Rabu, 26 Desember 2012

PESTA RAKYAT (KAMPUNG HALAMAN)

Perayaan. Festival. Arak-arakan. Ya, suatu kegiatan yang banyak mengundang orang sehingga dengan rela akan berbondong-bondong menontonnya. Baru-baru ini, Karang Taruna Cahyaning Amertha, Desa Panggungharjo, mengadakan arak-arakan yang dinamakan "Pesta Rakyat dan Kirab Budaya". Melestarikan budaya bangsa, mencoba menjaganya agar tidak terlalu cepat punah.


Diawali dengan "Lomba Dolanan Anak" pada pagi hari, 23 Desember 2012, di Lapangan Patmasuri, riuh ramai anak-anak memainkan permainan gatheng, egrang, dan bakiak.  Gatheng, permainan mirip bola bekel, tapi menggunakan batu kecil sebagai alat permainannya. Banyak anak yang kurang familiar dengan permainan ini, ada juga yang sangat lihai memainkannya. Bakiak, sering dilombakan juga biasanya kalau pas 17-an, melatih kerjasama tim, berlomba untuk menjadi yang tercepat dan terkompak. Egrang, yang ini pasti sangat familiar, permainan menggunakan bambu atau galah panjang yang dipasangi pijakan beberapa puluh centimeter dari bawah, melatih keseimbangan. Susah juga lho memainkan egrang, salah-salah kita bisa terjungkal sampai tengkurap saking susahnya.

Kirab Budaya diadakan siang hari, diikuti oleh 14 partisipan yang berasal dari berbagai dusun yang ada di wilayah Desa/ Kelurahan Panggungharjo. Sebelum start, di depan gedung rektorat Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, masing-masing tim unjuk kebolehan dalam berkesenian. Macam-macam seni. Ada tari-tarian, teater rakyat, marching band,  jathilan, permainan tradisional, dan sebagainya. Dari situ, semakin terasa betapa kayanya Indonesia, tidak cuma alamnya saja yang wonderfull, kebudayaannya juga mengagumkan. Itu baru di kampung halamanku saja, bagaimana kalau kebudayaan di seluruh kepulauan nusantara ini ditampilkan? Pasti amazing. Very extraordinary culture among the world.

Ramayana Ballet. Sebelum start :)

Gunungan Mainan. Mainan tradisional (wayang, othok2, kipas kertas, payung kertas,  kincir) yang dijadikan gunungan. Dari kampung penghasil mainan tradisional, Dusun Pandes

Salah satu adegan teater. Pribumi vs Kompeni

Jathilan. Salah satu kesenian khas yang masih terjaga sampai sekarang di Dusun Pandes

penjathil cilik

ada juga pertunjukkan ular naga dari Dusun Krapyak Wetan, dusunnya para santri :)

Salah satu tim yang mengusung tema Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe)

wainii, kusir gerobagnya lihai mengatur jalannya si sapi lhoo...

Rewo-rewo. Dari kampungku, Pelemsewu.

Kebudayaan adalah jati diri bangsa (Dusun Dongkelan)

Selasa, 25 Desember 2012

BEFORE IT IS TOO LATE

Sholatlah di belakang imam, sebelum disholatkan di depan imam....
ada juga di http://www.ngomik.com/artwork/sholat-yuk/45995


“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al 'Ankabuut:45) 

