Senin, 05 Agustus 2013

OBROLAN PAGI

Musim bediding membuat satu set bangku taman berukuran 2 x 3 meter ini semakin dingin saja. Aku merapatkan jaket kedodoranku. Tapi percuma, pantatku yang menempel di bangku beton ini tetap saja merasakan dingin berlebihan.  Sembari menunggu orang di depanku menyelesaikan urusannya lewat telepon genggamnya, aku mengeluarkan laptop dan menyiapkan file yang diminta orang itu, seorang bapak-bapak yang sudah berumur.
            Beliau menutup telepon, lalu beralih kepadaku, menyelesaikan urusan kami diselingi obrolan-obrolan ringan. “Apa rencana seusai wisuda nanti, Put?” pertanyaan klise yang ditanyakan hampir semua orang ketika menjelang atau sesudah wisuda. Jawabannya pun biasanya tidak jauh-jauh dari: bekerja, kuliah lagi, atau menikah. Senyum tipis dan jawaban yang biasa kulontarkan atas pertanyaan itu pasti,”Saya pengen bekerja dulu, Pak.”
            “Nggak pengen sekolah lagi?” beliau meneruskan. Aku menggeleng mantap, “Untuk saat ini belum pengen, Pak.”
            “Kenapa? Menuntut ilmu setinggi-tingginya itu tak ada salahnya lho, Nak. Bukannya Allah sudah menjamin menaikkan derajat orang-orang berilmu?” Bapak ini sepertinya paham alasanku nggak pengen sekolah lagi.         
“Kalau saran Bapak, Nak. Nak Putri besok sekolah lagi, ya. Niatkan saja untuk meningkatkan kualitas ibadah. Ya, percaya tidak percaya, Bapak sendiri merasa ibadah yang dulu hanya rutinitas dan rasanya hampa, jadi tidak hampa lagi begitu mendapat ilmu baru. Apalagi di bidang ilmu ini. Terasa betul.” Aku hanya mengangguk. Tersenyum dan mengangguk. Tidak menjawab iya, juga tidak menolak statement itu.
“Setidaknya, teruslah berusaha belajar. Di mana pun. Bidang apapun itu. Biar hidup kita tidak hampa, tuntut ilmu,” kali ini aku benar-benar mengangguk.
“Kalaupun tidak di bangku formal, setidaknya kamu tetap harus belajar banyak ilmu baru,” beliau melanjutkan,”Kita hidup ini untuk belajar, kan?” Aku mengangguk, iya.
“Ndak usahlah nyari jabatan, materi, atau semacamnya. Orang itu, kalau bener-bener sudah dapat hidayah, jabatan; uang; harta; atau materi itu tak ada apa-apanya asalkan bisa deket sama Allah. Bisa deket sama Allah itu nikmat betul. Yang lain kan cuma ngikutin,” rentetan kalimat demi kalimat terakhir dari beliau terasa nyess, adem.
“Haha, wah Bapak malah kultum ini. Ya pokoknya itu tadi ya, Nak. Pesan Bapak, kalau bisa Putri sekolah lagi kalau ada kesempatan.”
Aku tersenyum lagi, “Iya Pak, insya allah. Semoga ada kesempatan.” Aku beranjak, mohon ijin untuk undur diri. Rangkaian kata-kata dari bapak itu terus terngiang-ngiang. Ah, hidup ini memang penuh pengajaran yang siap untuk dipetik dan dirasakan. Universitas Kehidupan kalau Mbak Nun bilang. Aku rasa, aku sebaiknya memang “sekolah” lagi.



Marulia,                                                                                              
Yogyakarta, 1 Agustus 2013 

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.