Senin, 16 Desember 2013

#6 PULAU SERAYA KECIL


Aku sempat terdampar sehari semalam di sebuah pulau kecil bersama Linda dan Bapak. Jadi, di Kelurahan Labuan Bajo, di lingkungan yang paling ujung utara yang salah satu kampungnya bernama Kampung Ujung, wilayah administrasinya tersebar sampai pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ada dua responden yang ternyata oh ternyata, mereka ada di pulau seberang. Satu responden rumah tangga, dan satu responden posyandu. Dan ternyata juga, dua macam responden itu letaknya tidak dalam satu pulau. Artinya, kami harus menyeberang menggunakan kapal di pulau yang berbeda.
Kunjungan pertama, Linda ditemani editor kami bernama Dian, sukses menyeberang dengan lancar menemui responden di Pulau Seraya Besar diantar Bapak dengan ketinting kesayangannya. Bapak memang nelayan yang biasanya mencari ikan menggunakan kapal kecil yang bentuknya memanjang bernama ketinting. Sebenarnya ada kapal yang lebih besar. Tapi sewa kapal yang lebih besar sekaligus sewa pengemudinya ternyata lumayan mahal. Ya sudah, karena Bapak menawarkan diri untuk mengantarkan, dan kami hanya diminta mengganti bensin saja, terus sudah kenal baik dengan Bapak, diputuskan menyeberang menggunakan kapal ketinting yang muat untuk tiga orang.
Beberapa hari berikutnya, karena Dian sudah banyak kerjaan, giliran aku yang menemani Linda menyeberang. Rencana awal, kami berangkat agak siang, dan pulang sore. Sama seperti ketika Linda menyeberang bersama Dian. Karena Pulau Seraya Besar dengan Seraya Kecil bersebelahan, estimasi waktu kami buat sama. Agak siang sekitar pukul 10.00 WITA, kami tiba di rumah Bapak dan Emak yang berada di Kampung Ujung, hanya beberapa puluh meter saja dari bibir pantai. Sebenarnya, kata Bapak, kalau melaut sebaiknya jangan siang-siang. Karena kalau siang gelombang biasanya mulai naik, alias air laut mulai pasang sehingga gelombang jadi tidak stabil, kapal yang lewat pun ikut-ikutan tidak stabil. Tapi karena kami dikejar waktu dan tidak ada kesempatan lagi di hari lain, Bapak akhirnya mau mengantarkan kami.
Awal perjalanan, rasanya asyik kalau aku bilang. Ini pertama kalinya aku naik kapal nelayan tradisional. Dulu, saat KKN naiknya speedboat dan kapal klothok yang ukurannya jauh lebih besar dan ada atapnya. Saat berangkat, laut lumayan teduh. Kata Bapak, kalau menyeberang memakai kapal ketinting mungkin bakal makan waktu satu jam. Kami berlayar menyeberangi lautan, menuju pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Flores, di antara Selat Flores. Saat itu matahari mulai naik, gelombang mulai membesar. Linda yang ada di belakangku teriak-teriak. Bukan teriak takut, tapi teriang senang. “Ini seruu banget!!” katanya. Aku yang ada di ujung depan kapal, sibuk membenarkan jas hujan yang melindungiku dari guyuran air laut. Ombaknya semakin besar saja, membuat kami terombang ambing goyang ke sana kemari. “Yang di depan nggak apa-apa kah??” Bapak yang memegang kemudi di bagian belakang kapal berteriak memastikan keadaanku baik-baik saja. “Nggak apa-apa paaak,” aku balas menjawab. Sejujurnya, aku deg-degan juga sih. Sekelebat terbersit pikiran buruk,  Aduh, aku nggak bisa berenang, ombaknya segede ini, nggak ada yang namanya pelampung juga, mana udah di tengah-tengah laut lagi. Tapi aku percaya kalau Bapak itu pengemudi ketinting yang handal. Jadi aku cuma bisa duduk diam di depan sambil mainan air di tengah gelombang yang bikin deg-degan.

Awal mula berlayar. Duduk di depan. Ombak masih tenang.