Jumat, 21 Desember 2012

AKU MENCINTAIMU, INDONESIA

model: Afaf & Rista. Tempat: Dermaga Payung-Payung, Pulau Maratua

Dari kecil, aku sudah banyak melihat Indonesia dari buku-buku, majalah-majalah, kotak kecil bernama televisi, koran-koran, dan dari sekelilingku.  Hanya melihat. Melihat dan sudah tahu kalau aku hidup di Indonesia sejak lahir, dan dia adalah negara kepulauan, dengan banyak pulau-pulau dan punya garis pantai hampir 17.000 km. Aku sudah tahu kalau aku memang ditakdirkan lahir di Indonesia, karena itu aku harus mencintainya. Itu saja, aku harus mencintai tempat di mana aku dilahirkan. Tapi, aku tidak terlalu mengetahui bagaimana rasa cinta itu seharusnya. Aku belum bisa memaknainya dan merasakannya dalam hati.
Sejak kecil, ketika duduk di bangku taman kanak-kanak dan sekolah dasar, semua murid sudah diajarkan menghafal pancasila, undang-undang dasar, nama pulau, nama propinsi, apa baju khas daerahnya, menyanyikan lagu-lagu daerah, maupun lagu-lagu kebangsaan. Dari situ aku mulai “mengenal” Indonesia. Ternyata dia terdiri dari unsur yang sangat beragam.
Semakin menuju jenjang menengah pertama dan menengah atas, segala yang diajarkan di sekolah semakin mendekatkanku kepada Indonesia. Aku, mulai keluar dari kotak sabunku sendiri. Mengenal keindahan alamnya, tidak hanya di Jogja. Mulai menyeberang ke pulau sebelah, Bali. Menikmati keindahan alamnya. Pulau paling terkenal di Indonesia, yang bahkan orang-orang luar negeri banyak yang mengira bahwa Bali itu negara tetangganya Indonesia. Mulai merasakan tinggal di tengah-tengah alam, walaupun hanya di sekitar Jogja saja. Camping, main, belajar.
Dan di bangku kuliah. Bangku kuliah mengajarkan dan semakin mengenalkan banyak hal mengenai Indonesia. Aku merasa beruntung masuk Fakultas Geografi. Tempat di mana aku tidak hanya mempelajari teori saja di ruang-ruang kuliah. Geografi bukan tentang menghafal nama negara, nama propinsi, nama ibu kota, menebak-nebak peta buta, menggambar denah, tahu nama-nama sungai, ataupun menghitung jumlah penduduk saja. Lebih dari itu. Geografi adalah tentang mengenal suatu wilayah. Tak kenal maka tak sayang. Di bangku kuliah, aku semakin mengenal Indonesia, dan semakin menyayangi Indonesia.
Teman-temanku tak hanya dari Jogja saja, tapi juga dari seluruh penjuru Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Timor Timur, Maluku. Aku mulai merasakan atmosfer Indonesia yang sesungguhnya. Beda budaya, beda kebiasaan, beda bahasa, beda pandangan, semua bercampur menjadi satu. Aku mulai keluar agak lebih jauh lagi dari kotak sabun. Teman-teman yang beragam membuatku merasa aku belum tahu apa-apa tentang Indonesia yang sebenarnya.
Banyaknya kegiatan lapangan atau acara-acara lain membuatku bisa pergi kemana-mana. Aku jadi tahu, masih banyak tempat-tempat luar biasa di luar sana, di Indonesia. Ada bentukan gumuk pasir di sepanjang pesisir selatan Bantul sampai Kebumen, yang hanya ada dua saja di seluruh dunia selain di Meksiko. Ada bentukan alam dari material gamping (hampir di seluruh Kabupaten Gunungkidul) yang menjadi laboratorium karst yang diperhitungkan di dunia. Ada gunung-gunung yang dihamparkan, dijadikan pasak-pasak, berjajar, gunungapi tua, gunungapi muda, indah, sekaligus mengancam. Dinginnya dataran tinggi Dieng. Ada pulau-pulau karang berpasir putih laksana di surga (padahal belum tahu surga itu kayak gimana). Ada danau dengan spesies ubur-ubur tidak menyengat (Danau Kakaban) yang juga hanya ada 2 di dunia selain di Palau, Filipina. Betapa indahnya terumbu karang di kawasan coral triangle. Betapa rupa-rupanya desa-desa dan kota-kota . Jakarta. Bogor. Semarang. Surabaya. Magelang. Salatiga. Wonosobo. Banyuwangi. Bandung. Bali. Yogyakarta. Bantul. Gunungkidul. Sleman. Kulonprogo. Klaten. Solo. Salatiga. Ungaran. Cimahi. Ciwidey. Pacitan. Wonogiri. Balikpapan. Berau. Pulau Derawan. Pulau Maratua. Pulau Kakaban. Pulau Pabahanan. Pulau Bakungan. Pulau Sangalaki. And so on. Semuanya luar biasa. Semuanya berbeda-beda. Semuanya mencerminkan Indonesia. Ini Indonesia!
Di tengah hiruk pikuk urusan politik yang seakan tak ada penyelesaiannya. Mari melihat ke luar. Indonesia masih punya banyak hal. Indonesia masih punya kita. Kita dilahirkan di sini untuk Indonesia. Semoga aku bisa. Semoga kita bisa. Bisa memberi yang terbaik untuk ibu pertiwi kita. Maka, ijinkan aku mencintaimu, Indonesia...
 Ah, ingin sekali rasanya bisa keliling Indonesia.



"Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:'Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan Berkuasa atas segala sesuatu." (QS. 29:19-20)
“..Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku. Di dalam pancasilamu, jiwa seluruh nusaku. Kujunjung kebudayaanmu, kejayaan Indonesia.” (Hymne Gadjah Mada)
-kamar serbaguna, sehabis nonton film 5 cm siang ini-

Selasa, 18 Desember 2012

SKRIPSI. JALAN-JALAN.



Cintai scriptsweetmu.
Itu salah satu jargon yang selalu kuingat-ingat agar aku selalu teringat pada skripsi. Skripsi, salah satu tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh mahasiswa S1 di seluruh penjuru negeri ini. Kenapa bukan “cintai scrip-shitmu”? Karena, kabarnya nama adalah doa. Berikan nama yang baik, maka kebaikan akan sendirinya menghampirimu.
Oke. Tulisan ini tak akan membahas panjang lebar mengenai skripsiku secara keseluruhan, hanya akan bercerita mengenai salah satu bagian prosesnya, yaitu lapangan skripsi.
Di fakultasku, Fakultas Geografi, hampir sebagian besar pengerjaan skripsi memerlukan tinjauan langsung ke lapangan, intinya: jalan-jalan. Ya, lebih tepat jika disebut dengan jalan-jalan, karena lapangan skripsi itu tidak se-embuh yang dibayangkan kok. Kita Cuma perlu berjalan-jalan. Dalam keseluruhan proses, kegiatan lapangan skripsi, menurut pendapat beberapa temanku, merupakan bagian yang paling dinanti-nantikan daripada pengerjaan laporan, pengolahan data, pembahasan, dan keharusan melakukan segala tetek bengek konsultasi dengan dosen dan presentasi di hadapan mahasiswa atau dosen.
Judul skripsiku berkaitan dengan pendugaan letak mataair menggunakan data citra penginderaan jauh, dimana diperlukan pengolahan citra sebelum lapangan, kemudian kegiatan di lapangan dilakukan untuk mengecek kebenaran interpretasi pendugaan sebelumnya. Bener nggak sih, di tempat ini ada mataair? Di sana ada mataair? Di situ ada mataair?
Dan, di suatu hari di bulan Desember, karena keterbatasan waktu, mau nggak mau aku sudah harus melakukan cek lapangan. Tak perlu dijelaskan kenapa “harus”. Ada suatu sebab yang membuat aku harus sudah melakukan sebagian kegiatan lapangan sebelum pertengahan Desember (walaupun kegiatan lapangan yang ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan pengerjaan skripsi).
Di suatu waktu juga ditemani oleh teman sepenganggungan, Annur. Di lain waktu, istimewanya, juga ditemani oleh dosenku, Pak Yatno, dan 3 orang teman menyenangkan (Saddam, Titik, Sigit). Di suatu waktu lainnya lagi, dibantu oleh 4 orang teman seangkatan yang super ( Monica, Favian, Ical, Sammy). Kami mulai berjalan-jalan. Melihat di peta, mencari lokasi-lokasi yang sudah kutandai sebagai tempat yang kuduga ada mataair di sana. Dan kegiatan lapangan skripsi kali ini memang benar-benar menjadi jalan-jalan mencari tempat jeguran, alias tempat berenang dan mandi, karena sebagian besar mataair yang kami temukan memang digunakan untuk itu. Sekaligus, mencari tempat wingit. Karena, pemunculan mata air yang terkait erat dengan adanya gerumbulan pohon – di lapangan kenyataannya berada di dekat pohon-pohon besar berusia tua dengan tajuk cenderung rapat – dan juga dekat dengan pemakaman, maka banyak orang yang menganggapnya sebagai tempat keramat. What the hell. That’s a reality.
 Tempat jeguran seru di daerah Gamping. Di daerah tepian Ring Road Barat masih ada juga tempat berair jernih seperti ini....

