Minggu, 16 Desember 2012

#1 LONG LIFE EDUCATION (BELAJAR KEHIDUPAN DI UJUNG TIMUR PULAU MARATUA)

Mereka yang menyeberang biar bisa sampai ke sekolah....
     
Sungguh. Ini bukan sekedar kisah pada tayangan di layar televisi tentang betapa prihatinnya anak-anak pedalaman pergi sekolah. Bukan pula sebuah kisah di novel yang menceritakan tentang susahnya hidup di daerah dengan akses minim. Rasanya ini memang benar-benar sebuah potret nyata tentang salah satu perjuangan pendidikan dan kehidupan di Indonesia. Bukan sekedar cerita tulisan yang terangkum dalam kisah-kisah inspiratif para pengajar muda di salah satu besutan program Anies Baswedan. Tapi, kami benar-benar melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Kisah dari ujung timur Pulau Maratua. Lima hari yang luar biasa di Kampung Teluk Alulu memberikan banyak pelajaran hidup.  Tentang semangat, usaha, rasa syukur, penghormatan, dan kekeluargaan.


Program KKN kami awalnya hanya dilaksanakan di tiga kampung saja. Kenapa? Terus terang, kami tidak berani ambil resiko terlalu besar. Kami ini orang baru, masih kacangan, masih minim pengetahuan tentang keadaan Pulau Maratua. Dengan waktu KKN yang juga mepet (tidak sampai 2 bulan), kami memutuskan untuk membagi kelompok sub unit di kampung-kampung yang jaraknya kira-kira dekat dan ada akses di masing-masing kampung. Alasannya, agar kami mudah berkoordinasi antar kelompok sub unit. Kampung Teluk Alulu bukan salah satu kampung yang kami pilih untuk kami tinggali pada waktu itu. Aksesibilitas menjadi alasan utama kami. Mencapai kampung Teluk Alulu tidak bisa menggunakan jalur darat, harus memakai jalur laut. Bayangkan, dalam sebuah pulau yang terhitung merupakan sebuah pulau kecil saja – saking kecilnya sampai kadang tidak tercantum di peta Indonesia – kami  harus pergi ke kampung lain dengan naik kapal selama setengah jam dari ibukota kecamatan! Keputusan kami saat pembagian sub unit saat masih di Jogja sudah final, tidak ada sub unit Teluk Alulu!

Walaupun kami sudah memutuskan seperti itu, nyatanya kami memang harus membuat program di Teluk Alulu. Harus ada orang yang dikirim ke sana untuk menjalankan program. Keputusan soal orang yang akan dikirim ke sana masih simpang siur. Banyak pertimbangan yang masih harus dipikirkan, termasuk belum terselesaikannya program-program di masing-masing sub unit, padahal waktu penarikan KKN sudah semakin dekat saja. Dan sehari sebelum keberangkatan ke Kampung Teluk Alulu, baru ada ketuk palu dari koordinator mahasiswa unit, enam orang yang berangkat ke Teluk Alulu adalah Uyya, Alan, Aku, Agung, Titik, dan Iyut. Sebuah sub unit baru dengan orang-orang gabungan dari beberapa sub unit telah terbentuk untuk lima hari ke depan.

Kapal klothok milik Pak Saleh mengantarkan kami berenam menuju kampung ujung timur Pulau Maratua siang itu. Lima hari di sana seperti apa ya? “Tenang aja, di sana banyak sinyal, orangnya juga baik-baik kok. Nanti kalau ada apa-apa hubungi adek saya yang di sana aja,” pesan dari Bu Evi, orang asli Teluk Alulu, istri kepala sekolah SMA yang tinggal di kampung Payung-Payung – tempat aku tinggal selama di Pulau Maratua – lumayan mengurangi beberapa pikiran negatif sebelum berangkat. (bersambung...)

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.