Selasa, 28 Agustus 2012

A PLACE LIKE A PARADISE

Di sana indah sekali, turun dari speedboat di bawah kita langsung beraneka ragam sponge, ikan-ikan, rasanya sayang sekali untuk menginjaknya. Pasirnya putih bersih, indah sekali…” (Pak Nurul Khakim, kuliah Penginderaan Jauh Hidrologi)
Maratua, pulau seribu pesona. Maratua, mutiara nusantara. Maratua, buatku serasa di surga. Maratua, tetap lestari selamanya…” (Kutipan lagu Mutiara Nusantara, ciptaan anak2 KKN UGM unit 206)

Dua kutipan di atas mungkin sedikit mewakili gambaran keindahan Pulau Maratua.

Awalnya, aku tidak tahu dimana itu Pulau Maratua. Awalnya, aku cuma diajak seorang kawan SMA, “ayo, KKN di luar Jawa, di Kalimantan Timur..” Karena aku memang punya keinginan untuk menginjakkan kaki di Kalimantan, langsung saja di-iyain. “Tapi bukan Kalimantan daratan, di laut, pulau kecil sendiri…” Waktu itu mikir lagi sebenernya, kayaknya berat, tapiii seiring waktu hati ini mantap juga untuk ber-KKN di tempat yang katanya “terpencil”

Pulau Maratua, adalah pulau yang terbentuk dari karang, terumbu karang. Sebuah pulau yang terbentuk dari pengangkatan atol. Jika dilihat dari atas,dari foto udara atau dari citra satelit, pulau ini berbentuk seperti tapal kuda atau mata pancing melengkung. Karena terbentuk dari atol, karakteristik pasir pantainya berwarna putih bersih. Pulau Maratua adalah pulau dengan karakteristik karst yang unik, proses pelarutan dengan hasil yang tidak terlalu sama dengan karst gunungsewu di sekitar Gunungkidul, DIY…

Kalau kalian belum tahu di mana itu letak Pulau Maratua, bisa dilihat di sini. Dia berada di sebelah timur pulau Kalimantan, tepatnya di Propinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Berau, di lepas Laut Sulawesi, berbatasan langsung dengan Negara Filipina dan Malaysia di sebelah utara. Tidak hanya “terpencil”, tapi juga “terluar”.

Pulau Maratua, terletak di gugusan kepulauan Derawan, segugus dengan pulau Derawan, Kakaban, Sangalaki, dan beberapa pulau kecil lainnya. Mencapai tempat tersebut membutuhkan perjuangan yang tidak biasa. Dari Jogja, butuh perjalanan darat sampai ke Surabaya selama 8 jam, lanjut dengan perjalanan udara selama 3 jam dari bandara Djuanda Surabaya sampai Bandara Kalimarau, Berau, transit sejenak selama 20 menit di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Lanjut lagi perjalanan darat dari Tanjung Redeb, Berau sampai Pelabuhan Tanjung Batu selama hampir 3 jam, dan tak hanya itu… masih perlu speedboat untuk bisa sampai ke Pulau Maratua selama lebih kurang 3 jam juga. Perjalanan yang melelahkan. Tapi, semua itu terbayar setelah kami semua tiba di sebuah Pulau yang kami sebut sebagai “Mutiara Nusantara”. A place, like a paradise…

Sampai di sana, aku benar-benar membuktikan kata-kata Pak Nurul sewaktu di kelas…

“Woow, indah sekali…”

suatu saat nanti, aku ingin kembali ke sana... Maratua..

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.