Senin, 16 Desember 2013

#6 PULAU SERAYA KECIL


Aku sempat terdampar sehari semalam di sebuah pulau kecil bersama Linda dan Bapak. Jadi, di Kelurahan Labuan Bajo, di lingkungan yang paling ujung utara yang salah satu kampungnya bernama Kampung Ujung, wilayah administrasinya tersebar sampai pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ada dua responden yang ternyata oh ternyata, mereka ada di pulau seberang. Satu responden rumah tangga, dan satu responden posyandu. Dan ternyata juga, dua macam responden itu letaknya tidak dalam satu pulau. Artinya, kami harus menyeberang menggunakan kapal di pulau yang berbeda.
Kunjungan pertama, Linda ditemani editor kami bernama Dian, sukses menyeberang dengan lancar menemui responden di Pulau Seraya Besar diantar Bapak dengan ketinting kesayangannya. Bapak memang nelayan yang biasanya mencari ikan menggunakan kapal kecil yang bentuknya memanjang bernama ketinting. Sebenarnya ada kapal yang lebih besar. Tapi sewa kapal yang lebih besar sekaligus sewa pengemudinya ternyata lumayan mahal. Ya sudah, karena Bapak menawarkan diri untuk mengantarkan, dan kami hanya diminta mengganti bensin saja, terus sudah kenal baik dengan Bapak, diputuskan menyeberang menggunakan kapal ketinting yang muat untuk tiga orang.
Beberapa hari berikutnya, karena Dian sudah banyak kerjaan, giliran aku yang menemani Linda menyeberang. Rencana awal, kami berangkat agak siang, dan pulang sore. Sama seperti ketika Linda menyeberang bersama Dian. Karena Pulau Seraya Besar dengan Seraya Kecil bersebelahan, estimasi waktu kami buat sama. Agak siang sekitar pukul 10.00 WITA, kami tiba di rumah Bapak dan Emak yang berada di Kampung Ujung, hanya beberapa puluh meter saja dari bibir pantai. Sebenarnya, kata Bapak, kalau melaut sebaiknya jangan siang-siang. Karena kalau siang gelombang biasanya mulai naik, alias air laut mulai pasang sehingga gelombang jadi tidak stabil, kapal yang lewat pun ikut-ikutan tidak stabil. Tapi karena kami dikejar waktu dan tidak ada kesempatan lagi di hari lain, Bapak akhirnya mau mengantarkan kami.
Awal perjalanan, rasanya asyik kalau aku bilang. Ini pertama kalinya aku naik kapal nelayan tradisional. Dulu, saat KKN naiknya speedboat dan kapal klothok yang ukurannya jauh lebih besar dan ada atapnya. Saat berangkat, laut lumayan teduh. Kata Bapak, kalau menyeberang memakai kapal ketinting mungkin bakal makan waktu satu jam. Kami berlayar menyeberangi lautan, menuju pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Flores, di antara Selat Flores. Saat itu matahari mulai naik, gelombang mulai membesar. Linda yang ada di belakangku teriak-teriak. Bukan teriak takut, tapi teriang senang. “Ini seruu banget!!” katanya. Aku yang ada di ujung depan kapal, sibuk membenarkan jas hujan yang melindungiku dari guyuran air laut. Ombaknya semakin besar saja, membuat kami terombang ambing goyang ke sana kemari. “Yang di depan nggak apa-apa kah??” Bapak yang memegang kemudi di bagian belakang kapal berteriak memastikan keadaanku baik-baik saja. “Nggak apa-apa paaak,” aku balas menjawab. Sejujurnya, aku deg-degan juga sih. Sekelebat terbersit pikiran buruk,  Aduh, aku nggak bisa berenang, ombaknya segede ini, nggak ada yang namanya pelampung juga, mana udah di tengah-tengah laut lagi. Tapi aku percaya kalau Bapak itu pengemudi ketinting yang handal. Jadi aku cuma bisa duduk diam di depan sambil mainan air di tengah gelombang yang bikin deg-degan.

Awal mula berlayar. Duduk di depan. Ombak masih tenang.

