Jumat, 21 Desember 2012

AKU MENCINTAIMU, INDONESIA

model: Afaf & Rista. Tempat: Dermaga Payung-Payung, Pulau Maratua

Dari kecil, aku sudah banyak melihat Indonesia dari buku-buku, majalah-majalah, kotak kecil bernama televisi, koran-koran, dan dari sekelilingku.  Hanya melihat. Melihat dan sudah tahu kalau aku hidup di Indonesia sejak lahir, dan dia adalah negara kepulauan, dengan banyak pulau-pulau dan punya garis pantai hampir 17.000 km. Aku sudah tahu kalau aku memang ditakdirkan lahir di Indonesia, karena itu aku harus mencintainya. Itu saja, aku harus mencintai tempat di mana aku dilahirkan. Tapi, aku tidak terlalu mengetahui bagaimana rasa cinta itu seharusnya. Aku belum bisa memaknainya dan merasakannya dalam hati.
Sejak kecil, ketika duduk di bangku taman kanak-kanak dan sekolah dasar, semua murid sudah diajarkan menghafal pancasila, undang-undang dasar, nama pulau, nama propinsi, apa baju khas daerahnya, menyanyikan lagu-lagu daerah, maupun lagu-lagu kebangsaan. Dari situ aku mulai “mengenal” Indonesia. Ternyata dia terdiri dari unsur yang sangat beragam.
Semakin menuju jenjang menengah pertama dan menengah atas, segala yang diajarkan di sekolah semakin mendekatkanku kepada Indonesia. Aku, mulai keluar dari kotak sabunku sendiri. Mengenal keindahan alamnya, tidak hanya di Jogja. Mulai menyeberang ke pulau sebelah, Bali. Menikmati keindahan alamnya. Pulau paling terkenal di Indonesia, yang bahkan orang-orang luar negeri banyak yang mengira bahwa Bali itu negara tetangganya Indonesia. Mulai merasakan tinggal di tengah-tengah alam, walaupun hanya di sekitar Jogja saja. Camping, main, belajar.
Dan di bangku kuliah. Bangku kuliah mengajarkan dan semakin mengenalkan banyak hal mengenai Indonesia. Aku merasa beruntung masuk Fakultas Geografi. Tempat di mana aku tidak hanya mempelajari teori saja di ruang-ruang kuliah. Geografi bukan tentang menghafal nama negara, nama propinsi, nama ibu kota, menebak-nebak peta buta, menggambar denah, tahu nama-nama sungai, ataupun menghitung jumlah penduduk saja. Lebih dari itu. Geografi adalah tentang mengenal suatu wilayah. Tak kenal maka tak sayang. Di bangku kuliah, aku semakin mengenal Indonesia, dan semakin menyayangi Indonesia.
Teman-temanku tak hanya dari Jogja saja, tapi juga dari seluruh penjuru Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Timor Timur, Maluku. Aku mulai merasakan atmosfer Indonesia yang sesungguhnya. Beda budaya, beda kebiasaan, beda bahasa, beda pandangan, semua bercampur menjadi satu. Aku mulai keluar agak lebih jauh lagi dari kotak sabun. Teman-teman yang beragam membuatku merasa aku belum tahu apa-apa tentang Indonesia yang sebenarnya.
Banyaknya kegiatan lapangan atau acara-acara lain membuatku bisa pergi kemana-mana. Aku jadi tahu, masih banyak tempat-tempat luar biasa di luar sana, di Indonesia. Ada bentukan gumuk pasir di sepanjang pesisir selatan Bantul sampai Kebumen, yang hanya ada dua saja di seluruh dunia selain di Meksiko. Ada bentukan alam dari material gamping (hampir di seluruh Kabupaten Gunungkidul) yang menjadi laboratorium karst yang diperhitungkan di dunia. Ada gunung-gunung yang dihamparkan, dijadikan pasak-pasak, berjajar, gunungapi tua, gunungapi muda, indah, sekaligus mengancam. Dinginnya dataran tinggi Dieng. Ada pulau-pulau karang berpasir putih laksana di surga (padahal belum tahu surga itu kayak gimana). Ada danau dengan spesies ubur-ubur tidak menyengat (Danau Kakaban) yang juga hanya ada 2 di dunia selain di Palau, Filipina. Betapa indahnya terumbu karang di kawasan coral triangle. Betapa rupa-rupanya desa-desa dan kota-kota . Jakarta. Bogor. Semarang. Surabaya. Magelang. Salatiga. Wonosobo. Banyuwangi. Bandung. Bali. Yogyakarta. Bantul. Gunungkidul. Sleman. Kulonprogo. Klaten. Solo. Salatiga. Ungaran. Cimahi. Ciwidey. Pacitan. Wonogiri. Balikpapan. Berau. Pulau Derawan. Pulau Maratua. Pulau Kakaban. Pulau Pabahanan. Pulau Bakungan. Pulau Sangalaki. And so on. Semuanya luar biasa. Semuanya berbeda-beda. Semuanya mencerminkan Indonesia. Ini Indonesia!
Di tengah hiruk pikuk urusan politik yang seakan tak ada penyelesaiannya. Mari melihat ke luar. Indonesia masih punya banyak hal. Indonesia masih punya kita. Kita dilahirkan di sini untuk Indonesia. Semoga aku bisa. Semoga kita bisa. Bisa memberi yang terbaik untuk ibu pertiwi kita. Maka, ijinkan aku mencintaimu, Indonesia...
 Ah, ingin sekali rasanya bisa keliling Indonesia.



"Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:'Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan Berkuasa atas segala sesuatu." (QS. 29:19-20)
“..Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku. Di dalam pancasilamu, jiwa seluruh nusaku. Kujunjung kebudayaanmu, kejayaan Indonesia.” (Hymne Gadjah Mada)
-kamar serbaguna, sehabis nonton film 5 cm siang ini-

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.