Senin, 07 Januari 2013

INVESTASI AIR MASA DEPAN: MENABUNG DAN SEDEKAH AIR

Perairan di permukaan bumi memiliki luas hampir dua kali lebih besar dibanding dengan luas daratan, atau bisa dikatakan, 2/3 dari seluruh permukaan bumi merupakan perairan. Rincian air di seluruh dunia, menurut Matthews (2005), 97% berada di samudera sebagai air asin, sisanya sebesar 3% berada di daratan sebagai air tawar. Begitu besarnya potensi air di bumi juga berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia. Manusia dan hewan bisa hidup tanpa makan, namun tidak bisa jika tanpa air. Dalam bidang pertanian pun, air mutlak diperlukan. Sehingga, dalam bidang pertanian disebutkan bahwa kekeringan merupakan bencana terparah dibandingkan bencana lain seperti banjir atau hama.

Air mengalami perjalanan tiada henti di permukaan bumi. Dari tempat semula, berubah wujud, kemudian kembali lagi ke tempat semula. Sebuah siklus yang dialami oleh air yang dinamakan siklus hidrologi. Secara alami, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Sungai-sungai mengalirkan air menuju laut. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Dalam perjalanannya, air mengalami penguapan sehingga membentuk awan, dan terjadilah hujan. Air hujan ada yang langsung jatuh ke laut, sungai, danau, atau rawa. Ada juga yang langsung meresap ke dalam tanah atau jatuh ke tanaman yang pada akhirnya juga akan meresap ke dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ada yang disimpan sebagai air tanah, ada juga yang kembali menguap, dan kembali menjadi awan, lalu hujan. Jadi, jika kita perhatikan, air selalu mengisi setiap sisi di ruang bumi ini, baik ruang darat, ruang laut, ruang udara, ruang laut, bahkan ruang di dalam bumi.

Meskipun air terdapat hampir di setiap ruang bumi, bukan berarti itu semua dapat digunakan sebagai pemenuhan jatah hidup manusia. Sudah disebutkan bahwa dari keseluruhan air yang terdapat di permukaan bumi, 97 % berupa air asin, hanya 3 % yang berupa air tawar. Artinya, air tawar lebih sulit didapatkan dibandingkan dengan air asin. Padahal, manusia lebih memerlukan air tawar untuk kebutuhan rumah tangga seperti mandi, minum, memasak, mencuci dan sebagainya, dibandingkan dengan air asin.

Data statistik yang dikeluarkan oleh UNESCO (1978) mencatat bahwa jumlah air tawar di bumi adalah 35.029.210 km3 dengan rincian air tanah sebanyak 98,89 % dan air permukaan (danau, rawa, sungai, air biologi, air di udara) sebanyak 1,11 %. Komposisi air tanah tawar jauh lebih besar dibandingkan dengan komposisi air permukaan. Walaupun begitu, perlu diperhatikan bahwa pengambilan air tanah tawar tidak boleh seenaknya. Pengambilan air tanah yang berlebihan akan menyebabkan penurunan ketersediaan yang besar dan membutuhkan waktu pengisian yang relatif lama. Pada musim penghujan, ada kelebihan air permukaan yang besar namun pengisian air tanah kecil. Pada musim kemarau sebaliknya, air permukaan turun drastis, sehingga pada akhirnya hanya mengandalkan air tanah. Itu semua sangat tergantung dari tata guna lahan dan kondisi geomorfologi suatu wilayah. Perlu dilakukan gerakan menabung air untuk menyimpan air sebesar-besarnya dan membaginya ke tempat lain yang kekurangan air.

Menabung pada dasarnya adalah menyimpan. Bisa menyimpan uang, barang, atau lainnya. Menabung dilakukan untuk menyimpan sesuatu untuk kemudian dapat digunakan kembali. Air pun juga dapat ditabung. Konsep menabung air sebenarnya sama dengan menabung uang, yaitu menampung air untuk disimpan dan mengeluarkannya seperlunya.
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.