Minggu, 16 Desember 2012

THE OTHER FAMILY

   
The Payung-Payung Family,
Yang berdiri: Yayak (kiri), Gilang (kanan)
Yang duduk: Titin (paling kiri), Kebo, Agung, Aku, Afaf

The Other Story-nya nanti dah :p

#4 OLALA... MARI BERGEMBIRA



Di Pulau Maratua, tak ada listrik mengalir ketika siang hari kecuali ada diesel yang dihidupkan. Termasuk di Kampung Teluk Alulu. Proses belajar mengajar atau pekerjaan yang mendukung program paperless office masih mustahil dilaksanakan di sana. Butuh biaya besar jika di siang hari harus menghidupkan diesel untuk memakai komputer, menghidupkan proyektor, atau menggunakan media audio yang kini sudah semakin mutlak diperlukan oleh sekolah-sekolah di kota. Proses pembelajaran masih merupakan proses pembelajaran konvensional. Begitu pun dengan kegiatan pesantren kilat di Teluk Alulu. Papan tulis dan boardmarker menjadi senjata utama untuk memberikan penjelasan visual kepada anak-anak, disamping modal ngomong tentu saja.

di kelas
Bel tanda masuk, pergantian pelajaran, istirahat, atau tanda pulang tak akan terdengar di sana. Yang ada, adalah bunyi nyaring lonceng ketika beradu dengan besi pemukul. Bunyi lonceng tanda masuk memberi efek spontan ke anak-anak. Mereka akan dengan tergesa-gesa meninggalkan mainannya, berlarian, berebut masuk ke kelas masing-masing. Tak peduli di mana pun mereka berada, mau di depan kelas, di lapangan, di masjid, di warung, di ujung depan sekolah, atau di mana pun, mereka pasti akan berlari menuju kelas, bersemangat.

Anak-anak usia SD memiliki tingkat semangat paling tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak SMP, SMA, Kuliah, atau orang tua. Itulah kenapa, usia SD adalah salah satu usia cemerlang untuk pengembangan diri. Sama dengan anak-anak SDN 004 ini, semangat mereka luar biasa! Semangat belajar, semangat bermain, semangat menunjukkan diri, semangat menyanyi, bahkan semangat ice breaking.

Salah satu ice breaking paling terkenal saat KKN adalah ice breaking “Olalala”. Itu sebenarnya adalah salah satu jurus membuat anak-anak tenang ketika sedang rame TPA. Aku mendapatkan jurus itu ketika tahun lalu sering mendampingi Siti, sahabat SMAku, mengisi safari ramadhan untuk anak-anak TPA menjelang berbuka puasa di desaku. Begini bunyinya,

O la la la, mari bergembira…

O le le le, tidak boleh rame…

O li li li, duduknya yang rapi…

Bisa dipastikan anak-anak akan lebih tenang setelah menyanyikan lirik itu dengan gembira. Agung, seorang yang sangat senang terhadap ice breaking satu itu, merekamku ketika sedang beraksi kemudian menyebarluaskan ke teman-teman lain. Alhasil, itu menjadi salah satu ice breaking wajib yang didengungkan oleh pasukan sub unit Teluk Alulu selama pesantren kilat di SD N 004 Maratua. Tak hanya siswa, guru yang sering mendengar itu dinyanyikan di dalam kelas, sering nyeletuk ke anak-anak, Ayo, olalanya gimana??”

Bahkan, virus ice breaking itu tak hanya merambah kehidupan sekolah saja. Saat kami berkunjung ke Tanjung Bahaba, anak-anak yang melihat kami lewat dengan spontan akan nyeletuk, “Kakak, olalala, olelele,…” Dan kami hanya ngakak-ngakak senang sekaligus heran. Sesuatu yang dianggap menyenangkan memang akan lebih mudah untuk diingat dan dilaksanakan. Itulah kenapa, ada ungkapan “kerjakan apa yang kau senangi, dan senangi apa yang kau kerjakan”.

Olala, mari bergembira, bersemangat bersama anak-anak luar biasa. Karena mereka kami belajar, karena mereka kami mengerti, karena mereka kami terbangun.

#3 ANAK-ANAK TANJUNG BAHABA

Baru saja tiba di Kampung Teluk Alulu, sore harinya kami menyempatkan diri menemui kepala sekolah SD, mengkoordinasikan masalah pelaksanaan pesantren kilat untuk anak-anak SD selama tiga hari ke depan. Ya, pelaksanaan KKN bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi, pesantren kilat merupakan program yang sangat sinkron untuk dilaksanakan. Sasaran utama pesantren kilat adalah murid-murid SD mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.

Pak Yusia, kepala SD N 004 Maratua, menyambut baik program yang kami tawarkan selama kami berada di Kampung Teluk Alulu. Esoknya, kami datang ke sekolah, berdiskusi dulu dengan guru-guru, sekaligus perkenalan. “Kami datang untuk belajar” sebuah plang yang digantung di lorong sekolah menyambut kedatangan kami. Gedung satu lantai beratapkan seng dengan sebagian cat tembok mengelupas di sana-sini tampak sederhana sekali, tapi ada aura semangat di dalamnya.
Awalnya, kami ingin mengadakan buka bersama di akhir kegiatan pesantren kilat. “Sebaiknya siang saja kalau mau mengadakan acara, kalau sore nanti beberapa ada tak bisa pulang…,” Bu Dores, seorang guru di sana menyarankan. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa tidak bisa pulang?? “Mereka harus naik kapal biar bisa sampai rumah…,” beliau melanjutkan.

