Jumat, 29 November 2013

#2 TRY OUT

Enumerator. Pekerjaan macam apakah itu? Enumerator. Pewawancara. Orang yang tugasnya wawancara berdasarkan kuesioner. Menjadi enumerator berarti harus punya sense of KEPO, punya rasa ingin tahu terhadap apa yang terjadi pada orang lain. Tentu saja, dibatasi dengan apa yang tertulis di panduan bernama kuesioner.

Sebelum benar-benar terjun ke lapangan, kami para enumerator harus ikut semacam pelatihan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Pelatihan di luar ruangan merupakan semacam percobaan atau try out sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Benar-benar lapangan tapi bukan lapangan. Ya, itulah pokoknya.

Dusun Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul menjadi tempat mukimku selama seminggu masa try out. Dengan teman-teman baru, keluarga kecil baru, bersepuluh. Pusing dengan kuesioner yang kami sendiri belum terlalu paham apa maksudnya.

 Bersepuluh manusia dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tiga orang wanita, dan tujuh orang laki-laki. Dari berbagai suku, dan berbagai wilayah. Sunda, Jawa, NTT. Berbagi rumah dan berbagi cerita selama seminggu masa try out. Dan di sanalah aku bertemu satu manusia unik dari propinsi di bagian timur Indonesia, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Manusia itu bernama Emar, nama lengkapnya Seleutaemar Bia. Kayaknya sih bener namanya itu.

Apa yang biasanya kalian bayangkan tentang orang NTT? Kebanyakan orang, termasuk aku, biasanya akan berpikir kalau mereka itu sangar-sangar atau bisa dibilang kasar. Apalagi semenjak ada kasus pembunuhan terhadap oknum militer di salah satu tempat hiburan di Kota Yogyakarta yang pelakunya semuanya orang NTT. Satu kasus yang dilakukan oleh beberapa orang saja, namun membuat semua orang mendiskreditkan orang lain dengan asal wilayah yang sama. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kesalahan satu orang, menyebabkan orang lain turut menderita. Seorang teman bercerita, beberapa orang NTT yang kos di Yogyakarta sampai diusir dari kos oleh si induk semang hanya karena mereka orang NTT, saking takutnya kosnya bakal kenapa-kenapa setelah kasus bunuh-bunuhan itu. Hiperbolis. Ironis.

Statementku langsung runtuh begitu ketemu dengan Emar. Muka emang sangar. Tapi hati tidak sangar. Justru dialah yang membuat tim try out-ku lebih hidup dengan guyonan-guyonannya atau kepolosannya. Dari dia juga lah, kami sedikit-sedikit tahu kehidupan di propinsi timur sana. Tentang keluarganya yang hidup berdelapan belas dalam satu rumah. Tentang berapa puluh kilo beras per hari yang harus dimasak untuk memenuhi kebutuhan perut satu keluarganya. Tentang anjing-anjingnya yang jumlahnya lebih dari delapan. Tentang angkot di sana yang mirip disko berjalan. Atau, tentang salah satu lagu khas daerahnya yang liriknya bunyinya hanya, “Ke kiri, ke kiri, dan ke kiri. Ke kanan, ke kanan, dan ke kanan”. Yang langsung kita olok, “Itu kenapa liriknya cuma begitu doang? Terus kalo lurus gimana, Mar? Nyebur jurang?”

Berakhirnya masa try out, berarti harus siap-siap ditempatkan di mana saja di Indonesia selama lebih kurang dua bulan. Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, moga-moga dapet di Jawa aja lah. Kalau pun di luar Jawa, moga-moga dapat tim yang menyenangkan!”
Kenapa Jawa? Sebenarnya alasannya hanya satu: biar bisa ijin ikut tes CPNS.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.