***

#5 BASECAMP PERTAMA: MEMULAI PETUALANGAN

           


          Basecamp pertama kami adalah rumah kosong milik salah satu staff kecamatan yang jarang ditempati oleh si empunya rumah. Jaraknya sekitar satu jam dari bandara naik kendaraan bermotor. Rumah dari bilah-bilah papan yang disusun miring beratapkan seng, di tepi jalan aspal Trans Flores, di pojokan tanjakan yang dinamakan tanjakan Dalong. Konon katanya, keahlian seorang sopir bisa diukur dari seberapa bisa dia melalui tanjakan ini. Tanjakan yang menikung dan menanjak tajam. Saat kami tiba di sana saja, malam harinya baru saja terjadi tragedi. Sebuah truk pengangkut pipa dari Surabaya yang melintas pada dini hari, tidak bisa mengendalikan laju kendaraan. Alhasil, alih-alih melaju tepat di jalurnya, truknya malah tak terkendali kemudian oleng menimpa sebuah rumah yang dibangun tepat di tepian tanjakan, jaraknya dua rumah dari basecamp kami. Untung tak ada korban jiwa. Katanya sih, rumah-rumah di dekat tanjakan itu sudah sering menjadi korban dari keganasan Tanjakan Dalong. Truk itu sampai hampir seminggu bersarang di sana, menunggu bos dari Surabaya untuk mengatasinya dan mengganti kerugian atas musibah yang terjadi. Jalan di depan basecamp memang jalur utama antar kota antar kabupaten, jadi tak heran kalau banyak kendaraan besar yang sering melintas. Makanya, setiap ada truk atau bus, atau kendaraan besar lainnya lewat dan suara kendaraan sudah tersendat-sendat, kami sering melongok-longok keluar rumah, khawatir akan terjadi tragedi yang berulang.

Rabu, 04 Desember 2013

#4 SELAMAT DATANG DI LABUAN BAJO


Bromo - Semeru dari awang-awang

      Jumat pagi. Langit Jogja cerah, mengantarkan kakiku ke dalam bandara satu-satunya di kota Yogyakarta, Bandara Adisucipto. Empat orang anggota timku sudah berkumpul. Tinggal menunggu tiga lagi. Tiga orang lainnya sudah terbang ke Flores. Semuanya bersebelas orang. Sebelas orang yang akan menggoreskan ceritanya masing-masing dalam hitungan hampir dua bulan ke depan. Selain timku (Tim Manggarai Barat – Ende), sudah ada dua tim lainnya yang berangkat bersama kami, Tim Ende dan juga Tim Sikka – Ende. Kabupaten Ende bakal diserbu oleh tiga tim yang berbeda.

            Sebuah pesawat jenis Boeing 737 membukakan pintunya untuk kami, mengawali perjalanan kami sampai ke Bandara Ngurah Rai Bali. Dan ada sedikit insiden di sini. Bukan insiden di atas pesawat sih, tapi insiden di dalam bandara saat transit mau pindah pesawat di Bali. Saat tas-tas milik kami melalui proses pemeriksaan, alarm berbunyi. Padahal saat di Yogyakarta, semuanya aman-aman saja. Beda bandara emang beda tingkat keketatan pengawasan bandara sih ya -_-“ Maka, terjadilah pembongkaran tas yang tidak ditemukan apa-apa di salah satu tas temanku. Lalu diikuti dengan pembongkaran tas  milik temanku lainnya yang isinya sepaket obeng, cutter, gunting, pisau, korek, dan benda-benda tajam lainnya. Karena tak mau berepot-repot mengurus benda-benda itu untuk dipindah ke bagasi yang pastinya makan waktu lama padahal jadwal terbang berikutnya udah mepet, maka si empunya merelakan benda-benda “penting” itu, pasrah. Jadi, tolong para pembaca blog terhormat yang belum tahu, kalau naik pesawat benda-benda dari logam atau tajam ditaruhnya di bagasi, jangan di kabin. Sejak saat itu, temanku yang punya ibu mantan pramugari itu selalu kena ejekan, “Mas, ibunya pramugari tapi masak nggak tahu yang begituan?”

