Minggu, 16 Desember 2012

#2 HARGAI AIR

Ujung Selatan Kampung Teluk Alulu
    “Gimana kita? Sehat? Ditunggu dari tadi, sudah. Dikira nggak jadi kemari hari ini…,” Pak Adriyansyah, Kepala Kampung Teluk Alulu menyambut hangat kedatangan kami berenam. Penduduk Maratua biasa memakai kata kita untuk menyebut kalian. Perbedaan penggunaan istilah ini kadang membuatku roaming tingkat internasional alias lola.
“Ini kamar kita, boleh tidur di sini. Boleh juga di rumah kakak di sebelah. Kalau mau makan di sini saja. Kalau mau mandi, mandi aja bah!” tawaran fasilitas dari Pak Adriyansyah membuat kami lumayan lega. Setidaknya, kehidupan kami selama lima hari ke depan sudah terjamin. Kampung Teluk Alulu memang punya wilayah dengan materialnya sebagian besar tersusun atas batuan, bentuklahan utamanya adalah karst, kondisinya hampir sama dengan wilayah Kecamatan Panggang di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sulit sekali mendapatkan air tawar di sana, kehidupan sehari-hari biasa mengandalkan air hujan yang ditampung di profil tank. Itu pun selama kami di sana kebetulan sedang musim angin selatan, musim di mana hujan jarang sekali terjadi, sehingga jika kehabisan air warga kampung biasanya akan membeli air di Ibukota kecamatan untuk memenuhi air jatah hidupnya.
Ah, masalah air mungkin adalah persoalan sepele di tempat tinggalku, melimpah. Mau pakai tinggal pakai, mau mandi pakai air satu bak penuh, dua bak penuh, berbak-bak juga silakan. Kalau mandi nggak cuma dangkalnya aja yang digosok, sampai kulit ari pun digosok habis saat mandi. Keran di kamar mandi pun kadang lupa dimatikan. Sangat tidak bisa menghargai air. Lain halnya kalau itu terjadi kampung seperti di Teluk Alulu. Jangankan satu bak, mandi pakai air tawar satu baskom saat sedang dilanda musim angin selatan, adalah salah satu hal yang sangat… sangat membahagiakan dan wajib disyukuri.

Herannya, di tempat yang sulitnya setengah mati nemu air tawar segar seperti itu, selalu saja ada orang yang menawari kami mandi di rumahnya. Dan kami biasanya dengan halus (atau dengan tidak enak) akan menolaknya. Pernah aku menolak tawaran seorang tetangga untuk mandi di rumahnya. Ketika itu aku sedang sendiri beristirahat di teras rumah Pak Kepala Kampung, tak bisa pergi jauh-jauh karena kaki sedang bengkak-bengkaknya akibat keseleo sore sebelumnya. Seorang tetangga lewat dan kami mengobrol lama, dan ujung-ujungnya tetangga itu menawariku, “Ayok nak, mandi-mandi dulu. Di rumah ibu masih banyak air..” Dan dengan malu-malu aku menggeleng, “Nanti saja, Bu. Hari ini juga cuma di rumah aja.”
“Nggak apa-apa bah kalau mau mandi. Kami di sini malah senang adek-adek ini datang ke sini. Ada tamu di sini adalah berkah buat orang sini. Kalau ada waktu sempatkan main ke rumah Ibu…,” Mereka beranggapan, memberikan hal yang berharga untuk kepentingan orang lain apalagi tamu adalah berkah tersendiri, akan ada ganti yang lebih baik dan lebih besar suatu hari nanti untuk mereka. Dan itu pasti terjadi. Berikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, maka akan ada balasan berpuluh-puluh kali yang akan diterima.



Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.