***

#5 BASECAMP PERTAMA: MEMULAI PETUALANGAN

           


          Basecamp pertama kami adalah rumah kosong milik salah satu staff kecamatan yang jarang ditempati oleh si empunya rumah. Jaraknya sekitar satu jam dari bandara naik kendaraan bermotor. Rumah dari bilah-bilah papan yang disusun miring beratapkan seng, di tepi jalan aspal Trans Flores, di pojokan tanjakan yang dinamakan tanjakan Dalong. Konon katanya, keahlian seorang sopir bisa diukur dari seberapa bisa dia melalui tanjakan ini. Tanjakan yang menikung dan menanjak tajam. Saat kami tiba di sana saja, malam harinya baru saja terjadi tragedi. Sebuah truk pengangkut pipa dari Surabaya yang melintas pada dini hari, tidak bisa mengendalikan laju kendaraan. Alhasil, alih-alih melaju tepat di jalurnya, truknya malah tak terkendali kemudian oleng menimpa sebuah rumah yang dibangun tepat di tepian tanjakan, jaraknya dua rumah dari basecamp kami. Untung tak ada korban jiwa. Katanya sih, rumah-rumah di dekat tanjakan itu sudah sering menjadi korban dari keganasan Tanjakan Dalong. Truk itu sampai hampir seminggu bersarang di sana, menunggu bos dari Surabaya untuk mengatasinya dan mengganti kerugian atas musibah yang terjadi. Jalan di depan basecamp memang jalur utama antar kota antar kabupaten, jadi tak heran kalau banyak kendaraan besar yang sering melintas. Makanya, setiap ada truk atau bus, atau kendaraan besar lainnya lewat dan suara kendaraan sudah tersendat-sendat, kami sering melongok-longok keluar rumah, khawatir akan terjadi tragedi yang berulang.

Rabu, 04 Desember 2013

#4 SELAMAT DATANG DI LABUAN BAJO


Bromo - Semeru dari awang-awang

      Jumat pagi. Langit Jogja cerah, mengantarkan kakiku ke dalam bandara satu-satunya di kota Yogyakarta, Bandara Adisucipto. Empat orang anggota timku sudah berkumpul. Tinggal menunggu tiga lagi. Tiga orang lainnya sudah terbang ke Flores. Semuanya bersebelas orang. Sebelas orang yang akan menggoreskan ceritanya masing-masing dalam hitungan hampir dua bulan ke depan. Selain timku (Tim Manggarai Barat – Ende), sudah ada dua tim lainnya yang berangkat bersama kami, Tim Ende dan juga Tim Sikka – Ende. Kabupaten Ende bakal diserbu oleh tiga tim yang berbeda.

            Sebuah pesawat jenis Boeing 737 membukakan pintunya untuk kami, mengawali perjalanan kami sampai ke Bandara Ngurah Rai Bali. Dan ada sedikit insiden di sini. Bukan insiden di atas pesawat sih, tapi insiden di dalam bandara saat transit mau pindah pesawat di Bali. Saat tas-tas milik kami melalui proses pemeriksaan, alarm berbunyi. Padahal saat di Yogyakarta, semuanya aman-aman saja. Beda bandara emang beda tingkat keketatan pengawasan bandara sih ya -_-“ Maka, terjadilah pembongkaran tas yang tidak ditemukan apa-apa di salah satu tas temanku. Lalu diikuti dengan pembongkaran tas  milik temanku lainnya yang isinya sepaket obeng, cutter, gunting, pisau, korek, dan benda-benda tajam lainnya. Karena tak mau berepot-repot mengurus benda-benda itu untuk dipindah ke bagasi yang pastinya makan waktu lama padahal jadwal terbang berikutnya udah mepet, maka si empunya merelakan benda-benda “penting” itu, pasrah. Jadi, tolong para pembaca blog terhormat yang belum tahu, kalau naik pesawat benda-benda dari logam atau tajam ditaruhnya di bagasi, jangan di kabin. Sejak saat itu, temanku yang punya ibu mantan pramugari itu selalu kena ejekan, “Mas, ibunya pramugari tapi masak nggak tahu yang begituan?”

            Ah sudah, lupakan insiden kecil barusan. Perjalanan berlanjut menggunakan jenis pesawat yang lebih kecil, ATR 72-500, membubung ringan ke angkasa. Berada di atas awang-awang dan bisa melihat permukaan bumi dari atas selalu membuatku teringat masa-masa kuliah. Deliniasi foto udara, digitasi, geografi, teman-teman, merasa betapa hebatnya Tuhan menciptakan bumi demikian istimewanya, dan merasakan betapa cepat waktu berlalu. Menggalau di angkasa.
***
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.