            Ah sudah, lupakan insiden kecil barusan. Perjalanan berlanjut menggunakan jenis pesawat yang lebih kecil, ATR 72-500, membubung ringan ke angkasa. Berada di atas awang-awang dan bisa melihat permukaan bumi dari atas selalu membuatku teringat masa-masa kuliah. Deliniasi foto udara, digitasi, geografi, teman-teman, merasa betapa hebatnya Tuhan menciptakan bumi demikian istimewanya, dan merasakan betapa cepat waktu berlalu. Menggalau di angkasa.
***

Jumat, 29 November 2013

#3 PENEMPATAN

Lobby Hotel Saphir, di depan papan pengumuman sudah uyel-uyelan, penuh sesak. Pengumuman pembagian tim dan penempatan sudah berderet ditempel di papan. Aku maju, kemudian terdesak mundur. Maju lagi, lalu terdesak mundur lagi. Hah, aku memang tidak ahli kalau urusan desak-desakan sama rebutan. Sampai akhirnya aku minta tolong temanku yang berhasil nyempil sampai ke depan mencarikan namaku. Agak lama, badan kecilnya berhasil keluar dari kerumunan orang-orang yang badannya lebih besar-besar. “Namamu nggak ketemuu,” katanya. Terpaksa, aku tunggu dulu sampai kerumunan itu berkurang. Menikmati ekspresi orang-orang yang berhasil menemukan namanya, pergi dari papan pengumuman dengan wajah cerah ceria, atau malah kuyu, sedih, dan bersungut-sungut. Berteriak yes! Atau mengeluh ahh, kenapa di sana? Aduh, kenapa satu tim sama dia? Tumpahan ekspresi alami menyeruak dari wajah masing-masing orang. Lalu ekspresiku? Akan seperti apa?

Beberapa puluh menit berlalu. Kerumunan manusia mulai berkurang. Aku kembali mendesak maju tanpa terdesak mundur lagi. Mataku menyapu bersih tulisan-tulisan di atas kertas-kertas yang tertempel. Nggak ada namaku. Sekali lagi dengan hati-hati aku ulangi pencarian namaku. Nah! Ketemu sudah. NTT! Yap. Fix. Aku ditempatkan di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Luar Jawa. Dan artinya, aku harus siap-siap bernegosiasi dengan orangtuaku tentang rencana-rencana masa depan.

Namaku berada di antara nama-nama asing yang tak pernah aku lihat atau aku kenal sebelumnya di kelas training. Setelah terlanjur nyaman dengan teman-teman tim try out dan sudah berharap biar bisa satu tim lagi, ternyata kami harus berpisah, tersebar di mana-mana. Bersiap keluar dari zona nyaman lagi, dan menciptakan zona nyaman yang baru lagi. Bertemu dengan orang-orang baru lagi, dan bakal menciptakan fragmen cerita baru selama dua bulan ke depan. Di suatu pulau bernama Pulau Flores. Dua Kabupaten: Kabupaten Manggarai Barat dan Ende. Enam kecamatan: Kecamatan Komodo, Sano Nggoang, Kuwus, Ende, Nangapanda, dan Maukaro. Tempat seperti apakah itu? Apakah banyak komodo di sana? Susah sinyal, air, dan listrik seperti di Pulau Maratua dulu saat aku KKN? Atau bagaimana? Doaku masih tetap sama, biarpun ditempatkan di tempat nun jauh di sana, semoga dapat tim yang menyenangkan.

#2 TRY OUT

Enumerator. Pekerjaan macam apakah itu? Enumerator. Pewawancara. Orang yang tugasnya wawancara berdasarkan kuesioner. Menjadi enumerator berarti harus punya sense of KEPO, punya rasa ingin tahu terhadap apa yang terjadi pada orang lain. Tentu saja, dibatasi dengan apa yang tertulis di panduan bernama kuesioner.

Sebelum benar-benar terjun ke lapangan, kami para enumerator harus ikut semacam pelatihan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Pelatihan di luar ruangan merupakan semacam percobaan atau try out sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Benar-benar lapangan tapi bukan lapangan. Ya, itulah pokoknya.

Dusun Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul menjadi tempat mukimku selama seminggu masa try out. Dengan teman-teman baru, keluarga kecil baru, bersepuluh. Pusing dengan kuesioner yang kami sendiri belum terlalu paham apa maksudnya.

 Bersepuluh manusia dengan keunikannya sendiri-sendiri. Tiga orang wanita, dan tujuh orang laki-laki. Dari berbagai suku, dan berbagai wilayah. Sunda, Jawa, NTT. Berbagi rumah dan berbagi cerita selama seminggu masa try out. Dan di sanalah aku bertemu satu manusia unik dari propinsi di bagian timur Indonesia, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Manusia itu bernama Emar, nama lengkapnya Seleutaemar Bia. Kayaknya sih bener namanya itu.