Kampung Teluk Alulu terbagi atas tiga wilayah administratif, yaitu RT 1, RT 2, dan RT 3.Wilayah RT 1 bersebelahan langsung dengan RT 2. Wilayah RT 3 sebenarnya juga bersebelahan dengan RT 2. Tapi, lebatnya hutan membuat kedua wilayah tersebut tak bisa ditembus dengan mudah. Solusinya, jalur laut, naik kapal. Oke, ke RT sebelah saja kita harus naik kapal. Amazing banget rasanya. Sebenarnya, sudah mulai dibangun jalan tembus antar RT juga sekaligus akan dibangun jalan tembus dengan kampung sebelah, namun entah kapan selesai. Katanya, masih ada beberapa masalah berkenaan dengan sengketa tanah. Mungkin setahun atau dua tahun lagi semua baru terselesaikan.

Anak-anak SD N 004 Maratua berasal dari tiga wilayah administratif tersebut, karena memang hanya ada satu SD di satu kampung. Mau tidak mau, anak-anak dari Tanjung Bahaba (sebutan untuk RT 3) harus rela menanti antar jemput kapal. Berangkat atau tidaknya mereka ke sekolah bergantung pada cuaca dan gelombang. Ketika mereka semua tidak berangkat ke sekolah, bisa dipastikan gelombang sedang tidak bersahabat pada kapal yang hendak berlayar membawa mereka ke sekolah.

Suatu hari, sepulang pesantren kilat, aku dan pasukan sub unit Teluk Alulu lainnya menghabiskan waktu di Dermaga Bandong, dermaga dimana kapal yang datang dari kampung sebelah atau dari RT sebelah ditambatkan. Kapal Tong Bahaba sudah tertambat di sana, menanti kedatangan anak-anak luar biasa dari Tanjung Bahaba pulang dari rumah belajar ke peraduannya. Beberapa anak sudah riuh rendah ribut ala anak kecil di dermaga, menanti beberapa teman yang lain.  Setelah hampir berduapuluh anak sudah menjadi satu dan siap pulang, nahkoda menjadi sibuk menyalakan mesin diesel dan menarik sauh. Anak-anak sibuk berlompatan ke atas kapal, macam spiderman berlompatan di atas gedung pencakar langit, tak menghiraukan tulisan “Jangan Lompat!!!” yang sudah susah payah ditempel di atap geladak. Ah, semoga semangat mereka untuk bersekolah tak pernah padam. Mereka, salah satu generasi hebat. Aku yakin.

bersama anak-anak

#2 HARGAI AIR

Ujung Selatan Kampung Teluk Alulu
    “Gimana kita? Sehat? Ditunggu dari tadi, sudah. Dikira nggak jadi kemari hari ini…,” Pak Adriyansyah, Kepala Kampung Teluk Alulu menyambut hangat kedatangan kami berenam. Penduduk Maratua biasa memakai kata kita untuk menyebut kalian. Perbedaan penggunaan istilah ini kadang membuatku roaming tingkat internasional alias lola.
“Ini kamar kita, boleh tidur di sini. Boleh juga di rumah kakak di sebelah. Kalau mau makan di sini saja. Kalau mau mandi, mandi aja bah!” tawaran fasilitas dari Pak Adriyansyah membuat kami lumayan lega. Setidaknya, kehidupan kami selama lima hari ke depan sudah terjamin. Kampung Teluk Alulu memang punya wilayah dengan materialnya sebagian besar tersusun atas batuan, bentuklahan utamanya adalah karst, kondisinya hampir sama dengan wilayah Kecamatan Panggang di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sulit sekali mendapatkan air tawar di sana, kehidupan sehari-hari biasa mengandalkan air hujan yang ditampung di profil tank. Itu pun selama kami di sana kebetulan sedang musim angin selatan, musim di mana hujan jarang sekali terjadi, sehingga jika kehabisan air warga kampung biasanya akan membeli air di Ibukota kecamatan untuk memenuhi air jatah hidupnya.
Ah, masalah air mungkin adalah persoalan sepele di tempat tinggalku, melimpah. Mau pakai tinggal pakai, mau mandi pakai air satu bak penuh, dua bak penuh, berbak-bak juga silakan. Kalau mandi nggak cuma dangkalnya aja yang digosok, sampai kulit ari pun digosok habis saat mandi. Keran di kamar mandi pun kadang lupa dimatikan. Sangat tidak bisa menghargai air. Lain halnya kalau itu terjadi kampung seperti di Teluk Alulu. Jangankan satu bak, mandi pakai air tawar satu baskom saat sedang dilanda musim angin selatan, adalah salah satu hal yang sangat… sangat membahagiakan dan wajib disyukuri.

