Minggu, 16 Desember 2012

#4 OLALA... MARI BERGEMBIRA



Di Pulau Maratua, tak ada listrik mengalir ketika siang hari kecuali ada diesel yang dihidupkan. Termasuk di Kampung Teluk Alulu. Proses belajar mengajar atau pekerjaan yang mendukung program paperless office masih mustahil dilaksanakan di sana. Butuh biaya besar jika di siang hari harus menghidupkan diesel untuk memakai komputer, menghidupkan proyektor, atau menggunakan media audio yang kini sudah semakin mutlak diperlukan oleh sekolah-sekolah di kota. Proses pembelajaran masih merupakan proses pembelajaran konvensional. Begitu pun dengan kegiatan pesantren kilat di Teluk Alulu. Papan tulis dan boardmarker menjadi senjata utama untuk memberikan penjelasan visual kepada anak-anak, disamping modal ngomong tentu saja.

di kelas
Bel tanda masuk, pergantian pelajaran, istirahat, atau tanda pulang tak akan terdengar di sana. Yang ada, adalah bunyi nyaring lonceng ketika beradu dengan besi pemukul. Bunyi lonceng tanda masuk memberi efek spontan ke anak-anak. Mereka akan dengan tergesa-gesa meninggalkan mainannya, berlarian, berebut masuk ke kelas masing-masing. Tak peduli di mana pun mereka berada, mau di depan kelas, di lapangan, di masjid, di warung, di ujung depan sekolah, atau di mana pun, mereka pasti akan berlari menuju kelas, bersemangat.

Anak-anak usia SD memiliki tingkat semangat paling tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak SMP, SMA, Kuliah, atau orang tua. Itulah kenapa, usia SD adalah salah satu usia cemerlang untuk pengembangan diri. Sama dengan anak-anak SDN 004 ini, semangat mereka luar biasa! Semangat belajar, semangat bermain, semangat menunjukkan diri, semangat menyanyi, bahkan semangat ice breaking.

Salah satu ice breaking paling terkenal saat KKN adalah ice breaking “Olalala”. Itu sebenarnya adalah salah satu jurus membuat anak-anak tenang ketika sedang rame TPA. Aku mendapatkan jurus itu ketika tahun lalu sering mendampingi Siti, sahabat SMAku, mengisi safari ramadhan untuk anak-anak TPA menjelang berbuka puasa di desaku. Begini bunyinya,

O la la la, mari bergembira…

O le le le, tidak boleh rame…

O li li li, duduknya yang rapi…

Bisa dipastikan anak-anak akan lebih tenang setelah menyanyikan lirik itu dengan gembira. Agung, seorang yang sangat senang terhadap ice breaking satu itu, merekamku ketika sedang beraksi kemudian menyebarluaskan ke teman-teman lain. Alhasil, itu menjadi salah satu ice breaking wajib yang didengungkan oleh pasukan sub unit Teluk Alulu selama pesantren kilat di SD N 004 Maratua. Tak hanya siswa, guru yang sering mendengar itu dinyanyikan di dalam kelas, sering nyeletuk ke anak-anak, Ayo, olalanya gimana??”

Bahkan, virus ice breaking itu tak hanya merambah kehidupan sekolah saja. Saat kami berkunjung ke Tanjung Bahaba, anak-anak yang melihat kami lewat dengan spontan akan nyeletuk, “Kakak, olalala, olelele,…” Dan kami hanya ngakak-ngakak senang sekaligus heran. Sesuatu yang dianggap menyenangkan memang akan lebih mudah untuk diingat dan dilaksanakan. Itulah kenapa, ada ungkapan “kerjakan apa yang kau senangi, dan senangi apa yang kau kerjakan”.

Olala, mari bergembira, bersemangat bersama anak-anak luar biasa. Karena mereka kami belajar, karena mereka kami mengerti, karena mereka kami terbangun.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.