Rabu, 04 Desember 2013

#4 SELAMAT DATANG DI LABUAN BAJO


Bromo - Semeru dari awang-awang

      Jumat pagi. Langit Jogja cerah, mengantarkan kakiku ke dalam bandara satu-satunya di kota Yogyakarta, Bandara Adisucipto. Empat orang anggota timku sudah berkumpul. Tinggal menunggu tiga lagi. Tiga orang lainnya sudah terbang ke Flores. Semuanya bersebelas orang. Sebelas orang yang akan menggoreskan ceritanya masing-masing dalam hitungan hampir dua bulan ke depan. Selain timku (Tim Manggarai Barat – Ende), sudah ada dua tim lainnya yang berangkat bersama kami, Tim Ende dan juga Tim Sikka – Ende. Kabupaten Ende bakal diserbu oleh tiga tim yang berbeda.

            Sebuah pesawat jenis Boeing 737 membukakan pintunya untuk kami, mengawali perjalanan kami sampai ke Bandara Ngurah Rai Bali. Dan ada sedikit insiden di sini. Bukan insiden di atas pesawat sih, tapi insiden di dalam bandara saat transit mau pindah pesawat di Bali. Saat tas-tas milik kami melalui proses pemeriksaan, alarm berbunyi. Padahal saat di Yogyakarta, semuanya aman-aman saja. Beda bandara emang beda tingkat keketatan pengawasan bandara sih ya -_-“ Maka, terjadilah pembongkaran tas yang tidak ditemukan apa-apa di salah satu tas temanku. Lalu diikuti dengan pembongkaran tas  milik temanku lainnya yang isinya sepaket obeng, cutter, gunting, pisau, korek, dan benda-benda tajam lainnya. Karena tak mau berepot-repot mengurus benda-benda itu untuk dipindah ke bagasi yang pastinya makan waktu lama padahal jadwal terbang berikutnya udah mepet, maka si empunya merelakan benda-benda “penting” itu, pasrah. Jadi, tolong para pembaca blog terhormat yang belum tahu, kalau naik pesawat benda-benda dari logam atau tajam ditaruhnya di bagasi, jangan di kabin. Sejak saat itu, temanku yang punya ibu mantan pramugari itu selalu kena ejekan, “Mas, ibunya pramugari tapi masak nggak tahu yang begituan?”

            Ah sudah, lupakan insiden kecil barusan. Perjalanan berlanjut menggunakan jenis pesawat yang lebih kecil, ATR 72-500, membubung ringan ke angkasa. Berada di atas awang-awang dan bisa melihat permukaan bumi dari atas selalu membuatku teringat masa-masa kuliah. Deliniasi foto udara, digitasi, geografi, teman-teman, merasa betapa hebatnya Tuhan menciptakan bumi demikian istimewanya, dan merasakan betapa cepat waktu berlalu. Menggalau di angkasa.
***


            Nusa Nipa, lebih awam dengan sebutan Pulau Flores yang berarti “bunga”. Daya tarik Indonesia Timur sedari dulu memang rempah-rempahnya yang amat berlimpah. Kemiri, vanili, atau komoditas semacam kakao, kopi, jambu mete, dan kopra. Menarik hati para penjelajah dari barat, membuat para Portugis, Belanda, bahkan juga Jepang rela merapatkan kapal-kapal mereka di sana dan berebut menguasainya.

            Walaupun menarik hati para penjelajah, tapi tidak buatku waktu itu. Kalaupun ditempatkan di luar Jawa, sebenarnya aku lebih memilih ke Sulawesi. Seperti ditanya saat wawancara dulu, “Kalau milih ditempatin, kalau di Jawa milih di mana? Kalau di luar Jawa milih di mana?” Dan jawabanku adalah Jawa Barat serta Sulawesi Utara. Kenapa? Jawa Barat, karena dekat dengan kakak. Sulawesi Utara, karena dari dulu aku memang ingin ke Kalimantan atau Sulawesi. Karena Kalimantan sudah, sekarang giliran Sulawesi. Belum ada keinginan sama sekali untuk menjelajah Indonesia Timur bagian selatan. Tapi kenyataan berkata lain. Kenyataan yang membawaku sampai ke daratan yang belum ada  keinginan untuk aku ketahui sebelumnya, Flores.

            Terik matahari siang dengan beda tenggat waktu satu jam dari Yogyakarta, menyambut kami. Dome atau bukit-bukit kapur di bawah sana tampak gersang, panas, kering. Mungkin seperti di film Atambua 39 Derajat Celcius, atau di iklan yang punya kalimat “Sumber air su dekat”. Yang ada di kepalaku saat itu adalah: ini daerah kayaknya kering banget ya, sumber air masih jauh nih. Lalu awak kapal membuyarkan lamunanku, “Para penumpang yang terhormat, saat ini Anda sudah memasuki Bandara Komodo, Labuan Bajo, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kami ucapkan selamat datang dan mohon jangan melepaskan sabuk pengaman anda sampai lampu tanda sabuk pengaman dimatikan.”
***

            Bandara Komodo, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penumpang yang satu pesawat denganku kebanyakan bule, turis mancanegara. Tinggi, besar, ganteng, cantik. Labuan Bajo tampaknya sudah menjadi salah satu incaran turis mancanegara selain ke Bali. Di samping aksesnya yang lumayan mudah dari Bali, tentu saja Labuan Bajo menawarkan pesona alam dan fauna yang sangat menarik. Apalagi kalau bukan Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang terkenal dengan “naga” komodonya, spesies endemik yang hanya ada di NTT, satu-satunya di dunia. Juga Pulau Bidadari, pulau atol yang terkenal dengan spot divingnya.

            Saingan dengan para turis asing tinggi berbadan besar di bandara kecil seperti Bandara Komodo, membuat kami terpaksa menunggu giliran terakhir untuk mengambil tas-tas dari bagasi, daripada kegencet-gencet. Dev, penduduk lokal dari Kupang sekaligus teman satu tim kami sudah menjemput, memesankan taksi yang akan membawa kami ke basecamp yang akan kami tempati selama seminggu ke depan. Memulai adaptasi yang diawali oleh musik lokal dari Ambon yang disetel keras-keras bagai disko berjalan di dalam mobil. Lagu yang akan menjadi soundtrack hidup kami selama dua bulan di Flores. Seng ada rasa sayang, seng ada rasa cinta, beta pung hati ini par nona...

Welcome! (model: Dian Azmi)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.