Jumat, 29 November 2013

#3 PENEMPATAN

Lobby Hotel Saphir, di depan papan pengumuman sudah uyel-uyelan, penuh sesak. Pengumuman pembagian tim dan penempatan sudah berderet ditempel di papan. Aku maju, kemudian terdesak mundur. Maju lagi, lalu terdesak mundur lagi. Hah, aku memang tidak ahli kalau urusan desak-desakan sama rebutan. Sampai akhirnya aku minta tolong temanku yang berhasil nyempil sampai ke depan mencarikan namaku. Agak lama, badan kecilnya berhasil keluar dari kerumunan orang-orang yang badannya lebih besar-besar. “Namamu nggak ketemuu,” katanya. Terpaksa, aku tunggu dulu sampai kerumunan itu berkurang. Menikmati ekspresi orang-orang yang berhasil menemukan namanya, pergi dari papan pengumuman dengan wajah cerah ceria, atau malah kuyu, sedih, dan bersungut-sungut. Berteriak yes! Atau mengeluh ahh, kenapa di sana? Aduh, kenapa satu tim sama dia? Tumpahan ekspresi alami menyeruak dari wajah masing-masing orang. Lalu ekspresiku? Akan seperti apa?

Beberapa puluh menit berlalu. Kerumunan manusia mulai berkurang. Aku kembali mendesak maju tanpa terdesak mundur lagi. Mataku menyapu bersih tulisan-tulisan di atas kertas-kertas yang tertempel. Nggak ada namaku. Sekali lagi dengan hati-hati aku ulangi pencarian namaku. Nah! Ketemu sudah. NTT! Yap. Fix. Aku ditempatkan di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Luar Jawa. Dan artinya, aku harus siap-siap bernegosiasi dengan orangtuaku tentang rencana-rencana masa depan.

Namaku berada di antara nama-nama asing yang tak pernah aku lihat atau aku kenal sebelumnya di kelas training. Setelah terlanjur nyaman dengan teman-teman tim try out dan sudah berharap biar bisa satu tim lagi, ternyata kami harus berpisah, tersebar di mana-mana. Bersiap keluar dari zona nyaman lagi, dan menciptakan zona nyaman yang baru lagi. Bertemu dengan orang-orang baru lagi, dan bakal menciptakan fragmen cerita baru selama dua bulan ke depan. Di suatu pulau bernama Pulau Flores. Dua Kabupaten: Kabupaten Manggarai Barat dan Ende. Enam kecamatan: Kecamatan Komodo, Sano Nggoang, Kuwus, Ende, Nangapanda, dan Maukaro. Tempat seperti apakah itu? Apakah banyak komodo di sana? Susah sinyal, air, dan listrik seperti di Pulau Maratua dulu saat aku KKN? Atau bagaimana? Doaku masih tetap sama, biarpun ditempatkan di tempat nun jauh di sana, semoga dapat tim yang menyenangkan.

#2 TRY OUT

Enumerator. Pekerjaan macam apakah itu? Enumerator. Pewawancara. Orang yang tugasnya wawancara berdasarkan kuesioner. Menjadi enumerator berarti harus punya sense of KEPO, punya rasa ingin tahu terhadap apa yang terjadi pada orang lain. Tentu saja, dibatasi dengan apa yang tertulis di panduan bernama kuesioner.

Sebelum benar-benar terjun ke lapangan, kami para enumerator harus ikut semacam pelatihan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Pelatihan di luar ruangan merupakan semacam percobaan atau try out sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Benar-benar lapangan tapi bukan lapangan. Ya, itulah pokoknya.

Dusun Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul menjadi tempat mukimku selama seminggu masa try out. Dengan teman-teman baru, keluarga kecil baru, bersepuluh. Pusing dengan kuesioner yang kami sendiri belum terlalu paham apa maksudnya.

 Bersepuluh manusia dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tiga orang wanita, dan tujuh orang laki-laki. Dari berbagai suku, dan berbagai wilayah. Sunda, Jawa, NTT. Berbagi rumah dan berbagi cerita selama seminggu masa try out. Dan di sanalah aku bertemu satu manusia unik dari propinsi di bagian timur Indonesia, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Manusia itu bernama Emar, nama lengkapnya Seleutaemar Bia. Kayaknya sih bener namanya itu.

Apa yang biasanya kalian bayangkan tentang orang NTT? Kebanyakan orang, termasuk aku, biasanya akan berpikir kalau mereka itu sangar-sangar atau bisa dibilang kasar. Apalagi semenjak ada kasus pembunuhan terhadap oknum militer di salah satu tempat hiburan di Kota Yogyakarta yang pelakunya semuanya orang NTT. Satu kasus yang dilakukan oleh beberapa orang saja, namun membuat semua orang mendiskreditkan orang lain dengan asal wilayah yang sama. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kesalahan satu orang, menyebabkan orang lain turut menderita. Seorang teman bercerita, beberapa orang NTT yang kos di Yogyakarta sampai diusir dari kos oleh si induk semang hanya karena mereka orang NTT, saking takutnya kosnya bakal kenapa-kenapa setelah kasus bunuh-bunuhan itu. Hiperbolis. Ironis.