Apa yang biasanya kalian bayangkan tentang orang NTT? Kebanyakan orang, termasuk aku, biasanya akan berpikir kalau mereka itu sangar-sangar atau bisa dibilang kasar. Apalagi semenjak ada kasus pembunuhan terhadap oknum militer di salah satu tempat hiburan di Kota Yogyakarta yang pelakunya semuanya orang NTT. Satu kasus yang dilakukan oleh beberapa orang saja, namun membuat semua orang mendiskreditkan orang lain dengan asal wilayah yang sama. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kesalahan satu orang, menyebabkan orang lain turut menderita. Seorang teman bercerita, beberapa orang NTT yang kos di Yogyakarta sampai diusir dari kos oleh si induk semang hanya karena mereka orang NTT, saking takutnya kosnya bakal kenapa-kenapa setelah kasus bunuh-bunuhan itu. Hiperbolis. Ironis.

Statementku langsung runtuh begitu ketemu dengan Emar. Muka emang sangar. Tapi hati tidak sangar. Justru dialah yang membuat tim try out-ku lebih hidup dengan guyonan-guyonannya atau kepolosannya. Dari dia juga lah, kami sedikit-sedikit tahu kehidupan di propinsi timur sana. Tentang keluarganya yang hidup berdelapan belas dalam satu rumah. Tentang berapa puluh kilo beras per hari yang harus dimasak untuk memenuhi kebutuhan perut satu keluarganya. Tentang anjing-anjingnya yang jumlahnya lebih dari delapan. Tentang angkot di sana yang mirip disko berjalan. Atau, tentang salah satu lagu khas daerahnya yang liriknya bunyinya hanya, “Ke kiri, ke kiri, dan ke kiri. Ke kanan, ke kanan, dan ke kanan”. Yang langsung kita olok, “Itu kenapa liriknya cuma begitu doang? Terus kalo lurus gimana, Mar? Nyebur jurang?”

Berakhirnya masa try out, berarti harus siap-siap ditempatkan di mana saja di Indonesia selama lebih kurang dua bulan. Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, moga-moga dapet di Jawa aja lah. Kalau pun di luar Jawa, moga-moga dapat tim yang menyenangkan!”
Kenapa Jawa? Sebenarnya alasannya hanya satu: biar bisa ijin ikut tes CPNS.

Senin, 25 November 2013

#1 KEPUTUSAN

Bisa wisuda bulan Agustus 2013 adalah suatu anugerah. Tepat setelah aku lulus, bukaan formasi PNS benar-benar gila-gilaan. Ada puluhan formasi yang dibuka untuk lulusan geografi. Kesempatan emas kan? Siapa yang begitu bodoh menolak kesempatan yang dibilang orang emas itu? Aku mungkin salah satu orangnya. Menjadi PNS adalah impian banyak orang di negeri ini. Biar gaji kecil, tapi sudah ada jaminan pasti, uang pensiunan menanti. Kata banyak orang, aku sudah menyia-nyiakan satu kesempatan terbesar tahun ini.
Formulir-formulir yang sudah terisi dan dokumen-dokumen persyaratan pendaftaran CPNS yang kudapatkan dengan susah payah akhirnya aku abaikan, aku tinggalkan. Setelah berdebat cukup lama dengan ibuku, mempertahankan argumen masing-masing selama beberapa lama, akhirnya ibuku mengizinkan aku pergi meninggalkan satu kesempatan emas itu. Walaupun memang, ada rasa galau di hati ini. Namun kelak, aku yakin tak akan menyesali keputusan itu. Keputusan memilih bekerja kontrak dua bulan saja di proyek yang diadakan PSKK UGM, menjadi enumerator atau tukang wawancara kuesioner. Tepat pada bulan diadakannya tes CPNS.
Keputusanku tidak salah kan, Ya Allah? Aku harap tidak.

SEBUAH PERJALANAN (FLORES)

When was the last time you dissappeared?
From the jungle we called cities?
From everyday conversations that become repetitive?
Why not now?

When was the last time you really had enough time,
To sense any of this?
The sand of the beach. Sunset hues. The occustration of the nature.

When was the last time you floated accros the line?
Overgoes roads, and lost sense of time?
Why not now?
We float to nature.

