI, air PAM di basecampku tidak bisa mengalir lancar. Tersendat-sendat. Beberapa hari sekali baru keluar, itu pun cuma mampu mengisi sepersekian bagian bak, kemudian mati dan tak mengalir lagi sama sekali. Dua tempat dari sedikit tempat lain yang menerima aliran air “cukup” di desa tempat aku tinggal adalah di kamar mandi belakang gereja atau kamar mandi SD di belakang gereja juga, yang jaraknya kira-kira beberapa ratus meter menurun dari basecampku. Penduduk sekitar, terutama anak-anak sekolah biasanya juga mandi di sana. Atau, kalau mau tidak antri dan mau mandi bareng, bisa mandi di sungai dengan debit tak seberapa yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari basecamp. Dan itulah yang biasa dipilih para lelaki di timku. Mandi berlama-lama di sungai sekalian nyuci baju.
***
“Marul, kamu kebagian di Labuan Bajo ya...,” hari pertama ngenum supervisor atau SPV kami menugaskan aku dan tiga teman lainnya ke Kelurahan Labuan Bajo. Jaraknya satu jam naik motor kalau dari basecamp. Partner pertamaku adalah Mas Iwan, sama-sama dari Jogja. Orang tertua menurut umur di timku tapi tidak tertua menurut parameter lainnya. Selain itu, dua orang lainnya yang kebagian ngenum di Labuan Bajo adalah Linda dari Blitar dan Dev yang asli Kupang. Empat orang enumerator lainnya, mbak Prima orang Jogja, Pulung orang Depok, Tamara asli Kupang, dan Sandi putra Palembang kebagian tugas di sekitar basecamp.
Perjuangan ngenum kami mulai dengan melacak keberadaan rumah responden, mencari-cari keberadaan responden, bertanya ke sana kemari. Mengejar responden meski sudah pindah. Mengobrol berjam-jam bersama mereka, dan menikmati pemandangan tepi pantai setiap hari. Secara, kebanyakan responden rumahnya tepat di tepi pantai dan menghadap ke pantai.
Di Labuan Bajo juga inilah, kami bertemu sepasang suami-istri responden yang kelak akhirnya seperti Bapak-Emak buat kami. Jadi ceritanya, beliau berdua itu respondennya Linda dan Dev. Bapak asli suku Ende. Pulau Flores juga sih, tapi beda Kabupaten dengan Manggarai Barat. Kalau Emak itu sebenarnya orang Jawa, tapi sudah lama tinggal di Flores. Ketika mereka ketemu Linda yang sekali ketemu langsung dianggap anak sendiri itu, tiap hari mereka masakin makanan buat Linda dan minta Linda mampir tiap hari ke rumah mereka. Pada akhirnya, bukan cuma Linda atau Dev aja yang sering mampir ke sana. Teman yang lain, termasuk aku akhirnya juga suka mampir bersantai di rumah Emak dan Bapak. Nanti aku ceritakan sendiri bagian khusus tentang Bapak dan Emak. Sebelum itu, aku akan menceritakan tentang sebuah pulau kecil yang namanya Pulau Seraya Kecil. (bersambung)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.