Herannya, di tempat yang sulitnya setengah mati nemu air tawar segar seperti itu, selalu saja ada orang yang menawari kami mandi di rumahnya. Dan kami biasanya dengan halus (atau dengan tidak enak) akan menolaknya. Pernah aku menolak tawaran seorang tetangga untuk mandi di rumahnya. Ketika itu aku sedang sendiri beristirahat di teras rumah Pak Kepala Kampung, tak bisa pergi jauh-jauh karena kaki sedang bengkak-bengkaknya akibat keseleo sore sebelumnya. Seorang tetangga lewat dan kami mengobrol lama, dan ujung-ujungnya tetangga itu menawariku, “Ayok nak, mandi-mandi dulu. Di rumah ibu masih banyak air..” Dan dengan malu-malu aku menggeleng, “Nanti saja, Bu. Hari ini juga cuma di rumah aja.”
“Nggak apa-apa bah kalau mau mandi. Kami di sini malah senang adek-adek ini datang ke sini. Ada tamu di sini adalah berkah buat orang sini. Kalau ada waktu sempatkan main ke rumah Ibu…,” Mereka beranggapan, memberikan hal yang berharga untuk kepentingan orang lain apalagi tamu adalah berkah tersendiri, akan ada ganti yang lebih baik dan lebih besar suatu hari nanti untuk mereka. Dan itu pasti terjadi. Berikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, maka akan ada balasan berpuluh-puluh kali yang akan diterima.



#1 LONG LIFE EDUCATION (BELAJAR KEHIDUPAN DI UJUNG TIMUR PULAU MARATUA)

Mereka yang menyeberang biar bisa sampai ke sekolah....
     
Sungguh. Ini bukan sekedar kisah pada tayangan di layar televisi tentang betapa prihatinnya anak-anak pedalaman pergi sekolah. Bukan pula sebuah kisah di novel yang menceritakan tentang susahnya hidup di daerah dengan akses minim. Rasanya ini memang benar-benar sebuah potret nyata tentang salah satu perjuangan pendidikan dan kehidupan di Indonesia. Bukan sekedar cerita tulisan yang terangkum dalam kisah-kisah inspiratif para pengajar muda di salah satu besutan program Anies Baswedan. Tapi, kami benar-benar melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Kisah dari ujung timur Pulau Maratua. Lima hari yang luar biasa di Kampung Teluk Alulu memberikan banyak pelajaran hidup.  Tentang semangat, usaha, rasa syukur, penghormatan, dan kekeluargaan.


Program KKN kami awalnya hanya dilaksanakan di tiga kampung saja. Kenapa? Terus terang, kami tidak berani ambil resiko terlalu besar. Kami ini orang baru, masih kacangan, masih minim pengetahuan tentang keadaan Pulau Maratua. Dengan waktu KKN yang juga mepet (tidak sampai 2 bulan), kami memutuskan untuk membagi kelompok sub unit di kampung-kampung yang jaraknya kira-kira dekat dan ada akses di masing-masing kampung. Alasannya, agar kami mudah berkoordinasi antar kelompok sub unit. Kampung Teluk Alulu bukan salah satu kampung yang kami pilih untuk kami tinggali pada waktu itu. Aksesibilitas menjadi alasan utama kami. Mencapai kampung Teluk Alulu tidak bisa menggunakan jalur darat, harus memakai jalur laut. Bayangkan, dalam sebuah pulau yang terhitung merupakan sebuah pulau kecil saja – saking kecilnya sampai kadang tidak tercantum di peta Indonesia – kami  harus pergi ke kampung lain dengan naik kapal selama setengah jam dari ibukota kecamatan! Keputusan kami saat pembagian sub unit saat masih di Jogja sudah final, tidak ada sub unit Teluk Alulu!
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.