Statementku langsung runtuh begitu ketemu dengan Emar. Muka emang sangar. Tapi hati tidak sangar. Justru dialah yang membuat tim try out-ku lebih hidup dengan guyonan-guyonannya atau kepolosannya. Dari dia juga lah, kami sedikit-sedikit tahu kehidupan di propinsi timur sana. Tentang keluarganya yang hidup berdelapan belas dalam satu rumah. Tentang berapa puluh kilo beras per hari yang harus dimasak untuk memenuhi kebutuhan perut satu keluarganya. Tentang anjing-anjingnya yang jumlahnya lebih dari delapan. Tentang angkot di sana yang mirip disko berjalan. Atau, tentang salah satu lagu khas daerahnya yang liriknya bunyinya hanya, “Ke kiri, ke kiri, dan ke kiri. Ke kanan, ke kanan, dan ke kanan”. Yang langsung kita olok, “Itu kenapa liriknya cuma begitu doang? Terus kalo lurus gimana, Mar? Nyebur jurang?”

Berakhirnya masa try out, berarti harus siap-siap ditempatkan di mana saja di Indonesia selama lebih kurang dua bulan. Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, moga-moga dapet di Jawa aja lah. Kalau pun di luar Jawa, moga-moga dapat tim yang menyenangkan!”
Kenapa Jawa? Sebenarnya alasannya hanya satu: biar bisa ijin ikut tes CPNS.

Senin, 25 November 2013

#1 KEPUTUSAN

Bisa wisuda bulan Agustus 2013 adalah suatu anugerah. Tepat setelah aku lulus, bukaan formasi PNS benar-benar gila-gilaan. Ada puluhan formasi yang dibuka untuk lulusan geografi. Kesempatan emas kan? Siapa yang begitu bodoh menolak kesempatan yang dibilang orang emas itu? Aku mungkin salah satu orangnya. Menjadi PNS adalah impian banyak orang di negeri ini. Biar gaji kecil, tapi sudah ada jaminan pasti, uang pensiunan menanti. Kata banyak orang, aku sudah menyia-nyiakan satu kesempatan terbesar tahun ini.
Formulir-formulir yang sudah terisi dan dokumen-dokumen persyaratan pendaftaran CPNS yang kudapatkan dengan susah payah akhirnya aku abaikan, aku tinggalkan. Setelah berdebat cukup lama dengan ibuku, mempertahankan argumen masing-masing selama beberapa lama, akhirnya ibuku mengizinkan aku pergi meninggalkan satu kesempatan emas itu. Walaupun memang, ada rasa galau di hati ini. Namun kelak, aku yakin tak akan menyesali keputusan itu. Keputusan memilih bekerja kontrak dua bulan saja di proyek yang diadakan PSKK UGM, menjadi enumerator atau tukang wawancara kuesioner. Tepat pada bulan diadakannya tes CPNS.
Keputusanku tidak salah kan, Ya Allah? Aku harap tidak.

SEBUAH PERJALANAN (FLORES)

When was the last time you dissappeared?
From the jungle we called cities?
From everyday conversations that become repetitive?
Why not now?

When was the last time you really had enough time,
To sense any of this?
The sand of the beach. Sunset hues. The occustration of the nature.

When was the last time you floated accros the line?
Overgoes roads, and lost sense of time?
Why not now?
We float to nature.

(Float 2 Nature—When Was The Last Time)

Perjalanan menjadi penting, ketika kau merasa tak tahu lagi ke mana harus melangkah. Inti sebuah perjalanan bukan sekedar bisa berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap unik, indah, atau mempesona. Bukan hanya berfoto ria di obyek wisata terkenal, lalu membuat iri orang lain seantero jagad maya dengan unggahan foto-foto di media sosial. Makna sebuah perjalanan lebih dari itu. Dan yang pasti, perjalanan itu adalah suatu proses mencari dan menemukan. Iya, mencari dan menemukan.

Tulisan-tulisan selanjutnya di laman hitamputihpelangi ini akan berisi secuplik catatan perjalanan selama hampir dua bulan menjajaki sekitar hampir separuh daratan Flores. Sebuah perjalanan yang penuh dengan kejutan-kejutan di daerah timur Indonesia yang masih minim polusi dan alam yang bisa dibilang sangat mempesona, serta warga yang benar-benar membuat kami merasakan indahnya kehangatan Indonesia. Inilah kisah perjalanan di Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur dalam bingkai kacamataku.

Bersama Linda. Senja yang terdampar.

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.