(Float 2 Nature—When Was The Last Time)

Perjalanan menjadi penting, ketika kau merasa tak tahu lagi ke mana harus melangkah. Inti sebuah perjalanan bukan sekedar bisa berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap unik, indah, atau mempesona. Bukan hanya berfoto ria di obyek wisata terkenal, lalu membuat iri orang lain seantero jagad maya dengan unggahan foto-foto di media sosial. Makna sebuah perjalanan lebih dari itu. Dan yang pasti, perjalanan itu adalah suatu proses mencari dan menemukan. Iya, mencari dan menemukan.

Tulisan-tulisan selanjutnya di laman hitamputihpelangi ini akan berisi secuplik catatan perjalanan selama hampir dua bulan menjajaki sekitar hampir separuh daratan Flores. Sebuah perjalanan yang penuh dengan kejutan-kejutan di daerah timur Indonesia yang masih minim polusi dan alam yang bisa dibilang sangat mempesona, serta warga yang benar-benar membuat kami merasakan indahnya kehangatan Indonesia. Inilah kisah perjalanan di Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur dalam bingkai kacamataku.

Bersama Linda. Senja yang terdampar.

Kamis, 29 Agustus 2013

#1 JOHN & JONO



Kunjungi galeri komiknya di sini

Senin, 05 Agustus 2013

OBROLAN PAGI

Musim bediding membuat satu set bangku taman berukuran 2 x 3 meter ini semakin dingin saja. Aku merapatkan jaket kedodoranku. Tapi percuma, pantatku yang menempel di bangku beton ini tetap saja merasakan dingin berlebihan.  Sembari menunggu orang di depanku menyelesaikan urusannya lewat telepon genggamnya, aku mengeluarkan laptop dan menyiapkan file yang diminta orang itu, seorang bapak-bapak yang sudah berumur.
            Beliau menutup telepon, lalu beralih kepadaku, menyelesaikan urusan kami diselingi obrolan-obrolan ringan. “Apa rencana seusai wisuda nanti, Put?” pertanyaan klise yang ditanyakan hampir semua orang ketika menjelang atau sesudah wisuda. Jawabannya pun biasanya tidak jauh-jauh dari: bekerja, kuliah lagi, atau menikah. Senyum tipis dan jawaban yang biasa kulontarkan atas pertanyaan itu pasti,”Saya pengen bekerja dulu, Pak.”
            “Nggak pengen sekolah lagi?” beliau meneruskan. Aku menggeleng mantap, “Untuk saat ini belum pengen, Pak.”
            “Kenapa? Menuntut ilmu setinggi-tingginya itu tak ada salahnya lho, Nak. Bukannya Allah sudah menjamin menaikkan derajat orang-orang berilmu?” Bapak ini sepertinya paham alasanku nggak pengen sekolah lagi.         
“Kalau saran Bapak, Nak. Nak Putri besok sekolah lagi, ya. Niatkan saja untuk meningkatkan kualitas ibadah. Ya, percaya tidak percaya, Bapak sendiri merasa ibadah yang dulu hanya rutinitas dan rasanya hampa, jadi tidak hampa lagi begitu mendapat ilmu baru. Apalagi di bidang ilmu ini. Terasa betul.” Aku hanya mengangguk. Tersenyum dan mengangguk. Tidak menjawab iya, juga tidak menolak statement itu.
“Setidaknya, teruslah berusaha belajar. Di mana pun. Bidang apapun itu. Biar hidup kita tidak hampa, tuntut ilmu,” kali ini aku benar-benar mengangguk.
“Kalaupun tidak di bangku formal, setidaknya kamu tetap harus belajar banyak ilmu baru,” beliau melanjutkan,”Kita hidup ini untuk belajar, kan?” Aku mengangguk, iya.
“Ndak usahlah nyari jabatan, materi, atau semacamnya. Orang itu, kalau bener-bener sudah dapat hidayah, jabatan; uang; harta; atau materi itu tak ada apa-apanya asalkan bisa deket sama Allah. Bisa deket sama Allah itu nikmat betul. Yang lain kan cuma ngikutin,” rentetan kalimat demi kalimat terakhir dari beliau terasa nyess, adem.
“Haha, wah Bapak malah kultum ini. Ya pokoknya itu tadi ya, Nak. Pesan Bapak, kalau bisa Putri sekolah lagi kalau ada kesempatan.”
Aku tersenyum lagi, “Iya Pak, insya allah. Semoga ada kesempatan.” Aku beranjak, mohon ijin untuk undur diri. Rangkaian kata-kata dari bapak itu terus terngiang-ngiang. Ah, hidup ini memang penuh pengajaran yang siap untuk dipetik dan dirasakan. Universitas Kehidupan kalau Mbak Nun bilang. Aku rasa, aku sebaiknya memang “sekolah” lagi.



Marulia,                                                                                              
Yogyakarta, 1 Agustus 2013 

Senin, 07 Januari 2013

INVESTASI AIR MASA DEPAN: MENABUNG DAN SEDEKAH AIR

Perairan di permukaan bumi memiliki luas hampir dua kali lebih besar dibanding dengan luas daratan, atau bisa dikatakan, 2/3 dari seluruh permukaan bumi merupakan perairan. Rincian air di seluruh dunia, menurut Matthews (2005), 97% berada di samudera sebagai air asin, sisanya sebesar 3% berada di daratan sebagai air tawar. Begitu besarnya potensi air di bumi juga berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia. Manusia dan hewan bisa hidup tanpa makan, namun tidak bisa jika tanpa air. Dalam bidang pertanian pun, air mutlak diperlukan. Sehingga, dalam bidang pertanian disebutkan bahwa kekeringan merupakan bencana terparah dibandingkan bencana lain seperti banjir atau hama.

Air mengalami perjalanan tiada henti di permukaan bumi. Dari tempat semula, berubah wujud, kemudian kembali lagi ke tempat semula. Sebuah siklus yang dialami oleh air yang dinamakan siklus hidrologi. Secara alami, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Sungai-sungai mengalirkan air menuju laut. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Dalam perjalanannya, air mengalami penguapan sehingga membentuk awan, dan terjadilah hujan. Air hujan ada yang langsung jatuh ke laut, sungai, danau, atau rawa. Ada juga yang langsung meresap ke dalam tanah atau jatuh ke tanaman yang pada akhirnya juga akan meresap ke dalam tanah. Air yang meresap ke dalam tanah ada yang disimpan sebagai air tanah, ada juga yang kembali menguap, dan kembali menjadi awan, lalu hujan. Jadi, jika kita perhatikan, air selalu mengisi setiap sisi di ruang bumi ini, baik ruang darat, ruang laut, ruang udara, ruang laut, bahkan ruang di dalam bumi.

Meskipun air terdapat hampir di setiap ruang bumi, bukan berarti itu semua dapat digunakan sebagai pemenuhan jatah hidup manusia. Sudah disebutkan bahwa dari keseluruhan air yang terdapat di permukaan bumi, 97 % berupa air asin, hanya 3 % yang berupa air tawar. Artinya, air tawar lebih sulit didapatkan dibandingkan dengan air asin. Padahal, manusia lebih memerlukan air tawar untuk kebutuhan rumah tangga seperti mandi, minum, memasak, mencuci dan sebagainya, dibandingkan dengan air asin.

Data statistik yang dikeluarkan oleh UNESCO (1978) mencatat bahwa jumlah air tawar di bumi adalah 35.029.210 km3 dengan rincian air tanah sebanyak 98,89 % dan air permukaan (danau, rawa, sungai, air biologi, air di udara) sebanyak 1,11 %. Komposisi air tanah tawar jauh lebih besar dibandingkan dengan komposisi air permukaan. Walaupun begitu, perlu diperhatikan bahwa pengambilan air tanah tawar tidak boleh seenaknya. Pengambilan air tanah yang berlebihan akan menyebabkan penurunan ketersediaan yang besar dan membutuhkan waktu pengisian yang relatif lama. Pada musim penghujan, ada kelebihan air permukaan yang besar namun pengisian air tanah kecil. Pada musim kemarau sebaliknya, air permukaan turun drastis, sehingga pada akhirnya hanya mengandalkan air tanah. Itu semua sangat tergantung dari tata guna lahan dan kondisi geomorfologi suatu wilayah. Perlu dilakukan gerakan menabung air untuk menyimpan air sebesar-besarnya dan membaginya ke tempat lain yang kekurangan air.

Menabung pada dasarnya adalah menyimpan. Bisa menyimpan uang, barang, atau lainnya. Menabung dilakukan untuk menyimpan sesuatu untuk kemudian dapat digunakan kembali. Air pun juga dapat ditabung. Konsep menabung air sebenarnya sama dengan menabung uang, yaitu menampung air untuk disimpan dan mengeluarkannya seperlunya.
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.